
"Apa yang sudah Papa bicarakan kepada Libra. Pasti ada sesuatu, kan?" tanya Jasmine dengan menyelidik.
Ia harus mengetahui perbincangan ayah dan Libra tadi. Jasmine bisa menduga bahwa ayahnya pasti membicarakan tentang dirinya. Salahkah ia jika tidak suka menjadi topik pembicaraan seseorang.
Oleh karena itu Jasmine memasang wajah marah kepada ayahnya tersebut. Ia seakan tidak bisa menerima maaf dari sang ayah karena telah melakukan hal tersebut kepada dirinya.
"Kenapa kau sangat sensitif sekali? Tidak apa-apa kami tidak memburuk-burukan tentang mu jadi kau tak perlu khawatir mengenai itu. Kami hanya berbicara sekedarnya, dan setelah itu ia pulang," ucap sang ayah santai dan kemudian Jasmine pun pergi ke arah jendela dan melihat jika Libra sudah menunggangi motornya hendak pulang.
Ia tak tahu apa yang sudah terjadi dan tampaknya Libra tidak sedang dalam keadaan mood yang baik. Apakah ayahnya telah menyinggung pria itu.
"Apa yang sudah papa bicarakan? Kenapa dia terlihat sangat marah?" tanya Jasmine yang masih berusaha untuk menyelidikinya.
"Papa ingin bertanya kepadamu, apakah kamu juga laki-laki itu?" Tentu saja mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh ayahnya membuat Jasmin membulatkan matanya dan marah kepada sang ayah. Tidak mungkin dia menyukai Libra, walaupun ia benar-benar menyukai pria itu tidak mungkin ia mengakuinya di depan sang ayahnya.
Ini semua terlalu konyol menurutnya dan ayahnya tidak perlu mengurusi mengenai perasaannya. Jasmine pun meninggalkan ayahnya begitu saja akan tetapi tangannya langsung di tahan oleh Harry.
"Apakah kau ingin Ayah seperti ibumu? Yang selalu saja mengomentari sopan santun kepada orang tua. Kau pasti tidak ingin Ayah melakukan itu kan? Tapi kenapa kau sama sekali tidak peduli jika ayah mu ada di depan." Jasmine tahu ia salah. Tapi ketika orang menasehati tentang kesalahannya itu seperti tengah menghinanya.
"Kenapa kalian semua berbicara seperti itu kepada ku? Apakah aku benar-benar salah, ya aku tahu jika aku salah tapi tidak seharusnya kalian berbicara seperti itu." Jasmine menarik napas panjang dan kemudian berusaha untuk terlihat tegar walaupun hatinya sangat sakit mengetahui ayahnya menilainya sama dengan yang lain.
"Jasmine kau harus berusaha bisa menerima masukan orang lain. Aku tahu kau memang sedikit sensitif. Ayo peluk Papa, mungkin karena dulu papa sering meninggalkan mu dan sementara itu ibu mu memang sedikit sulit untuk bersabar sehingga terciptalah sifat mu yang seperti ini. Ingat kau harus lebih bersabar lagi."
Jasmine menganggukkan kepalanya. Sepertinya orang-orang peduli kepadanya dan apalagi ayahnya. Wanita itu pun mendekati sang ayah dan kemudian memeluknya.
"Terima kasih Papa, kau selalu menjadi penenang hati ku. Kau tahu bukan maksud ku berbicara seperti itu tapi karena hati ku yang tidak bisa menerimanya."
Sang ayah pun menganggukkan kepalanya. Ia membalas pelukan anaknya. Jasmine merasa lebih tenang.
Ibunya yang melihat dari jauh merasa sangat terharu. Ia pun tanpa sadar menangis dan meninggalkan ruangan tersebut.
"Jasmine, maafkan Mama," ucapnya dalam hati.
__ADS_1
"Apa hubungan mu dengan pria itu?" tanya sang ayah yang berniat ingin menggoda anaknya tersebut. Tapi ia ingat bahwa Jasmine pasti masih dalam keadaan sensitif dan tidak ingin diajak berbicara.
Jasmine menggelengkan kepalanya. Ia tak memiliki hubungan apapun.
"Tidak ada. Hanya dia yang sering menolongku. Aku juga tidak tahu apa maksud dari semua kebaikan yang dia berikan," ucap wanita tersebut dan kemudian meninggal Ayahnya di ruangan itu.
Harry pun tertawa melihat anaknya yang seperti itu. Ia harap putrinya dapat berkembang menjadi lebih baik lagi dari pada ini. Mengenai Libra, sama seperti anaknya ia tampaknya tidak terlalu menyukainya walaupun ia terlihat cukup baik.
___________
"Jasmine kenapa lo hari ini?" tanya Karina kepada wanita itu yang terus terlihat sangat murung.
Karina berusaha untuk menghibur Jasmine bagaimanapun caranya. Jasmine juga menghargai kebaikan yang diberikan oleh Karina. Jujur saja ia tidak ingin mengabaikan Karina tapi moodnya sekarang dalam keadaan tidak baik.
"Karina ini aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir tentangku. Aku pikir orang-orang tak harus dekat dengan ku kan?"
