Jasmine My Mine

Jasmine My Mine
Part 18


__ADS_3

Jasmine membawa Libra ke rumahnya. Wanita itu harus memastikan Libra baik-baik saja setelah berhasil menyelamatkan dirinya. Sang ibu pun tak henti-hentinya berterima kasih kepada Libra.


Kebetulan dalam keadaan hampir genting ibu dan ayahnya datang an menelpon polisi. Ia juga yang menyuruh agar Libra ke rumah mereka lebih dulu.


"Libra kamu tidak apa-apa kan nak?" tanya sang Ibu seraya mengambil tempat duduk Jasmine untuk mengobati luka-luka Libra.


Pasti ibunya mengira bahwa luka-luka tersebut adalah milik Libra karena menyelamatkan dirinya. Padahal sebagian dari luka-luka tersebut adalah ia dapatkan dari berkelahi. Kerjaan preman tentu saja berkelahi, kan? Tidak ada satu orang pun yang visa berhasil mengubah orang lain jika bukan dari kemauan orang tersebut.


Jasmine tahu betul mengenai itu, makanya ketika ia melihat gerak-gerik Libra yang menyukainya ia berusaha untuk menolak pria itu yang memiliki sifat buruk. Siapa yang mau dengan orang yang seperti itu.


"Tidak apa-apa Tante, saya sudah biasa seperti ini. Tante tidak perlu khawatir mengenai luka-luka saya, yang perlu Tante khawatirkan itu adalah Jasmine." Jasmine menarik napas panjang ketika pria itu menyebut namanya. Ia pun refleks langsung membuang wajahnya.


Entahlah menurutnya ia tak perlu diistimewakan karena ia begini sudah baik-baik saja dan tak perlu dikhawatirkan berlebihan.


"Mama, Jasmine tidak apa-apa. Jasmine juga baik-baik saja," ucap Jasmine namun matanya terarah kepada Libra. Menurutnya Libra berlebihan walaupun apa yang dilakukan oleh para preman tersebut menyisakan beberapa rasa trauma yang sulit untuk ia katakan.


Wanita itu menghembuskan napas gusar dan tiba-tiba ia termenung. Ini aslaha kesekian kalinya Libra menyelamatkan dirinya. Menurutnya pria itu sudah banyak berkorban untuknya dan ia tahu ada kalanya ia harus membalas Budi. Tapi tidak harus secepat ini kan? Masalahnya Jasmine tidak tahu harus membalas seperti apa kebaikan Libra tersebut.


"Jasmine coba kamu ke dapur buatkan kopi buat Papa dan Libra," ucap sang ayah dan barulah Jasmine sadar dengan ayahnya.


Ia bahkan hampir lupa mengenai kedatangan sang ayah. Seandainya tidak ada masalah seperti ini, mungkin Jasmine akan memberikan sambutan yang begitu mewah kepada ayahnya. Bahkan sekarang Jasmine pun tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba melupakan ayahnya padahal sosok itu ada di sampingnya.


"Papa, baiklah," ucap Jasmine dengan suara yang serak.


Wanita itu pergi ke dapur untuk membuatkan kopi yang diinginkan oleh ayahnya tersebut. Libra hendak menolak akan tetapi ia ditahan oleh ibunya Jasmine yang membuatnya langsung bungkam dan membiarkan Jasmine pergi ke dapur.


"Kau tak perlu sungkan dengan semua ini. Kau harus menikmati apa yang kamu suguhkan sebagai tanda terima kasih kami karena telah menolong Putri kami satu-satunya."


Tersenyum ke arah kedua orang tua Jasmine. Jujur saja menurutnya ayah dan ibu Jasmine cukup baik. Seharusnya ia lebih mudah kan untuk mendapatkan hati mereka berdua agar bisa meminang putrinya.


"Tidak apa-apa tante. Semua itu memang harus saya lakukan agar bisa saling tolong-menolong antara sesama makhluk hidup." Pria itu berusaha sebisa mungkin untuk bersikap menjadi orang yang bijak agar pandangan Ibu Jasmine dan ayahnya tidak terlalu buruk mengenai dirinya.


"Tapi karena kami kamu sampai luka-luka seperti ini. Lihatlah, untunglah ayahnya Jasmine ini seorang dokter."

__ADS_1


Libra menghembuskan nafas. Ia tahu jika ayah dari perempuan itu begitu terdidik dan juga sangat hati-hati. Terbukti dari tadi ia samasekali tak hentinya memperhatikan bagaimana gerak-geriknya. Ia pikir ayah Jasmine telah mencurigai dirinya yang mencintai putri mereka.


"Maaf Om, kenapa kau dari tadi terus menatap saya seperti itu?"


"Saya hanya mengamati kamu. Ada beberapa hal yang ingin saya katakan, tapi kita tunggu dulu kopinya."


Ibunya Jasmine tersenyum, sementara Libra merasakan hawa yang sangat sensitif dan tidak enak. Apakah ia akan berada di dalam suatu masalah besar. Jika benar seperti itu maka habislah dirinya.


Libra berusaha untuk tetap tenang. Pria itu sebenarnya sangat gugup namun sebisa mungkin ya menahan ekspresi wajahnya dan menormalkan emosinya di depan kedua orang tua Jasmine.


