
Max meregangkan otot-ototnya yang kaku saat baru bangun tidur. Ia berniat lari pagi karena hari ini sedang weekend. Tidak lama kemudian, ia sudah rapi dengan pakaian olahraga raga dan tak lupa mengenakan sepatu olahraganya.
Max mengambil ponselnya dengan handset untuk memasangnya di kupingnya sementara ponselnya ia masukkan ke dalam kantong celana training yang dipakainya. Max menarik handuk kecil yang sudah ia siapkan untuk melengkapi aktivitas paginya.
Di jalanan yang masih terlihat sepi karena hari masih terlihat gelap, walaupun fajar di atas sana membiaskan cahayanya yang belum menyeluruh untuk menerangi bumi.
Max asyik berlari pagi dan tidak lama kemudian ia berhenti sesaat lalu melepaskan handset-nya. Baru saja ingin menggerakkan tubuhnya mengikuti gerakan senam, tiba-tiba telinganya mendengar suara jeritan lirih yang berasal dari seekor kucing yang ada di atas pohon tepat di mana Max berdiri.
Max menengadahkan wajahnya ke atas pohon itu dan melihat seekor kucing yang sangat cantik dengan tubuh panjang dan berbulu lebat sedang memanggilnya untuk meminta tolong.
"Meong... meong... meong...!" cicit kucing cantik itu.
Max merasa heran dengan keberadaan kucing itu." Kenapa kamu meminta tolong padaku? bukankah kamu tadi bisa naik, kenapa sekarang tidak bisa turun?" tanya Max bicara dengan kucing itu layaknya manusia.
__ADS_1
Kucing itu seakan tidak peduli dengan gerutuan Max padanya. Ia tetap mengeong dan kali lebih terdengar seperti memohon dan memelas agar Maxi membantunya.
"Baiklah. Aku akan membantu menurunkan ku. Tapi jangan coba-coba mencakar ku atau akan membunuhmu!' ancam Maxi lalu menaiki pohon itu dan anehnya makin ia mendekati kucing itu makin ia mencium aroma yang sangat harum seakan menyihir dirinya untuk lebih dekat dengan kucing itu atau membuat max menjadi simpati pada kucing yang memang terlihat sangat cantik.
"Hai... Kemarilah! Mendekatlah kepadaku!" pinta Maxi membuat kucing itu malu-malu mendekatinya.
Max menangkap tubuh kucing itu dan membawanya ke dalam dadanya." Kenapa kamu bisa berada di atas pohon ini? apakah kamu ketakutan hingga lari naik ke atas pohon ini dan tidak bisa turun?" tanya Maxi penasaran.
Maxi membawa turun kucing itu hingga keduanya sudah berdiri di atas permukaan tanah." Sekarang pulang ke rumah majikanmu. Pasti kamu tahu di mana rumah mereka bukan?" tanya Maxi yang terlihat diam seakan tidak suka dengan pertanyaan itu.
Max menurunkan kucing itu lalu ia kembali berlari pagi namun langkahnya diikuti oleh sang kucing membuat Maxi menjadi kesal." Mengapa kamu mengikuti aku? Pergi sana. Kembali ke tuanmu!" pinta Maxi namun kucing itu hanya menunduk seakan sedang meminta sesuatu pada Maxi.
"Tolong aku! selamatkan aku! Aku ingin tinggal bersamamu," ucap kucing cantik itu dalam batinnya karena ia sendiri tidak bisa ngomong namun max bisa mengerti arti tatapannya kucing itu padanya.
__ADS_1
"Kamu ingin pulang bersamaku ke rumahku?" tanya Maxi sambil membelai kepala kucing cantik itu.
Kucing itu malah menaiki tubuh Maxi dan mencium pipi Maxi dan Maxi akhirnya membawa pulang kucing itu ke rumahnya.
Setibanya di rumahnya, kepala pelayan mengerutkan keningnya menatap tajam kucing cantik yang terlihat sangat nyaman dalam gendongan Tuannya.
"Tuan. Itu kucing milik siapa?" tanya Neil.
"Aku menemukannya di atas pohon. Sepertinya kucing ini tidak ada pemiliknya. Makanya aku berani membawanya pulang ke sini. Mulai sekarang dia adalah milikku. Belikan makanan untuknya dengan kualitas terbaik. Urus dia sebaik mungkin saat aku tidak ada di rumah," ucap Maxi membuat kucing itu sedikit kesal karena ia tidak ingin disentuh oleh orang lain selain dengan Maxi.
"Sepertinya dia tidak menyukai aku tuan," ucap Neil pasrah.
"Baiklah. Siapkan makanannya saja. Mungkin dia hanya ingin aku yang mengurusinya. Baiklah kucing, kita akan selalu bersama tapi kamu harus janji untuk tidak menyusahkan aku," ucap Maxi lalu membawa kucing itu masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1