Jasmine My Mine

Jasmine My Mine
Part 21


__ADS_3

Hari sudah sangat malah dan barulah Libra mengantar Jasmine pulang. Wanita itu sempat bertanya kepada Libra apakah dia tidak takut sama sekali jika misalnya ayahnya marah dan memecatnya hari itu juga.


Wanita itu menatap Libra yang saat ini malah duduk santai di atas motornya dan tidak ada ketegangan di wajah pria itu. Libra begitu berani dan Jasmine mengakui itu. Ia tertawa melihat Lubra yang masih duduk santai dan bahkan ia sendiri tak mampu untuk melakukannya.


"Lo terlalu santai, gimana kalau misalnya Papa atau mama gue nanyain gue dari mana, lo mau jawab kayak apa?" tanya wnaita itu kesal melihat Libra yang tidak ada takut-takut nya sementara ia sedang memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan tersebut tersebut.


"Ngapain gue takut. Tinggal jawab aja lo ngajakin gue jalan-jalan dulu baru pulang."


Mata Jasmine membulat. Bisa-bisanya ia hendak diancam seperti itu. Oh ia tidak mungkin jatuh ke tangan pria itu begitu saja. Ia akan membuktikan kepada pria itu bahwasanya ia tak mudah untuk ditindas.


"Lo ngomong seenak jidat lo aja. Lo yang jelas-jelas ngajakin gue dan malah mau melimpahkan kesalahan lo ke gue. Gak ada ya gua bakal komplen ke bokap buat pecat lo." Jasmine sudah terlampau sangat panik.


Wanita itu menggigit bibirnya dan berusaha untuk terlihat tetap tenang, tapi semua itu tidak mudah. Nyatanya Jasmine datang ketahuan di mata Libra.


Dan memang itu tujuan Libra untuk menakut-nakuti Jasmine agar ia melihat bagaimana wajah Jasmine yang sangat imut ketika panik.


Dari tadi pria itu benar senyum melihat Jasmine yang sangat cantik di matanya. Jika seperti ini bagaimana ia bisa melupakan Jasmine ketika semua orang memintanya agar melupakan wanita itu.


Nyatanya Jasmine sangat indah untuk dilupakan. Biarlah ia memendam perasaan ini walaupun orang tuanya sudah sangat pasti tidak akan menghasilkan hubungannya dengan wanita ini apalagi Jasmine tentunya tidak mudah menerima dirinya.


"Kenapa lo senyam senyum?" Jasmine sudah mulai curiga kepada laki-laki itu. Ia menyipitkan matanya dan berharap menemukan jawaban yang ia inginkan. Akan tetapi pria itu malah mengangkat bahunya acuh tak acuh membuat Jasmine sangat marah karenanya. "Lo jangan senyam-senyum, bantuin gue cari jawabannya."


"Gak."


"Lo!!"


"Jasmine! Libra!" teriak ibunya dari dalam.


Ia pun berlari ke arah Jasmine dan memastikan jika anaknya baik-baik saja. Libra memandang ke arah Ibunya Jasmine dengan tatapan puas. Seperti yang ia janjikan bahwa wabita itu datang selama keadaan baik-baik saja.


Sementara Jasmine sudah gemetar dna ia tak bisa berkonsentrasi. Yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya selamat dari ibunya yang tentunya akan mengintrogasinya seperti seorang tahanan.


Jasmine melemparkan senyuman kepada sang ibu bermaksud ingin mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang. Tapi nyatanya ibunya malah bingung melihat senyum itu.


"Kenapa kamu?"


"Mama!"


Jasmine pun menggaruk kepalanya. Apakah ia sangat yakin untuk bertanya kenapa ibunya tidak menanyakan ia datang dari mana. Tapi jika ia bertanya seperti itu berarti sama saja dengan menyerahkan diri hidup-hidup kepada ibunya. Jasmine pun menjadi sangat bingung dan berharap mendapatkan keajaiban atas pilihannya.


"Mama!"

__ADS_1


"Hm?"


"Mama gak nannya Jasmine dari mana?" Akhirnya tanpa ia sadari bahwa pertanyaan itu meluncur begitu saja. Berarti itulah yang Tuhan pilihkan untuknya.


Jasmine berusaha untuk menyembunyikan wajahnya setelah bertanya seperti itu. Ia sudah salah melangkah dan telah menyerahkan diri secara hidup-hidup kepada ibunya.


"Mama udah tahu. Kamu pergi jalan-jalan sama Libra, kan? Libra tadi udah minta izin ke mama." Jasmine spontan membulatkan mulutnya. Ia pun menoleh ke arah Libra dan pria itu dengan santainya mengangkat satu alisnya.


Ia pun mengepalkan tangannya. Bisa-bisanya ia telah ditipu oleh pria itu. Lihat saja dia harus membalasnya.


"Oh gitu. Mama masuk aja duluan, ada yang mau aku omongin sama dia!"


Ibunya pun mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Jasmine memastikan lebih dulu ibunya benar-benar masuk barulah ia menghampiri pria itu.


Jasmine melemparkan tatapan yang paling mengerikan pernah dimilikinya. Ia angkat marah dan tentu saja kemarahan di hatinya tidak semudah itu untuk diredakan.


