
Jasmine menarik napas panjang dan meyakinkan hatinya untuk pergi ke kantor polisi. Ia ingin berbicara dan mendiskusikan masalahnya dengan pria tersebut. Ia tidak mungkin meninggalkan Libra begitu saja tanpa adaa kejelasan dari hubungan keduanya. Ia memandang dengan ragu ke dalam kaca yang ada di depannya. Wanita itu menelan ludahnya dengan kasar dan berharap jika hatinya bisa tenang sedikit saja dan sama sekali tidak merasa gugup ketika ia berencana ingin pergi ke kantor polisi.
Memastikan jika penampilannya sudah baik, Jasmine keluar dari dalam kamar dan melihat jika ibunya sudah menunggunya di ruang makan. Tapi sangat disayangkan sekali bahwa Jasmine tidak bisa ikut mereka makan pagi ini.
“Jasmine! Hari ini adalah hari Minggu kenapa kamu mau pergi? Bukannya kamu udah selesai ujian dan tidak perlu lagi belajar?” Ibunya mungkin mengira jika ia hendak pergi belajar. Padahal nyatanya Jasmine hendak menjenguk Libra di kantor polisi.
Jasmine menggelengkan kepalanya untuk menjelaskan secara singkat kepada ibunya bahwa bukan karena ada sesuatu yang tengah dicarinya di luar.
Dengan sekali lihat ibunya pun langsung paham. Tapi wanita itu belum mengerti bahwa Jasmine hendak bertemu dengan Libra. Ia meraih ponselnya dan Jasmine pun menyipitkan matanya.
“Mama mau ngapain?” Ibunya tersenyum sembari menggulir ponsel. Sepertinya ada sesuatu yang tidak diketahui oleh Jasmine.
Wanita itu pun menjadi sangat tegang sekali. Ia memandang ke arah ayahnya dan malah pria itu mengangkat bahunya. Jasmine menarik nafas panjang dan kemudian hendak meninggalkan ibunya begitu saja tapi jika ia melakukannya maka habislah ia di detik itu juga dan akan mendengarkan ceramah panjang lebar dari ibunya dan bahkan mungkin ia tidak akan sempat pergi ke kantor polisi.
Jasmine menunggu Ibunya dan ia tidak mengetahui siapa yang tengah ditelepon oleh ibunya. Tapi ia melihat bahwa telepon wanita tersebut tidak diangkat oleh orang di seberang sana. Tampak raut wajah ibunya sangat marah sekali dan untungnya Jasmine bisa menahan sabar dan menundukkan kepalanya agar ibunya tidak melampiaskan amarah wanita itu kepadanya.
Jasmine sudah terbiasa jika ada sesuatu yang membuat ibunya tidak senang maka ialah yang akan disalahkan oleh sang ibu. Jasmine berpikir apakah ibunya itu merupakan orang yang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain pada saat ia menyalahkan seseorang padahal itu bukan kesalahannya.
Kekhawatirannya terbukti saat ia melihat ibunya itu menatap ke arahnya dengan tajam dan terselip perasaan emosi yang tidak bisa dicegah oleh siapapun.
“Jangan salahin Jasmine, Jasmine nggak tahu apapun mama.” Jasmine menarik nafas panjang dan berharap bahwa ibunya ini tidak semenakutkan yang ia pikirkan.
“Ke mana si Libra itu? Mama nelpon dia dari tadi tapi tidak diangkat sama sekali. Awas saja kalau dia datang, langsung pecat aja. Mama udah muak sama dia.” Jasmine yang mendengar hal tersebut langsung membelalakkan matanya. Ibunya tidak mengetahui apa yang saat ini tengah dialami oleh Libra. Jika pria itu dipecat nantinya Mungkin ia sendiri tidak akan rela.
“Mama jangan menyimpulkan sesuatu dengan mudah. Kasihan Libra Mama, Mama kan nggak tahu gitu kalau misalnya dia punya masalah? Kita tidak boleh menyimpulkan sesuatu itu dengan seenak jidatnya saja tanpa kita ketahui apa alasannya. Nanti kalau udah kayak gini kita yang merasa bersalah kepada dia. Lagi pulang Ini kan baru pertama kalinya, kenapa Mama mau main pecat aja?” Sang Ibu menarik nafas panjang dan tampaknya tahu apa kesalahan yang telah ia lakukan.
Wanita itu pun melakukan kepalanya dan meminta maaf kepada Jasmine. Sementara di posisi wanita itu Ayah sangat bingung sekali karena seharusnya ibunya meminta maaf kepada Libra namun malah meminta maaf kepada dirinya yang merupakan bukan Libra ini.
Jasmine memandang ke ayahnya dan lagi-lagi pria itu seakan tidak peduli masalahnya dengan sang ibu. Ayahnya dari dulu sudah bersikap demikian jadi Jasmine sama sekali tidak merasa heran.
__ADS_1
“Mama, aku tahu kalau saat ini Mama salah. Tapi aku sama sekali tidak berhak menerima maaf dari mama karena seharusnya Mama yang minta maaf langsung kepada Libra.” Mendengar ucapan anaknya yang ada benarnya juga malah wanita itu sama sekali tidak ingin merasa kalah.
Ia kembali bersikap biasa seperti sebelum percakapan mengenai topik ini dimulai.
