Jasmine My Mine

Jasmine My Mine
Part 15


__ADS_3

Jasmine cepat-cepat masuk ke dalam mobilnya Caca. Sebab ia melihat ada Libra yang menunggunya di depan gerbang. Untuk apa pria itu melakukannya padahal ia tak membutuhkannya. Ia takut jika Libra mengejarnya dan memiliki perasaan lain dengannya. Wanita itu menelan ludahnya dengan kasar dan berharap tidak akan terjadi apapun.


"Kenapa Mine?" tanya Karina yang melihat wajah panik Jasmine.


Jasmine menggelengkan kepalanya. Ia pikir mungkin teman-temannya tidak akan menyadari apa yang baru saja dilihat olehnya. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"Gue nggak papa kok, tadi gua ngelihat sesuatu yang seharusnya nggak gue lihat." Tentu saja mendengar jawaban dari Jasmine membuat bingung Caca dan Karina.


"Yang seharusnya nggak lo lihat? Emang apaan? Lo udah lihat apa? Ayo ngaku." Jasmine tetap gagah tidak ingin menceritakan apapun kepada kedua sahabatnya tersebut. Wanita itu mantap menggelengan kepalanya walaupun Karina dan Caca pasti akan kesal kepadanya.


"Kita ini sahabat loh," ucap Karina dengan rasa tidak percaya.


"Masa dengan sahabat sendiri lo nggak mau ceritain apa masalah lo?"


"Belum saatnya," jawab Jasmine dan kemudian memejamkan matanya. Ketika teman-temannya menyinggung tentang persahabatan tersebut tentu saja hatinya merasa tidak enak karena tidak menceritakan yang sesungguhnya kepada mereka berdua. Tapi mau bagaimana lagi tidak semuanya harus ia ceritakan kepada Karina dan Caca.


Karina dan Caca pun mengangkat bahu masing-masing. Melihat Jasmin yang benar-benar terpojok mereka pun tidak ingin bertanya lebih lanjut dan terjadilah keheningan yang cukup lama di dalam mobil tersebut. Jasmine sama sekali tidak diajak berbicara dan wanita itu juga tidak ingin ikut dengan pembicaraan mereka.


Sepanjang jalan Ia hanya melamun sembari mengupas tangannya. Jujur saja itu sangat sakit, tapi dengan begitu ia bisa merasa lebih tenang.


"Kenapa gue harus ketemu sama dia lagi sih? Kenapa dia ada di mana-mana? Kayaknya gue harus bawa mobil sendiri. Mungkin papa besok pulang, gue harus telepon Papa," kuman Jasmine dan kemudian memegang keningnya yang berdenyut.


Sementara itu Caca dan juga Karina sedang menikmati perjalanan hingga Caca lah yang menyadari ada sebuah sepeda motor yang mengikuti mereka dari tadi. Caca menoleh ke belakang dan ia menyipitkan matanya. Kemudian ia membisiki Karina.


"Karina, lo lihat deh yang di belakang itu kayaknya ngikutin kita." Karina pun menolehkan kepalanya ke belakang dan ia pun melihat jika pria itu memang dari tadi sepertinya mengikuti mereka.


Karina pun merasa tidak enak bersama dengan Caca. Ia melihat ke arah Jasmine yang sepertinya tidak menyadarinya. Karena sudah dekat dengan rumah Jasmine jadi ia tak ingin memberitahukan ke Jasmine.


"Jasmine sudah sampai."


Jasmine pun langsung buyar lamunannya. Ia menarik napas panjang dan keluar dari dalam mobil dan tidak lupa untuk berterima kasih kepada Caca dan Karina.


"Makasih udah mau anterin gue. Tapi gue beneran mimta maaf karena belum bisa cerita ke kalian apa yang terjadi sebenarnya."


Karina sempat melirik ke arah pria itu yang rupanya juga ikut berhenti. Perasaan wanita tersebut semakin tidak enak dan meminta agar Jasmine cepat masuk.


"Intinya kita berdua nggak mempermasalahkan itu. Lo lihat deh tuh kayanya dari tadi ngikutin kita. Jadi lo harus cepat-cepat masuk sebelum terjadi sesuatu," pinta Caca kepada wanita tersebut.


