Jasmine My Mine

Jasmine My Mine
Part 36


__ADS_3

Jasmine menarik napas panjang. Pandangannya kosong dan tampak tak ada kebahagiaan di wajahnya. Perempuan itu berusaha menghilangkan rasa sakit hatinya di hari bahagianya. Namun, semua itu tiada arti karena sekeras apapun Jasmine berusaha pasti ia kembali mengingat sosok pria itu. Ini adalah kali pertamanya Jasmine patah hati. Dahulu ia selalu merasa aneh dengan orang yang bersedih hanya karena cinta.


Akan tetapi sekarang Jasmine sudah mengerti mengapa mereka seperti itu. Bahkan Jasmine sama sekali tidak bisa berkata-kata karena hatinya yang terlalu sakit saat mengingat bagaimana momen indahnya dengan Libra. Siapa sangka itu hanyalah menjadi sebuah kenangan. Jasmine sama sekali tidak tahu bagaimana rasanya mendapat kebahagiaan sepenuhnya.


Tapi ia mengingat bahwa manusia selalu masing-masing. Jadi ia terlalu berlebihan jika meminta selamanya bahagia. Perempuan itu menarik napas panjang dan kemudian pergi ke arah kaca. Ia memperhatikan penampilannya dengan teliti dan memastikan jika tidak ada yang salah dengan make up nya sekarang.


Tidak dirasa Jasmine pun akhirnya akan menyelesaikan sekolahnya. Hari ini adalah hari kelulusan dan sekaligus perpisahan. Jasmine berharap jika di sana juga ada Libra. Apalagi pria itu sempat berjanji kepadanya akan menemaninya saat wisuda nanti.


“Jasmine! Lama sekali kau!!! Apa yang kau buat di dalam kamar mu itu, hah?”


BRAKK


Jasmine mengusap dadanya. Untung jantungnya tidak melompat keluar saat mendengar pintu kamarnya itu dibuka dengan cukup kasar oleh sang ibu. Jasmine tidak mengerti apa alasan sang ayah menyukai ibunya. Di lihat dari mana pun ibunya sama sekali tidak menarik.


Lihatlah wanita tua itu sedang berkacak pinggang di depannya dan terlihat sangat marah kepadanya. Padahal Jasmine tidak terlambat cukup lama. Ia hanya belum keluar dari kamarnya saja.


Sungguh memiliki Ibu seperti ini cukup tersiksa. Tapi apalah daya orang yang ada di depannya adalah orang yang mengandung dan melahirkannya. Jasmine pun melemparkan senyum ke arah sang ibu untuk meredakan amarah ibunya tersebut.


Tapi yang namanya ibunya ini yang selalu saja memasang wajah masam tidak akan mudah tergoda dengan Jasmine begitu saja. Jasmine sangat kesal dan bahkan kekesalan yang hanya terlintas pada dirinya saja membuat ibunya langsung naik pitam lagi.


“Ekspresi apa yang kamu tunjukkan itu!! Kau benar-benar menantang ibumu?” Jasmine pun terkejut dan lantas menggelengkan kepalanya.


Di waktu genting seperti ini yang ia butuhkan adalah kehadiran sang ayah untuk menyelamatkannya dari amukan ibunya tersebut.


“Kenapa sih Mama? Jasmine nggak ada sama sekali benci sama mama. Mama aja kali yang parnoan,” ucap Jasmine yang malah bukan menyelamatkan dirinya dari amukan ibunya tersebut akan tetapi malah membuat ibunya langsung berwajah merah dan itu artinya posisi jasmine saat ini benar-benar sangat terancam.


Jasmine mengangkat kedua sudut bibirnya hingga tampaklah giginya yang berderet rapi. Tapi rupanya hal tersebut tetap saja membuat ibunya tidak terpengaruh sama sekali dan Jasmine sudah pusing untuk mengembalikan mood sang ibu.


“Mama maafkan Jasmine. Tapi Jasmine bener-bener gak marah sama mama. Ayo kita pergi.”


“Hm,” jawab ibunya masih dengan wajah marah. Jasmine kian merasa sangat Rika enak kepada ibunya.


“Mama gak marah, kan? Mama tau kalau Jasmine gak mungkin ngebenci Mama,” ucap wanita itu dan melihat ibunya sudah semakin membaik dan terlihat membalas senyumnya membuat Jasmine bisa bernapas dengan lega.


