Istriku Seorang Putri Dewa

Istriku Seorang Putri Dewa
37. Masih Bingung


__ADS_3

Maxi mengusir Neil dengan tatapan membunuhnya. Neill langsung paham dan meninggalkan ruang kerja tuannya dengan cepat.


"Maafkan kelancangan saya tuan!"' ucap Neil sambil membuka pintu itu dan keluar dengan pikiran kalut.


"Siapa gadis itu? kapan dia masuk?" bukankah setiap tamu yang menemui tuan Maxi harus melalui aku duluan. Sepanjang hari aku bahkan tidak meninggalkan tempatku selangkah pun," lirih Neil.


"Sayang. Apakah kamu bisa bertahan lebih lama seperti ini saat ini?" tanya Maxi yang ingin memamerkan Paris pada karyawannya dengan berjalan keluar sambil menggandeng tangan Paris.


"Aku tidak tahu sampai kapan aku bertahan karena ini pertama kalinya aku memohon pada dewa untuk memberiku kesempatan agar bisa membuktikan kepadamu bahwa aku tidak bohong tentang diriku yang dikutuk menjadi seekor kucing," ucap Paris membuat Maxi paham.


"Baiklah. Kita jalan-jalan sebentar. Aku ingin mengajakmu makan es krim karena aku tahu kamu pasti belum mencobanya," ucap Maxi lalu mengambil mantel winter miliknya untuk dipakaikan ke tubuh Paris yang saat ini hanya mengenakan gaun sutra yang sangat tipis.


Ditubuh Paris, gadis itu hanya memakai perhiasan cincin bermata batu safir yang terlihat unik dan juga antik dan tidak ada model seperti itu di toko perhiasan manapun.


"Benarkah. Kalau begitu tunggu apa lagi? ayo kita pergi sekarang!" pinta Paris begitu gembira.


Maxi sangat bersemangat lalu memagut lagi bibir Paris sesaat lalu berjalan menuju lift. Namun sayang Maxi lupa kalau Paris tidak punya sendal maupun sepatu untuk dipakai gadis itu.


"Tunggu sebentar sayang! kamu pakai sendal ini dulu dan kita akan langsung membeli sepatu untukmu. Kamu maukan?" tanya Maxi.


"Asal bersamamu tidak masalah bagiku mengenakan apapun," ucap Paris sambil tersenyum pada Maxi.


"Astaga. Senyumnya saja membuat jantungku berhenti berdetak.


"Sayang. Nanti kamu tidak boleh senyum pada semua orang. Kamu mengerti Paris?" pinta Maxi saat mereka masuk ke dalam lift.


Paris memperhatikan penampilan dua orang staff kekasihnya yang berdiri di hadapannya." Mereka sangat cantik dengan pakaian seperti itu. Apakah itu adalah sepatu wanita yang dimaksud Maxi?" batin Paris.


"Maxi!"


"Iya sayang."


"Aku mau mencoba memakai sepatu gadis itu," unjuk Paris pada salah satu karyawan yang mengenakan sepatu yang sebenarnya bukan sepatu branded sesuai selera Maxi. Namun karena permintaan Paris, ia akhirnya meminta stafnya yang bernama Lana itu bertukar alas kaki dengan Paris.

__ADS_1


"Nona Lana."


"Iya tuan!"


"Apakah kamu mau aku bayarin sepatumu itu?" tanya Maxi pada Lana.


"Tapi sepatuku murahan Tuan Maxi," ujar Luna.


"Tidak apa. Aku menyukainya," ucap Paris.


"Apakah ukurannya muat di kaki anda nona?" tanya Luna sambil membuka sepatunya untuk dicoba Paris terlebih dahulu.


"Semoga saja muat," ucap Paris.


Paris mengenakan sepatu itu dan ternyata sangat pas di kakinya. Karena sepatu itu model high heels, Paris sulit untuk melangkah. Maxi memberikan begitu banyak uang pada Luna yang menerimanya dengan takjub.


"Tuan. Ini terlalu banyak untuk sepatu jelek itu," ucap Luna.


"Maxi. Kenapa langkahku menjadi aneh seperti ini? aku takut jatuh," keluh Paris yang melangkah perlahan membuat Maxi harus menggendongnya.


