Jasmine My Mine

Jasmine My Mine
Part 17


__ADS_3

Jasmine melihat berada di tempat yang salah rasanya ia ingin segera pulang. Wanita itu menatap sang supir dan mengajak agar supirnya agar segera meninggalkan tempat tersebut.


"Maaf gue harus pulang. Kayaknya orang rumah udah nungguin. Oscar gue minta maaf, tapi kalau lo butuh sesuatu misalnya untuk mengobati luka lo, lo bisa hubungi gue."


Jasmine sudah berencana ingin pergi tapi tiba-tiba suara yang sangat berat menghentikan langkahnya. Wanita itu menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat jika orang tersebut adalah Libra.


"Tunggu, bagaimana dia mau ngehubungin lo tapi dia nggak punya nomor lo. Kalau Allah nyuruh dia ngehubungin lo seharusnya aku kasih nomor telepon lu ke dia," ucap Libra dengan wajah tengilnya seolah-olah ia sedang merasa menang. Jasmine pun tidak memiliki pilihan lain melihat wajah Oscar lagi-lagi membuatnya sangat bersalah.


Jas tak menghiraukan Libra. Wanita itu menghampiri Oscar dan kemudian menyerahkan nomor ponselnya kepada Oscar. Oscar bahkan sama sekali tidak berkedip karena ia bingung dengan situasinya. Ia sama sekali tidak meminta kompensasi dari Jasmine dan baginya tidak masalah jika ingin pulang. Tapi tampaknya ketuanya memiliki rencana lain.


Sebagai anggota yang sangat memahami perasaan ketuanya lantas Oscar langsung berakting dan menyimpan nomor telepon Jasmine.


Jasmine pun merasa lega dan hendak pulang. Ia menoleh sebentar ke arah Libra sebelum pergi. Jujur saja ini sangat menegangkan bagi dirinya dan berada di dalam markas preman tentunya tidak pernah terpikirkan dalam hidupnya.


"Nona untung tidak terjadi sesuatu kepada nona. Apabila terjadi masalah pasti saya akan bingung menjelaskan kepada nyonya dan tuan. Hari ini juga saya bersyukur tidak ada nyonya di rumah." Jasmine pun memegang dadanya yang berdetak. Ia menarik pintu mobil dengan rasa emosional dan masuk begitu saja ke dal mobil. Sama seperti supirnya ia pun merasa sangat gugup dan tak tahu harus seperti apa menyikapi perasaannya yang sangat bergejolak tersebut.


Jasmine menutup pintu mobil dengan cepat dan meminta agar mang Dadang segera meninggalkan gang sempit dan angker tersebut. Ia tak tahu berlama-lama di sana.


"Mang, jangan berpikir yang aneh-aneh. Tapi untung mereka baik sama kita," ucap Jasmine yang sebenernya juga merasa sangat frustasi dengan keadaan sekarang ia bahkan tak mengerti kenapa bisa tertimpa masalah yang sangat besar seperti ini. Jujur ia pun tak mengharapkan jika dirinya akan berada di tempat ini.


Jasmine menarik napas lega, setidaknya ia baik-baik saja dan orang itu tidak melakukan apapun kepada dirinya dan meng Dadang. Padahal ia sudah menabrak salah satu anggota dari mereka.


Mang Dadang sudah berhasil keluar dari dalam gang sempit tersebut dan ia telah menemukan jalan raya. Barulah Jasmine bisa bernapas dengan lega.


"Kita harus segera pulang, tampaknya jalan ke rumah Anda memang benar-benar sangat berbahaya. Saya harus mengantar Anda setiap saat."


Jasmine menganggukan kepalanya. Jujur saja ya benar-benar ketakutan. Bahkan sopirnya sendiri merasakan tanda bahaya itu benar-benar nyata, apalagi dirinya yang selalu bertemu bahagia itu.


"Sopir aja mengatakan seperti itu, kenapa Mama masih saja tidak percaya," ucap Jasmine dalam hati. Tampaknya ia harus membawa ibunya kapan-kapan dan merasakan sensasi seperti saat ini. Ya bahkan tidak tahu harus berbuat apa di saat terjadi masalah besar seperti ini.


_________


Jasmine mengusap rambutnya yang basah. Kemudian wanita itu mengambil ponselnya yang berdering beberapa kali. Jasmine mengerutkan keningnya karena merasa tidak mengenal nomor yang masuk.

__ADS_1


Bahkan itu adalah nomor asing, Jasmine awalnya tidak ingin mengangkat nomor telepon tersebut. Akan tetapi takut hal itu sangat penting lantas mengangkatnya.