Jasmine pun menatap ke arah orang yang dimaksud oleh Caca Ia pun menarik nafas panjang karena merasa mengenali pria itu. Tidak salah lagi itu adalah Libra. Tapi untuk apa pria tersebut mengikuti mereka sampai ke sini.


"Nggak papa gue, lagi pula ada satpam. Jadi kalian yang harus buru-buru pulang."


Tentu saja Karina dan Caca sangat takut hingga Mereka pun memutuskan untuk pulang secepatnya. Mereka rencananya akan pergi ke kantor polisi jika pria itu masih juga mengikuti mereka.


"Tapi lo bener-bener harus hati-hati. Kita berdua takut banget kalau misalnya lu kenapa-napa," ucap Karina dengan perasaan tidak enak.


Jasmine menggelengkan kepalanya. Tentu saja tidak seperti itu. Ia pasti akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Nggak usah berpikir yang berlebihan, sekarang kalian cepet pulang. Kalau misalnya masih ngikutin juga kalian pergi ke kantor polisi."


"Oke."


Jasmine pun menarik nafas panjang dan ia sedikit bisa lega. Wanita itu hanya menunggu Karina dan Caca cepat pulang barulah ia menghampiri Libra. Menurutnya Libra benar-benar berlebihan dan itu artinya ia sudah dalam bahaya.


Sepeninggalan Caca dan Karina barulah ia menatap ke arah Libra dengan tatapan tajam dan meminta agar pria itu mendatangi dirinya. Libra pun datang dan kemudian menghentikan motornya di depan Jasmine.


"Apa-apaan sih maksud lo, Lu kenapa juga harus ngikutin gue sampai kayak gini? Gue nggak ada minta bantuan sama lo kok, gue bisa minta anterin sama supir gue," ucap Jasmine yang marah kepada Libra yang telah melanggar privasinya.


"Oh seperti itu? Tapi kenapa lo tadi harus dianterin sama gue kalau punya sopir sendiri?" Skakmat lah Jasmine. Sejujurnya iya benar-benar lupa bahwa dirinya adalah anak orang kaya dan memiliki supir. Mungkin karena ia sudah terbiasa hidup sederhana sehingga ia melupakan identitasnya.


"Gue bener-bener lupa dan nggak ada berharap mau ikut sama lo. Mulai hari ini dan besok lu nggak usah datang ke sini lagi jemputin gue ataupun ngikutin gue sampai kayak gini. Lu nggak harus ngelakuin ini."


Jasmine menelan ludahnya saat melihat Libra menunjukkan ekspresi yang tidak enak. Wanita itu hanya berharap tidak akan terjadi apapun kepada dirinya dan ia benar-benar tidak bermaksud untuk menyinggung pria itu.


"Gue juga nggak mau, tapi gue ke paksa."


"Ya udah sekarang lo pulang," ucap Jasmine dan hendak meninggalkan Libra di depan gerbang rumahnya.


"Gue pulang tapi sama lo."


Deg


Jasmine langsung berhenti melangkah dan ia hendak buru-buru masuk ke dalam gerbangnya. Tinggal beberapa langkah lagi tiba-tiba tangannya ditarik oleh Libra. Jasmine berteriak tapi mulutnya langsung dibekap. Libra menyadari jika di sini ada CCTV dan maka dari itu ia sama sekali tak menoleh ke arah CCTV itu agar wajahnya tidak diketahui.


"Maaf Jasmine gue harus lakukan ini."


Jasmine menarik tangan Libra yang membekap mulutnya dan menghempaskannya. Akhirnya dia bisa lepas dari pria itu.


"Keterlaluan lo! Gue benci sama lo!"


Jasmine pun langsung meninggalkan Libra di depan gerbang. Pria itu menarik napas panjang dan menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa mengontrol emosinya.


Ia pun berteriak dan menendang pembatas jalan. Pria itu menghembuskan napas kesal dan mencengkram tangannya dengan erat.