"Maxi. Perlakuanmu sangat manis padaku. Aku sangat menyukainya, Maxi," ucap Paris malu-malu.


"Itu karena aku terlalu mencintaimu, dan aku tidak ingin melihatmu dalam keadaan kesulitan," ucap Maxi tulus.


Tanpa disadari Paris kalau ucapan Maxi membuat perubahan warna cincinnya yang awalnya tidak ada sinar, kini sedikit memiliki sinar terang hingga terlihat kilaunya. Itu berarti Paris bisa bertahan lebih lama dalam waktu dua puluh empat jam terhitung mulai saat ini.


Mobil itu sudah bergerak meninggalkan perusahaan milik Maxi menuju Mall. Setibanya mereka di Mall, Maxi mengajak Paris untuk makan es krim.


Paris begitu takjub melihat berbagai macam warna es krim dengan varian rasa yang berbeda-beda. Ia sampai menjilat bibirnya terlihat sangat tergiur dengan es krim tersebut.


"Pesan dua dulu ya sayang. Nanti kamu bisa tambah lagi karena es krim akan cepat meleleh kalau tidak cepat makannya," jelas Maxi.


"Iya Maxi. Baiklah. Pesan saja sesuai dengan keinginanmu karena semua makanan ini belum bisa ku pahami cara kerjanya," ucap Paris.

__ADS_1


"Baiklah. Kamu mau yang mana dulu?" tanya Maxi.


"Rasa ini dan ini!" unjuk Paris yang tidak sabar ingin menikmatinya.


Tingkah aneh Paris menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang ngantri membeli es krim.


"Kenapa gadis ini terlihat aneh? apakah dia baru lihat es krim," ucap salah satu wanita yang berdiri tidak jauh dari Paris dan Maxi.


Paris menengok ke belakang untuk melihat sang gadis yang sedang bergunjing tentang dirinya.


"Apakah kalian sedang membicarakan aku, nona?" tanya Paris dengan wajah sangar.


Maxi menatap dua gadis yang ditegur Paris." Tuan. Ini es krimnya," ucap pelayan es krim itu pada Maxi.


"Terimakasih."


Max mencari tempat duduk agar mereka bisa makan es krim. Paris segera memakan' es krimnya dengan cepat." Sayang. Makannya pelan-pelan! jangan seperti itu!" ucap Maxi.


"Bukankah katamu es krimnya akan meleleh kalau kelamaan dimakan," ucap Paris sambil sambil memakan es krimnya hingga belepotan di sekitar bibirnya.


Maxi membersihkan mulut Paris dengan lidahnya membuat Paris begitu kegirangan." Apakah sangat enak menjilat es krim disekitar bibirku, Maxi?" tanya Paris sambil tersenyum dengan rona bahagia.


"Apakah kamu menyukainya sayang?" Maxi balik bertanya pada Paris yang mengangguknya dengan cepat.


Maxi sangat senang melihat wajah imut nan cantik Paris yang terlihat sangat menggemaskan." Ya Tuhan. Kenapa dia sangat lucu dan membuat aku sangat bahagia. Aku belum pernah sebahagia ini dengan wanita manapun yang aku kenal kecuali ibuku dan juga adikku Ashley," batin Maxi.


Tidak terasa Paris sudah menghabiskan es krimnya. Maxi membelinya dua cup lagi dan itu sangat membuat Paris terlonjak kegirangan..


Usai makan es krim, keduanya ke toko baju dan sepatu. Maxi membeli sepatu model sneaker untuk Paris karena gadis itu tidak bisa berjalan dengan sepatu berhaq tinggi. Paris harus banyak belajar untuk cara berjalan jika mengenakan sepatu tersebut. Dengan sepatu Kets dan sepatu model rata, memudahkan Parisnya untuk berjalan. Itu yang ada didalam pikiran Maxi.


Maxi yang memilih sendiri dress untuk Paris dan aksesoris lainnya yang menunjang penampilan Paris. Setelah membantu Paris berhias, Maxi mengajak Maxi pulang.


Hari itu, Maxi menghabiskan waktunya dengan Paris hingga malam hari karena ia ingin makan malam di luar sebelum balik ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2