Janji Suci Di Tanah Suci

Janji Suci Di Tanah Suci
#31.Dia Anak Ku


__ADS_3

ah ngak sayang ... ayo udah kita kesana sama rombongan'" jawabku mengalihkan putri


aku melihat putri melambaikan tangan dengan senyum "oh ternyata kiya,, sama adim" biarlah aku malas untuk bepikir itu sekarang..


Aku sangat deg degkan melihat anak ku bertanding karena usia nya yang belia menurutku walaupun ini bukan yang pertama kali, ini kali ketiga anak ku mengikuti lomba besar, antar Kota dan yang menang akan mewakili kaltim ke ajang nasional.


Aku selalu menyemangati anak didik ku termaksud anak ku sendiri, tidak terasa di hari yang lelah ini usai semua perlombaan dari yang kecil hingga dewasa.


tidak lama kiya, alif serta adim menghampiri kami.


"sayangku....." Teriak kiya ke putri sambil menggendong nya "putri hebat ...onty jady terharu, gak nyangka putri lumpuhkan lawan yang usianya beda jauh" ucapnya penuh ketulusan.


"Terima Kasih onty, jangan lupa beliin putr ice cream ya" jawabnya yang lelah


"Asiaap Bosku" kiya dengan girang menggendong nya, akupun berbica ke pada beberapa pelatih untuk istirahat dluan bersama anak didik yang membawa kebanggaan.


"Selamat ya putri cantik, om tidak nyangka loh putri sehebat itu" sahut alif dengan wajah yang bahagia melihat anak kecil punya bakat yang luar biasa.


Aku melihat adim, dia hanya diam dan tersenyum sesekali ke putri dengan raut wajah yang senduh dan penuh pertanyaan.


"kiya... putri biar saya yang bawa sepertinya dia mulai mengantuk" izin adim ke pada kiya


"izin dulu bang ke emaknya" sahut kiya


"eemm...boleh aku menggendong putri"


"iyah boleh" Karena aku lelah, hanya jawaban itu yang ku beri.


sesampainya kita di hotel, Kiya dan mba rierie masuk serta dua laki -laki juga, adim menaruh putri dengan hati hati, begitu lelap putri tidur sampai gak sadar kalau ayahnya sendiri lah yang membawa nya.


"emm rie... Boleh kita bicara berdua sebentar" tanya nya


"ayo kita bicara di cafe bawah sekalian isi perut, kamu dluan aja dim aku perlu bersihkan diri dulu" jawabku di ujung lelah


"Baiklah..."

__ADS_1


"Mba rierie, kiya sama alif pamit pulang dulu yah ada yang mau di urus mba" tiba tiba kiya pamit pulang bersama calonnya.


"Terima Kasih banyak ya kiy sudah temanin mba di sini salam buat umi dan abi" senyumku penuh ketulasan.


"Salam buat putri jika dia bangun ya mba... ini untuk putri hadiah atas kemenangan nya" kiya memberikan amplop ke pada putri yang sudah ku tebak pastilah itu sejumlah uang.


"Baik mba terima ya dee....hati hati di jalan ya"


"tenang aja mba ada o'om manise pasti aman he he" jawabnya dengan senyum lalu pergi meninggalkan ku di kamar.


akupun langsung mandi mengingat di bawah ada seseorang yang menungguku, akhir selesai semua, aku keluar dengan baju yang casual serta jilbab yang sederhana.


Akupun sampai di cafe , kami memasan makanan serta minum, tidak ada yang memulai pembicaraan kamipun makan dalam diam "Alhamdulillah" ucapku setelah makan.


"oh iya dim, tadi mau ngomong apa?" tanyaku pura pura tidak tau


"kamu apa kabar rie? rasanya sudah lama kita gak jumpa!"


"alhamdulillah kabarku baik setelah di campakan oleh mu" jawabku enteng sambil memakan kentang goreng.


