Jasmine My Mine

Jasmine My Mine
Part 22


__ADS_3

Suara batu yang dilemparkan dari bawah membuat Jasmine sangat kesal. Itu sungguh mengganggu tidurnya. Wanita itu meraih ponselnya dan kemudian keluar dari dalam selimutnya.


Ia pun menghampiri jendela dan membuka jendelanya untuk mencari tahu siapakah pelaku yang terus melempari batu ke rumahnya. Jasmine melihat pelaku tersebut yang tak lain adalah Libra membawa tangannya kian terkepal. Buat apa pria itu datang kembali dengannya perempuan emosinya meledak-ledak saja.


"Libra awas lo," ucap Jasmine dalam hati saking kesalnya kepada pria itu.


Baru saja ia hendak menghubungi pria itu nyatanya pria tersebutlah yang dulu menghubunginya. Jasmine mengangkat telepon dari pria itu dan marah-marah melalui sambungan telepon. Mendengar omelan keras dari Jasmine membuat pria itu mengerutkan keningnya dan sontak langsung menjauhkan telepon tersebut dai telinganya.


Ia pun tertawa kecil mendengar suara Jasmine yang sok galak akan tetapi nyatanya itu sangatlah terdengar imut di telinganya. Ia mendongak ke atas dan malah melihat tatapan mengerikan milik wanita itu.


Di balik paras cantiknya ada tantangan tersendiri yang harus dilewati oleh Libra agar bisa mendapatkan apa yang inginkan. Pria itu yakin dengan sepenuh hati bahwa ia mampu menyelesaikan tantangan tersebut.


"Turun ke bawah."


"Mau ngapain Llo datang-datang malam-malam kayak gini ke rumah gue. Lo pasti mau macem-macem, kan?"


Jasmine harus memastikan bahwa kondisi benar-benar aman dan barulah ia turun. Lagi pula ia belum mengetahui niat pria itu yang sebenarnya dan bisa saja menyumbang dirinya dan tanpa ia kehendaki masuk ke dalam lubang masalah lagi.


"Turun aja ke bawah cepat. Ada sesuatu yang mau gue omongin sama lo." Tentunya Jasmine semakin bingung mendengar ucapan laki-laki tersebut.


Jasmine tetap kekeh dan tidak mau turun. Dari atas rumahnya ia memberikan isyarat kepada pria itu dengan gelengan kepalanya. Tentunya Libra menyesalkan hal tersebut karena ia sudah datang jauh-jauh demi wanita itu dan malah ia tidak menemuinya.


"Gue datang ke sini buat lo."


"Tapi gue sama sekali nggak ada nyuruh lo ke sini. Jadi fiks ini bukan salah gue. Lagi pulang lo kok aneh sih malam-malam kayak gini malah datang ke rumah orang. Apalagi mama sama papa pasti nggak tahu, kalau dia tahu abis lo!"


"Makanya lu nggak usah kasih tahu ke dia."


Jasmine menarik nafas panjang dan kemudian mematikan sambungan telepon itu. Tampaknya ia keburu kesal kepada Libra sehingga tidak bisa mengontrol emosinya.


Jasmine menatap ke kaca dan memastikan bahwa penampilannya baik-baik saja dan tidak memalukan. Melihat dirinya yang lumayan cantik di balik baju tidurnya membuatnya yakin keluar dan menemui pria itu. Ia harus mengetahui ada apa sebenernya Libra datang.


Jasmine dengan sebisa mungkin merahasiakan dirinya agar tidak ketahuan oleh ibunya ia keluar. Ia juga berusaha melewati jalan-jalan yang tidak dipenuhi dengan CCTV.


Jasmine berhasil keluar melalui pintu belakang dan barulah ia bisa tenang sekarang dan cepat-cepat keluar dari dalam rumahnya. Ia pun membuka gerbang dan menghampiri Libra yang duduk di kursi depan gerbangnya.


Wanita itu mengerutkan keningnya pada saat melihat Libra yang mengangkat satu alisnya dan sementara kakinya ia silangkan.


"Ada apa?"


"Bilang ke gue gimana caranya lo masuk ke halaman rumah gue sementara gerbang udah di kunci."


Libra pun mengeluarkan kunci serep yang membuat Jasmine syok dan hendak merebutnya dari pria itu. Kalau Libra memiliki kunci serep tersebut itu artinya ia dalam bahaya dan keluarganya bisa saja terancam dirampok.


"Biasa aja wajahnya gak usah tegang."


Libra menarik tangannya dan kemudian menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Jasmine terus menatap ke arah pria itu dengan tatapan bingung. Ia menggaruk kepalanya untuk mengalihkan perhatian.

__ADS_1


"Gue takut Libra. Apalagi gue nggak percaya sama lo sertaus persen."


"Yeah i know." Libra memberikan beberapa jajanan kepada Jasmine. Jasmine ragu menerima jajanan tersebut. "Tenang aja gak gue racuni atau gue kasih obat tidur. Gue gak mungkin perkosa lo kecuali lo yang minta."


Jasmine melotot dengan ucapan wanita itu yang seenak jidatnya saja. Ia pun memukul kepala jajanan yang ada di tangannya.


"Lo kalau ngomong hati-hati, jangan buat orang darah tinggi. Dijaga kek mulut lo!"


