
Di rumah lea, seorang wanita paruh baya sedang tidur. Nampak di wajahnya sedang gelisah menggerakan wajahnya kekanan kekiri seakan ketakutan namun matanya masih terpejam.
"Hah hah hah". Deru nafasnya
"Tidaaaaaaaak". Kata yang keluar dari mulut wanita itu bercampur deru nafas tersengal senggal
Wanita itu terbangun dengan tubuh dibanjiri keringat dingin. Nafasnya menderu dan tatapan matanya begitu gelisah. Lea dan Ibunya memasuki kamar wanita itu lalu menyalakn lampu dan terkejut melihat kondisi wanita itu.
"Astaga Sarah, ada apa kau berteriak?" Tanya ibu mendekati Sarah yang nampak pucat.
Wanita itu bernama Sarah, nama yang di berikan Kakek dan Neneknya Lea ketika menemukannya. Sementara lea nampak berada di sebelah lainnya mengelus bahu Sarah membantu menenangkannya.
"Aku bermimpi sedang berada di dalam mobil bersama seorang anak yang mungkin sepantaran lea. Aku membawa mobil sangat kencang karena sepertinya aku sedang ada masalah dan karena terlalu kencang aku tidak bisa mengendalikan mobil itu sehinnga mobil itu jatuh kesungai namun aku tidak bisa melihat wajah anak itu". Ujar wanita yang bernama Sarah menceritakan mimpinya
"Apa mungkin itu kepingan ingatanku Sela?" Ujar Sarah menoleh ke arah Sela
"Mungkin saja. Tapi kau tidak usah memaksakan untuk mengingatnya seiring waktu pasti ingatanmu akan kembali". Jawab Sela mengingatkan
"Baiklah aku tidak akan memaksanya". Sahut Sarah
***
Keesok harinya Marcel baru masuk ke ruang guru saat akan duduk seorang guru lain menyapanya.
"Guru Marcel kau datang pagi sekali". Sapanya
"Aku tak membawa bukuku sebelum kelas dimulai aku akan mempersiapkannya dulu". Jawab Marcel
Guru yang tadi menyapanya kemudian menghampirinya pandangannya tertuju pada buah jeruk bergambar di meja Marcel.
"Siapa yang menggambar jeruk itu?" Tanyanya
"Lucu sekali, ekspresi digambar ini sangat mirip denganmu hehehe". Ujarnya sambil tertawa
"Aku pergi dulu". Ujar guru itu dan pergi meninggalkannya
Mendengar perkataan guru tadi seketika Marcel sadar kalau itu perbuatan lea dan membuat dia tersenyum mengingat ucapan lea sambil menepuk pelan jeruk itu dengan jari telunjuknya.
Malam harinya Marcel sedang memegang jeruk gambar itu. Dia masih terus tersenyum mengingat tingkah dan perbuatan lea kepadanya. Tingkah Marcel tidak luput dari pandangan Doni yang saat ini ada di rumahnya.
"Wah baru kali ini aku melihat kau tersenyum karena sesuatu. Sepertinya jeruk gambar itu dari seseorang dari siapakah ?" Tanya Doni
"Bukan siapa siapa, hanya rekan kerja". Jawab Marcel gugup.
Ke esok harinya lea turun dari tangga terdengar suara piano dari ruang musik. Dia menuju ruang musik dan melihat marcel sedang bermain piano.
Cukup lama dia berada di sana sampai ketika marcel menghentikan permainannya dan akan mencatat di lembaran musik namun stylus pen nya jatuh. Melihat itu lea bergegas untuk mengambilnya namun ketika hendak bangun posisinya berhadapan dengan wajah Marcel pandangan mereka saling terkunci satu sama lain.
Posis seperti itu membuat lea sedikit gugup dan kemudian dia berjalan menghindarinya dan meletakkan stylus pen ke kursi.
"Kuletakkan stylus pennya di kursi". Ucap lea menunjukan ke arah kursi
"Aku bukan untuk mengganggumu". Ujarnya
"Aku hanya takut kau susah mencarinya jadi". Jelas lea terputus
"Tidak apa apa.terimakasih ". Jawab Marcel
"Apa ada hal lain lagi?" Tanya Marcel
"Tidak ada, Hanya penasaran apa yang kau tulis?" Ujar lea bertanya pada lembaran yang berada di kursi
"Ini lembar musik braille yang di gunakan penyandang tuna netra sepertiku. Pihak Yayasan mengadakan acara terbuka di akhir pekan aku akan memberikan ilmu pianoku pada penyandang tuna netra yang ingin memperlajarinya". Ucap Marcel menjelaskan niatnya ingin membantu penyandang tunanetra
__ADS_1
"Apa lembaran musik ini tidak dijual?"
"Sangat jarang dan tidak menguntungkan".
