
Seperti hari-hari biasanya, Jasmine sibuk dengan kegiatan operasi. Sebagai seorang dokter ia hampir tidak memiliki waktu luang untuk beristirahat. Semua waktunya hanya ia gunakan untuk menyelamatkan banyak nyawa.
Ia merasa senang ketika melakukan kegiatan tersebut dan hanya menjadikannya sebuah hobi agar ia tidak tertekan dengan pekerjaan itu. Jasmine sampai jarang pulang ke rumahnya dan lebih sering menginap di rumah sakit.
Ayahnya yang sudah tua itu merasa sangat khawatir dengan Jasmine dan perempuan tersebut mengatakan jika ia baik-baik saja dia memang sudah tugasnya seperti itu.
Jasmi meletakkan kain yang telah ia gunakan untuk mengusap keringatnya di atas meja. Ia menarik napas panjang dan sebentar lagi ia akan ke ruangan Marissa yang tak lain adalah ibunya Libra.
Jika ia ke sana pasti akan bertemu dengan pria itu. Yakin belum siap untuk bertemu dengan laki-laki tersebut dan ia merasa malu setelah apa yang telah mereka lakukan. Walaupun Libra sama sekali tidak pernah merasa bersalah kepada dirinya, itulah yang ia pikirkan beberapa hari ini.
Tapi sebagai seorang dokter Jasmine harus menyingkirkan perasaan semacam itu dan yakin bahwasanya tugasnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah pribadinya.
Setelah minum beberapa teguh Jasmine pun keluar dari dalam ruangannya dan bertugas untuk ke kamar tempat di mana Marissa dirawat. Marisa sudah sadarkan diri setelah melakukan operasi yang yang mana dokternya ia sendiri.
Wanita itu menatap pintu ruangan tempat Marissa dirawat dengan tatapan ragu.
“Lho dokter kenapa gak masuk?” Jasmine terkejut dan langsung menatap ke arah sampingnya. Ia mengerutkan keningnya sebab baru melihat perempuan yang sangat mirip dengan Libra. Jasmine tidak ingin berpikiran negatif jadi ia terlihat santai dan tersenyum kepada wanita itu.
“Gak papa. Kamu salah satu keluarga pasien ini?” Perempuan yang tak lain adalah adiknya dari Libra tersebut menganggukkan kepalanya.
Setelah mendapatkan jawaban yang pasti ia lantas memberikan senyum terbaiknya kepada anak perempuan itu yang ia taksir mungkin masih SMA.
Jasmine membuka pintu ruangan tersebut dan melihat Marissa ibunya Libra sangat senang dengan kedatangannya. Ia paling semangat jika orang yang memeriksa dirinya adalah Jasmine. Entah kenapa ia merasa dekat dengan wanita ini.
“Kamu baru pulang kuliah? Kenapa kamu tidak dijemput dengan kakak mu?” Oh jadi wanita ini sudah kuliah. Itu artinya ya sudah salah besar memahami perempuan tersebut.
Jasmine selesai memeriksa kondisi Marissa dan ia hendak keluar karena merasa bahwa tugasnya telah selesai.
Sekali lagi ia memandang ke arah adiknya Libra yang benar-benar mirip dengan laki-laki tersebut. Ia sendiri bahkan merasa takjub dengan hal itu.
“Dokter Jasmine, apakah kau memiliki hubungan dengan anakku?” Jasmine tak menduga bahwa Marissa akan menanyakan hal tersebut kepada dirinya.
__ADS_1
Ia menoleh ke belakang dan memandang ke arah Marissa dengan wajah bingung. Jasmine tidak tahu harus menjelaskannya dari mana.
“Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan anak anda. Mungkin anda salah orang.”
“Seingatku aku tidak mungkin salah orang. Aku pernah melihatmu kau menjenguk anakku di penjara. Bahkan aku melihat bagaimana anak brengsek itu malah memutuskan hubungan kalian. Setelah hari itu Libra lebih pendiam dan bahkan ia seperti robot hidup mau diatur bagaimanapun oleh keluarganya. Dahulu dia mana bisa diperlakukan seperti itu. Tapi ada sisi baiknya juga karena akhirnya ia bisa mencapai posisi ini. Tapi aku benar-benar tidak menyangka kau telah menjadi seorang dokter yang hebat dan sekarang malah menyelamatkan nyawaku.”
Jasmine benar-benar tidak menyangka bahwa Marisa mengetahuinya. Sudah seperti ini lantas ia harus seperti apa? Jasmine tidak bisa terus-terusan lari dari kenyataan.
