Jasmine My Mine

Jasmine My Mine
Part 30


__ADS_3

2 Bulan Kemudian


Pemandangan indah dari atas rumahnya membuat mata Jasmine sedikit lebih berwarna. Ia memandang ke arah ponselnya di mana Libra selalu menghubungi dirinya. Tapi ia sempat dikecewakan oleh laki-laki itu siang tadi pria itu lagi-lagi mengkhianati ucapannya dan tapi untungnya ia telah meminta maaf kepada dirinya sehingga ia tidak terlalu marah kepada laki-laki tersebut.


Jasmine berharap Libra jujur kepadanya dan tidak lebih dari itu. Selain itu ia sedang memikirkan pekerjaan yang bagus untuk Libra.


"Aku tidak mungkin hidup hanya dengan cinta, tapi jika aku terlalu mencintai dirinya maka aku memang harus hidup dengan cinta," ucap Jasmine dan menarik napas panjang.


Apa yang harus ia lakukan? Ibunya pasti tidak semudah itu untuk merestui dirinya dengan Libra. Itu hanyalah sebuah omong kosong belaka ketika ibunya baik di depan Libra. Belum tentu saat ia mengetahui bahwa Libra adalah anak motor pasti ia akan memancar Libra hari itu juga dan melarang dirinya bertemu dengan pria itu.


Jasmine memandang ke arah jalan raya dan melihat jika ada motor Libra di luar sana. Ia lantas langsung menghubungi Libra agar menunggunya di luar dan tidak ceroboh untuk diam-diam masuk ke dalam halaman rumahnya.


Jasmine turun dari kamarnya dan berlari ke pintu luar. Ibunya mengerutkan kening dan menatap ke arah ayahnya yang malah fokus membaca koran.


"Kenapa kau terus diam saja? Lihat anak kita akhir-akhir ini banyak berubah dan sering keluar rumah. Dulu ia sama sekali tidak pernah seperti itu.


Harry pun meletakkan koran yang ada di tangannya ke atas meja. Ia membuka kacamatanya dan memandang ke arah Jasmine yang membuka pintu luar.


Tapi ia tidak ingin ikut campur dengan masalah Jasmine. Harry sudah menduga bahwa yang datang adalah Libra.


"Biarkan dia. Kita tidak bisa ikut campur dengan masalah anak kita."


"Sebentar lagi dia akan tamat sekolah. Apakah kau ingin mengirimnya ke luar negeri?"


"Ya ke China dan dia harus menjadi dokter." Tampaknya Harry tiap bisa mentoleransi jika anaknya tersebut tetap tidak ingin kuliah di sana. Dahulu itu adalah impian dari Jasmine.


________

__ADS_1


Jasmine langsung memeluk tubuh Libra dan mencium pipi pria itu. Hubungan mereka sudah cukup lama berjalan dan Jasmine berharap bahwa hubungan tersebut akan semakin lama bertahan.


"Maaf sayang untuk yang tadi."


"Ya lain kali kau Jangan membohongiku. Satu lagi yang ingin aku bilang, kamu harus cari pekerjaan secepatnya. Aku sedang memikirkan beberapa pekerjaan yang cocok untukmu."


Kapaknya Libra terlalu santai. Ia sempat kaget ketika Jasmine mengatakan hal tersebut. Jasmine sangatlah serius sementara dirinya belum memikirkan ke arah situ. Lagipula ini memang untuk kebaikan Libra.


"Kau memikirkan tentang pekerjaanku. Aku cukup terharu."


"Libra, tidak bisakah kau keluar dari geng motor itu? Kau harus memulai bekerja dan tidak nongkrong-nongkrong seperti itu. Apalagi kau putus sekolah, pasti akan sulit untuk mencari pekerjaan untukmu."


Mendengar permintaan dari Jasmine tersebut tentunya membuat Libra naik pitam. Ia tidak pernah mau jika dirinya harus meninggalkan geng motornya yang memberikan ia kebahagiaan.


"Jasmine! Aku benar-benar tidak suka mendengar kau menyuruhku untuk keluar dari geng motor yang telah memberikan aku kebahagiaan bertahun-tahun!"