Wanita itu mendekati Libra dan kemudian bertepuk tangan. Hal tersebut ia lakukan sebagai hadiah untuk Libra karena telah mempermainkannya. Lihatlah bagaimana wajah pria itu sedang mengejeknya. Seolah-olah ia sangat bodoh di hadapan pria itu dan Jasmine benar-benar membenci fakta tersebut.


"Bagus juga permainan lo. Sekali lagi lo mainin perasaan gue, gue tinju kepala lo!" Jasmine membentuk sebuah tinjuan dan menatap ke arah Libra dengan tatapan berani.


Libra pun tertawa dengan ancaman murahan seperti itu. Tante jaya sama sekali tidak akan takut dengan hanya ancamannya seperti itu yang sama sekali tidak ada artinya untuknya.


"Lakukan saja tuan putri, saya sebenarnya tidak sabar menantikannya."


"Sana lo pulang!" Jasmine benar-benar manusia Libra dan menendang motor pria itu.


Libra terkejut motor kesayangannya ditentang oleh Jasmine. Iya pun hendak melawan Jasmine akan tetapi wanita itu tertawa gelak dan berlari ke rumahnya.


Libra menarik nafas panjang dan kemudian diam-diam tersenyum. Seperti anak kecil dan tanpa wanita itu sadari mereka sudah semakin dekat. Libra berharap bahwa hubungan seperti ini terus terjalin. Siapa tahu dengan hubungan kerja seperti ini akan membentuk sebuah perasaan yang lain di hati Jasmine.


"Lo harus bisa naklukin hatinya. Lo adalah orang yang terpilih karena sudah berani melawan takdir," ucap Libra yang membuat dirinya menjadi seorang pameran utama dalam kisah hidupnya.


Pria itu kemudian memasang helemnya dan memutar kunci motornya dan barulah ia meninggalkan rumah Jasmine.


Jasmine memperhatikan Libra dari tadi rumahnya secara diam-diam. Bagaimana pun ia pernah merasa tertarik dengan pria itu pada saat malam tersebut. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa ia sampai jatuh cinta hanya karena melihat fisik Libra yang indah.


Namun semakin ke sini ia semakin kagum dengan segala kebaikan yang diberikan oleh Libra untuknya. Tak tertolong banyaknya laki-laki itu menyelamatkannya dari kejadian buruk. Jasmine menyentuh dadanya, apakah sekarang ia sudah jatuh cinta kepada pria itu? Jasmine menggelengkan kepalanya menolak kenyataan tersebut. Ia tidak mungkin jatuh cinta kepada pria itu dan ia sangat yakin bahwa hal tersebut keliru.


"Tidak, enak saja aku jatuh cinta dengan anak berandalan seperti Libra. Apakah aku sudah merendahkan standar pria idaman ku?"


Jasmine pun menjauh dari jendela dan kemudian duduk di atas ranjang. Ia mengambil ponselnya dan melihat di WhatsApp nya benar-benar heboh mengenai dirinya dan Libra.

__ADS_1


Orang-orang sudah salah berpikir dan menganggap bahwa ia berpacaran dengan Libra. Padahal tidak seperti itu kenyataannya.


Jasmine pun mengetikan beberapa kalimat panjang di ponselnya untuk memberikan klarifikasi yang sesungguhnya. Ia tak ingin membuat publik selalu salah paham kepadanya.


"Kenapa orang-orang terus beranggapan seperti itu sih? Apa susahnya buat percaya," ucap Jasmine sambil mendumel dan kemudian mengirimkan klarifikasi yang sudah ia ketik panjang lebar tersebut.


Wanita itu menarik napas panjang dan kemudian mematikan ponselnya yang terus-menerus memberikan notifikasi yang tidak penting.


Ia pun merebahkan tubuhnya untuk membuat dirinya merasa lebih rileks. Baru saja memejamkan mata dan membuat pikirannya tenang tiba-tiba ada yang menelponnya. Ia pun langsung marah-marah tidak jelas dan kemudian mengambil ponselnya.


"Siapa sih yang nelpon terus."


Jasmine melihat jika yang menelponnya adalah nomor asing. Ia hendak mematikan telepon itu tapi malah tergeser layar hijau. Jasmine benar-benar marah kepada dirinya.


"Oh Tuhan apa yang sudah kau lakukan! Kau benar-benar membuat ku sangat takut," ucap Jasmine dan kemudian mendengar suara di seberang sana terasa sangat familiar. Ia pun mengerutkan keningnya dan bertanya-tanya siapa orang yang sudah mengangkat teleponnya.


"Halo ini siapa?"


"Lo ngeblok nomor gue yang satunya? Ini hp Olga gue pinjem buat nelpon lo."


Jasmine memejamkan matanya. Rupanya si biang masalahnya.


"Kenapa lo telpon gue?"


"Buka blok gue. Lo punya masalah kan gara-gara gue? Cowok-cowok di sekolah lo pada gak senang dan malah ngelamapisn ke anggota geng gue."


Jasmine menepuk kepalanya. Oh Tuhan ada lagi masalah. Ia pun tampaknya hatus lebih tegar lagi.


"Kenapa lagi sih? Jelasin aja yang sebenarnya. Memangnya mereka siapa?"


"Gue gak tau tapi gue yakin mereka pada suka sama lo."


"Dih ngomong jangan sembarangan!!"


"Bisa aja karena lo cantik." Jasmine membulatkan matanya mendengar pujian itu. Ia pun refleks mematikan sambungan telepon tersebut.


_________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2