
Jasmine berlari cepat ke kelasnya. Ia sungguh tidak sabar ingin bergosip dengan mereka dan menceritakan apa yang sudah terjadi kepadanya. Bergosip di pagi hari adalah moment yang tepat.
Ia tak peduli dengan PR yang belum dikerjakannya. Lagipula ia bisa menyelesaikannya dengan cara mengebut. Tidak tahu nanti apakah jawabannya akan salah atau tidak.
Jasmine tersengal-sengal di depan pintu karena terlalu kencang berlari sampai melupakan kesehatannya. Semua orang menatap ke arahnya dengan heran. Beberapa pria yang ada di kelas bertanya seolah mengkhawatirkan Jasmine. Jasmine pun memberikan senyum singkat ke arah mereka sambil kebingungan bagaimana caranya mengatasi dan menjelaskan kepada teman laki-lakinya.
"Lu kenapa Jasmine? Tumben banget lu kayak gini," ucap Karina dan menatap Jasmine dari atas hingga bawah.
Ia menjauhkan permen kaki dari mulutnya dan mengerutkan kening. Merasa belum mendapatkan jawaban yang ia inginkan lantas pergi ke luar kelas dan menatap ke lorong sekolah dan sama sekali tidak ada yang aneh.
Ia pun sangat bingung dengan hal tersebut dan kemudian menarik napas panjang dan menepuk pundak Jasmine kencang hingga wanita itu yang masih mengatur nafasnya terkejut.
"Sakit Karina."
"Lo kenapa lari sampe segitunya? Ada yang ngejar lo? Fans lo semua ngejar-ngejar lo gitu? Salah sendiri sih cantik banget."
Jasmine benar-benar frustasi. Ia masih belum bisa berbicara karena nafasnya yang tersengal-sengal. Sejenak yang menenangkan diri dan kemudian menatap Karina dengan tajam.
Karina memasukkan permen kaki ke mulutnya kembali dan kemudian mengangkat alisnya menunggu Jasmine menjelaskannya.
"Bukan kayak gitu ceritanya. Lo tahu kan anggota geng motor yang natap gue? Gue ketemu sama dia malam tadi." Lantas semua orang yang mendengar ucapan Jasmine menatap ke arah wanita itu dan merasa khawatir dengan keselamatan Jasmine.
"Jasmine, jika ada sesuatu kamu cepat laporkan ke polisi. Aneh banget dia, padahal kan udah ditangkap sama polisi. Kok anak itu nggak ditahan-tahan?" Banyak orang bertanya-tanya seperti itu karena beberapa kali mereka sudah tertangkap.
Ada seorang siswa yang baru saja masuk ke kelasnya dan kemudian ikut bergosip.
"Ada apa lagi? Masalah geng motor Parsel itu? Sumpah mereka tuh ngeselin banget, kerjaannya cuman bisa tawuran coba. Bener kan dia itu sering banget tertangkap tapi sama sekali nggak pernah ditahan. Kayak ada yang ganjal, nggak mungkin kan mereka terbantu dengan uang? Tampang tampang mereka tuh kayak preman."
Mereka semua membenarkan dan sama-sama terheran-heran satu kelas. Caca yang baru datang tiba-tiba masuk kelas semuanya terdiam dan tidak ada yang berbicara sehingga membuatnya bingung.
"Ada berita seru apa?" Tapi tidak ada yang merespon Caca satupun.
__ADS_1
Seketika Caca membulatkan mulutnya. Really? Sama sekali tidak ada yang menganggap kehadirannya? Wanita itu lantas menekuk pundak kedua sahabatnya.
"Woi gue ada di sini, kalian nggak tahu?"
Karina menjauhkan tangan Caca dari pundaknya pun begitu pula dengan Jasmine. Tanpa Karina sadari ia telah memasukkan permen kaki yang ada di mulutnya ke mulut Caca.
Sontak Caca terkejut dan langsung memuntahkan permen kaki tersebut. Barulah satu kelas sadar bahwa di dalam kelas tersebut sudah ada Caca.
"Sumpah gue di sini kayak nggak ada harga dirinya."
"Ca kapan lo datang?" tanya Karina terkejut dan wanita itu langsung menoyor kepala Karina.
