
Bel pertanda pulang sekolah pun menggema di setiap lorong sekolah membuat anak-anak yang semula terlihat letih dan juga lesu kembali bersemangat. Seakan-akan mereka mendengar suara kebahagiaan yang bisa membuat mereka terbebas dari belenggu yang terus membuat mereka berada di posisi yang tak nyaman.
Salah satu orang yang merasa bahagia mendengar hal tersebut adalah Jasmine bersama kedua temannya. Kebetulan mereka merencanakan ingin pergi ke mall setelah pulang dari sekolah. Maka dari itu mereka menunggu-nunggu suara bel berbunyi.
"Gue udah sampai sakit kepala dengerin ceramah guru di depan nungguin bel bunyi doang. Itu si Ibu Wiwit ceramah nggak pernah ingat waktu. Padahal yang salah kan satu orang doang kenapa harus satu kelas yang kena? Gue dendam banget sama si Dimas," ucap Karina mengeluhkan kelas tadi. Jujur saja dirinya bukanlah tipe orang yang suka belajar dan ditambah dengan ceramahan guru akibat ulah perbuatan Dimas membuat dirinya semakin pusing dan tidak ingin belajar.
Jasmine dan cacahnya menatap ke arah Karina dengan tatapan geli. Tampaknya Karina seakan baru mengenal guru mereka saja. Padahal itu bukan sebuah rahasia umum lagi bahwa ibu Wiwit sangatlah pemarah dan satu orang berbuat ulah maka semuanya yang kena.
"Gue juga bilang sih kalau mereka itu bener-bener keterlaluan, tapi ya mau bagaimana lagi," ucap Caca menenangkan Karina karena ia tahu bagaimana sifat wanita itu.
Wanita tersebut tentunya tidak semudah itu ditenangkan. Makanya Jasmine langsung bertindak dan merangkul bahu Karina. Barulah terdengar helaan napas lega dari Karina sehingga membuat keduanya pun turut merasa lega.
Karina menatap kedua temannya dan kemudian membalas merangkul malaikat berdua. Ia juga tak kalah memberikan senyuman terbaiknya untuk menunjukkan rasa cintanya kepada teman-temannya. Tentunya persahabatan mereka berdasarkan hati yang tulus. Semoga saja terus selamanya seperti ini, karena mengingat setiap hubungan pasti memiliki ujian.
"By the way kita pergi pakai mobil gue aja, sekalian gue bakal nganterin pulang lo," ucap Caca menunjuk ke arah Jasmine. Mendengar cerita Jasmine membuat Caca dan Karina tentu saja merasa khawatir dengan keselamatan wanita itu sehingga mereka pun berinisiatif untuk mengantar jemput Jasmine.
"Lo apa-apaan sih, udah tahu rumah gue deket. Terus gue juga bakal mau pergi ke tempat les dulu baru pulang ke rumah. Jadi kalian tuh nggak perlu repot-repot," ucap Jasmine yang geli dengan keinginan teman-temannya tersebut. Meskipun hal itu bermaksud baik Tapi tetap saja Jasmine merasa sangat tidak enak dengan kebaikan kedua temannya.
"Apaan sih Jasmine, nggak papa lah walaupun dekat. Tapi setidaknya kita mengurangi bahaya, dan karena dekat itulah makanya Caca mau nganterin lo. Eh iya mending lu berhenti aja dari les, lo kasih deh pengertian ke Mama lo," ucap Karina yang tentunya sudah tahu bagaimana watak Ibu dari Jasmine. Wanita itu sendiri juga tidak tahu bagaimana cara menghadapi ibunya Jasmine karena seringkali ia mendapatkan teguran dari sang ibu.
Jasmine yang mendengar permintaan dari Karina tentu saja tidak bisa mengaktifkan matanya dengan leluasa karena ia cukup terkejut. Bahkan dirinya saja tidak berani mengatakan hal tersebut apalagi meminta hal itu terang-terangan di depan ibunya. Jasmine menggelengkan kepalanya dan langsung menuju ke mobil Caca.
Permintaan gila Karina tentu saja tak berani ia turuti karena itu akan memicu perang dunia ke-3. Yang ya harapkan adalah ayahnya yang segera pulang dan bisa menyelamatkan dirinya.
"Gue heran deh, perasaan lo itu anak orang kaya. Tapi kenapa nggak pernah diperlakukan khusus gitu? Jadi orang tua lu itu beneran kayak apa enggak?" Jasmine pun menarik nafas panjang.
Wanita itu menyandarkan tubuhnya di mobil milik Caca dan menyilangkan kakinya serta melipat kedua tangannya. Ia tersenyum cukup lebar namun senyum itu bukanlah sebuah ketulusan dari dirinya.
"Lo sendiri juga tahu kalau gue anak orang kaya, tapi mamah kue ini orangnya paling hemat di dunia. Karena dia menganggap sekolah gue dan rumahnya itu deket, makanya dia tuh nggak biarin kita pakai mobil. Gue aja belum bisa nyetir mobil," ucap Jasmine dan tentunya Karina dan Caca langsung memasang wajah masam.
Siapa yang tidak mengetahui hal itu, tentunya di antara mereka berdua sudah tahu kebenarannya bahwa Jasmine memang tak bisa membawa mobil.