“Baiklah Mama tidak marah kepadamu. Sebentar Mama bakal nelpon Libra dulu buat anterin kamu.” Seketika rasa leganya berubah menjadi gelisah. Padahal baru saja sedetik ia merasa bahagia tiba-tiba semua itu diruntuhkan dalam satu detik pula.


Jasmine mengepalkan tangannya. Ia takut ibunya akan marah besar dan malah tidak jadi pergi ke acara perpisahannya.

__ADS_1


Jasmine hanya mampu memperhatikan ibunya yang saat ini tengah menelpon Libra namun sama sekali tidak diangkat oleh pria itu. Sudah jelas ia tak mungkin mengangkat teleponnya karena Libra sedang berada di dalam sel penjara.


Melihat wajah ibunya yang semakin masam membuat getaran di tubuh Jasmine kian meningkat. Jasmine pun membuang wajahnya dan berharap bahwa ibunya tidak menyalahkannya ketika ponsel Libra tidak dapat dihubungi.


“Ini anak kenapa lagi? Pas acara penting kayak gini tidak diangkat telepon. Ini si Libra kayaknya harus dikasih pelajaran. Kemarin Mama juga udah telepon dia mau minta antarin ke pasar, tapi nggak diangkat-angkat.” Melihat ibunya yang terus berharap tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi jujur saja membuat Jasmine merasa tidak enak kepada ibunya.


Jasmine mengusap tengkuknya dan kemudian menatap ke arah ibunya dengan takut-takut. Melihat ibunya yang sudah tidak bisa bersahabat lagi lantas membuat Jasmine harus mengatakan yang sebenarnya.


“Mama kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi mama jangan marah kalau Jasmine ceritakan yang sebenarnya.” Awalnya ibunya tersebut sama sekali tidak mengerti. Ia tampak berpikir terlebih dahulu untuk mencerna ucapan Jasmine. “Janji Mama nggak marah?”


“Ada apa sebenarnya? Kenapa Mama harus tidak marah? Cepat ceritakan, Jangan membuat orang penasaran saja.”


Jasmine menghela napas melihat ibunya yang tidak sabaran. Ia pun menyiapkan mental lebih dulu untuk menceritakan apa yang terjadi kepada Libra. Tentunya musibah ini tidak ada yang mengharapkan terjadi.


“Jadi Jasmine mendengar kalau misalnya Libra ditangkap sama polisi dan sekarang dia ada di penjara. Maka dari itu Libra tidak mengangkat telepon Mama.” Tentunya ekspresi yang langsung ditunjukkan oleh ibunya adalah ekspresi yang sangat kaget mendengar cerita Jasmine.


Wajahnya pun berubah sangat gelisah dan terlihat ibunya tidak dalam mood yang baik. Apalagi irama tarikan nafas yang dilakukan oleh sang ibu terburu-buru dan itu artinya ibunya tersebut dalam keadaan marah besar.


“anak itu. Kenapa papamu bisa memperkerjakan dia? Dari awal Mama melihat dia itu bukan anak baik-baik. Tampangnya kayak preman gitu tetap aja disuruh kerja di tempat kita. Mama khawatir banget sama kamu sayang. Meskipun dia sempat nyelamatin kamu tapi tidak seharusnya dia yang bekerja di rumah ini untuk mengantar jemput kamu. Apalagi dia sekarang terkena kasus seperti ini. Bagaimana misalnya kamu terseret-seret? Oh Gusti, hambamu ini benar-benar tidak bisa berpikir lagi.” Ibunya memandang ke arah Jasmine dan kemudian meraih tangan sang anak.


Yasmin pun tidak mengerti kenapa Ibunya meraih tangannya. Tapi melihat ibunya yang tampak sangat khawatir sekali Jasmine berusaha untuk menenangkan sang ibu.


“Ingat kamu jangan pernah dekat-dekat dengan dia lagi. Nanti Mama minta Papa memecatnya. Papa mu ini kayaknya perlu dinasehati juga karena memilih orang yang salah. Entah kenapa dia malah memilih anak jalanan seperti itu. Dari dulu mama tidak pernah mengerti dengan jalan pikiran papamu itu! Kamu jangan seperti papamu!! Cepat kamu keluar dulu tunggu di mobil. Mama mau menemui papa mu.”