"Kenapa lagi sih? Kok lo ngomongnya aneh banget," ucap wanita itu dan kemudian mendekati Karina ingin mencari informasi mengenai wanita itu yang menurutnya sangat aneh. Tidak biasanya Jasmine seperti itu.
Karina meraih tangan Jasmine dan kemudian menggenggamnya. Ia pun mengusap tangan wanita itu menenangkan Jasmine yang mungkin perasaannya sedang tidak baik-baik saja.
Jasmine menatap ke arah Karina dan kemudian memeluk tubuh wanita itu dengan erat. Ia merasa ada orang yang peduli dengan perasannya saat ini.
"Karina, aku tidak tahu apakah aku harus merasa sakit hati karena ucapan ibu ku? Dia sangat kasar dan aku kadang lelah, walaupun apa yang dia katakan ada benarnya juga. Tapi tidak seharusnya dia berbicara sambil menghina ku, bukan? Aku selalu salah di matanya," ucap wanita itu yang tampaknya sudah menyerah dengan perasaannya sendiri. Seperti itu karena pun merasa tidak tega. Apa yang harus ia lakukan untuk Jasmine? Mungkin memeluk tubuh wanita itu dan memujinya bisa membuat Jasmine tenang.
"Jasmine kau tidak perlu takut mengenai hati mu sendiri. Aku tahu ini sangat menyakitkan bagi mu tapi setidaknya kau jangan merasa bersalah dengan diri sendiri. Coba kau lihat ke depan bagaimana orang-orang menatap mu, mereka kagum kepada mu. Ibu mu hanyalah salah satu dari mereka yang tidak bisa menatap mu sama dengan yang lain. Itu artinya kau harus bisa menerima setiap pandangan orang lain karena setiap orang memiliki perasaan yang berbeda-beda. Mungkin ibu mu juga salah satunya oleh karena itu kau harus terbiasa dengan segala ucapan ibu mu suapaya kau tidak sakit hati dengan ucapannya." Jasmine menganggukkan kepalanya. Dari dulu ia berusaha untuk tetap terbiasa dengan segala hinaan yang diberikan oleh ibunya tapi tetap saja hatinya merasa tidak enak.
"Terimakasih Karina. Kau selalu saja membuat hati ku jauh lebih baik. Mungkin kau adalah teman terbaik ku," ucap wanita itu dan menarik napas panjang dan menatap ke arah jam tangannya dan sebentar lagi bel tanda masuk pun akan berbunyi. "Sebentar lagi akan masuk kelas. Lebih baik kita ke kelas dulu. Pasti Caca udah ada di dalam kelas," ucapnya.
Karina menganggukkan kepala dan kemudian membawa Jasmine pergi ke kelas. Langkah Karina terlalu besar hingga membuat dirinya hampir saja terjatuh.
"Karina apakah kau sama sekali tidak bisa berhati-hati, hey!" teriak Jasmine seraya sambil tertawa.
__ADS_1
"Eh lo gimana dengan si Libra," tanya Caca padahal dirinya baru saja sampai di dalam kelas. Jasmine pun membulatkan matanya kenapa Caca bisa berbicara seperti itu.
"Caca apa-apaan maksud lo?"
"Bukannya orang yang selalu ngikutin lo itu si Libra yah? Tadi pagi juga dia ada." Kebetulan sekali Jasmine tadi sempat meminta Libra juga mengawalnya.
Tapi ia tidak tahu bahwa pria itu akan ketahuan oleh kedua sahabatnya.
"Dari mana ko tau?"
"Nggak perlu gue kasih tahu dari mana gue tau, tapi kenapa Lo nggak pernah cerita Jasmine? Berita sepenting ini tapi kau sama sekali tidak ingin menceritakannya kepada kita. Apakah kita ini masih teman lo?" Jasmine pun memutar bola matanya. Kenapa ia harus menceritakan setiap privasinya.
"Ada kalanya gue gak harus cerita," ucap Jasmine dan membuang wajahnya. "Nanti aja kita bicaranya."
Karina pun menatap Caca memberikan peringatan kepada pria itu.
"Lo gak harus ngomong gitu ke Jasmine. Dia lagi gak mood. Nanti dulu baru kita cari tahu."
Caca pun menganggukan kepalanya. Ia belum tahu mengenai perasaan Jasmine tadi pagi sehingga ia tidak mengetahui bahwa wanita itu dalam keadaan suasana yang buruk.
"Dia ada masalah lagi sama keluarganya? Sepatu cewek punya keluarga kaya tapi sering banget kelahi sama mama nya. Heran gue," ucap Caca yang tidak habis pikir.
"Lo kaya gak tau aja gimana Jasmine. Tuh cewek emang punya perasaan sensitif makanya lo gak bisa berbicara seenaknya ke dia," ucap wanita itu dan kemudian mengeluarkan peralatan sekolahnya.
"Bener sih. Gue lupa hehehe."
"Gue gak suka diomongin, btw," ucap wanita itu yang tahu bahwa dirinya menjadi topik perbincangan.
"Iya maaf."
________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.