Jasmine My Mine

Jasmine My Mine
Part 9


__ADS_3

Jasmine perlahan membuka matanya. Pemandangan yang pertama kali menyambut netranya adalah hal asing yang tak pernah dilihat olehnya sebelumnya. Wanita itu langsung bangun dan kemudian menatap ke sekitarnya.


Ia membulatkan matanya. Tidak, kenapa tempat ini terasa sumpek dan sangat mengerikan. Jasmine mengusap tengkuknya yang merinding dan berusaha untuk merasa lebih tenang lagi.


Jasmine membangkitkan tubuhnya dan berusaha melawan rasa takut tersebut. Ia tak mungkin kalah dari mereka yang sudah menculiknya. Jasmine memajangkan matanya dan berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ia berakhir di tempat ini.


Setelah berpikir cukup lama akhirnya Jasmine menemukan titik terangnya. Wanita itu menelan ludahnya dengan susah payah dan tangannya membentuk sebuah tinjuan. Hal itu refleksi lakukan karena rasa kesal yang cukup mendalam kepada Libra.


Wajar saja jika dirinya mengumpati laki-laki tersebut. Bisa-bisanya ia terkecoh oleh Libra dan apalagi kejadian terakhir kali diingat olehnya adalah saat pria itu menciumnya. Menciumnya? Apakah ia tidak salah ingat? Jasmine langsung memegang mulutnya dan tubuhnya bergetar karena bibir sucinya ini telah direnggut oleh orang yang sangat ia benci. Tentu saja hal tersebut menjadi bencana buruk baginya.


Ia merasa jika ia tak lagi suci dan bahkan orang-orang tak akan memandangnya dengan pandangan baik. Membayangkannya saja membuat jantung Jasmine berdetak.


Ia pun memantapkan hati untuk mencari pria itu di sekitar sini. Ia tak mungkin bakal kalah dan terkurung di sini selamanya. Ia harus melakukan sesuatu agar dirinya bisa selamat dari tempat ini.


Apalagi pemberitaan mitologi mengenai kejahatan seksual semakin banyak, ia takut dirinya akan menjadi salah satu dari mereka. Jasmine menghela napas panjang dan kemudian berjalan ke arah pintu.


Namun sebelum itu ia sempat memperhatikan ruangan kamar tersebut yang sangat berantakan. Ia tahu yang tinggal di sini pastilah laki-laki karena terlihat mereka sama sekali orang yang pembersih. Jasmine mengusap dadanya. Ia harus sabar walaupun ia ditempatkan di tempat yang sangat kotor.


Wanita itu membuka pintu kamar dan Jasmine tak tahu akan memberikan ekspresi seperti apa. Namun sekarang ia merasa malu dan tidak sedang berada di tempat ini. Wanita itu refleks kembali menutup pintu kamar tersebut dan kemudian bersandar di belakang pintu itu 0 seraya mengusap dadanya.


Apa yang baru saja ia lihat adalah pemandangan yang cukup mengerikan. Ia dibawa ke markas teman-temannya juga sedang berkumpul di depan pintu kamar seraya bermain judi. Hal itu membuatnya sangatlah terkejut. Tidak hanya dua orang akan tetapi lebih dari pada itu hingga membuat Jasmine tak tahu caranya menenangkan jantung yang terus berdetak.


"Tuh cowok gila apa? Masa gue dibawa ke tempat dia? Sumpah kalau gue udah selamat gue bakal habisin Libra." Tentu saja seorang Jasmine sangat kesal kepada pria tersebut.

__ADS_1


Sementara Libra hanya terbengong melihat Jasmine yang kembali menutup pintu. Sementara Oscar tak bisa mengatupkan mulutnya saking terpesona melihat kecantikan yang dimiliki oleh Jasmine. Memang tidak dipungkiri bahwa Jasmine memiliki pesona yang sangat kuat. Siapapun yang melihatnya pasti akan tercengang.


Tidak hanya Oscar yang mengalami hal tersebut, namun anggota dari geng tersebut juga merasakan hal yang sama. Mereka memandang ke arah Libra dan tentunya tidak berani mengusik milik laki-laki itu.


