
Melihat Libra yang tengah melamar dirinya di depan orang tuanya membuat Jasmine tak bisa berkutik lagi. Apalagi semua orang yang ada di rumah sakit menyaksikan bagaimana pria itu dengan percaya dirinya berlutut di depannya hingga membuatnya malu.
Ia tak mungkin menolak pria ini apalagi mempermalukan keluarga Libra. Jasmine menatap ke arah ibunya yang malah senang pria itu melamarnya. Ia sepertinya memang tak memiliki pilihan lain selain menerima pria itu untuk seumur hidupnya. Lagi pula ia telah melakukan kesalahan yang mana itu semua pada akhirnya pasti akan terbongkar jika ia tidak menikah dengan pria ini.
Jasmine memantapkan hatinya, ia yakin bahwa dirinya masih mencintai Libra jadi tidak ada salahnya jika ia menerima lamaran pria itu. Bisa saja ini mengobati rasa sakit hatinya yang telah lama tidak bisa terobati.
“Jasmine, Will you marry me?” sekali lagi Libra bertanya kepada dirinya di depan banyak dokter dan juga keluarganya.
Jasmine menggigit bibirnya dan memejamkan matanya berharap bahwa pilihannya ini tidak menjadi bumerang untuknya di masa depan. Pasti Tuhan memiliki rencana lain untuk kebahagiaan dirinya. Tidak ada salahnya jika ia mencoba hidup dengan pria ini terlebih dahulu.
“Yes i will,” ucap wanita itu dan seketika suasana menjadi heboh.
Suara tepuk tangan mEmenuhi ruangan tersebut hingga Ia yang merasa kagum dengan suasana itu tiba-tiba merasakan pelukan hangat dari Libra. Tanpa mampu menolak, Jasmine hanya menikmati pelukan yang diberikan oleh pria itu. Pelukan hangat dan penuh cinta, inilah yang paling ia sukai dari laki-laki tersebut.
“Jasmine, terima kasih.” Jasmine menganggukkan kepalanya dan meletakkan dagunya di bahu pria itu. Kini ia sudah mempercayakan kehidupannya kepada Libra. Semoga pria itu amanah dan terus menjaganya hingga akhir hayat.
“Aku percaya kepadamu, jadi kau jangan melukai harga diriku lagi. Jika kau melakukannya sekali lagi, aku tak yakin jika kau mendapatkan kesempatan untuk ke-tiga kalinya,” ucap Jasmine memperingatkan Libra dan tentunya pria itu sama sekali tidak butuh peringatan tersebut karena ia pasti akan menjaga Jasmine sebaik mungkin untuk memuaskan sendiri.
“Tidak usah khawatir tentang itu. Aku pasti akan menjagamu dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.” Jasmine merasa puas dengan ucapan laki-laki tersebut.
Inilah yang ia dengar dari Libra. Laki-laki itu mampu memenuhi semua janjinya. Nyatanya sama sekali Libra tidak pernah berbohong terhadap janjinya. Dahulu ia berjanji bahwa akan menjadi orang sukses dan menikahi Jasmine, nyatanya memang seperti itu. Semua yang dijanjikan oleh Libra telah dipenuhi laki-laki tersebut dan maka dari itu Jasmine sangat percaya sekali bahwa janji kali ini pasti akan dipenuhi pria itu dengan baik.
“Terima kasih. Aku juga meminta maaf karena kemarin sempat membencimu, nyatanya Aku tidak pernah benar-benar membencimu dan malah aku sangat mencintaimu. Jika tidak ada orang lain di hidupku itu artinya aku masih memiliki perasaan yang sama.”
“Tanpa kau mengatakannya aku pun juga bisa merasakannya,” ucap Libra dan kemudian memasangkan cincin lamaran ke jari manis Jasmine sebelah kanan.
“Ceihhh ada calon pengantin baru nih!!” teriak Karina dan Caca yang entah dari kapan mereka sudah ada di sini.
Jasmine sangat senang saat mendengar suara sahabatnya tersebut. Apalagi setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu karena sibuk dengan urusan masing-masing.
“Ntar aja ngelepas kangennya!” ucap Karina saat melihat Jasmine hendak melepaskan pelukannya dengan Libra.
“Kau dengar?” tanya Libra dengan wajah cemberut.
“Hm.”
•••••••••
“Kenapa lo semua nggak ngabarin pas mau datang ke sini?” tanya Jasmine dengan wajah cemberut. Ia tak bisa menyambut mereka saat datang. Jasmine cukup menyesalkan hal tersebut.
__ADS_1
“Kalau kita kasih tahu yang ada nggak surprise lagi dong, apalagi Libra nyuruh kita diam-diam aja.”
Saat ini Karina fokus dengan karirnya di Jepang. Sementara itu Caca bekerja di salah satu perusahaan Singapura. Karena jadwal masing-masing yang begitu padat membuat mereka semua tidak bisa berkumpul kembali seperti dulu lagi dan kali ini mereka memiliki waktu luang untuk bersama.
Kesempatan yang sangat jarang tersebut mereka habiskan dengan berlibur ke Bali sekaligus mempersiapkan pernikahan Jasmine yang akan dilakukan secepatnya. Jasmine menarik napas panjang dan kemudian menatap ke arah pantai yang sangat indah di depan mereka.
“Suasana begitu menakjubkan, lalu bagaimana hubungan lo dengan Moran? Masih berlanjut atau gimana? Emangnya lo masih mau sama orang yang suka mabuk-mabukan gitu?”
