Jasmine My Mine

Jasmine My Mine
Part 14


__ADS_3

Suara burung bersahut-sahutan di pagi hari. Mereka seakan mendapatkan kebebasan di pagi hari. Sementara itu Jasmine masih saja terlelap dengan nyaman di atas ranjangnya. Mungkin karena ia terlalu lelah dan kurang tidur sehingga membuatnya tak bisa bangun terlalu pagi.


Sang ibu yang sudah siap siaga di depan pintu kamar Jasmine telah mengetuk pintu kamar wanita itu beberapa kali. Jasmine menarik nafas panjang dan kemudian memegang kepalanya yang berdenyut. Namun tetap saja kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Wanita itu kembali hanyut dalam mimpi yang membuat dirinya sontak saja mendapatkan teriakan dari sang ibu.


"Sudah pagi seperti ini masih saja kamu tidur! Kamu pikir kamu tinggal di mana? Kayak anak nggak punya orang tua aja! Bagaimana nanti kalau ada tetangga bilang dan malah nyalahin didikan orang tuanya? Padahal udah dididik bagus-bagus tapi tetap aja anaknya kayak gini!" Setelah mendengar bentakan dari sang Ibu dari luar pintu kamarnya barulah Jasmine membuka matanya dengan lebar dan ia benar-benar telah mendapatkan kesadaran penuh.


Wanita itu menghela nafas dan menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa bangun hanya sekali teguran. Akan tetapi semuanya telah terlanjur terjadi, maka dari itu Jasmine harus menghadapinya.


"Jasmine! Kenapa lo itu gak kapok-kapok dimarahin sama mama lo. Papa lagi kapan datangnya sih? Lama banget, padahal Jasmine udah nungguin." Jasmine tidak habis pikir dengan ayahnya yang meninggalkannya begitu saja.


Entah apa yang pria itu cari hingga sampai ke luar negeri namun menurutnya kekayaan yang saat ini mereka miliki sudah cukup. Ayahnya tidak perlu repot-repot sampai ke luar negeri mencari uang karena dengan terpenuhinya kebutuhan keluarga baginya itu sudah dari lebih. Sekarang entah apa yang diinginkan oleh pria tersebut. Jasmine juga tidak bisa menampik bawa saat ini ia benar-benar menyembuhkan sosok ayahnya.


"Jasmine kamu belum bangun juga?!" Jasmine menatap ke arah pintu kamarnya dan kemudian menarik napas panjang dan turun dari ranjangnya lalu kemudian pergi ke kamar mandi.


"Iya Ma, ini Jasmine mandi!"


"Lama banget! Punya anak gadis kaya gini, malu mama."


Jasmine tak lagi menanggapi ucapan sang bunda. Menurutnya itu adalah hal biasa ketika ibunya selalu saja marah-marah setiap pagi. Tapi meskipun begitu tetap ia berharap bahwa ibunya akan lebih baik dari pada ini.


Jasmine menghembus napas lelah. Mungkin sudah menjadi takdir hidupnya di balik kemewahan yang ia miliki. Walupun anak dari orang kaya nyatanya Jasmine hanya hidup sederhana karena ayah dan ibunya tidak ingin dirinya memanfaatkan kekayaan mereka hanya dengan foya-foya.


Lagi pula itu sesuai dengan kehidupan Jasmine makanya ya sama sekali tidak keberatan menjalani hidup yang sederhana.


________


Wanita itu menarik nafas panjang dan menatap ke arah jam di tangannya. Tampaknya ia masih sempat datang ke sekolah Jika berlari, Jasmine ndak memesan ojol namun wanita itu belum juga mendapatkan ojal yang dekat dari sini.


Ia pun menutup gerbang dengan pelan-pelan dan berjalan sembari menatap ponselnya. Tiba-tiba ia terkejut mendengar suara motor yang ada di depannya. Jasmine mengangkat kepalanya dan terkesima melihat Libra di depannya.

__ADS_1


Ia menurunkan tangannya dan kemudian menatap kesana kemari untuk memastikan bahwa kondisi tetap aman.


"Libra, lo ada di sini? Mau ngapain?" tanya wanita itu yang merasa tidak enak dan berusaha untuk menjauhkan Libra agar orang tuanya tidak mengetahui pria itu.


"Lo telat kan? Mending sama gue," ucap Libra dan Jasmine sendiri tidak tahu akan ikut dengan Libra atau tidak. "Nggak usah banyak pikir, lo nungguin ojol di sini bakal lama."


Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Libra ada benarnya. Jika ia menunggu ojek online di sini akan menghabiskan waktu beberapa menit dan sebentar lagi padahal Ia akan segera masuk. Merasa tidak ada pilihan lain maka Jasmine pun menyetujui ikut dengan Libra.


"Iya gue ikut sama lo. Gue mohon banget Lo mau kasih tumpangan ke gue," ucap wanita itu dengan perasaan yang sangat tulus dan melihat mimik wajah Jasmine siapa yang berani menolaknya.


Libra bahkan merasakan jika ada kupu-kupu yang terbang di perutnya. Ini benar-benar terasa mimpi bagi pria itu. Tapi mau bagaimana lagi Ini adalah sebuah kenyataan yang memang sangat ia harapkan.


