
Jasmine menjatuhkan ponselnya di tangan. Ia terkejut mendengar berita bahwa Libra ditangkap polisi dan saat ini tengah dipenjara. Kabar di tengah malam seperti ini malah membuat dirinya sangat syok dan tidak bisa berbuat apapun selain menangis tersedu-sedu.
Ia tidak tahu jika Libra melakukan tawuran bukannya merenungi apa yang ia ucapkan. Jasmine kecewa dan sangat kecewa. Ia tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata saking sakitnya hatinya saat ini.
Jasmine menghapus air matanya dan ia terduduk di lantai meratapi nasib yang Tika berpihak sama sekali kepadanya. Padahal ia sangat berharap bahwasanya ia bisa menjadi penerang bagi Libra, tapi pria itu tidak ingin mendapatkan cahaya darinya.
Wanita itu memegang dadanya yang Sudja terlampau sesak. Ia salah melangkah dan selalu meladeni Libra hingga ia harus bertemu hari ini. Penyesalannya masih sama kenapa ia berdiri di paling depan dahulu hingga pria itu melihatnya.
“Libra, aku benar-benar membenci mu,” ucap Jasmine dalam hati dan menggelengkan kepala sebagai bentuk tak menyangka bahwa pria itu akan melakukan hal ini kepadanya. “Aku bahkan sama sekali tidak pernah berpikir bahwa kau akan sekejam ini kepada diriku? Padahal aku hanya memintamu untuk keluar dari geng tersebut!! Apa untungnya bagi dirimu dan masa depanmu geng itu, Libra? Kenapa kau tidak pernah mendengarkan ucapanku sedikit saja? Aku benar-benar sakit hati Libra.”
Jasmine menghapus air matanya dan ia memeluk kedua lututnya sembari menyembunyikan kepalanya di sela-sela lutut tersebut. Wanita itu menarik napas panjang dan menatap ke arah jendela. Hari sudah sangat malam dan kenapa pria itu malah mencari maslaah di malam hari yang mana hatinya belum benar-benar stabil.
Pertengkarannya dengan Libra baru saja terjadi dan kini ia mendapatkan berita baru yang tidak menyenangkan dari sosok laki-laki itu.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Jasmine menatap jika orang yang memberikannya pesan adalah Caca dan Karina. Mereka adalah support system Jasmine.
Jasmine tersenyum membaca chat dari mereka.
Hanya menghitung hari lagi ia akan melakukan perpisahan di sekolahnya. Jasmine sangat ingin hari perpisahannya sekaligus hari kelulusannya nanti dihadiri oleh Libra. Tapi ia tidak menyangka jika malah terjadi masalah seperti ini.
Jasmine juga masih mempertimbangkan untuk ia pergi ke luar negeri melanjutkan studi kuliahnya. Kebetulan sekali ia sedang melakukan pendaftaran di China mengambil jurusan kedokteran. Itu adalah jurusan impiannya dan sekaligus cita-citanya karena ia melihat ayahnya yang selalu menolong orang lain. Ia juga ingin seperti ayahnya tersebut.
Tapi semenjak dengan Libra ia mulai berpikir untuk tetap di Indonesia saja dan mencari universitas yang dekat dengan dirinya. Ternyata Libra benar-benar besar dampaknya bagi masa depannya. Jasmine min menarik nafas panjang dan berpikir bahwa ia harus merombak pikirannya kembali agar tidak terpengaruhi oleh Libra terlalu dalam.
Wanita itu pun berusaha untuk bangkit kembali dan duduk di atas ranjang dengan perasaan yang sangat gelisah. Kebetulan hari ini adalah keluarnya lulus atau tidaknya dirinya di universitas Peking di Cina. Tapi orang tuanya sangat yakin bahwa ia pasti akan lulus. Namun Ia tidak masalah jika dirinya lolos atau tidaknya.
Ting
__ADS_1
Jasmine melihat ke arah ponselnya dan membuka email yang dikirimkan oleh universitas Peking. Awalnya iya sama sekali tidak merasa terkejut dan baru saja sempat memikirkan universitas tersebut namun secara tak terduga tiba-tiba Ia mendapatkan notifikasi email dari universitas itu.
Jasmine sama sekali tidak berharap bahwa akan secepat ini. Universitas Peking adalah salah satu universitas impiannya. Wanita itu memegang dadanya yang berdegup kencang.
Ia tak sadar telah melupakan kesedihannya. Jasmine berharap bahwa ia akan mendapatkan berita baik dari universitas tersebut. Meskipun tidak masalah jika tidak lolos tapi ia juga memiliki harapan.
Jasmine membuka email tersebut dengan tangan yang bergetar hingga ia pun mendapatkan notifikasi bahwa ia dinyatakan lulus. Mata Jasmine tidak bisa tertutup dan ia benar-benar terkejut dan kejutan itu. Jasmine tak bisa berkata-kata dan refleks ia keluar dari dalam kamarnya lalu lari ke arah ruang tamu untuk memberitahukan kepada orang tuanya bahwa ia dinyatakan lulus di universitas yang mereka inginkan.
Jasmine lari dengan penuh semangat. Ia menuruni tangga demi tangga hingga pada akhirnya ia pun mencapai ruang tamu. Melihat orang tuanya yang sedang mengobrol Jasmine tanpa pikir panjang lagi langsung menghampiri mereka dan memeluk ibunya dan ayahnya.