"setelah kamu meniduriku, dan pergi meninggalku apa itu bukan mencampakan namanya hah" jawabku sedikit berbisik dan sinis karena lumayan ramai pengunjung cafe


"tapi rie, aku tidak mencintai mu waktu itu maaf....Aku hilaf rie" jawabnya dengan wajah yang tertunduk


"Aku terima Hilaf dan maaf mu, bahkan aku sudah ihklas" jawabku menahan air mata ku yang ingin turun, bisa bisa dia bilang seperti itu di saat aku hamil dan melahirkan tanpa siapapun.


akupun berdiri meninggalkan nya untuk menenagkan pikiranku agar tidak kelepasan


"rie tunggu........" Teriaknya


Taman sekitar hotel


"rie tunggu... aku mau minta penjelasan soal putri!!" lari mengejarku


"tidak ada yang perlu aku jelasin dim, dia anak ku kamu harus ingat itu Dia Anak Ku" aku menekan kan setiap kata agar dia tau kalo putri hanya untuk ku.

__ADS_1


"rie tolong rie jangan seperti ini..aku berhak tau karena aku ayahnya" sahut adim di sela amarahku


"Apa kamu bilang ayah ha ha ha lucu kenapa baru sekarang kamu bilang, bahwa kamu ayahnya hah (emosi di ubun ubun guys) apa kamu pernah telpon aku hanya untuk menanyakan kabar ku dim, setelah kejadian itu kamu betul - betul menghindar dariku, dan pergi entah kemana (air mata sudah membajiri pipi) hiks hiks... Aku hamil seorang diri dim, aku pergi jauh dari keluarga karena tidak ingin mereka malu punya anak seperti ku, Aku sakit sakit sendiri melewati masa kehamilan ku dan berjuang memcari nafkah...."


Adim hanya terdiam menyimak apa yang kuluapkan.


"Aku di cemooh orang orang sekitar ku dim, aku selalu berpindah pindah tempat tinggal hingga menemukan zona nyaman ku, kamu datang hanya mengusik ku dim, Putri bukan anak mu, Putri tidak pernah mempunyai ayah seperti mu hiks hiks"


"rie aku minta maaf rie... kamu boleh menghukum ku apa saja rie tapi tolong rie beritahu putri bahwa aku ayahnya, biar kan aku yang mengurusnya"


"Apa kamu bilang... kamu membawa nya tidak tidak akan ku biarkan kamu membawa nya apa lagi menyentuh nya... kamu laki laki tidak tahu malu, setelah apa yang kau perbuat kamu malah mau mengambil nya dari ku... ingat adim ini pertemuan trakhir kita.. aku sangat membenci mu, satu lagi aku gak nyangka kiya mempunyai abang seperti mu"


jatuh berlutut di depan kaki ku, melupakan urat malunya yang di lihat banyak orang


" Maafkan aku rie... maafkan aku (adim menangis) aku ... aku tidak akan membawa nya pergi dari mu rie maafkan aku.... Tolong rie kali ini aja sampaikan bahwa aku ayahnya setidak nya dia mengenalku sebagai ayahnya" ucapnya memohon


"kenapa kamu m8nta di akui sebagai ayahnya... dia sangat membenci ayahnya karena kami berjuang berdua dari nol, akan ada waktunya dia akan tau sendiri" akupun pergi meninggalkan nya...


aku cukup lelah dan menguras energi serta pikiranku rasa sakit hati ini datang lagi, setelah sekian lama aku melupakan nya...


akupun masuk ke dalam hotel membawa ice cream serta makanan untuk putriku.


"Sayang kamu kok sudah cantik" tanyaku yang melihat nya audah mandi di bantu oleh pengasuh putri.


"bibi sudah makan?"


"alhamdulillah sudah mba" jawab pengasuh putri yang sudah ku anggap keluarga sendiri


"bunda kenapa mata bund bengkak begitu apa bunda bertengkar sama om di bawah"


...-------------------...


Terimakasih pembaca setiaku 😘


jangan lupa like dan Komen nya yah 🤗

__ADS_1


__ADS_2