
Mimpi itu datang lagi dalam tidurnya putri Manolia. Mimpi itu makin nyata karena ia melihat putranya yang sudah menjadi seorang pemuda yang ingin merebut tahta suaminya dengan cara membunuh suaminya. Saat pedang itu menebas kepala suaminya oleh putranya sendiri membuat putri Manolia berteriak histeris.
"Tidakkkkk....!" Pekiknya spontan bangkit duduk dari tidurnya dengan nafas terengah-engah sambil berurai air mata membuat suaminya langsung memeluknya.
"Apakah kamu mimpi buruk lagi, sayang?" Tanya raja Jonas sambil menenangkan istrinya dalam pelukannya.
Ratu Manolia mengangguk sedih. Ia merasa waktu kebersamaan dengan suaminya akan segera berakhir.
"Apakah kamu benar-benar tidak ingin menceritakan tentang mimpimu burukmu itu, hmm?" Tanya raja Jonas cemas.
"Karena itu mimpi buruk yang membuat aku tidak boleh menceraikan kepadamu. Jika aku ceritakan kepadamu, maka mimpi itu akan menjadi kenyataan." Tutur Manolia lalu melarang suaminya untuk bertanya lagi.
"Baiklah. Ini masih larut malam. Ayo kita tidur lagi! Aku masih mengantuk." Ucap raja Jonas menarik tubuh istrinya untuk masuk dalam pelukannya dan kembali memejamkan mata mereka.
Jika raja Jonas bisa tidur nyenyak, lain halnya dengan putri Manolia yang sulit sekali memejamkan matanya. Ia menunggu suaminya terlelap, baru ia beringsut dari tempat tidur untuk melihat bayinya yang sedang tidur sendiri di dalam tempat tidur yang terbuat dari anyaman rotan.
"Aku harus membunuhmu, sayang. Maafkan ibumu ini." Ucap ratu Manolia membawa putranya untuk ia tenggelamkan.
Ratu Manolia membawa bayinya yang sedang tidur terlelap menuju telaga. Ia menangis sepanjang jalan karena harus menghilangkan nyawa bayinya. Naluri keibuannya hilang begitu saja karena hanya ingin melindungi suaminya di masa depan kelak.
"Apakah kamu yakin ingin membunuh bayimu ini, tuan putri?" Tanya peri.
"Aku tidak punya pilihan karena aku tidak ingin kehilangan suamiku." Sahut putri Manolia.
"Apakah kamu tidak takut dengan pertanyaan yang akan diajukan oleh suamimu yang menjadi penyebab kalian akan berpisah?"
"Aku tahu itu. Tapi aku bisa memberikannya lagi seorang anak." Ucap putri Manolia.
__ADS_1
"Jika kamu punya anak lagi belum tentu akan dikaruniai seorang anak laki-laki. Jika kamu tidak bisa memberikan seorang pangeran pada kerajaan itu, kamu tidak akan lagi mendapatkan tempat di hati suamimu. Setiap raja pasti akan menginginkan seorang pewaris yang akan menggantikan dirinya memimpin negerinya itu." Ucap peri.
"Aku lebih tahu apa yang harus aku lakukan untuk suamiku. Jangan menggagalkan rencanaku untuk membunuh putraku." Ujar ratu Manolia.
"Baiklah. Aku hanya mengingatkan kamu. Semua keputusan ada ditangan mu tuan putri. Jangan pernah menyesal nantinya karena kesempatan tidak datang dua kali dalam hidupmu." Ucap peri yang gagal mencegah putri Manolia untuk membunuh putranya.
Putri Manolia dengan teganya membekap mulut dan hidung putranya hingga tewas. Ia lalu melemparkan putranya ke dalam telaga itu dan kembali ke istana dengan perasaan sedih.
Sebanyak apapun ia menangis tidak akan mengembalikan keadaan. Ia melakukan ritual untuk mengolah kembali pikirannya agar jiwanya tenang dan tidak lagi terpengaruh oleh kesedihannya.
"Kesedihan hanya milik penduduk bumi. Aku adalah keturunan Dewa, pantang bagiku untuk menangis karena itu bukan sifat kami sebagai seorang Dewi." Hibur putri Manolia pada dirinya sendiri.