"Libra!! Kamu baru kali ini bicara kayak gitu ke aku, Kamu sendiri yang bilang kalau kamu pengen nikahin aku. Libra, kamu harus memulai dari awal dan mencari pekerjaan Jika kamu ingin diterima di keluargaku! Aku juga memikirkan kriteria pasanganku," ucap Jasmine dan meneteskan air matanya.


Ia membenci air mata tersebut karena tidak bisa menahannya dan tentunya Jasmine sangat malu karena menangis di depan Libra.


"Kenapa kau selalu mengatakan pekerjaan? Memang benar ya jika wanita itu mata duitan?" Sontak saja hal tersebut menjadi blunder bagi Libra.


Jasmine merupakan tangannya dan tanpa sadar melayangkannya ke pipi Libra. Bisa-bisanya laki-laki tersebut menuduh dirinya seperti itu. Itulah pikiran orang yang tidak memikirkan pentingnya pendidikan.


Sedangkan Libra terkejut dengan tamparan tersebut dan menyentuh bekas tamparan yang diberikan oleh Jasmine. Baru kali ini Jasmine menampar dirinya dan itu benar-benar membuat dirinya marah. Libra mengepalkan tangannya hendak melawan Jasmine, tapi ya teringat bahwa di depannya adalah wanita yang sangat ia cintai.


Ia pun tidak bisa membalas Jasmine dan hal itu benar-benar membuatnya frustasi hingga menendang motornya sendiri dan motornya yang terparkir tersebut terjatuh.

__ADS_1


"Jasmine kamu menguji kesabaranku!"


Jasmine menarik napas panjang dan kemudian membuang wajahnya. Ia memang salah mencintai pria ini hingga rasa cintanya begitu dalam dan ia tidak mudah untuk meninggalkan laki-laki tersebut yang sangat ia cintai.


"Kenapa kau tidak memikirkan masa depanmu sendiri? Sebentar lagi aku tamat dan tentunya papa aku akan mengkuliahkan aku di luar negeri. Papaku terobsesi menjadikan aku seorang dokter dan begitu pula aku. Terserah kau ingin mencari pekerjaan atau tidak, tapi yang penting kau harus memikirkan masa depanmu."


Jasmine pun menutup pagar rumahnya. Ia masuk ke dalam rumahnya dengan langkah yang cepat meninggalkan Libra. Baru kali ini yang bertengkar hebat dengan Libra dan itu benar-benar sesak rasanya.


Libra hanya bisa menatap punggung Jasmine tanpa bisa mencegah wanita itu pergi darinya. Laki-laki tersebut berteriak dengan sangat frustasi dan kemudian terus menendang motornya yang telah terjatuh.


"Anjing!!!" teriak Libra dengan emosi kesal.


Ia pun mengangkat motornya dan kemudian menyalakannya. Setelah itu ia membawa motor tersebut dengan kecepatan penuh dan tidak memikirkan nyawanya lagi.


Sementara itu Jasmine berlari cepat ke kamarnya dan tidak ingin diinterogasi oleh ayah dan ibunya yang duduk di ruang tamu. Ia pun menutup pintu kamarnya dengan keras dan kemudian menangis di balik pintu tersebut.


"Emangnya aku salah memikirkan masa depan dia? Yang punya masa depan Itu dia kenapa aku yang harus memikirkan masa depannya?" Jasmine mengusap air matanya dan kemudian menangis tersedu-sedu.


Mau bagaimana lagi, ini adalah salah dirinya yang telah memilih jalan lain dan menantang diri sendiri untuk berpacaran dengan orang yang sangat ekstrem.


Yang ada ujung-ujungnya malah menahan rasa sakit seperti ini. Jasmine pun mengusap air matanya dan kemudian menatap ke arah gelang pemberian Libra. Ia tidak terlalu gegabah untuk membuang gelang pemberian laki-laki tersebut.


Jasmine masih berharap bahwa Libra memikirkan masa depannya dan setelah ini pria itu meminta maaf kepadanya.


_________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2