"Ya udah kalau gitu loh nih helm buat lo. Karena gue tahu lo pasti bakal pakai helm, makanya gue udah siapin buat lo. Gue juga nggak keberatan kok mau jemputin lo tiap hari."


Mendengar tawaran yang sangat menggiurkan dari Libra belum bisa dijawab oleh Jasmine. Wanita itu saat ini posisinya benar-benar bingung dan ia tidak tahu harus menerimanya atau tidak. Karena ia belum sepenuhnya mempercayai lidah apa lagi ia pernah diculik oleh pria itu dan dibawa ke basecamp-nya. Ia takut seperti yang di tv-tv ada kasus penculikan dan pemerkosaan.


"Lo tahu kan sekolah gue?"


"Gue tau sekolah lo. Bahkan gue tahu semua jalan yang ada di sini."


Jasmine menganggukkan kepalanya sembari menarik senyum di wajahnya. Suasana tiba-tiba menjadi sangat menegangkan dan sekaligus canggung. Jasmine terus memegang tangannya dengan perasaan takut bahwa Libra tidak akan membawanya ke sekolah.


Tapi ketakutan dirinya itu terbantah. Kenyataannya Libra benar-benar membawa dirinya ke jalan menuju sekolah. Itu artinya pria tersebut tidak berbohong dan benar-benar ingin mengantarkannya.


Jasmine menatap gerbang sekolah yang masih dibuka dan ia bisa bernapas dengan lega sekarang. Pria itu udah menurunkan Jasmine dan kemudian Jasmine hendak membuka helm yang ia kenakan. Namun ia tidak bisa membukanya dan dengan sukarela Libra membukakan untuk Jasmine.


Saat ini wajah mereka benar-benar dekat, Jasmine sangat gugup apalagi ia mengingat kejadian semalam. Seketika wajahnya langsung bersemu. Pria itu yang menyadari hal tersebut terkekeh meskipun dalam hati menari-nari karena melihat betapa imutnya Jasmine.


"Ginian doang gak bisa."

__ADS_1


"Apaan sih lo." Jasmine memberikan helm tersebut kepada Libra begitu saja dan kemudian ia pun meninggalkan pria itu tanpa adanya ucapan terimakasih.


Tapi Libra tak mempermasalahkannya dan malahan melihat Jasmine sangat imut jadinya ia hanya mengikhlaskan dirinya sendiri menjadi tukang ojek khusus untuk Jasmine.


Jasmine menoleh sekali ke belakang dan menatap ke arah Libra yang penuh dengan luka lebam. Libra membalas dengan senyuman. Melihat hal tersebut lagi-lagi hati nuraninya tergerak dan ia tak bisa melakukan apapun selain menundukkan kepalanya dan berharap bahwasanya pria itu segera sembuh dan ia tak lagi merasa peduli kepadanya.


"Wah gila Jasmine! Siapa tuh cowok, Jasmine? Udah punya pacar lo?" Jasmine terkejut dan memegang dadanya saat melihat dirinya sudah dicegat kedua sahabatnya di depan gerbang.


Jasmine pun memutar bola matanya dan kemudian hendak masuk begitu saja. Tentu saja ia tidak semudah itu melewati Karina dan Caca. Karina menarik tas Jasmine dan kemudian mensejajarkan jalan mereka. Jasmine membuang wajahnya dan memikirkan cara untuk menjawab kedua sahabatnya ini yang tentunya pasti akan ngotot meminta penjelasan.


"Nggak ada yang perlu dijelasin, lo liat sendiri kan kalau orang itu cuman nganterin gue."


"Ngantrin? Kenapa gue gak yakin yah? Tuh cowok kek familiar tapi gue liat di mana?" Jasmine langsung membulatkan matanya dan ia ketakutan jika identitas dirinya akan terbongkar. Ia pun menelan ludahnya dengan susah payah dan berharap bahwa ia tak akan ketahuan telah diantarkan oleh Libra.


Jika sampai mereka tahu habislah dirinya akan menjadi Bullyan mereka. Mau diletakkan di mana wajahnya ini?


"Perasaan lo doang kali. Udah ah gak usah bahas begituan, kita datang ke sekolah itu untuk fokus sekali dan bukannya bahas hal yang lain."


"No, ini penting banget. Kita harus tahu siapa sebenarnya orang yang telah nganterin lo. Tunggu beberapa Minggu lagi gue pasti menemukan ig-nya." Jasmine pun menggelengkan kepalanya tak percaya kepada kedua temannya ini yang selalu percaya diri dengan keberhasilan mereka.


Jasmine pun berjalan lebih cepat dari kedua temannya sehingga Karina dan Caca langsung mengejar Jasmine. Jasmine juga berharap bahwasanya dirinya tak lagi dihantui oleh kedua orang di belakangnya tersebut.


"Lo beneran gak mau sama sekali cerita ke kita gitu?" tanya Caca sembari menyempitkan matanya. "BTW nanti kita pulang samaan lagi ya. Maaf tadi pagi nggak sempat jemput lo."


"Gue hampir telat," ucap Jasmine frontal sekaligus marah dengan kedua temannya. Sebab gara-gara itu dirinya harus merendahkan harga diri untuk ikut dengan Libra.


________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2