__ADS_1
"Yasudah lah, emak lo emang paling aneh."
Jasmine yang mendengar ucapan Karina tersebut tentu saja turut tertawa. Ia sendiri juga tidak mengerti kenapa Ibunya bisa bersikap sedemikian rupa. Dan karena itu pulalah Jasmine bertanya-tanya dari mana ayahnya menyukai ibunya.
Apakah laki-laki tua itu tidak mengetahui bahwa ibunya memiliki banyak kekurangan. Anggap saja kekurangan itu hanya di mata Jasmine sehingga ayahnya sama sekali tidak bisa melihat hal minus tersebut. Jasmine mengingat bagaimana dahsyatnya cinta membuat dirinya tidak bisa berkutik.
"Ya udahlah gimana lagi, mungkin karena jodoh,"ucap Jasmine dalam hati dan lalu kemudian masuk ke dalam mobil Caca.
Setelah memastikan bahwa mereka berdua aman barulah Caca membawa mobilnya keluar dari parkiran menuju ke mall.
___________
Libra menatap gedung yang sangat tinggi di depannya. Wajahnya sama sekali tidak memiliki ekspresi dan itu menunjukkan bahwa dirinya tidak ada niat untuk pergi ke gedung yang cukup tinggi tersebut.
Rumah mewah di komplek tersebut sama sekali tidak membuat dirinya tergiur namun malah membenci ketika menatapnya. Tapi ya tidak ada pilihan lain karena dirinya memang harus ke sini yang disebabkan oleh sesuatu yang sangat mendesak.
Tangan yang membentuk sebuah tinjuan dan terlihat genggaman tersebut cukup kencang hingga membuat urat tangannya timbul. Libra mengatur nafasnya yang dari tadi sama sekali tidak bisa terkontrol.
"Maaf Anda siapa? Kenapa dari tadi saya melihat anda terus berdiri di depan sini? Apakah anda memiliki keperluan dengan orang di dalam sana?" Sang satpam yang mengenakan seragam putih bertanya kepada Libra yang terus termenung di depan pagar yang menjulang tinggi.
Libra pun memejamkan matanya, laki-laki tersebut memandang ke arah satpam itu dengan tatapan yang penuh dengan intimidasi.
Sang satpam tersebut lantas langsung meningkatkan kesiagaan. Melihat penampilan Libra yang tampak seperti seorang preman serta beberapa luka robek di sisi wajahnya membuat sang satpam langsung mengerti bahwa preman tersebut memiliki niat jahat.
"Maaf Anda tidak bisa masuk ke dalam, silakan pergi dari depan pagar sebelum saya akan melakukan tindakan." Libra sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.
Lantas hal tersebut memancing satpam itu untuk melakukan sesuatu kepada Libra. Ia pun mengambil pentungannya dan hendak mengusir Libra.
Libra yang melihat pentungan tersebut hendak dipukulkan ke arahnya lantas mengelak. Tepat ketika ia berusaha menghindar tiba-tiba mobil dengan kecepatan rendah sudah berada di belakangnya hingga ia menubruk mobil tersebut.
Libra terkejut dan menoleh ke belakang. Saat mengetahui mobil milik orang tersebut ia hanya diam dan sama sekali tidak bergerak dari posisinya.
__ADS_1
Suasana menjadi hening, satpam tersebut masih berusaha untuk menjauhkan Libra dari depan gerbang. Akan tetapi orang yang ada di dalam mobil itu turun bersama dengan istrinya.
Ia melihat Libra yang ada di depan pagar rumahnya yang berusaha untuk menghindari serangan dari satpam membuat dirinya langsung menghentikan satpam tersebut.
"Bapak sudah Pak, bapak bisa kembali bekerja. Biarkan urusan dia saya yang mengatasinya," ucap wanita tersebut yang tak lain adalah ibunya Libra.
Ia pun menghampiri Libra dan menatap anaknya tersebut dengan tatapan kosong. Libra sudah terbiasa dengan tatapan mereka, jadi dirinya sama sekali tidak merasa takut ketika mereka berusaha untuk merendahkannya.
"Berani sekali kau pulang!" Sindiran keras dari sang ayah tentunya tak menggoyahkan langkah Libra.
"Duit gue abis, gue minta duit!" Sang Ibu membulatkan matanya dan menatap ke arah suaminya yang tak bisa menahan emosi.
Ia aku langsung menahan tangan suaminya tersebut agar tidak memukuli anak mereka sendiri.
"Pa sudah Pa, kamu tahu sendiri bagaimana Libra."
"Kamu membelanya?"
"Tentu saja aku tidak membela anak itu." Kalimat itu terdengar cukup kasar di telinga Libra.
"Apa susahnya sih kalian berdua kasih duit ke gue? Duit kalian nggak habis kan kalau misalnya dikasih ke gue?"
"Memangnya kau siapa? Apakah kau memiliki hubungan dengan kami?"
Libra yang mendengar hal tersebut lantas terkait dan kemudian menghilangkan kepalanya seolah-olah tengah mengejek kedua orang tuanya.
"Jangan berpura-pura sok gak tahu!"
_______
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.