
Suasana malam yang begitu sunyi serta hanya ada suara jangkrik tetap saja membuat Libra tidak menghentikan tekadnya untuk pergi ke rumah Jasmine. Ia sendiri juga bingung apa yang ia cari di rumah Jasmine. Apalagi ya tahu bahwa Jasmine tentunya tidak mudah menerimanya.
Namun sekarang sudah telat untuk pulang karena ia sudah berada di depan rumah Jasmine. Dirinya sempat memperhatikan Jasmine pulang ke rumah walaupun tidak mengantarnya sampai ke depan rumah wanita itu. Ia sendiri terkejut melihat Jasmine memiliki rumah yang sangat besar dan lebih besar dari rumahnya. Tapi kenapa wanita itu pergi dan pulang jalan kaki atau menggunakan angkutan umum.
Padahal hanya sekali lihat orang juga tahu bahwa Jasmine adalah anak orang kaya. Tapi mungkin karena Jasmine yang lebih sederhana.
"Pantas tuh cewek nggak mau uang gue, ternyata dia anak orang kaya."
Libra menunggu di jalan raya seraya menatap ke arah rumah Jasmine. Entahlah kenapa ia sangat merindukan wanita itu dan ingin bertemu dengannya. Ia sendiri juga sungguh tidak mengerti dengan perasaannya tersebut. Namun itulah yang ia rasakan saat ini.
Dirinya memendam rasa rindu yang begitu mendalam kepada Jasmine. Apakah rasa cintanya memang sudah sampai ke tahap level tinggi. Jika memang seperti itu maka dirinya benar-benar dalam keadaan jatuh cinta. Tapi melihat Jasmine dari keluarga terdidik dan merupakan orang kaya sementara ia hanya anak jalanan yang tidak diakui orang tuanya.
Libra pun menarik nafas panjang. Perbedaan yang begitu nyata antara dirinya dan Jasmine sama seperti langit dan bumi tetap saja membuat Libra berani untuk memikul rasa cintanya.
"Cewek penuh tantangan!"
Sementara itu Jasmine yang belum tidur karena harus belajar lantas membuka jendela kamarnya karena ia ingin mendapatkan udara segar dari alam setelah pusing belajar hingga tengah malam. Wanita itu terkejut melihat ada motor Libra di depan rumahnya.
Tentunya ia langsung panik dan langsung menutup jendela kamarnya. Namun ia telat karena Libra sudah melihat dirinya. Libra menyipitkan matanya dan senyum miring pun terukir. Siapa sangka bahwa di situlah kamar Jasmine.
"Ya ampun, gue harus apa? Tuh cowok udah ada di depan rumah gue aja. Kayaknya dia mau berbuat sesuatu," ucap Jasmine yang sangat panik sekali dan ia langsung mengambil ponselnya dan mengabari teman-temannya.
Karena pengakuan Jasmine tersebut lantas langsung membuat teman-temannya heboh dan meminta agar Jasmine sama sekali tidak keluar rumah. Rencananya Karina akan memanggil polisi.
Dan Jasmine tanpa sadar menoleh lagi ke arah jendela dan melihat Libra yang dalam keadaan menyedihkan. Walaupun dari jarak yang cukup jauh tapi ia bisa melihat bahwa Libra penuh dengan luka lebam di wajahnya. Tiba-tiba hati nuraninya tergerak dan ia merasa tidak tega jika Libra akan tertangkap polisi. Wanita itu menggigit bibirnya dengan bingung.
"Udah, dia udah pergi lo nggak usah panggil polisi!" ucap Jasmine seraya menatap sedih ke arah Libra yang terus duduk di atas motornya di depan rumahnya.
__ADS_1
Ia pun mematikan sambungan telepon dengan Karina. Kemudian ia menatap ke arah obat-obatan yang telah disiapkan di dalam kamarnya Jika ia mengalami cedera.
Saat ini Jasmine benar-benar kebingungan karena ia tidak tahu harus menemui Libra atau tidak. Namun ia benar-benar merasa takut dan juga kasihan secara bersamaan. Tapi Ia pun mengingat kembali pertemuannya dengan Libra. Pria itu selalu menyelamatkan dirinya dan Tidak ada salahnya jika ia berpikir bahwa Libra tidak memiliki niat yang jahat.
Karena hatinya yang sudah mantap Jasmine pun lantas mengambil beberapa obat-obatan tersebut dan membawanya keluar. Jasmine melangkah secara perlahan agar ibunya atau pembantunya tidak terbangun. Ia pun keluar dari dalam rumah dan menutupnya secara perlahan. Ia rasa orang tuanya tidak akan menyadari bahwa ia keluar dari rumah mengingat rumahnya yang begitu luas.
Jasmine menutup pintu rumahnya secara perlahan dan kemudian membuka gerbang dengan pelan-pelan agar tidak membangunkan satpam yang tertidur.
Libra yang melihat Jasmine di luar pagar pun terkejut. Ia tak menyangka bahwa Jasmine akan menemui dirinya. Antara ini anugerah atau tidak, tapi ia benar-benar bersyukur Jasmin masih memperhatikan dirinya.