“Ya tapi itu adalah masa lalu.” Jasmine tersenyum dan indah meyakinkan bahwa ia sama sekali tidak ada hubungan dengan Libra untuk sekarang.
“Di masa depan aku juga akan menjadikanmu istriku seperti janjiku dulu.” Jasmine terkejut dan menoleh ke belakang. Melihat pria itu yang menjulang tinggi berdiri di depannya membuat Libra tak bisa berkutik.
Apalagi mendengar Libra yang memutuskan secara sepihak saat mengatakan hal tersebut di depan ibunya sendiri membuat Jasmine tidak bisa tenang dan berharap bahwa pria itu mengklarifikasi yang sesungguhnya kepada Marissa.
“Apa yang kau katakan? Aku tidak mungkin menikah dengan orang sepertimu. Cepat katakan kepada ibumu bahwa kau hanya bercanda,” ujar Jasmine memohon kepada laki-laki tersebut.
Jasmine menarik nafas panjang dan kemudian menggigit bibirnya dengan gelisah. Nyatanya Libra sama sekali tidak peduli.
“Apakah kau ingin hamil tanpa seorang suami? Ingat aku tidak mengenakan pengaman dan juga mengeluarkannya di dalam.” mengingat hal tersebut tangan Jasmine langsung terkepal dan ia pun tak bisa mengelak lagi.
Jasmine pemandangan ke arah Marissa dengan senyum terpaksa. Benar apa yang dikatakan oleh Libra ia tidak mungkin menunda pernikahannya lagi jika tidak ingin memberikan aib buruk kepada keluarganya.
“Apakah kalian akan bertunangan? Itu artinya kalian sudah balikan. Jasmine, aku tahu Libra sudah keterlaluan karena telah memaksamu untuk menerima dirinya lagi padahal aku tahu bagaimana jahatnya ia telah memutuskanmu. Tapi ketahuilah Jasmi bahwa dirinya sangat mencintaimu dan orang yang paling tersiksa saat hubungan tersebut telah berakhir adalah dirinya sendiri. Bahkan sampai sekarang Mungkin ia masih menganggap kamu di posisi pertama dibanding aku ibunya sendiri.”
Jasmine langsung memandang ke arah Libra. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ibunya Libra tersebut.
“Kenapa? Apakah kau sama sekali tidak percaya? Aku juga telah meminta ayahmu agar menyetujui aku meminang anaknya.”
“Kau benar-benar bertindak sesukamu, apakah kau pernah mendiskusikannya kepadaku?” Jasmine keluar begitu saja dari ruangan tersebut sementara itu adiknya Libra masih tercengang melihat pertengkaran antara kakaknya dengan dokter cantik tersebut.
Ia dari tadi sebagai penonton benar-benar bingung bahwa kakaknya memiliki hubungan dengan dokter tersebut.
__ADS_1
“bagaimana mungkin?”
“Kau tidak usah ikut campur dengan masalah kakakmu, mungkin dia bisa mengatasinya sendiri,” nasehat ibunya kepada anak gadis satu-satunya itu.
••••••
“Tadi Libra melamarmu untuknya.” baru saja ia melangkah masuk ke dalam rumah malah mendengar ayahnya mengatakan hal tersebut.
Sementara ibunya duduk di samping ayahnya dan tampak biasa saja sembari menghirup kopi yang ada di tangannya. Apakah ibunya itu sama sekali tidak menasehati ayahnya mengatakan hal tersebut dan malah terlihat santai.
Biasanya ibunya lah yang paling ribet dan langsung marah mengetahui bahwa asal usul pria yang mendekati Jasmine memiliki masa lalu yang buruk. Tapi sekarang entah kenapa ibunya terlihat berbeda.
“Tidak usah mendengarkan apa yang dia katakan.”
“Papa hanya menyampaikan, kau sendirilah yang menentukan masa depanmu.” Jasmine menarik nafas panjang dan tidak ingin membahas masalah ini.
“Lagi pula Mama tidak akan setuju.”
“Kata siapa? Mama senang-senang aja kok.” Jasmine langsung membulatkan matanya tidak percaya bahwa ibunya mengatakan hal tersebut.
“Kenapa Mama jadi berubah begini?”
“Mamamu setuju karena Ayah dan Ibunya Libra itu adalah temannya. Papa juga udah lama tahu kalau Libra sudah sukses. Karena Papa juga jadi salah satu orang yang terlibat pada kesuksesan Libra. Mamamu Jangan ditanya lagi pasti dia sangat kaget saat mengetahui rupanya temannya memiliki anak cowok.”
“Oh.” terlihat raut wajah Jasmine tidak nyaman dan ia langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan marah.
••••••••
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1