“Baiklah kalau begitu, jika begitu supir kita aja yang nganterin kamu.” Dahulu ibunya tidak seprotektif ini, bahkan ia sama sekali tidak ingin memberikan Jasmine mobil pribadi. Tapi ketika ia mengetahui kebenarannya bahwa jalanan tersebut sangatlah berbahaya semenjak melihat Jasmine yang hampir saja diperlakukan tidak senonoh membuatnya sangat khawatir kepada wanita itu dan kemanapun Jasmine pergi pasti akan menanyakan tujuannya.
Jasmine menggelengkan kepalanya sebagai bentuk tolakan terhadap sang ibu yang hendak menyuruhnya pergi bersama sopir pribadi mereka. Jasmine malahan berharap bahwa tidak ada satupun orang yang di rumah ini mengetahui masalah Libra.
“No, tidak perlu Mama melakukan itu. Aku bisa pergi sendiri. Aku udah mesan taksi, jadi mama nggak usah khawatir sama sekali!”
Agar tak banyak pertanyaan lagi dari sang Ibu Jasmine pun segera bergegas meninggalkan tempat tersebut dan ia berlari ke arah pintu utama. Ibunya yang melihat hal tersebut tentunya sangat marah dan memaki Jasmine tidak memiliki attitude.
Sementara itu Harry yang dari tadi hanya mendengarkan perbincangan antara ibu dan anak pun langsung memenangkan sang istri.
“Tidak apa-apa. Mungkin karena jiwanya yang masih muda. Ketika dia sudah pergi ke China dan melanjutkan studinya ia mungkin sudah paham. Kau tak perlu khawatir lagi dengan Putri mu itu. Ia pasti memiliki attitude yang lebih baik daripada sekarang.”
“Justru seharusnya kita khawatir dengan etitutnya yang buruk seperti itu pergi ke negara orang dan hidup di sana pasti akan semakin sulit.”
________
Tapi mau bagaimana lagi pria itu adalah orang yang sangat ia cintai dan ia tidak memiliki alasan kenapa ia bisa mencintainya. Mungkin ini adalah kehebatan cinta dan benar orang orang mengatakan bahwa cinta tidak memiliki alasan untuk kita menyukai seseorang.
Jasmine menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya lalu mengeluarkan nafasnya tersebut dengan perlahan-lahan. Ia mencoba untuk melakukan hal itu agar bisa membuat dirinya tenang.
Jasmine harus kuat jika dirinya hendak masuk ke dalam gedung tersebut. Ini baru sebuah cobaan dan bagaimana jika hubungannya berlanjut dengan Libra Mungkin ia lebih sering masuk ke tempat ini.
Sesampainya di sana Jasmine langsung disambut oleh pihak official. Wanita itu melemparkan senyum ramah dan bertanya dengan nada yang lembut kepada orang tersebut.
Setelah itu baru ia diarahkan ke suatu ruangan untuk menunggu orang yang hendak ditemuinya. Jasmine menelan ludahnya gugup dan ia saling menautkan apa tangannya untuk menenangkan dirinya. Jasmine membalas senyuman orang-orang yang ada di ruangan tersebut ketika menyapanya.
__ADS_1
Tentu saja senyuman itu terlihat sangat canggung sekali karena Jasmine sambil menahan rasa gugup. Wanita itu menunggu cukup lama. Ia bahkan sampai bosan hingga pada akhirnya ia pun mendengar suara Libra yang masih terdengar sangat jauh.
Bukannya ia senang ketika mendengar suara pria itu malah tiba-tiba ia ingin putar balik dan tidak jadi untuk bertemu dengan laki-laki tersebut akibat terlalu gugup. Bahkan saat ini wajahnya pusat pasi.
Kebetulan ada salah satu polwan yang melintasi dirinya. Ia melihat Jasmine yang tampak tegang lantas langsung berhenti dan menyapa Jasmine.
“Ada apa dengan mu? Wajah mu terlihat sangat tegang sekali. Jangan terlalu takut, di sini kami tidak akan melakukan apapun.”
Jasmine sontak menatap ke arah polwa tersebut dan melemparkan senyum agar suasana tidak terlalu kaku. Jasmine berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya. Meskipun ia tak bisa melakukan hal tersebut karena saat ini wajahnya Sudja membuktikan jika Jasmine sedang gelisah.
“Tidak apa-apa mungkin aku yang terlalu gugup ingin bertemu dengan kekasih ku.” Polwan itu memandang ke arah Libra dan ia terkejut saat mengetahui jika orang yang dimaksud oleh Jasmine adalah pria itu.
Seluruh anggota polisi di sini tentu mengenal siapa dia dan bahkan namanya sama sekali tidak asing lagi karena sudah langganan di polres.
“Dia benar-benar pacar mu? Kenapa kau mau? Tampaknya kau adalah anak baik-baik,” ucap wanita itu dan Jasmine merasa tidak nyaman dengan kalimat yang dikeluarkan oleh polisi tersebut.
Tahu bahwa ucapannya terlalu melampuai batas polisi tersebut langsung merasa tidak enak dan meminta maaf.
“Maafkan saya jika telah menyinggung kamu. Anak muda juga harus pandai memilih agar tidak salah melangkah. Apalagi kalian masih sangat muda dan perjalanan masih sangat panjang,” nasehatnya untuk Jasmine berharap bahwa wanita itu mendapatkan orang yang lebih baik lagi dari Libra.
Jasmine hanya tersenyum mendengar nasehat tersebut. Selama ia masih bisa berusaha mengubah Libra ke jalan yang benar pasti ia terus bersama dengan laki-laki tersebut.
“Jasmine?”
Deg
Jasmine memandang ke arah Libra yang terkejut bukan main saat melihat dirinya.
________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA