
Para tamu undangan saling berebut ingin bersalaman dengan pengantin yang sekarang sudah menyandang gelar suami istri. Tidak terasa waktu begitu singkat dan siapa tahu Jasmine akhirnya memantapkan hatinya pada laki-laki ini yang sudah berjanji kepada dirinya akan memenuhi segala kebutuhannya.
Jasmine merasa senang dengan hal itu dan berharap bahwasanya Libra benar-benar akan menepati janji yang telah dibuat sendiri olehnya.
Ia begitu semangat menyambut teman-teman satu geng yang ingin bersalaman. Siapa sangka 7 tahun telah berlalu dan begitu banyak kenangan yang ia habiskan bersama mereka semua. Venus dan Oscar menangis melihat ketua geng mereka yang dulu Badas dan juga menakutkan sudah menemukan tambatan hatinya.
“Libra, dia adalah satu-satunya wanita yang telah berhasil mengubah mu. Aku harap kau bisa menjaganya sebaik-baiknya.” Libra menganggukkan kepalanya dan ia tidak akan menghianati ucapan temannya yang sudah sangat percaya kepadanya tersebut.
Libra memeluk Moran dan Venus bergantian. Laki-laki itu berharap bahwasanya ada kalanya mereka akan bersama namun dengan kondisi ekonomi yang berbeda. Apalagi Moran dan Venus sekarang mulai merintis usaha mereka dan menyadari bahwa masa depan begitu penting.
“Tentu aja gue bakal jaga dia. Itu udah jadi kewajiban gue. Lo nggak usah khawatir sama sekali tentang itu.” Mendengar Libra yang begitu meyakinkan mereka sedikit membuat merasa lega.
“Bro gue akuin lo emang gentleman,” ujar Moran seraya menepuk pundak Libra berapa kali. “Doakan gue juga bisa sama kayak lo. Sumpah cewek kali ini emang bener-bener sulit. Kayaknya karma buat gue.”
Libra melirik ke arah Karina yang saat ini sedang mengobrol asik dengan Caca sembari mencicipi makanan. Melihat hal tersebut Libra merasa ngeri dengan orang berdua itu. Ia bertanya-tanya dan kenapa Moran bisa menyukainya.
“Aku menyangka kau menyukai cewek monster itu.” Moran memandang ke arah Karina yang sedang diperhatikan oleh Libra.
Ia pun tertawa karena sejatinya sampai saat ini tidak tahu karena apa ia menyukai wanita tersebut. Tiba-tiba hatinya terasa berbeda walaupun awalnya mereka hanya iseng untuk menjalani hubungan.
“Lo ngomongin Karina di belakang dia,” ujar Jasmine yang akhirnya angkat bicara. Bisa-bisanya para pria ini mengibahi Karina dan sementara itu sahabatnya ada di samping mereka.
“Eh Bu bos,” ucap Venus seraya berbasa-basi.
Jasmine memutar bola matanya. Ia menarik napas panjang dan memberikan senyum terpaksa ke arah Venus. Venus sama sekali tidak tersinggung, karena mereka sudah biasa saling bercanda.
“Kenapa? Lo mau bilang sesuatu?”
“Enggak. Kalau ngasih sesuatu sih iya.” Jasmine melarutkan keningnya dan menunggu apa yang akan diberikan oleh pria itu.
“Lo mau kasih gue apa?” tanya Jasmine dan langsung dengan cepat meminta hadiah yang ingin diberikan oleh Venus tersebut.
Venus menyeringai dan Jasmine tidak menyadarinya. Sementara itu Libra mengerutkan keningnya merasa ada yang tidak beres dengan laki-laki tersebut.
Libra memandang ke arah Venus dan menginjak pelan kaki pria tersebut supaya tidak macam-macam dengan istrinya. Venus malah semakin senang dengan aksinya dan memberikan senyum kemenangan kepada Libra.
Moran yang masih berdiri di sana pun heran dengan mereka. Ia berusaha untuk mengimbangi suasana.
“Ingat, lo jangan nagish yang aneh-aneh,” tuntut pria itu.
“Tenanh aja. Lo gak usah khawatir sama sekali,” ucapnya dengan santai dan Jasmine masih saja tidak menyadari bahwasanya ada sesuatu yang ingin mengerjainya.
“Apaan sih kalian.”
“Tapi ntar aja gue kasihnya.”
__ADS_1
“Lo harus hati-hati sama dia,” ucap Libra mengingatkan wanita itu.
“Gak usah dengerin dia, padahal gue nggak akan ngapa-ngapain kok.”
“Awas aja lo kalau ngerjain gue.”
“Iya kagak,” tegas Venus sekali lagi.
Mendengar laki-laki tersebut telah meyakinkan dirinya bahwa tidak akan mengerjainya barulah Jasmine bisa merasa tenang. Sungguh sangat berbeda sekali dengan Libra yang masih tetap khawatir bahwa Venus tidak akan mendengarkannya dan malah masih menjalankan aksinya tersebut.
Venus mendekatkan mulutnya ke telinga Libra. Kemudian ia membisikkan sesuatu yang membuat Libra mengancam laki-laki itu.
“Ntar lo liat aja.”
“Awas lo kalau berniat buruk.”
“Tenang ini sangat menyenangkan.”
Hingga acara resepsi pun sudah berakhir dan Jasmine serta Libra harus beristirahat di dalam kamar mereka setelah lelah seharian menyambut tamu undangan.
Saatnya mereka membuka hadiah yang diberikan oleh para undangan tersebut. Jasmine menatap kado yang diberikan Venus. Itulah kado yang dijanjikan oleh laki-laki itu hingga membuat keributan di antara Libra dan Venus.
