Jasmine My Mine

Jasmine My Mine
Part 47


__ADS_3

Marcelino paling bersemangat untuk masuk ke dalam mobil. Mereka akan pergi ke acara pernikahan Moran dan Karina.


Setelah menjalin hubungan bertahun-tahun yang penuh dengan rintangan dan segala cobaan akhirnya Karina dan Moran berhasil ke tahap pernikahan. Bahkan mungkin keduanya tidak akan menyadari bahwa sesuatu yang begitu tidak mungkin dan berawal dari iseng berakhir dengan seperti ini.


Memang ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa dan bahkan banyak orang yang tidak menyangka baik dari teman Moran sendiri maupun dari teman-teman Karina.


Bahkan sampai sekarang Jasmine masih bertanya-tanya apakah hal ini benar-benar nyata. Namun mengingat begitu cintanya Moran dan bahkan rintangan keduanya tidak semudah itu.


Jasmine dan cacah adalah salah satu saksi bagaimana Moran yang berjuang demi Karina. Pria itu sempat ditolak oleh keluarga Karina. Belum lagi Moran yang harus berjuang antara hidup dan mati mendapatkan kepercayaan dari orang tua Karina dengan cara membuka bisnisnya hingga sampai menjadi pengusaha sukses.


Karena telah berhasil melalui tantangan yang diberikan oleh orang tua Karina maka Moran pun disetujui untuk menikah dengan anak mereka. Semua kerja kerasnya akhirnya terbalas juga.


“Mama, apakah mama dulu juga menikah seperti Paman Moran dan juga bibi Karina?”


Jasmine memandang ke arah Libra yang membenarkan ucapan anaknya tersebut. Rasa ingin tahu Marcelino mengenai hubungan orang tuanya di masa lalu begitu besar. Padahal anak itu masih kecil dan seharusnya belum mengerti apapun mengenai masalah percintaan.


Jasmine mencintai anaknya dan ia memberikan pendidikan yang semaksimal mungkin kepada anak mereka. Dan alhasil Marcelino mewarisi kepintaran ibunya dan juga mewarisi sifat buruk ayahnya yang keras kepala.


“Kenapa kau menanggapi ucapannya? Jangan banyak menceritakan masalah percintaan di masa ini yang seperti ini. Takutnya dia akan mengenal masalah percintaan sebelum waktunya,” marah Jasmine kepada Libra yang selalu saja melakukan apapun tanpa persetujuannya.


“Kau tidak usah khawatir. Dia adalah anak yang pintar. Aku yakin bahwa dia akan menjadi orang yang hebat seperti mu. Dia bertanya seperti itu mungkin Karena rasa ingin tahunya yang luas.” Libra selalu berpikir positif dan tidak memikirkan bagaimana dampaknya.


Belum bisa memastikan apakah anaknya ini memiliki keingintahuan yang besar atau tidak. Jika seperti itu maka ia sama seperti dirinya di masa lalu.


“Jangan berbicara seperti itu. Lebih baik kita menghindari topiknya daripada kebablasan seumur hidup.”


“Ya, ya istriku yang cantik. Kini aku lagi yang salah.” Libra menarik nafas panjang dan kemudian membuka pintu mobilnya.


Ia memandang ke arah anak dan ibu itu yang belum juga masuk ke dalam mobil. Libra mengangkat satu alisnya dan bertanya apakah mereka semua ingin melihat tindakan dan tidak jadi pergi ke acara pernikahan Karina dan Moran.


“kenapa masih diam di tempat? Apakah tidak jadi pergi?”


“Enak saja kau berbicara seperti itu.” Libra pun membantu Marcelino masuk di mobil bagian belakang. Sementara itu ia duduk di bagian depan di samping Libra. “Jangan membuat mood ku hari ini tidak baik.”


“Kenapa suami selalu saja salah di mata istri? Kapan aku bisa mendapatkan perlakuan baik?” tanya Libra dengan wajah masam.


Jasmine pun menghela napas dan tersenyum terpaksa ke arah pria itu. Apakah laki-laki tersebut tidak menyadari jika di belakang ada anak mereka yang akan melihat pertengkaran tersebut.


Jasmine nenarik napas panjang. Lagipula itu adalah salah suaminya dan kenapa ia malah protes kepadanya.


“Iya maafkan aku. Lagi-lagi aku yg salah.”

__ADS_1


••••••


“Happy wedding sayang ku!!” ucap Jasmine memeluk tubuh Karina. Ia bahkan sampai menangis melihat sahabatnya ini akhirnya sampai juga di pelaminan. “ Aku pikir kalian akan putus di tengah jalan, Tapi siapa sangka malah perjuangan Moran sangat mengagumkan.”


Karina memandang ke arah Moran yang ada di sampingnya. Lihatlah semua orang memuji efek laki-laki tersebut yang begitu berani melawan keluarganya. Karina benar-benar beruntung mendapatkan Moran.


