Jasmine My Mine

Jasmine My Mine
Part 12


__ADS_3

Marissa menatap anaknya dengan tatapan yang sedikit sedih. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa ketika melihat anaknya sudah sangat jauh kehilangan arah. Ia hanya berharap bahwasanya ada kalanya anaknya kembali ke jalan yang benar. Sebenarnya ia sangat menyesali perbuatannya sehingga membuat anaknya sampai di tahap ini.


Marissa tahu dirinya memang salah, ia dulu selalu menyalahkan Libra padahal anak itu sama sekali tidak ingin disalahkan pada kenyataannya pada saat itu Libra memang benar. Hal sepele seperti itu rupanya bisa memicu terjadinya hari ini.


Libra sama sekali tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya karena kedua orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Belum lagi orang tuanya selalu bertengkar karena hal sepele, makanya Libra tidak tahan berada di rumah dan ia semakin kehilangan arah karena mendapatkan kebahagiaan di jalanan.


Maka dari itu Ia memutuskan pergi dari rumah walaupun dirinya memiliki kekayaan. Semua itu sama sekali yang tidak berarti di mata Libra. Yang ia inginkan adalah bagaimana caranya menikmati kebahagiaan dengan caranya sendiri tanpa dikekang oleh orang tuanya dan dipaksa untuk menjadi anak yang baik tapi mereka sama sekali tidak pernah memperhatikan bagaimana tumbuh kembangnya.


"Kenapa baru sekarang datang ke sini? Setiap kehabisan uang kau baru mencari kami! Memangnya semudah itu aku akan memberikan uangku kepadamu?" Bahkan Libra sama sekali tidak dikenal oleh masyarakat sebagai anak dari Steven dan Marissa karena tempermen nya yang buruk serta ia telah lama meninggalkan rumah. Orangtuanya juga tidak menganggapnya sebagai anak dan oleh karena itu ia sama sekali tidak dikenali oleh masyarakat. Walupun orang tua mereka sangat terpandang. "Bukannya kau mengatakan bahwa dirimu sama sekali tidak mengenal kami? Setiap kami berusaha untuk menemuimu kau selalu mengatakannya."


Libra terdiam karena Ia memang sering mengatakan itu kepada orang tuanya. Hari ini ia benar-benar merendahkan dirinya sendiri karena terpaksa untuk meminta uang sebab urusan mendesak.


Melihat wajah Ayah dan Ibunya yang sama sekali tidak memberikan gambaran bahwa ia adalah anak mereka lantas membuat Libra hendak meninggalkan rumah ini. Ia tidak ada gunanya datang kemari karena mereka memang sudah tak lagi menganggap dirinya sebagai bagian dari mereka.


Libra yang sudah sangat putus asa dan sakit hati kepada keluarganya berjalan ke arah motornya. Ia pun menunggangi motor tersebut dan hendak pergi.


Marissa yang melihat hal tersebut lantas langsung menghampiri Libra dan memberikan ATM nya kepada sang anak. Libra menatap ke arah ibunya dan yang memberikan ATM tersebut. Ia mengambil ATM itu dan pergi begitu saja tanpa terima kasih.


Tentunya Steven marah melihat anaknya yang sama sekali tidak memiliki attitude. Ia langsung berteriak kesal dan untungnya Libra sudah jauh meninggalkan halaman rumah.


"Sudahlah papa, percuma kau menasehatinya. Lagi pula Ini pertama kalinya Ia datang ke rumah setelah 3 tahun yang lalu. Kita harus memberikan apa yang ia inginkan, walaupun dia tidak pernah menganggap kita, tapi kita harus memilih memberikan karena dia adalah anak kandung kita, dia seperti itu juga karena kita," ucap Marissa yang sejujurnya menahan air matanya karena merasa kecewa dengan diri sendiri.


Libra tidak pernah ia perhatikan dan ia hanya bisa mengaturnya dari jarak jauh dan meminta anak itu mempelajari sesuai dengan apa yang Marissa inginkan walaupun sebenarnya Libra tidak menyukai hal tersebut. Diperlakukan seperti itu membuat Libra sangat tertekan sehingga dirinya berusaha untuk memberontak.


_________


Libra membuka pintu basecamp. Orang-orang yang ada di dalam sana yang tengah bermain game pun menatap ke arah Libra yang banyak membawa makanan. Mereka membulatkan matanya dan tak sabar untuk mencicipi makanan yang dibawa oleh Libra tersebut.


"Libra, tumben lo jadi orang baik! Sebenarnya apa yang ngebuat lo sampai kek gini hari ini?" tanya Oscar dan kepalanya langsung dijitak oleh Moran.


Moran pun merebut kantong makanan tersebut dari Libra. Libra melemparkan makanan begitu saja ke arah para anggota geng motornya.


"Habis menang balapan?" tanya Venus dan menatap ke arah Libra dengan tatapan menyelidik.


Libra menggelengkan kepalanya karena ia sedang tidak ingin diganggu. Mereka semua tahu jika Libra memiliki masalah.

__ADS_1


"Di mana Olga?"


"Jalan sama ceweknya."


Libra menganggukan kepalanya. Ia pun memejamkan matanya berharap bisa melupakan sejenak masalah di dunia.


