
“Sumpah gue gak tau pastinya gimana, tapi jujur aja gue benar-benar kasihan sama si Libra. Satu geng sekarang diamin dia dan bahkan gak mau bicara sama dia walaupun Libra yang selalu nyelamatin mereka dari penjara. Gue udah minta Moran gak jauhin Libra,” ucap Karina yang mana ia sudah mengetahui semua kejadiannya tapi ia tidak tahu atas dasar apa Libra memukul Delon.
Sedangkan Jasmine baru tahu sekarang bahwa Libra dimusuhi oleh teman-temannya. Jujur saja pasti sangat berat berada di posisi Libra sekarang. Semua orang meninggalkan dirinya dan sementara Ia melakukan hal yang sama seperti teman-teman Libra. Padahal aslinya Libra sangat membutuhkan Jasmine di sisinya tapi ia berusaha untuk membuat Jasmin bahagia dengan mencapai cita-citanya.
Lagi pula yang ada di pikiran Libra adalah dia sudah tidak bisa menepati janjinya kepada Jasmine sehingga ia harus merelakan wanita itu pergi dari kehidupannya walaupun itu cukup berat bagi Libra. Jasmine merasakan hal tersebut, ia sangat berharap bahwa Libra memintanya untuk tetap di sampingnya dan mendiskusikan hubungan mereka lebih lanjut lagi. Tapi nyatanya Libra tidak memilih jalan tersebut. Jasmine kecewa, hatinya cukup hancur saat Libra malah memilih untuk memutuskan hubungannya.
Wajah Jasmine yang terlihat sedih pun turut membuat teman-temannya merasakan hal yang serupa. Mereka masih memiliki simpati dan empati sebagai bentuk persahabatan yang terus terjalin walaupun sebentar lagi mereka akan terpisah.
“Gue ngerti dengan posisi lo. Tapi lo nggak boleh nangis untuk sekarang, lo udah make up cantik-cantik gini juga.” Benar apa yang dikatakan oleh Caca. Jasmine pun mendongakkan kepalanya dan menahan air mata yang hendak keluar. Ia adalah wanita yang rapuh dan mudah menangis. Apalagi saat ini kondisinya dalam keadaan buruk.
“Gue tau. Makasih kalian semua selalu ada di samping gue. Ini bener-bener paling menyakitkan. Setelah berpisah dengan Libra gue juga bakal berpisah dengan kalian. Padahal gue berharap kita terus bersama.” Caca dan Karina juga menginginkan hal yang sama.
Tapi Jasmine kuliah ke luar negeri sehingga dirinya tidak bisa bersama-sama lagi. Pun dengan Karina yang kembali ke kampung halamannya di Jepang. Ya walaupun ia juga harus berpisah dengan Moran yang tak lain adalah pacarnya. Ia juga sangat tidak rela.
Untuk hubungan Karina dan Moran benar-benar tidak terduga. Bahkan Caca dan Jasmine belum mengetahui hubungan tersebut. Yang mereka tahu adalah bahwa rumah Karina sangat dekat dengan tempat tongkrongan geng motor tersebut. Jadi tidak ada yang mencengangkan ketika Karina mengetahui segalanya.
“Jasmine. Lo nggak ada ngerasa yang aneh gitu? Kayaknya akhir-akhir ini Karina beda banget. Lo selalu ngomongin Moran ke gue. Cepat cerita sebenarnya lo ada hubungan apa dengan Moran!” Karina langsung membulatkan matanya. Ia tak menyangka bahwa Caca menyadari hal tersebut. Memang ia terlalu sering menceritakan tentang Moran kepada Caca.
Bahkan Jasmine yang sama sekali tidak menyadari hal tersebut langsung memandang ke arah karena apakah yang dipikirkan oleh Caca tersebut memiliki arti. Tapi dilihat dari wajah kaget Karina sepertinya ada apa-apa di antara Moran dan juga Karina.
“Karina, cepat katakan sebenarnya ada hubungan apa lo dan Moran? Bukannya ya lo sendirian bilang kalau persahabatan di antara kita bertiga tidak boleh ada yang ditutup-tutupi. Jadi kenapa lo nggak cerita apapun tentang Moran ke gue?” tanya Jasmine cukup kecewa dengan hal tersebut namun ia bisa memakluminya.
Karina yang sudah tersudut oleh kedua sahabatnya tersebut tidak bisa melakukan apapun lagi selain bertindak pasrah. Sesuai dugaannya bahwa cepat atau lambat pasti rahasia ini akan terbongkar.
__ADS_1
“Ya udah gue nyerah deh. Sebenarnya gue sama Moran udah pacaran dari 2 minggu yang lalu. Ya gitu, kita sama-sama nggak cinta kok.”
Sontak saja Caca dan Jasmine yang mendengar cerita dari Karina pun saling bertatapan. Apakah ada hubungan semacam itu? Cukup terkejut mengetahui bahwa mereka berpacaran tapi tidak memiliki perasaan cinta di antara keduanya.
Benarkah mereka berdua berpacaran? Atau hanya sekedar ingin memuaskan rasa penasaran di antara keduanya. Karina pun terlihat sangat tidak peduli dengan Moran dan ia bahkan langsung membuang wajahnya setelah menceritakan kepada kedua sahabatnya. Jasmine pun merasa lebih prihatin kepada Moran orang yang mendapatkan orang seperti Karina.