Sang ibu dan juga ayah bingung dengan Jasmine tapi mereka berusaha membalas pelukan Jasmine untuk menyenangkan wanita tersebut.
Jasmine pun melepaskan pelukannya dan menatap ibu dan ayahnya dengan senyuman bangga. Ayahnya pun mengangkat satu alisnya dan memandang ke arah ibunya sembari menyipitkan mata. Pasti ada sesuatu yang ingin diberikan oleh putrinya tersebut sebagai kejutan.
“Ada apa dengan putri papa? Terlihatnya sedang bahagia? Kenapa kau memeluk papa sekencang ini? Cepat ceritakan kepada papa?”
“Papa, Mama! Aku dinyatakan lulus di universitas Peking.”
“Sudah Papa duga bahwa Putri Papa ini pasti bisa. Papa bangga sama kamu Nak,” ucapnya dan menangis. Tangisan tersebut benar-benar sebuah kebanggaan bagi sang ayah terhadap anaknya.
Jasmine tidak pernah berharap bahwa ia akan memberikan sesuatu yang lebih berharga untuk membanggakan kedua orang tuanya. Tapi sekarang ia berubah pikiran karena dengan sesuatu yang sangat luar biasa ayah dan ibunya benar-benar bangga kepadanya. Jasmine tidak tahu harus mengatakan apa lagi yang penting saat ini ia tengah merasa bahagia. Meskipun itu tidak bertahan lama karena ia teringat lagi bahwa Libra sekarang ada di polres.
_________
Libra menatap ke arah para polisi yang sedang menginterogasinya. Ini adalah kesekian kalinya ia ditangkap oleh polisi tersebut. Polisi itu tidak perlu banyak bertanya karena ia sendiri juga sudah lelah mengintrogasi Libra terus-menerus.
Seperti biasanya orang tua Libra pasti akan datang. Wajah kedua orang itu terlihat sangat masam. Libra sama sekali tidak berharap bahwa orang itu akan datang dan membelanya kali ini karena ia sudah pasrah dengan penjara yang ada di depan matanya.
__ADS_1
“Anak ini apa lagi yang kau lakukan? Kau benar-benar membuat malu orang tuamu!!” Libra mengangkat bahu karena menurutnya bukan karena undangannya mereka datang.
Ayahnya terlihat sedang memohon kepada polisi untuk membebaskan dirinya. Padahal Ia tidak mengharapkan itu sama sekali.
“Nggak perlu, Papa tidak perlu melakukan itu kepada anak bapak sendiri. Libra tahu kenapa Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin reputasi karena anaknya di penjara. Tapi, apakah Papa tahu jika papa terus membantu aku keluar dari hukuman ini sama saja papa memberikan pandangan yang buruk terhadap masyarakat kepada papa!!”
“kau, anak kecil! Apa yang kau lakukan? Kau benar-benar tidak tahu diri dan masih saja berbicara seperti itu kepada orang tuamu!!” Marissa yang ada di sana menarik nafas panjang dan menghentikan pertengkaran antara anak dan ayah tersebut.
“Sudahlah Libra. Kau tahu jika kau tidak seharusnya mengatakan itu kepada orang tua mu?”
Libra membuang wajahnya dan ia tidak ingin melihat mereka lagi karena menurutnya dengan mereka terus membantu Libra maka akan membuat dirinya sama sekali tidak berguna dan terus ketergantungan kepada mereka.
“Apa yang perlu kalian bela lagi? Aku sudah jelas memukulnya dan hingga membuat dia babak telur seperti itu. Apakah kalian ingin melihat anak orang mati karena aku dan aku sama sekali tidak dipenjara? Bagaimana jika posisi itu ditukar akulah yang dipukuli? Tentu kalian akan menuntut pelakunya, kan?” Marissa menganggukkan kepalanya dan kemudian ia duduk di kursi yang ada di sana. Kondisinya tampak sangat sedang lelah sekali.
“Mama, kenapa kau selalu datang dan membelaku di saat aku seperti ini? Bukankah kalian sama sekali tidak pernah menganggapku dan kalian pulalah yang telah mengusir aku dari rumah.”
Ibunya membuang wajahnya. Seperti ada yang tengah ia sembunyikan. Lagipula tidak harus memberitahukan Libra yang sebenarnya.
“Apakah kau tidak senang orang tuamu peduli? Ini orang tuamu, wajar jika dia khawatir kepada anak kandungnya walaupun tidak menganggapnya lagi.”
Libra memandang ke arah Ibunya dan ayahnya. Mungkin Ayah dan Ibunya bisa membantu dirinya untuk membebaskan teman-teman yang tidak bersalah sama sekali.
“Jika kalian menyayangiku, maka bebaskanlah teman-temanku semua. Permintaan anakmu yang Tidak dianggap ini hanyalah sederhana dan semoga kau bisa mengabulkannya.”
Ayahnya tampak tidak setuju namun Libra memandangnya dengan tatapan tajam dan itu sebagai ancaman kepada orang tuanya hingga membuat Marissa pun menyuruh suaminya untuk menyetujuinya.
“Ya kami akan menyetujui itu.”
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.