Jasmine My Mine

Jasmine My Mine
Part 26


__ADS_3

Suasana malam yang hening membuat Jasmine dan Libra semakin canggung. Apalagi pria itu menyatakannya dengan sungguh-sungguh dan Jasmine tidak tahu harus bahagia atau tidak setelah mendengar ucapan itu. Di satu sisi, dia merasa sangat dicintai tetapi di sisi lain, Jasmine juga memikirkan masa depannya, bukan hanya perasaannya saja.


Banyak orang mengandalkan cinta untuk menikah, namun akhirnya hubungan rumah tangga mereka buruk dan berakhir dengan perceraian. Oleh karena itu, Jasmine tidak yakin dengan ucapan Libra.


"Lo sangat yakin dengan ucapan lo, tapi apa gue mau sama lo? Hati tidak bisa dipaksakan dan bagaimana jika gue tetap tidak ingin menikah sama lo? Kita tahu sendiri bahwa ketika kita sudah menikah, tidak hanya membutuhkan cinta, tapi juga material," ucap Jasmine menyatakan dengan sungguh-sungguh kepada Libra.


Namun, Libra pun tersenyum lebar dan memastikan bahwa itu tidak masalah baginya. Dia akan bisa membangun usahanya sendiri dan memperlihatkan pada keluarganya, serta keluarga Jasmine, bahwa ia tidak seburuk itu.


"Gue bakal kerja dan bakal ngehidupin keluarga kita nanti! Gue janji, Jasmine bakal jadi orang kaya buat nafkahin lo!" Tentunya Libra adalah anak laki-laki satu-satunya dari orang terkaya di kota ini. Keluarganya terpandang, dan orang tuanya pasti mau membantunya, walaupun baik Libra maupun orang tuanya sama-sama tidak pernah menganggap keluarga.


Jasmine melihat dengan jelas bagaimana tatapan Libra yang meyakinkan dirinya. Wanita itu terharu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Libra yang terkesan sungguh-sungguh. Dan entah kenapa ia merasa yakin bahwa Libra benar-benar bisa menepati janjinya.


Jasmine mengeluarkan jari kelingkingnya di hadapan Libra. Pria itu pun bengong dan tidak menyangka bahwa Jasmine benar-benar percaya kepadanya. Ia pun menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman dan kemudian menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Jasmine dan terbentuklah sebuah perjanjian di antara mereka berdua.


"Jadi, gimana?" tanya Libra memastikan kepada Jasmine.


"Gue mau jadi pacar lo!" ucap Jasmine dan Libra langsung tersenyum lebar. Ia sangat senang sekali dan memeluk tubuh Jasmine dengan cukup erat.


"Tapi kan katanya lo nggak suka sama gue? Jadi kenapa lo malah mau pacaran sama gue? Jasmine, lo jangan bohongin gue sumpah, karena orang nggak akan pernah bisa berbohong sama gue. Dan gue bakal menuntut ini," ucap laki-laki tersebut dan berharap apa yang ia dengar saat ini bukanlah mimpinya semata.


Ia juga tidak ingin hanya dipermainkan oleh Jasmine karena menurutnya perasaannya itu sungguh-sungguh. Jasmine pun menganggukkan kepalanya walaupun masih ada keraguan yang terselip pada dirinya.


Jasmine sebenarnya takut akan masa depannya. Apalagi, wanita itu memiliki segudang rencana yang telah ditetapkan untuk kedepannya. Oleh karena itu, ia sangat berharap bisa menemukan jodoh yang baik dan sepadan. Namun, saat bertemu dengan Libra, entah kenapa keinginannya tiba-tiba musnah. Apalagi, Libra sudah sering menolongnya dan sangat baik kepadanya, padahal Jasmine pernah menghina laki-laki tersebut. Namun ia tetap baik kepadanya.


"Libra, gue beneran. Tapi lo jangan ngecewain gue. Gue akuin kalau perasaan gue belum sepenuhnya buat lo. Tapi lo harus bisa membuat gue semakin cinta sama lo," ucap wanita itu dan Libra tanpa banyak bicara lagi langsung mengiyakannya. Bahkan, Libra sendiri sangat berani memegang janji yang memiliki beban yang berat, hanya demi bisa mendapatkan Jasmine. Jasmine ingin mengenal Libra lebih jauh dan harus menyeleksi apakah laki-laki tersebut cocok untuknya.


___________


Hari ini adalah hari Minggu dan itu artinya ia tidak bertemu dengan Libra. Jasmine cukup kecewa dengan hal tersebut Tapi mengingat karena ujiannya semakin dekat wanita itu pun memutuskan akhir pekannya kali ini ia habiskan untuk belajar.


Ibunya masuk ke dalam kamarnya sambil membawa susu. Jasmine menoleh ke arah ibunya dan mengangkat satu alisnya.

__ADS_1


"Papa di mana?"


"Papa sudah pergi ke rumah sakit karena ada pasien. Minumlah susumu dulu," jawab ibunya. Jasmine menganggukan kepalanya dan meminum susu tersebut.


Jasmine menarik nafas panjang lalu menatap ibunya. Ayahnya sudah pergi ke rumah sakit dan bahkan tidak punya waktu untuk berkumpul dengan keluarganya. Jujur saja, Jasmine merasa sangat tidak senang dengan hal tersebut. Padahal, ia berharap bahwa ayah dan ibunya bisa berkumpul di hari libur. Namun, mengingat rumah sakit tidak akan pernah libur, membuat Jasmine mendengus kasar.