"Halo?"


"Gimana udah sampai rumah? Kalau terjadi sesuatu ngomong aja, biar gue atasin." Jasmine memutar bola matanya. Ia tahu betul siapa yang sudah menelponnya tersebut.


Sudah ia tebak nomornya pasti akan diminta oleh laki-laki itu. Jasmine hendak mematikan sambungan telepon tersebut dan memblokirnya.


"Kenapa sih lo suka banget jadi penguntit? Gue nggak seneng lo ikutin ke mana-mana. Tau gak lo, lo itu udah melanggar privasi orang."


Jasmine menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Dia memegang kepalanya yang berdenyut. Apakah dirinya sudah keterlaluan kepada Libra?


"Ya i know. But, gue berhak tau kabar lo. Lo itu masih aja ngotot pas tau kalau jalan di tempat lo itu bahaya walaupun rumah lo dekat."


Jasmine tetaplah Jasmine. Wanita itu tidak peduli dan menganggap jika Libra adalah orang asing yang sama sekali tidak berhak untuk menasehati dirinya.


"Apa-apaan lo, gue gak kenal lo dan bukan keluarga gue, lo gak ada hak buat ngatur-ngatur gue," ucap wanita itu dan menarik napas panjang lalu mematikan sambungan telepon.


_________


Jasmine pulang dari les. Hari ini sopirnya tidak bisa menjemput karena tiba-tiba mobil harus dibawa ke bengkel. Akan tetapi ia telah memesan ojek online dan dirinya tinggal menunggu ojek tersebut datang.


Setelah sekian lama menunggu barulah ojek tersebut datang. Jasmine menarik nafas panjang dan langsung mengambil helm dari tukang ojek itu. Ia pun meminta agar ojek tersebut sedikit ngebut.


Suasana cukup ramai dan Jasmine tahu ini berlebihan karena rumahnya lumayan dekat, tapi juga sedikit mengerikan karena jalan ke rumahnya itu sangatlah sepi.


Saat id tengah jalan Jasmine merasa jika ada yang aneh. Ya dirinya melihat beberapa preman jalanan mencegat mereka.


"Bapak, bagaimana ini?"


"Nona tenang saja, kita tidak boleh gugup."


"Hey kalian mau ngapain?!!"

__ADS_1


Preman itu tampaknya hendak merampok. Jumlah mereka juga cukup banyak dan Jasmine tidak yakin bisa mengalahkannya. Wanita itu menelan ludahnya dengan susah payah.


Ia menangis tidak tahu harus berbuat apa. Sementara itu ponselnya dalam keadaan mati sehingga ia tidak bisa menghubungi siapapun untuk menolongnya. Hingga tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang mendekatinya membuat Jasmine yang erat memeluk tubuhnya.


"Tolong!!"


Jasmine hendak lari karena rumahnya tidak terlalu jauh lagi. Akan tetapi ia tak semudah itu lepas dari mereka. Jasmine menghapus air matanya kasar dan mencoba melawan mereka semua.


Tapi tubuhnya malah terdorong cukup keras hingga membuatnya tak berdaya. Ia pun masih sanggup berdiri dan melawannya sekuat tenaga. Tapi ia tetap kalah dan bajunya hendak dibuka paksa hingga pakaian sekolahnya sobek.


Saat sudah tak berdaya dan melihat kehancuran di depan mata, tiba-tiba seseorang datang menyelamatkan dirinya. Ia tidak tahu kapan orang itu datang untuk menyelamatkannya. Tapi ia sangat bersyukur bantuan itu segera menolongnya.


"Hey lo gak papa?" Jasmine mengangkat kepalanya. Wajahnya yang berdiri dengan air mata menatap Libra.


Seketika itu juga dia histeris dan langsung memeluk Libra. Ia tak memikirkan lagi bagaimana kondisi pakaian saat ini. Ia tercengang dengan apa yang Jasmine lakukan karena dirinya tidak sampai berpikir ke tahap ini.


Ia merasakan kulit dada Jasmine yang menyentuh lengannya. Ia mana kuat dan berusaha menjauhkan Jasmine.


"Jangan menangis," ucap Libra menenangkan wanita itu.


Jasmine menggelengkan kepalanya. "Lo sampe luka-luka gini nolongin gue, mau sampai kapan luka Li sembuh kalau misalnya lo dipukul terus."


"Luka ini tidak ada apa-apanya. Jadi tenang saja."


Bruk


Tiba-tiba Libra terjatuh di depan Jasmine. Jasmine menatap ke arah preman itu yang baru saja menembak Libra.


_________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2