"Libra, apakah cewek itu yang lo maksud?" tanya Oscar dengan mata masih memandang ke arah pintu tersebut.


Libra menarik nafas panjang dan mengintip ke arah Oscar dengan tatapan peringatan. Oscar belum menyadari tatapan maut yang diberikan oleh Libra. Venus yang menyadari hal tersebut lantas menyenggol lengan Oscar untuk memberikan peringatan kepada pria tersebut.


"Apaan sih Venus!"


"Lo tau nggak kalau bos lagi ngeliatin lo." Mata Oscar membulat dan memandang ke arah Libra.


"Maafin ketua," ujarnya cengengesan untuk menutupi rasa takutnya.


"Lu yakin bahwa itu cewek ke sini? Emang gak masalah gitu buat lo? Apalagi lo tau sendiri kalau tuh cewek bisa aja ngelaporin kita ke polisi. Kita bisa dalam bahaya." Olga berbicara kepada Libra.


Namun tampaknya Libra tak peduli dan tak takut sama sekali dengan ancaman itu. Dirinya sudah biasa keluar masuk penjara dan bisa dikatakan ia kebal hukum.


Untuk mengatasi masalah seperti Jasmine ini bukanlah hal sulit baginya. Ia yakin pasti bisa menaklukkan Jasmine dan mulut kasarnya tersebut.


"Gue bakal ngelakuin apapun buat tuh cewek sadar kalau mulutnya kayak nggak pernah sekolah. Dia sama kayak nyokap dan bokap gue yang taunya ngehina," tuturnya yang menyimpan begitu banyak kepedihan.


Ia hanya ingin dipedulikan dan sama sekali orang-orang tak pernah memandangnya. Entah kenapa ia bisa jatuh cinta dengan seorang Jasmine. Dirinya juga tidak begitu mengerti padahal Jasmine memiliki sifat yang cukup buruk.

__ADS_1


Tapi jika dipikir-pikir menjadi Jasmine juga tidak salah, karena Jasmine pasti akan ketakutan dan berpikir bahwa ia adalah orang jahat karena mengingat sifatnya yang sangat buruk di mata orang lain. Bahkan dirinya sendiri juga merasa hal yang sama.


"Bentar gue bakal nemuin dia."


Libra pun menepuk lengan Olga dan kemudian menghampiri pintu kamar tempat di mana Jasmine dikurung. Sementara itu Jasmine tidak bisa berbuat apapun selain menahan di depan jantungnya yang berdetak sangat keras karena memikirkan nasibnya yang takut akan menjadi pemuas nafsu para pria tersebut. Bahkan baru saja memikirkannya ia langsung meneteskan air matanya.


Jasmine tak pernah menyangka bahwa hidupnya begitu sulit dan bakal bertemu dengan Libra karena kesalahannya. Ia menghapus air matanya yang terus seluruh ke pipi mulusnya.


Ia begitu terlarut-larut dalam tangisannya sehingga disadarkan dengan usapan jari telunjuk dari Libra yang menghapus air matanya. Sontak saja Jasmine menoleh ke arah pria itu dan tercengang. Namun dalam beberapa detik ia langsung tersadar dan kemudian reflek menjauh dari Libra.


Hanya sekali lihat Libra juga bisa menebak bahwa wanita itu sedang bergetar. Wajahnya begitu pucat dan bahkan ia sendiri merasa menjadi tidak tega.


"Kenapa? Sekarang lo takut? Ke mana keberanian lo yang selalu ngata-ngatain gue itu? Ke mana?" Jasmine menghela nafas panjang dan membuang wajahnya. Demi keselamatan dirinya ia harus merendahkan diri sendiri dan meminta maaf kepada pria itu.


"Bukan maksudku seperti itu, tapi aku benar-benar minta maaf."


"Ada syaratnya, lo harus bayar dengan sebuah ciuman."


Belum sempat Jasmine menjawab tiba-tiba tubuhnya dihimpit ke tembok dan kemudian wajah pria itu sudah berada di depannya dan bibir mereka telah menyatu. Ia telat untuk memperingati pria itu.


_______


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2