“Perjuangan Libra juga tidak kalah jauh. Aku juga sangat kagum dengan perjuangannya.”


“Karena suami kita luar biasa,” ucap Jasmine yang memuji suami mereka dan sementara itu Moran dan Libra yang ada di sekitar situ saling memandang dengan wajah memerah karena dipuji oleh istri mereka masing-masing.


“Kau benar, sulit mengakuinya tapi faktanya dia memang luar biasa.”


“Baru kali ini gue dipuji sama istri,” ucap Moran dan merasa terharu. Di balik itu semua ada Libra yang juga merasakan hal yang sama


Ia bahkan sama sekali tidak bisa berkedip saat mendengar pujian tersebut. Jasmine tak sengaja menatapnya dan dia diam-diam tersenyum. Lihatlah dengan hal semacam itu ia telah membuat orang lain bahagia.


“Terima kasih,” ucap Libra membisiki Jasmine.


“Cieh!!” ledek Karina dan jasmine menatap wanita itu dengan pandangan marah. Seharusnya ia yang memperlakukan Karina seperti itu dan bukan malah sebaliknya.


“Coy! Gue ditinggalin!” teriak Caca dan ia tersenyum kepada sahabatnya yang keduanya sudah menikah dan hanya tersisa dirinya.


“Tau aja,” ucap Caca dengan iri menatap bagaimana kedua sahabatnya telah mendapatkan orang yang sangat mencintai mereka dan hanya tinggal dirinya yang harus stres dan keluar masuk bar sebab selalu saja diselingkuhi atau ditinggalkan.


“Sabar Ca, pasti ada orang yang bisa mendapatkan lo.”


“Hm, btw selamat nenek lampir. Gue gak nyangka lo nikah sama orang yang kaya lo gak cintai.”


“Apaan sih kuntilanak,” ucap Karina tidak terima bawa dulu iya memang pernah mengatakan seperti itu kepada teman-temannya.


Jasmine terkekeh dan kemudian memperingati Caca agar tidak merusak hari bahagia mereka. Ini adalah harinya Karina.


“Nggak boleh ngomong kayak gitu Caca. Nggak apa-apa sehari aja lo pro sama Karina.” Caca menganggukkan kepalanya dan tiba-tiba wanita itu mengejutkan kedua sahabatnya.


Ia menangis dan memeluk Karina serta Jasmine. Ia merasa sakit hati kepada para pria yang selalu saja meninggalkannya dan sering tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang lain saat mereka yang mendzolimi dirinya.


“cowok-cowok itu benar-benar brengsek. Mereka tidak ada yang baik, Jadi lo berdua harus hati-hati sama mereka,” tunjuk Caca ke arah Moran dan Libra.


Sementara itu Libra menunjuk dirinya sendiri tidak menyangka bahwa ia dicap seperti itu oleh Caca. Padahal selama ini Ia dikenal sebagai perempuan yang paling setia.


“Monster,” ucap Libra dan Caca langsung marah dan mengangkat tangannya ingin memukul Libra.

__ADS_1


Namun sayangnya Jasmine langsung menahan wanita tersebut.


“Jangan membuat keributan di sini,” pinta wanita itu. “Hormati Karina.”


Caca pun menganggukan kepalanya. Ia melepaskan pelukannya pada dua sahabatnya tersebut.


“Semoha kalian delu bahagia dan tidak ada orang ketiga.”


“Aamiin.”


Caca pun turun dari pelaminan dengan wajah sedih. Jasmine serta Karina saling berpandangan penuh arti.


Tiba-tiba Olga menghampiri Caca dan berlutut di depan wanita itu. Caca mengerutkan keningnya. Asalkan kalian tahu, Caca dekat dengan Olga dan bahkan menjadi teman curhat bagi keduanya. Caca menganggap Olga sebagai sahabatnya. Melihat sahabatnya tersebut perlu di depannya tentu membuat tanda tanya yang besar.


“Kenapa lo?”


“Caca terimakasih untuk semuanya. Jujur ko adalah sahabat terbaik gue, tapi sayangnya gue gak bisa seperti sahabat pada umumnya.”


“Maksud lo?”


“Caca Will you marry me?”


Semua orang yang memperhatikan pun bersorak dan yang paling heboh tentu saja rivalnya, Karina.


“Caca terima aja dari pada lo disakitin seumur hidup dan jadi perawan tua!!” teriak Karina.


Caca pun menangis deras dan menganggukkan kepalanya.


“Yes i will!”


“Yeyy!”


Marcelino yang tidak tahu apapun bertanya kepada ayahnya.


“Papa, apakah dulu Papa juga seperti itu ke Mama?”


“Ya tentu saja.”


TAMAT


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2