“Kok bisa ya Moran itu mau aja diajakin pacaran sama si Karina. Udah tahu tampang Karina emang ngeselin kayak gitu,” ucap Caca yang spontan mengeluarkan kalimat seperti itu hingga membuat Karina tidak senang mendengarnya.
“Enak aja lo. Justru yang ngajakin pacaran itu Moran, bukan gue. Oh iya gua punya gebetan lagi nih di geng Parsel.” Jasmine membulatkan mulutnya dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Karina tersebut.
“Kau benar-benar ya Karina! Tidak baik seperti itu. Mending kasih ke Caca aja.”
“Ena aja. Gue beda dari kalian, gue mikirin masa depan gue nanti mau kayak gimana. Pacaran dengan orang yang memiliki masa depan tidak tentu seperti itu nggak tenang rasanya.”
“Gue jadikan Moran pelampiasan dan mainan doang. Orang mereka juga sama-sama play boy.”
“Oh itu namanya Olga. Kayaknya dia suka sama gue deh, dia tuh kayak ngejar-ngejar gue terus. Tapi gue mah nggak peduli.”
Kali ini Jasmine langsung menutup mulutnya yang membulat. Demi apa Olga yang dingin tidak jauh berbeda dengan Libra tersebut menyukai Karina. Apalagi selama ia mengenal Olga setahunnya pria itu memang sangat Playboy dan suka bergonta-ganti pacar. Maka dari itu ia sangat setuju sekali Jika Karina mengabaikan Olga. Ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada sahabatnya tersebut.
“saran gue lo nggak usah deket-deket sama Si Olga kalau nggak mau sakit hati. Walaupun lo mau mainin dia takutnya nanti lo malah suka sama dia. Lo tau sendiri kan Olga itu orangnya gimana?” Karina pun menganggukkan kepalanya. Karena itu pula ia menolak Olga Sebab ia tahu pria itu memiliki perangai yang buruk. Lebih baik dibanding Moran. Meskipun keduanya sama-sama tidak memiliki perasaan dan hanya ingin memuaskan rasa penasaran masing-masing tapi keduanya masih memiliki attitude untuk menjaga perasaan masing-masing.
“Iya gue tahu, makanya gue nggak mau sama si Olga. Lagi pula gue udah maunya Moran kok.”
__ADS_1
Jasmine yang mendengar hal tersebut lantas tersenyum. Ia sangat setuju bahwa Karina bersama dengan Moran. Meskipun Ia juga sangat tidak rela sebab mengetahui perangai buruk orang yang paling suka mabuk-mabukan. Jasmine menghela nafas panjang dan berharap bahwa sahabatnya ini tidak berjodoh dengan Moran dan benar seperti apa yang dikatakan oleh Karina bahwa mereka hanya memuaskan hasrat sendiri tidak lebih daripada itu.
Mereka banyak mengobrol di tempat itu hingga melupakan acara akan segera dimulai. Mereka lantas langsung pergi ke tempat acara dan saat melewati para siswa dan adik kelas semua memandang ke arah mereka karena aura Jasmine yang sangat indah keluar dan banyak orang terpesona.
Ibu dan ayahnya yang melihat hal tersebut merasa bangga dengan anak mereka. Walaupun Jasmine membenci kata-kata kasar yang keluar dari ibunya tapi ia juga sangat bersyukur karena ibunya menurunkan kecantikannya kepada dirinya.
“Kamu dari mana aja? Lama banget. Orang acara mau dimulai kamu pergi ke mana-mana.”
Yasmin menghilang nafas panjang dan sempat melirik ke arah ayahnya. Sang ayah pun langsung menenangkan istrinya karena dengan lirikan Jasmine ia sudah paham apa yang diinginkan oleh wanita itu.
“Sudahlah, ini adalah acara anak kita. Kau tidak seharusnya melarang-larang dia seperti itu. Dia bebas melakukan apapun. Lagi pula dia juga punya teman. Kita tidak berhak melarang dia.”
Istrinya langsung memandang tajam ke arahnya. Suaminya sama sekali tidak pernah berpihak kepada dirinya padahal Ia adalah istri dari pria itu.
“Kenapa kau selalu membela dia? Bahkan dia salah pun kau bela.” Jasmine menggaruk tengkuknya. Ia tidak tahu bahwa Ibunya bisa merajuk seperti itu juga. Rasanya sangat aneh sekali.
“Sudahlah. Kalian jangan bertengkar di hari kelulusan Jasmine.”
“Bagaimana Mama tidak kesal. Hari ini begitu banyak kejadian yang tak terduga. Entah kenapa mama merasa bahwa hari kelulusanmu adalah hari yang paling sial.” Jasmine yang mendengar hal tersebut langsung membulatkan matanya dan meminta ibunya tidak berkata-kata yang aneh-aneh.
“Mama apaan sih. Gak boleh ngomong yang kayak gitu.”
Dalam keadaan seperti ini Jasmine ingin sekali keluar dan bersama dengan sahabatnya saja. Bahkan di hari kelulusannya ibunya pun tidak bisa bersikap ramah. Harry yang melihat anaknya sangat sedih pun lantas meraih tangannya dan mengusapnya. Hanya itu caranya ia menenangkan sang anak Apalagi kita juga sama-sama tahu bahwa 2 orang ini di bawah seorang Dania, yakni ibu dari Jasmine dan istri dari Harry.
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.