Jasmine menghampiri Libra dan kemudian menarik tangan pria itu dan membawanya ke tempat duduk yang tidak jauh dari depan rumahnya. Jasmine mencium bau alkohol yang begitu kontras dan sangat menyengat dari tubuh Libra.
Sejujurnya ia sangat takut menghadapi pria mabuk, tapi harus menyelamatkan Libra. Dengan kemampuan medisnya yang cukup baik ia berusaha untuk mengobati luka-luka Libra.
"Kenapa lo sampai seperti ini? Siapa yang membuat lo sampai kayak gini? Lo tawuran lagi?" tanya Jasmine dengan hati-hati takut menyinggung Libra kali ini. Ia sudah mengerti bahwa mulutnya yang tajam bisa membawa dirinya ke dalam suatu masalah.
"Hm, gue nggak mau bukan? Lo bener-bener Jasmine?"
Jasmine pun baru sadar bahwa sepertinya Libra menganggap dirinya tidak nyata. Anggap saja seperti itu dan ia lebih aman.
Jasmine sama sekali tidak menjawab laki-laki tersebut dan fokus untuk mengobati luka-luka dan lebam-lebam yang ada di wajah Libra. Ia meringis ketika mengobati luka-luka tersebut karena ia bisa membayangkan betapa sakitnya.
Ia pun membuka baju Libra yang sempat ditolak oleh laki-laki tersebut. Tapi ia sengaja melakukannya karena dirinya ingin mengobati luka-luka yang ada di tubuh Libra. Bahkan baju Libra yang berwarna hitam terlihat penuh darah dan basah.
Ketika baju tersebut lepas dari tubuh Libra keringat pria tersebut membuat tubuhnya terlihat licin dan semakin seksi. Jasmine sempat tercengang melihat bentuk tubuh Libra yang sangat sempurna dan tiba-tiba ia melihat ketampanan pria itu dalam keadaan wajah yang terluka seperti itu. Ia menelan ludahnya karena tiba-tiba jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Tangannya bergetar dan berharap bahwa apa yang ia lihat ini benar-benar nyata.
Tanpa sadar Jasmine meletakkan tangannya di perut kotak-kotak di perut Libra. Libra terkejut dan menjauhkan tangan Jasmine. Seketika itu pula Jasmine sadar dan langsung melakukan tujuan utamanya.
__ADS_1
Ia mengobati tubuh Libra dengan hati-hati dan ini menjadi tantangan tersendiri buatnya karena melihat Libra yang seksi seperti ini di depannya.
Ia pun telah selesai melakukan tugasnya dan kemudian menatap sekali lagi tubuh Libra dan menelan ludahnya untuk kesekian kalinya. Dadanya berdegup kencang, apakah ada yang salah dengannya? Jasmine berpikir ini tidak mungkin bahwa dirinya telah jatuh cinta. Ini sifat manusiawi ketika melihat sesuatu yang cukup menyenangkan.
"Cepat pakai baju lo."
Libra pun menganggukkan kepalanya. Sejujurnya ia sudah mabuk berat dan ia juga sangat pusing.
"Kenapa lo nolongin gue?"
"Lo nggak usah nanya kayak gitu. Gue udah ngobatin lo, jadi gua bakal masuk ke rumah. Lo tidur di sini aja jangan pulang, lo lagi mabuk nggak baik."
Jasmine pun menyuruh agar Libra merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang ada di depan pagarnya. Libra yang benar-benar mabuk tidak bisa mengontrol dirinya sendiri sehingga ia pun tidur di situ dan Jasmine segera meninggalkan pria tersebut.
Jasmine menutup gerbangnya kembali dengan pelan-pelan agar tidak membangunkan sang satpam. Ia pun masuk ke dalam hanya dengan cepat. Lalu menaiki tangga rumahnya dengan berlari.
Ia menutup pintu kamarnya dengan kencang. Suasana malam yang hening membuat dirinya semakin menghayati suasana. Jasmine bersandar di belakang pintu kamarnya dan memegang dadanya. Apa yang baru saja ia rasakan. Bahkan ia tadi berpikir bagaimana rasanya memiliki seorang pacar bad boy dan anggota geng motor, ditambah red flag. Pikiran kotornya tersebut membuat Jasmine merasa marah dengan dirinya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan? Nggak mungkin kan gue beneran suka sama dia? Sumpah kalau gitu gue mau ngeletakin di mana muka gue? Gue selalu berkata kasar kepada dia dan tiba-tiba gue pengen dia! Sungguh memalukan."
Jasmine sendiri tahu kesalahannya tersebut. Tapi mau bagaimana lagi ia semua ini terjadi karena keteledoran dirinya yang berinisiatif ingin menolong Libra dan malah membawa dirinya ke puncak masalah seperti ini.
Jasmine menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Ia pun memegang kepalanya yang berdenyut sakit dan kemudian meletakkan obat-obatan ke atas meja belajarnya dan mengempeskan tubuhnya ke atas kasur. Setelah itu barulah ia menutup dirinya dengan selimut dan berharap bahwa pagi hari akan melupakan segalanya.
_______
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.