"Jasmine sudah siap gak kopi papa mu!!" teriak sang ibu yang tentunya suaranya sangat kuat seperti toa masjid.


Jasmine di dapur mencengkram sendok dengan erat. Ibunya membuatnya sangat malu di depan Libra. Bahkan ada orang pun ia masih bersikap kasar kepada anaknya.


Jasmine tidak mengerti kenapa ibunya sempat-sempatnya melakukan kebiasaannya di depan orang asing. Apakah ibunya ingin mempermalukannya di depan Libra?


Jasmine tidak menjawab dan terus lanjut membuat kopi dan kemudian membawanya ke luar. Akan tetapi yang mendengar suara adalah langkah kaki seseorang yang datang kemari. Jasmine bisa menebak orang tersebut adalah ibunya.


"Kamu ini kalau dibilangin sama orang tua selalu aja ngelawan. Mama aja belum sempat ngomong apa-apa, kamu udah duluan berbicara ke Mama. Kamu kaya orang gak punya sopan santu." Tuhkan salah lagi salah lagi. Selalu saja ia disalahkan oleh orang tua itu.


Jasmine memutar bola matanya bingung dan ia pun langsung pergi ke ruang tamu tanpa memperdulikan celotehan ibunya mengenai etika. Jasmine pikir ibunya tidak pernah memikirkan perasaannya ketika wanita itu terus menasehatinya dan seolah-olah ia selalu salah dan tidak pintar.


Padahal jelas sekali karena itu Jasmine merasa tersinggung. Oleh karena itu ia selalu menjawab semua perkataan ibunya. Karena ibunya hendak meremehkannya dan Jasmine terus saja merasa sakit hati. Terkadang wanita itu berpikir apakah ia adalah anak kandung dari wanita itu.


"Mama, Jasmine sakit hati dengan omongan mama."


"Kamu gak berhak untuk sakit hati dengan ucapan mama atau tidak, yang kamu perlu tekankan adalah bagaimana kamu menerima semua ucapan Mama ini agar kamu bisa berubah," tutur Ibunya dan dia pun langsung diam ketika telah sampai di depan ruang tamu.


Jasmine menghembuskan nafas panjang. Ia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana untuk tak peduli dengan ucapan ibunya agar ia tidak merasa sakit hati. Ibunya selalu menilai dirinya adalah anaknya tidak sopan santun, tidak tahu diri dan bodoh. Padahal ia sudah besar dan menurutnya ia sama sekali tidak seperti itu.


Jasmine meletakkan kopi tersebut dengan sedikit kasar dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan ruang tamu menuju ke dalam kamarnya. Ia hendak menunjukkan kepada semua orang bahwa dirinya saat ini tengah marah. Jasmine menghapus air matanya yang keluar, iya mana bukti adanya karena merasa bahwa ia terlalu lembek.


"Apalagi yang telah kau lakukan kepada dia? Lihatlah sepertinya dia sangat membencimu. Kau selalu saja menasehatinya terlalu keras. Dia itu adalah tipe anak yang keras kepala, kau tidak bisa menasehatinya begitu saja."

__ADS_1


"Anakmu itu memang sedikit sulit untuk dididik. Bahkan aku sampai pusing bagaimana caranya mendidik anak itu."


Sang suami pun menggelengkan kepalanya. Ia pun membawa kopi tersebut ke teras dan meminta agar Libra mengikuti dirinya.


"Kau jangan terlalu heran dengan keluarga kami. Tidak perlu mempermasalahkan pertengkaran tadi dan putriku," ucapnya kepada Libra agar tidak terlalu memikirkan keluarganya.


Tentu saja Libra memikirkan keluarga pria itu. Bagaimanapun juga ia sangat menyukai putrinya dan ia ingin putri dari pria itu baik-baik saja.


Akan tetapi hanya diam dan mengikuti Ayah Jasmine sesuai dengan keinginan dari laki-laki tersebut. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh ayahnya Jasmine. Tapi tampaknya pria itu ingin melakukan sesuatu yang sangat serius.


"Aku tidak tahu jika ini akan sangat membuat mu kesulitan dengan keluarga mu. Apakah sering terjadi seperti ini?" tanya pria itu sedikit lancang dan duduk di samping ayahnya Jasmine.


"Nama ku adalah Harry, dan kau Libra. Nama yang bagus. Panggil aku Om saja."


"Om Harry." Harry pun tersenyum dan kemudian menepuk pundak Libra.


"Ceritakan bagaimana kehidupan mu."


"Untuk apa?" bingung pria itu.


"Aku harus tahu orang yang dekat dengan putri ku. Kau menyukainya?" tanya Harry yang sudah menikah hal tersebut.


"Ya kau benar," ucap Libra tanpa takut. "Itu kesalahan ku. Seharusnya aku tidak mencintainya dan tahu dengan keadaan ku sendiri. Aku adalah seorang ketua geng motor yang suka berkelahi, jadi tidak perlu pikirkan aku."


Harry sangat terkejut dan menatap Libra dar tas hingga bawah dan menurutnya memang Libra terlihat seperti itu.


"Jika ibunya Jasmine tau kau akan segera diusir dari sini."


_________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2