Jasmine menarik napas panjang dan menganggukkan kepalanya. Ia khawatir jika ibunya dan sang ayah akan bertengkar karena masalah ini.


“Tapi Mama janji tidak akan marahan sama papa.”


Tidak ada reaksi sama sekali dari ibunya dan ia pergi begitu saja. Pikirannya pun semakin tidak enak. Tapi Jasmine berusaha sebisa mungkin memikirkan hal-hal yang baik.


©©©©©©©


Saat telah sampai di depan gerbang sekolahnya suasana sudah sangat ramai. Banyak anak-anak yang sudah berdatangan bersama orang tuanya untuk menghadiri acara perpisahan tersebut. Sementara itu Jasmine didampingi oleh ayah dan ibunya.


Ayahnya saat ini sedang bersalaman dengan para wali murid yang lain yang kebetulan juga temannya. Ibunya pun juga sama dan Jasmine merasa tidak ada teman lantas ia mencari Caca dan Karina.


Ia sudah berkeliling sekolah namun belum juga menemukan dua orang tersebut. Jasmine mengharapkan keningnya dan mencoba menghubungi keduanya tapi status mereka sedang offline. Jasmine pun mencoba untuk mencari ke tempat yang lain.

__ADS_1


Setiap Jasmine melangkah pastinya ia akan menjadi perhatian banyak orang di sekolah tersebut karena rupanya yang bak seorang Dewi yang turun dari kayangan. Paras Jasmine benar-benar sangat sempurna dan membuat iri semua orang.


Beberapa teman prianya dan adik kelasnya mencoba untuk menyapa Jasmine dan meminta nomor teleponnya. Tapi wanita itu memberikan isyarat bahwa nomor ponselnya sangat privasi dan tidak bisa diberikan kepada siapapun.


“Jasmine, lagi cari apaan?” tanya seorang pria yang kebetulan itu adik kelasnya. Dari dulu Jasmine tidak terbiasa untuk menolak meneladani seseorang. Ia selalu merasa tidak enakan sehingga harus menanggapi orang tersebut.


“Gue lagi cari Caca sama Karina. Kalian ada lihat dia nggak?”


“Oh Caca sama Karina tadi abis dari kantor dipanggil guru katanya minta dibantuin sesuatu.”


Jasmine pun menarik nafas lega. Sebelum pergi ia tidak lupa untuk mengucapkan rasa terima kasihnya.


“Makasih banget ya.”


“Jasmine, lo tau nggak kalo Libra di penjara?” Kebetulan adik kelas ini adalah salah satu teman Delon dan merupakan orang yang terlibat tawuran.


“Oh. Gue tau.” Jasmine ingin menghindari topik tersebut. Lagi pula ia sudah tidak ada hubungannya dengan laki-laki itu.


“lo nggak ada niatan gitu buat putusin dia? Sumpah sumpah lo pasti nyesal banget. Lo udua tau reputasi dia Kaya gitu.” Wajah Jasmine terlihat tidak nyaman. Ia sangat marah dan tangannya terkepa. Sebisa mungkin ia tidak mengamuk di depan adik kelasnya ini yang berani sekali menghakimi pilihannya.


“Oh. Lagipula udah berlalu. Gue mau ketemu sama Caca dan Karina,” ucapnya ketus dan meninggalkan adik kelasnya tersebut begitu saja.


“Lho itu Jasmine!” teriak Caca yang melihat Jasmine yang masih terlihat kesal setelah berbicara dengan adik kelasnya tersebut.


“Iya itu Jasmine. Tapi kenapa wajahnya kayak kesel gitu ya?”


“Mungkin lagi ada sesuatu yang terjadi. Lo tau sendiri kan apa masalahnya?”


“Jasmine!!” Jasmine menatap ke arah sumber suara dan ia melambaikan tangannya melihat Caca dan Karina.


Mereka pun saling berpelukan bertiga. Terlihat jelas bahwa di laut wajah ketiganya sangat sedih karena sebentar lagi mereka akan berpisah setelah bertahun-tahun bersama.


“Yang kuat ya Jasmine.”


Jasmine memandang ke arah Karina. Ia belum ada menceritakan masalah tersebut kepada wanita itu. Tapi untuk apa ia heran? Kan masalahnya bisa menyebar begitu cepat karena kabar dari mulut ke mulut.


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2