Seperti biasanya, ia kembali mempercantik diri dan merawat tubuhnya agar tetap membuat suaminya tergoda kepadanya. Dengan begitu suaminya tidak akan mengingat lagi putra mahkota yang telah ia bunuh.
...----------------...
"Aku ingin jalan-jalan dulu di taman bersama putraku. Tolong bawakan dia padaku!" Titah raja Jonas pada istrinya yang terlihat menghentikan langkahnya.
Raja Jonas mengulangi lagi permintaannya pada putri Manolia yang terlihat gelisah." Kenapa kamu masih berdiri saja, sayang? Apakah kamu tidak mendengar perkataanku?"
"Anak kita sudah meninggal dunia, suamiku." Ujar putri Manolia membuat raja Jonas terkejut.
"Apa...? Meninggal? Bukankah semalam dia baik-baik saja? Dan di mana jasadnya. Kenapa bayiku bisa meninggal? apakah dia sakit? Tanya raja Jonas berentetan membuat ratu Manolia bingung menjelaskannya.
"Istriku...! Kenapa kamu diam saja? apa yang terjadi pada bayi kita?"
"Dia sakit dan aku sudah menguburnya sendiri. Aku tidak ingin membuatmu sedih." Ucap putri Manolia makin membuat raja Jonas merasa sesak.
__ADS_1
"Wahai ratuku...! M..._" Putri Manolia menghentikan perkataan suaminya dengan bentuk pertanyaan lagi karena itu akan mendatangkan musibah besar untuk mereka.
"Tolong jangan bertanya lagi suamiku! Atau kau akan kehilangan aku?" Cegah putri Manolia sambil menempelkan satu jarinya pada bibir suaminya sambil menggelengkan kepalanya lemah.
"Tapi, sayang!"
"Ku mohon ..! Demi diriku. Aku bisa memberikan lagi bayiku untukmu. Asalkan kamu tidak mengajukan pertanyaan lagi padaku tentang apa yang aku lakukan pada bayi kita." Pinta putri Manolia yang juga merasa sedih saat ini melihat raut wajah kecewa pada suaminya yang menahan geram pada dirinya.
"Kau sangat misterius Manolia. Aku seperti sedang berhadapan dengan jiwa iblis berwajah malaikat." Sarkas raja Jonas makin membuat putri Manolia merasakan kepedihan dihatinya.
Raja Jonas meninggalkan putri Manolia yang masih ingin mengikuti langkahnya." Jangan mengikuti aku atau aku akan membencimu!" Raja Jonas berubah sinis pada istrinya yang hanya bisa diam terpaku di tempatnya berdiri sambil melihat punggung suaminya yang makin menjauh dari dirinya.
"Semoga suamiku secepatnya melupakan kematian bayi kami." Harap putri Manolia.
Tiga bulan kemudian, raja mulai move on dari kematian putranya namun tetap bersikap dingin pada istrinya, Manolia.
Wajahnya sedikitpun tidak berubah tetap terlihat datar dan sangat menakutkan. Apa lagi di tempat tidur, Raja Jonas memilih tidur dan tidak lagi memperhatikan keanggunan istrinya yang sering mengenakan pakaian tidur seksi untuk menggoda dirinya.
Putri Manolia memaklumi sikap suaminya yang tidak lagi menganggap dirinya sebagai seorang istri apa lagi seorang ibu. Bagi penduduk bumi anak adalah segalanya untuk kedua orangtua yang sangat menginginkan anak sebagai penerus keturunan mereka.
Putri Manolia sengaja mendekati suaminya dengan cara mengajak raja Jonas untuk ngobrol. Walaupun saat ini ia tahu kalau suaminya belum nyenyak tidur.
"Jonas! Aku tahu saat ini kamu belum tidur. Aku hanya ingin kamu tahu satu hal bahwa Aku terlalu mencintaimu hingga berbuat sesuatu yang mungkin menurutmu salah.
Tidak apa saat ini kamu marah padaku, tapi suatu saat nanti jika aku sudah pergi dari hidupmu untuk selamanya, maka kamu akan baru memahami apa yang telah aku lakukan karena demi cintaku padamu." Ucap putri Manolia yang terdengar memilukan.
"Cinta apa yang kamu punya untukku putri Manolia? Jika buah cinta kita saja kamu bunuh tanpa Rassa dosa dan bersalah?" Batin raja Jonas menangis dalam hatinya.
__ADS_1