"Apa yang harus gue lakuin? Gue bener-bener muak sama diri sendiri!!"


_________


Jasmine masih trauma dengan pembekapan mulutnya oleh Libra. Bahkan wanita itu tak berani keluar kamar dan ibunya tidak tahu apa yang sebenernya terjadi kepadanya.


"Jasmine ayo nak turun makan!"


Jasmine menarik napas dan kemudian keluar dari dalam selimutnya. Ia membuka pintu dan langsung menuju ke meja makan. Ia harap bisa melupakan kejadian tadi dan tidak berpikir yang aneh-aneh yang mana akan membuat dirinya merasa trauma sendiri.


"Kamu gak papa Nak? Kenapa mama liat wajah kamu pucat banget?" tanya sang ibu seraya menghidangkan makanan.

__ADS_1


Jasmine menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin membuat ibunya sangat khawatir kepadanya maka dari itu Jasmine memutuskan untuk merahasiakannya sendiri.


Wanita itu mengambil piringnya dan menatap lauk-pauk yang tersaji di atas meja. Ia cukup terkejut karena mengetahui bahwa semua itu adalah makanan kesukaannya. Melihat ibunya yang perhatian kepadanya membuat dirinya sangat terharu. Terkadang Jasmine merasa bingung ibunya ini mencintainya atau membencinya. Sikap Jasmine kepada ibunya pun sulit untuk ia tentukan.


"Makasih Mama! Mama emang paling baik," ucap Jasmine dan membuat ibunya mengecup pipinya sekilas. "Loh mama pergi, kenapa Mama nggak ikut makan?"


"Itu Mama mau bayar tukang galon. Nanti dia bakal ke dapur, Mama nggak mungkin biarin dia masuk rumah sendirian." Jasmine mengganggukan kepalanya dan ia pun mulai fokus untuk menyantap makanannya.


Cukup lama ia menunggu ibunya hingga akhirnya ia mendengar derap langkah kaki yang menuju ke dapur. Jasmine tahu bahwa itu adalah ibunya bersama tukang galon. Jasmine tidak peduli dan meneruskan makannya.


"Taruh di sini aja."


"Baik bu." Jasmine merasa familiar dengan suara itu. Ia pun menatap ke arah tukang galon tersebut dan wanita itu langsung melepaskan garpu yang ada di tangannya.


Ia sangat terkejut bahwa yang datang adalah Libra bersama dengan Venus. Buat apa pria itu kemari dan menjadi tukang galon lagi.


"Loh mah Mereka ada di sini?"


Ibunya mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia heran di mana anaknya mengenal tukang galon tersebut.


"Kamu tahu mereka?" tanya ibunya dan Jasmine menganggukkan kepalanya. "Mereka tukang galon itu, Mama udah sering beli air galon sama dia, tapi yang nganterin cuman si Venus. Katanya hari ini dia sama temennya si Libra."


"Oh," ucap Jasmine yang tidak enak makan. Wanita itu meninggalkan meja makan begitu saja.


Venus dan Libra saling berlirikan. Sejujurnya Libra sendiri tidak tahu bahwa akan mengantar air kelon ke sini. Jadi bukan sengaja ia datang kemari.


"Itu beneran cewek yang lu suka? Sumpah rumahnya besar banget, terus kayak anak orang kaya dan berpendidikan. Dari tadi gue ngeliat prestasi mulu," ucap yang merasakan tidak enak dan tahu bahwa Libra akan tertolak mentah-mentah.


"Gue juga baru tahu. Tapi gue nggak pantang menyerah. Rencananya gue bakal masuk sekolah lagi."


"Hah? Seharusnya lo udah tamat."


"Bisa aja klik lanjutin sekolah karena tahun lalu gue berani sekolah, seharusnya emang gue udah kuliah tapi kan gue belum nyelesaiin kelas 3."


Jika dipikir-pikir memang benar Libra. Venus menepuk pundak pria itu beberapa kali.


"Semangat bro!"


"Maafkan anak tante ya, tante sendiri juga nggak tahu kenapa dia tiba-tiba hari ini kayak gitu."


"Iya gak papa Tante."


_______


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2