Istriku Seorang Putri Dewa

Istriku Seorang Putri Dewa
48. Merasa Bahagia


__ADS_3

Wajah cantik Paris terlihat lebih cantik dengan gaun indah yang merupakan pemberian kedua neneknya yang langsung di bawa dari langit untuk pernikahannya.


Bahkan putri Manolia sendiri yang mendadani cucunya itu tentu saja dengan ilmu sihir yang ia gunakan. Sekarang jadilah seperti bidadari yang baru turun dari khayangan. Maxi begitu kagum saat kedua neneknya Paris mengantarkan Paris sendiri ke atas altar di mana Maxi sudah menunggu gadis itu dengan hati yang berdebar-debar.


Kedua nenek Paris tidak sedikitpun berubah visual mereka karena mereka adalah putri kahyangan putri dari dewa. Maxi mengetahui itu semua dari cerita Paris sendiri. Para tamu yang sebagian besar adalah karyawannya dan juga kolega Maxi yang memenuhi gereja itu menatap kagum pada ketiga wanita paling cantik berjalan beriringan membawa Paris ke atas altar.


"Itu siapa yang mendampingi calon istrinya tuan Maxi? mengapa mereka sangat cantik? apakah itu saudaranya?" tanya koleganya Maxi.


"Entahlah. Aku baru melihat kedua wanita itu. Nanti saja kita ajak kenalan kali salah satu dari mereka jodohku," ucap stafnya Maxi.


"Sudahlah. Kita fokus dulu pada pernikahannya tuan Maxi dan istrinya," ucap yang lainnya.


Keduanya segera mengambil sumpah pernikahan dan mengucapkan dengan lantang di depan pendeta saling menatap satu sama lain. Setelah diberkati pendetanya, kini Maxi membuka kain tipis transparan yang menutupi wajahnya Paris yang dipercaya jika gadis ini masih perawan..

__ADS_1


Nama Paris diganti dengan nama Anastasia Rebecca Paula di akte pernikahannya. Dan Maxi tetap memanggil wanitanya dengan sebutan Paris.


"Cium...cium..cium!" teriak para tamu undangan membuat Maxi dan Paris saling memagut bibir mereka.


"Aku mencintaimu Maxi!" lirih Paris usai berciuman dengan suaminya.


"Aku lebih dari itu sayang," ucap Maxi membuat Paris tersipu malu. Keduanya berjalan keluar di sambut oleh para tamu dengan menaburkan kelopak bunga ke atas kepala mereka. keduanya harus melemparkan bunga yang disambut oleh Neil. Keduanya langsung masuk ke mobil menuju bandara untuk bulan madu.


"Maxi. Ke mana kita akan melakukan bulan madu sayang?" tanya Paris.


"Apakah mereka punya kerajaan Maxi?" tanya Paris.


"Jaman dulu memang ada tapi jaman sekarang tidak diakui kerajaan lagi kecuali satu kerajaan yang diakui oleh negara," ucap Maxi.

__ADS_1


"Maxi. Apakah kamu tidak ingin mengunjungi keluargaku?" tanya Paris terlihat sedih.


"Bagaimana caranya kita bisa ke sana?" tanya Maxi.


"Dengan tongkat ajaib yang aku miliki. Dengan begitu kita bisa melintasi waktu, Maxi," ucap Paris.


"Nanti saja kalau kita pulang dari bulan madu, ya sayang!" bujuk Maxi yang tidak ingin berkunjung ke masalalu karena dua juga takut hilang dan tak bisa kembali lagi.


"Apakah kamu takut Maxi?" Paris curiga pada penolakan Maxi.


"Tidak sayang. Bukan begitu. Aku hanya ingin kita menikmati bulan madu kita dulu baru kita akan pergi ke masalalu," ucap Maxi memberikan alasan yang tepat pada Paris.


"Benarkah? kalau begitu kenapa kita harus menaiki pesawat segala? kenapa kita tidak langsung saja pergi ke sana dengan menggunakan ilmu sihir ku? apakah kamu tidak ingin mencobanya?" bujuk Paris membuat Maxi mengharukan kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


"Sayang. Aku tahu kamu ingin semuanya serba cepat, tapi kita hidup bukan di dunia sihir. Semuanya butuh proses. Dengan cara itu, kita bisa menolong orang untuk mendapatkan uang. Seperti kita naik pesawat yang akan dibantu pilot yang menerbangkan pesawatnya. Ada pramugari yang akan melayani kita. Jadi mereka butuh pekerjaan itu agar mereka bisa menghidupi keluarganya. Jadi, manusia hidup semuanya butuh proses karena berpikir dengan akalnya. Tidak dengan ilmu sihir yang menjadikan semuanya instan," jelas Maxi panjang lebar membuat Paris pusing sendiri.


__ADS_2