"Gila kalian semua."
_________
"Gila lu, punya masalah gak bilang-bilang. Gue aja yang dengernya langsung ngeri. Kok bisa sih?" tanya Caca terkejut pada saat ia diceritakan oleh Karina.
Cukup ia berada dalam masalah ini sendirian. Karena semua ini terjadi juga diakibatkan keteledorannya maka ia juga harus bisa bertanggung jawab.
Wanita itu menarik nafas panjang dan kemudian menatap teman-temannya yang sebentar lagi akan berpisah dengannya. Ia masih trauma ingin pulang sendirian tapi untungnya Ibunya sudah memberikan uang saku lebih agar ia bisa naik angkutan umum.
Jasmine menunggu angkutan umum namun sayang sekali semua angkutan umum telah penuh. Terpaksa ia pulang berjalan kaki dan menuju ke tempat lesnya langsung.
Tempat lesnya tidak jauh dari sekolahnya dan juga tidak jauh dari rumahnya. Makanya ia sering pulang berjalan kaki. Lagi pula hari masih sore jadi pasti orang-orang jahat itu tidak ada di jalanan.
Apalagi hari semakin terlihat cerah dan ramai. Jadi hal tersebut tentu saja tidak akan terjadi. Setidaknya ia bisa meyakinkan dirinya sendiri agar tidak terlalu gugup.
Jasmine menelusuri jalan sambil bersenandung. Wanita itu menatap ke pinggiran jalan dan memperhatikan masyarakat yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Inilah kenapa membuatnya sangat senang berjalan kaki daripada menaiki angkutan umum. Ia bisa menikmati waktunya dan memperhatikan jalan yang begitu indah ketika sore hari.
Jasmine menarik nafas panjang dan kemudian menendang batu untuk mengisi kegabutannya. Namun tiba-tiba ia tak menyangka bahwa ada motor yang dari tadi mengikutinya.
__ADS_1
Ia hanya mendengar suara gerombolan motor tanpa menoleh ke jalan raya. Wanita itu masih tidak menyadari bahwa dirinya telah diikuti hingga tiba-tiba jalannya dicegat.
Sontak Jasmine terkejut dan menatap ke sekelilingnya yang dipenuhi dengan anak yang motor beserta motor besarnya. Jasmine pernah nga dan ia sudah berancang-ancang ingin kabur.
"Lo pergi semua, biar gue yang ngatasin dia." Olga diam-diam tersenyum ke arah Libra dan kemudian menepuk pundak pria itu.
"Lo mau ngapain? Bukannya gue udah bayar lo? Lu mau apa lagi? Mau memeras orang lain."
Libra menatap ke arah Jasmine dengan sombong. Pria itu diam-diam tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Gue mau membeli mulut lo."
Sontak Jasmine memberikan ekspresi geli. Apakah pria ini sungguh gila? Ia baru pertama kali bertemu dengan orang memiliki otak seperti Libra.
"Gila lo."
Libra tak terima ketika dikatai. Ia langsung turun dari motornya dan kemudian memberikan beberapa kartu kredit kepada Jasmine.
Jasmine menatap kartu kredit itu dengan acuh tak acuh. Ia tak peduli dengan kartu kredit tersebut karena dirinya bukanlah wanita yang mabuk dengan uang.
"Gue nggak mau uang haram dari lo ya. Dengan lo memberikan uang haram ke gue, lo sama aja lagi ngerendahin harga diri gue. Lu nggak sebodoh itu buat ngeladenin orang kayak lo. Uang ini hasil curian kembalikan ke orangnya. Nggak usah jadi anak berandalan, nggak ada untungnya. Harusnya lo pikirin jalan hidup lo yang gak tentu arah."
Setelah puas mengatakannya kemudian Jasmine melewati Libra begitu saja. Libra menarik nafas panjang dan tangannya masih memegang kartu kredit tersebut dan tatakan matanya masih berada di mana posisi Jasmine semula sebelum ia pergi.
Tanpa ekspresi akhirnya ia pun menarik satu sudut bibirnya. Kemudian ia memandang ke arah perginya Jasmine.
__________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1