"Kenapa sih Papa tidak pernah tinggal di rumah ketika weekend?"


"Nanti mama bicarakan dengan papa, tidak usah memasang wajah sedih mu itu. Papamu juga tahu bahwa kamu membutuhkan sosoknya. Jadi jangan pernah khawatir tentang rasa sayang Papa ke kita. Selain itu papa juga selalu ada kan buat kita namun dia terpaksa untuk membantu orang di luar." Perkataan ibunya ada benarnya juga. Jasmine pun menarik nafas panjang dan ia lagi-lagi harus mengalah dari pasien-pasien ayahnya.


Jasmine menarik nafas panjang dan ia sekali lagi harus mengalah untuk pasien-pasien ayahnya.


"Baiklah," ucap Jasmine dan meminta agar ibunya pergi karena ia ingin kembali fokus belajar.


"Bentar lagi ujian kan? Kamu jangan menyia-nyiakan waktumu. Mama berharap kamu bisa mendapatkan peringkat yang lebih baik lagi. Mama tidak mau kamu lulus sekolah dan tidak bisa mendapatkan universitas yang bagus."


Jasmine pun menganggukkan kepalanya. Ia berjanji pada ibunya bahwa ia akan belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak terpengaruh oleh apapun, serta mendapatkan juara umum lagi seperti yang diharapkan oleh ibunya.


Setelah kepergian ibunya Jasmine pun melanjutkan belajarnya. Wanita itu begitu fokus dengan pelajaran yang sedang ia hadapi hingga tiba-tiba nada dering yang berasal dari ponselnya membuatnya terkejut.


Ia dengan cepat mengangkat telpon itu dan melupakan sejenak tujuannya untuk belajar. Karena ia sudah merindukan Libra, semenjak ia mendeklarasikan hubungannya dengan pria itu ia semakin jatuh cinta dengan Libra.


"Halo?"


"Lagi nungguin aku?" tanya Libra dengan pedenya dan Jasmine pun membuang wajahnya karena tidak sanggup menahan malu. Jujur saja benar-benar mencintai pria ini dan ia bahkan sudah kehabisan kata-katanya.


"Jasmine! Kenapa diam?"


"Apaan sih, kenapa lo nelpon gue?" tanya Jasmine kepada Libra.


"Kangen lah," jawab pria itu dengan santainya dan tidak memikirkan bagaimana wajahnya saat ini yang memerah padam mendengar ucapan pria tersebut.

__ADS_1


"Ish apaan sih Libra. Gue mau belajar, lo ganggu aja," ucap Jasmine seraya hendak mematikan ponselnya.


"Ya gue mana tau lo lagi belajar. Kan hari ini hari Minggu emang ko gak mau sekali aja berhenti belajar?" jawab Libra.


"Gak bisa. Bentar lagi gue mau ujian. Dan lo jangan bawa pengaruh buruk," ucap Jasmine tegas dan kemudian langsung mematikan ponselnya.


Ia pun menjauhkan ponsel tersebut dari dirinya agar tidak tergoda untuk memainkan ponsel itu ketika ia sedang belajar. Jujur saja dirinya kerap kali merasa tergoda dengan hal-hal semacam itu.


Apalagi ia sedang merindukan laki-laki tersebut dan tentunya perasaannya sedang berkecamuk. Jasmine menggigit bibirnya dan kemudian menahan perasaannya yang benar-benar rindu kepada pria itu dan ingin berhenti belajar saja.


"Jasmine, ayo fokus," ucapnya sambil memukul kepalanya pelan.


Jasmine menarik nafas panjang dan mempelajari matematika dengan sungguh-sungguh. Hingga tiba-tiba saja, waktu berlalu begitu cepat sehingga membuat Jasmine merasa bosan.


Jasmine meraih susu yang dibuatkan oleh ibunya dan menegaknya untuk menghilangkan rasa bosan pada dirinya. Ia akui bahwa Libra adalah cinta pertamanya. Jasmine baru pertama kali berpacaran, dan ia tidak mengerti bagaimana seseorang menjalankan hubungan.


Wanita itu keluar dari kamar dan tidak peduli dengan ponselnya yang berdering. Ponsel tersebut adalah panggilan dari Libra, tetapi Jasmine sama sekali tidak mendengar nada deringnya.


"Jasmine, apa kamu dan Libra memiliki hubungan spesial? Papa jarang mempekerjakan orang. Mama melihat bahwa kamu dekat dengannya." Sang ibu menanyakan langsung kepada Jasmine.


Wanita itu terlihat sedikit tidak enak dan membuang pandangannya. Beruntung ibunya tidak memperhatikannya. Jasmine menggigit bibirnya dalam-dalam memikirkan cara dan menyusun kata-kata untuk menjawab pertanyaan ibunya agar tidak salah kaprah.


"Apaan sih, Mama? Gak ada hubungan apa pun."


"Mama melihat bahwa dia anak nakal. Nanti mana akan mencari tahu asal-usulnya," kata sang ibu dengan serius.


Jasmine hanya bisa menelan air liurnya dan menatap ke arah ibunya yang mulai serius. Apakah hubungannya akan segera berakhir?


Tidak, ia tidak mungkin kisah percintaannya diawali dengan sebuah masalah seperti ini. Jasmine pasti mendapatkan jalan keluarnya dan membuat orang tuanya menyetujui Libra.


 _______

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA UNTUK LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH KEPADA SEMUANYA YANG TELAH MEMBACA.


__ADS_2