Libra sendiri penasaran dengan isinya jadi iya yang mengambil kado tersebut dan membukanya lebih dulu. Ia ingin memastikan bahwa isi kado tersebut bukanlah kepala manusia.
Jasmine merasa tidak rela dan ingin membukanya bersamaan tapi Libra melarang dirinya.
“Kenapa nggak sama-sama aja sih?”
“Harus mastiin kalau barangnya aman. Terkadang Venus memang tidak bisa dipercaya.”
“Teman sendiri juga,” ucap Jasmine seraya menghela nafas.
Perempuan tersebut memperhatikan Libra yang mengunboxing kado tersebut. Kemudian ia melihat mimik wajah Libra setelah membuka kado itu. Apakah memang sesuatu yang sangat membahayakan sehingga membuat wajah Libra sama sekali tidak berekspresi.
Karena sangat merasa penasaran Jasmine pun mendekati kado itu dan mengambil isinya. Melihat isi dari kado itu yang sekarang dipegang di tangannya membuat kedua wajah mereka berdua memerah.
“VENUS SIALAN!!” teriak Jasmine marah-marah sementara itu Libra sama sekali tidak bisa angkat bicara.
Bagaimana tidak laki-laki tersebut sangat malu melihatnya terlebih lagi Jasmine. Venus memberikan mereka pakaian dinas malam.
•••••••
“Papa? Jadi seperti itu Mama dan Papa bertemu?” tanya Marcelino setelah diceritakan bagaimana pertemuan antara ayah dan ibunya.
Jasmine memandang ke arah Libra dan mereka pun tersenyum bersamaan. Itu adalah kisah masa lalu sekaligus masa-masa konyol mereka. Siapa sangka akhirnya mereka pun berhasil memiliki anak segemas ini.
__ADS_1
“Udah kita masuk rumah aja. Dari tadi di luar mulu, kasihan Marcelina sampai kepanasan gitu.”
Jasmine kemudian menggendong Marcelina dan membawanya masuk ke dalam. Libra pun mengikuti wanita tersebut di belakang. Melihat bagaimana penampilan Jasmine sekarang membuat dirinya merasa bahagia.
Sekarang mereka telah memiliki keluarga kecil dan tidak ada siapapun yang bisa memisahkan mereka. Janji yang semuanya akhirnya bisa dipenuhinya bukan hanya sekedar omong kosong. Libra berharap bahwa ia tetap menjadi suami yang seperti diinginkan oleh Jasmine.
Apalagi jadwal mereka begitu padat dan Libra harus menyelesaikan pekerjaan kantornya dan sementara itu Jasmine setiap hari harus ke rumah sakit sebab banyak pasien yang akan ia tangani.
Ia adalah dokter berbakat dan namanya pun sudah terangkat di kaca internasional dan mendapatkan penghargaan internasional pula. Keluarga mereka begitu bahagia mendapatkan sosok Jasmine yang benar-benar luar biasa.
Bahkan ibunya setiap hari selalu memuji menantu wanitanya. Ia mungkin tidak pernah menyangka bahwa anak yang sempat ia tolak memiliki menantu sehebat itu.
“Jasmine, kenapa kau selalu menemani Marcelino? Dia sudah besar, dan dia bisa tidur sendiri.” Jasmine mengerutkan keningnya dan memandang ke arah pria tersebut. Ia tidak mengerti kenapa laki-laki itu marah ketika ia menemani anaknya tidur.
“Kenapa kau berdiri di depan pintu? Dan tanyakan kepada dirimu sendiri kenapa kau bisa mempertanyakan hal yang saya tidak sepantasnya kau tanyakan?”
Libra mengercutkan bibirnya. Malah menurut Jasmine, Marcelino jauh lebih dewasa dari pada ayahnya yang cemburuan dan sering bertingkah seperti anak kecil. Ia tidak tahu kenapa bisa memiliki pria seperti itu.
“Kenapa kau sangat tega membiarkan suami mu ini malah tidur sendiri?” tanya Libra seraya menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Libra merasa marah mendengarnya. Pria itu apakah tidak ingat umur. Ia sudah hampir berkepala tiga dan masih saja bertingkah bak anak-anak.
“Aku ingin tahu sekarang berapa umur mu? Kenapa kau bisa seperti Anak-anak dan jauh lebih dewasa Marcelino daripada dirimu.”
Libra tak peduli apa yang dikatakan oleh istrinya yang terpentingnya sisa bersama dengan istrinya dan ia malam ini tidak mau tahu. Ia menarik tangan istrinya dan kemudian membawa wanita itu masuk ke dalam kamar mereka.
Libra memeluk Jasmine dengan erat dan sama sekali tidak ingin melepaskannya.
“Sekarang aku ingin kamu,” ucap Libra dengan parau dan Jasmine sudah tahu apa yang ingin pria itu dapatkan dari dirinya.
Jasmine sangat lelah sekali ia menarik napas panjang. Padahal ia baru memiliki hati cuti tapi sekarang di hari libur pun ia dipaksa untuk bekerja. Apakah ia sama sekali tak memikirkan bagaimana saat ini perasaan Jasmine yang sangat terpukul.
Ia pun melepaskan pelukan Libra dan memandang pria itu tajam. Setidaknya ia meminta di hari libur. Karena pada hari itu Jason ingin full beristirahat.
“Aku gak bisa.”
“Kenapa?” tanya Libra dengan wajah bocahnya.
“Karena aku capek,” ucap Jasmine santai.
“Aku gak mau tau dan cuman maunya kamu.”
Libra mencium bibir Jasmine dan menjatuhkan wanita itu ke ranjangnya.
•••••••
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.