"Bos! Gawat, geng motor ARAT sedang menuju ke sini! Kayaknya mereka mau bales dendam karena perbuatannya si Aji gak sengaja nabrak anggota geng mereka."


Libra membuka matanya dan menatap serius ke arah teman-temannya. Ia pun memerintahkan agar segera bersiap-siap serta membawa senjata tajam.


"Kalau gitu kita harus lebih waspada. Segera bersiap-siap dan bawa barang kalian, kita harus menunggu mereka dan lihat apa yang akan mereka lakukan."


Para anggota geng motor tersebut lantas langsung mematuhi ketua mereka. Tentunya tawuran ini sungguh tidak diharapkan, namun mau bagaimana lagi karena hal tersebut didasarkan dengan unsur ketidaksengajaan.


Libra langsung menatap ke arah Aji dan memanggil laki-laki tersebut untuk memberikan keterangan kepadanya. Ia tak tahu apakah Aji berbohong kepadanya atau tidak tapi dia harus mendengar pengakuan dari mulut Aji secara langsung.


_________


Tawuran tersebut langsung dihentikan oleh aparat kepolisian. Para anggota geng motor tersebut melarikan diri kocar-kacir. Untungnya kali ini Libra selamat dari kejaran polisi.


"Kenapa tuh anak pakai acara terpisah segala, sumpah si Oscar kalau datang gue pukul kepalanya," ucap Moran yang kesal karena sudah beberapa kali Oscar membuat masalah.


Saat ini para anggota geng motor yang terluka langsung dilakukan perawatan. Untungnya Olga cukup ahli dalam merawat luka-luka tersebut, karena Olga pernah kuliah di jurusan kedokteran. Tentunya kalian semua ingat bahwa Olga adalah anak dari orang kaya dan berpendidikan. Sama seperti yang lainnya namun karena sebuah masalah mereka pun mendapatkan kebebasan dari jalanan.


Libra memegang wajahnya yang lebam-lebam. Luka di anggota tubuhnya tentunya itu bukanlah sesuatu yang menakutkan karena ia sudah terbiasa dengan luka-luka tersebut.


Dalam keadaan luka-luka seperti itu pun ia sempat-sempatnya masih menikmati alkohol. Olga yang melihat hal tersebut hanya bisa menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya. Mereka semua tahu bahwa Libra memang sedikit aneh dan tidak bisa dihentikan.


Olga menghampiri Libra dan kemudian menepuk pundak laki-laki tersebut. Ia merebut secara paksa alkohol yang ada di tangan Libra kemudian membuangnya.


"Lo nggak lihat kalau tubuh lo sekarang luka-luka? Bisa-bisanya lo masih biasa aja, minum alkohol dalam keadaan seperti ini bukanlah hal yang baik."


"Gue pusing, ada aja masalah. Gue bingung caranya hidup."


"Dari dulu lo emang kayak gini, seharusnya gue nggak kaget lagi. Tapi entah kenapa sekarang gue malah kaget ngeliat lo yang putus asa. Memangnya lo punya masalah apa lagi?"

__ADS_1


"Masalah yang tidak bisa gue ceritakan."


Libra pun meninggalkan Olga dan kemudian menghidupkan motornya. Dia berencana ingin pergi berjalan-jalan menikmati suasana malam.


Olga yang melihat hal itu langsung menahan Libra. Laki-laki tersebut mengambil kunci motor Libra dan kemudian menyimpannya. Libra menatap Olga dengan marah dan meminta kuncinya kembali.


"Apa-apaan lo Olga! Kembalikan kunci motor gue!"


Brummm


Tiba-tiba suara motor Oscar mengalihkan pembicaraan Libra dan Olga. Pria itu menatap Oscar yang terpogoh-pogoh.


Lantas anggota geng motor yang lainnya langsung menyelamatkan Oscar.


"Berkendara di tengah malam dalam keadaan mabuk bukanlah pilihan yang bagus," ucap Olga memperingati Libra.


"Gue tahu tapi kembalikan kunci motor gue karena gue mau ke rumahnya Jasmine."


"Hah? Gue nggak salah denger? Lo mau ke rumahnya Jasmine? Wah hebat lo udah tau rumahnya aja. BTW salam sama si Jasmine, dia manis banget soalnya."


Mata Libra yang merah karena terlalu mabuk lantas menatap marah ke arah Olga.


"Ingat dia punya gue, lo nggak boleh macam-macam ke Jasmine."


Olga pun tersenyum dan menepuk beberapa kali tangannya. Ayolah baru kali ini seorang playboy bertekuk lutut di depan seorang wanita. Apalagi malam-malam seperti ini dan dalam keadaan mabuk Libra bahkan ingin datang ke rumah Jasmine. Ia sungguh tidak habis pikir dan bagaimana keluarga Jasmine nanti menyambutnya.


Pastinya Libra akan langsung diusir. Membayangkannya saja membuat perut Olga tak bisa menahan tawa. Ia tertawa begitu saja dan Libra langsung memukul kepala pria itu.


"Lo ngetawain gue?"


"Sorry bro, tapi gua gak maksud kayak gitu sumpah. Btw hati-hati!"


_______


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2