Libra malah tertawa tidak bersalah setelah apa yang ia ucapkan. Kenapa pria itu tidak memiliki perasaan sama sekali. Jasmine menggelengkan kepalanya dan kemudian menarik napas panjang dan menginjak kesal kaki pria itu.


"Au!!"


"Makanya!!"


"Kenapa?"


"Kalau ngomong itu hati-hati!!!" pinta wanita itu dan memasang wajah manyun.


"Baik Ibu gitu!"


"Apaan sih!!"


"Lo mau ikut ke basecamp gue nggak? Gue jamin lu pasti baik-baik aja. Pegang ucapan gue, lo nggak usah takut sama sekali. Karena gue pasti jagain lo."


Jasmine dilanda delima yang sangat berat. Ia bingung harus mengikuti ucapan Libra atau tidak. Tapi dirinya sungguh penasaran dengan basecamp pria itu dan ingin berteman dengan teman-teman Libra. Ia harus mencari tahu lebih dalam lagi bagaimana pertemanan seorang Libra.


Wanita itu menatap gelisah ke arah rumahnya. Bagaimana sekiranya Jika ia ketahuan? Ia harus menjelaskan seperti apa kepada orang tuanya, tampaknya ini adalah kali pertamanya ia membangkang kepada orang tuanya dan meninggalkan rumah secara diam-diam.


"Gue nggak mau. Gimana kalau misalnya mama gue tahu? Gue mau jelasin kayak apa ke mereka? Lo jangan apa masalah gue lagi deh," hijab wanita itu kemudian berjalan meninggalkan Libra.


Libra pun menahan wanita itu. Ia menatap ke arah Jasmine dengan penuh tuntutan.


"Lo balik juga ke rumah lo, lo nggak akan bisa karena gue bakal tetap bawa lo kayak gimana pun."


"Ya udah gue ikut," ucapnya agar tidak terlihat bahwa dirinya seperti dengan paksaan.


Wanita itu menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Ia menatap ke arah Libra yang terlihat tampak menang.


"Tenang aja gak usah khawatir."


______


Libra membantu Jasmine turun dari motor besarnya. Pria itu menyuruhnya agar terus mengikutinya. Jasmine yang tidak tahu apapun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Wanita itu terus mengikuti Libra yang entah kemana membawa dirinya. Karena ia lupa jalan ke basecamp utama pria itu. Yang ia ingat hanyalah basecamp pelarian yang tak lain adalah tempat persembunyian mereka di saat genting.


Libra membuka pintu basecamp dan orang-orang yang sedang bermain judi di dalam sana langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka semua menatap bingung ke arah Libra. Tapi mereka lebih kaget lagi saat melihat wanita yang ada di belakang Libra.

__ADS_1


Orang yang paling heboh adalah Oscar karena ia mengingat wanita itu adalah orang yang menabraknya dan sekaligus membantu dirinya.


"Libra! Itu Nona manis kemarin, kan?"


"Tutup mulut lo! Jangan bicara seperti itu lagi!"


Refleks laki-laki itu menutup mulutnya. Ia menatap ke sekitarnya yang bungkam dan sama sekali tidak ada yang hendak membuka suara. Semuanya tampak mengerikan di wajah Jasmine.


Mereka memiliki bekas luka akibat tawuran dan suasana di dalam basecamp tersebut sangatlah berantakan walaupun lumayan rapi. Tapi Jasmine tidak terbiasa dengan itu.


"Lo duduk di sini!"


Jasmine menganggukan kepalanya dan menatap ke arah Oscar. Ia memandang ke arah luka Oscar yang sudah dibalut. Syukurlah sepertinya baik-baik saja.


"Nama lo Oscar, kan?"


"Iya, lo Jasmine?"


Jasmine membenarkan. "Gimana luka lo?"


"Lumayan baik." Suasana menjadi canggung karena tidak ada yang berani mengajak Jasmine berbicara karena takut dengan ketua mereka.


Pun begitu pula dengan Jasmine yang merasa bahwa dirinya sama sekali tidak pernah dekat dengan para pria. Namun kali ini ia sendiri wanita dan yang lainnya adalah pria. Jujur saja ia menjadi sangat takut dan hanya berharap bahwa dia baik-baik saja.


"Jasmine!"


"Ya!"


Jasmine menatap ke arah Libra yang datang membawakan dirinya minuman dan cemilan. Ia bersyukur pria itu tampaknya tak menjadikannya badut di sini. Ia benar-benar takut.


"Makasih!"


"Gak usah takut. Mereka baik! Oscar ajak dia bicara!"


Oscar pun dengan semangat mengajak Jasmine berbincang. Sementara itu Libra duduk di samping Olga seraya memperhatikan wanita tersebut.


"Lo bener-bener ya Libra! Lo gak takut orang tuanya dia tau!"


"Gak masalah."


Jasmine sama sekali tidak lepas dari tatapan Libra. Seolah ada harapan besar di mata Libra dan berharap dia adalah masa depannya.


"Gue harap Jasmine ibu dari anak-anak gue."


"Gue gak tau harus ketawa atau gimana. Yang penting semangat bro!!" Olga menepuk pundak Libra.


_________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2