“Gue cukup tersinggung mendengarnya. Bur tidak apa-apa, sebenernya gue juga nggak bersungguh-sungguh sama laki-laki itu. Tapi siapa sangka malah hubungan kita sekarang sudah 7 tahun. Ya laki-laki brengsek itu sama sekali tidak memiliki kepastian dan entah kapan gue mendapatkan pernikahan yang sama kayak lo.” Caca memasang wajah mengejek ke arah Karina.
Jasmine yang berada diantara mereka berdua hampir saja membuat dia tertawa namun tetap ditahannya dan malah menyenggol bahu Caca agar tidak membuat mood Karina menjadi jelek sehingga liburan ini tidak berjalan dengan baik.
“Lo nggak boleh kayak gitu ke Karina.”
“Dia mah emang rada-rada. Gak usah dengerin dia. Dari pada dia sama om-om.”
Jasmine terkejut dan memandang ke arah Caca dengan tatapan penuh tanya menuntut jawaban dari wanita itu. Tangan Caca dibawa sana terkepal dan menata tajam Karina yang telah membocorkan hal tersebut. Sementara itu Karina merasa puas karena dahulu Caca juga telah membocorkan rahasianya.
“Lo seriusan sama om-om? Kok bisa sih lu mau? Gue kira lu bakal dapetin cowok ganteng yang mapan banget.”
“Ya karena om-omnya mapan makanya dia mau,” potong Karina dan Jasmine memandang ke arah wanita itu seraya menganggukkan kepalanya.
“Apa sih lo nenek lampir. Mulut lo nih kayaknya mau dilaban, bocor mulu.”
“Kenapa emangnya kalau bocor? Lagi pulang ngebocorinnya kan sama gue, emang gue nggak seberahaga itu di persahabatan ini?” Karina menjulurkan illatnya mengejek Caca.
Mendengar jawaban seperti itu yang keluar dari mulut Jasmine membuat Caca merasa tidak enak dan meminta maaf kepada wanita tersebut.
“Sumpah gue nggak maksud apa-apa, Jasmine. Gue minta maaf.”
Jasmine lantas tertawa gelak setelah mendengar permintaan maaf dari Caca. Benarkah wanita itu langsung ketakutan setelah ia hanya bercanda mengatakannya.
“Nggak usah terlalu serius. Gue juga bercanda. Oh iya Karina, gimana dengan Olga? Bukannya dia suka sama lo ya?”
“Ya, yang seperti lo liat. Kalau misalnya gue nggak pernah nanggepin perasaannya dia dan sampai sekarang dia udah sukses dan memiliki banyak wanita yang mengejar-ngejar dia. Rupanya tabiatnya masih sama,” ucap Karina sembari memutar bola matanya dan terlihat malas membahas pria itu.
“Wah, ternyata Olga sama sekali tidak berubah. Yang berubah adalah nasibnya.”
“Itu lebih baik daripada orang yang sama sekali tidak berubah,” sindir Caca dan pada akhirnya Karina dan wanita itu saling bertatapan.
__ADS_1
“Nggak usah banyak gaya, lo sama om-om lagi.”
Mereka pun tertawa sementara Caca menjadi bulan-bulanan mereka. Libra menghampiri Jasmine dan kemudian menyuruh wanita itu untuk menemaninya menikmati pemandangan.
“Kapan ya Moran kaya gini.”
“Gak akan pernah,” ucap Caca dan Karina semakin tidak mood dan meninggalkan Caca sendirian.
“Oy tolol!!!” teriak Caca yang marah melihat wanita itu tak terima ditinggal sendirian.
••••••
Jasmine memandang ke arah gedung yang sudah di dekor untuk pernikahan mereka. Hampir 70% sudah dipersiapkan dengan baik untuk acara pernikahan mereka nanti.
Jasmine menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia memandang ke arah Libra yang saat ini merangkul dirinya dengan tatapan tak menyangka bahwa hari ini akan datang juga.
“Kenapa kamu mempersiapkan pernikahan ini dengan cepat?”
“Apakah kau ingin memakan hujatan tetangga?” Jasmine langsung mengerti setelah pria itu mengatakannya.
Ia pun menganggukan kepalanya setuju dengan Libra memang lebih baik dipercepat pernikahan mereka lagi pula tidak ada perlu menunda pernikahan.
“Gue terharu ngeliat lo akhirnya telah menemukan pasangan.” Libra dan Jasmine menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat Olga yang datang dan terlihat antara dua pria itu memang masih terlihat jelas persahabatannya.
Jasmine melihat mereka sangat terharu aku lagi Olga dan Libra telah berbaikan. Hal inilah yang ia ingin lihat.
“Jasmine, lo nggak salah pilih cowok. Dia memang sangat baik, bahkan dia melakukan apapun bisa mendapatkan uang. Dia bekerja keras, gue udah bertahun-tahun sama dia. Makanya gue yakin bahwa dia orang baik.”
Jasmine menganggukan kepalanya dan melirik ke arah Libra yang terlihat mengembangkan lubang hidungnya merasa bangga mendapatkan pujian.
“Ya aku sedikit percaya.”
“Bahkan mungkin lo nggak akan tahu kalau misalnya kenapa Libra bisa menyerang Delon dulu. Itu karena Delon merendahkan lo dan dia nggak terima. Maka dari itu Libra mukulin Delon.”
Libra tidak menyangka bahwa Olga akan membocorkan rahasianya. Jasmine memandang ke arah Libra dengan tatapan terharu.
••••••••
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.