"Banyak anak yang buta ingin mempelajari piano harus mengingat setiap nada".
"Kau juga?" Tanya Lea
"Hmm".menganggukan kepala membenarkan
"Kau sangat hebat". Puji Lea
"Seperti ini pun masih bisa memainkan piano.Kau sangat berbakat" ujar lea kagum dan memuji kemampuan Marcel di tengah keterbatasannya.
"Mozard pernah berkata, aku berlatih selama 12 jam dalam sehari namun orang lain hanya berkata, oh itu bakat". Ucap Marcel
Lea menjadi canggung mendengar penuturan Marcel di balik kata kata tadi ada makna tersembunyi bahwa segala sesuatu butuh perjuangan untuk menguasainya.
"Ehm, jadi lagu apa yang kau tulis ini?" Tanyanya mengarah lembaran kertas di atas kursi
"Gadis berambut pirang". jawab Marcel
"Apa kau yang menulisnya?" Tanya Lea
"Bukan tapi Debussy". Sahut Marcel
"Komponis kesuakaanmu?" Tanya lea lagi
"Hmm" sahutnya menganggukan kepala membenarkan pertanyaan lea
"Aku tidak terlalu paham tentang musik yang terpenting musik itu enak di dengar". Ucapnya sambil tertawa
"Ya sudah aku pergi dulu, lanjutkan kegiatanmu". Ujarnya sambil meninggal Marcel.
***
Di akhir pekan lea datang menghadiri acara terbuka itu. Ketika dia datang sudah banyak yang hadir dan duduk di kursi masing masing. Di panggung sudah ada Marcel Sehabis bermain piano.
Sementara lea masih tetap berdiri di sisi panggung sambil terus tersenyum melihat Marcel. Dia sangat kagum akan kemampuan bermusik Marcel.
"Selanjutnya, kami mengundang seorang naik keatas panggung, siapapun yang dari awal tidak pernah bermain piano secara formal bisa mencobanya. Bagi yang ingin mencoba silahkan mengangkat tanganya !" Ucap pembawa acara mempersilahkan peserta yang ingin berpartisipasi untuk mengangkat tangannya
Para peserta tunanetra semuanya mengangkat tangannya, melihat itu lea pun ikut mengangkat tangannya.
"Ya, gadis yang berdiri di sana. Baiklah silahkan naik". Ucap pembawa acara menunjuk ke arah lea dan mepersilahkan dirinya untuk naik panggung
Lea yang tidak menyangka dirinya yang ditunjuk untuk naik panggung tersum merasa senang. Lalu dia naik keatas panggung menghampiri Marcel dan duduk di sebelahnya.
"Coba ingat urutan nada yang aku mainnka !" Ucap Marcel memulai memainkan pianonya
1 1 5 5 6 6 5
Twinkle twinkle little star
4 4 3 3 2 2 1
how i wonder what you are
5 54 4 3 3 2
Up above the world so high
5 5 4 4 3 3 2
__ADS_1
Like a diamond in the sky
1 1 5 5 6 6 5
Twinkle twinkle little star
4 4 3 3 2 2 1
How i wonder what you are
Lea nampak serius melihat gerakan tangan Marcel menekan tut piano namun dia di buat bingung karena gerakannnya terlalu cepat.
"Coba mainkan ! Pakai satu tangan juga tidak apa apa" Ucap Marcel
Dengan gugup lea mencoba menekan tut piano mengikuti nada yang di beritahukan namun di nada baris ketiga not kelima ternyata dia salah menekannya sehinnga nada yang keluar tidak sesuai. Lea merasa ada yang salah ketika dia menekan not nada tersebut.
"Aku bersama denganmu di sini". Ucap Marcel menenangkan kegugupan lea dan mulai membantunya. Mereka pun bermain piano beriringan.
1 1 5 5 6 6 5
Twinkle twinkle little star
4 4 3 3 2 2 1
how i wonder what you are
5 54 4 3 3 2
Up above the world so high
5 5 4 4 3 3 2
Like a diamond in the sky
1 1 5 5 6 6 5
Twinkle twinkle little star
4 4 3 3 2 2 1
How i wonder what you are
Lea masih tetap melakukan kesalahan lagi dan terus mencoba mencocokan nada dengan permaianan Marcel namun tidak bisa. Dan pada akhirnya Marcel yang mengambil alih permaian piano itu. Lea hanya melihat jari jemari Marcel dengan lincah memainkan piano sambil menikmatinya.
"Ini hanya lagu Twinkle twinkle little star. Guru Lea". Ucap Marcel menegaskan bahwa dia tahu di sisinya adalah rekan kerjanya di sekolah.
Lea terkejut bahwa Marcel mengetahui bahwa dirinya hadir di acar tersebut. Dia bingung bagaimana Marcel bisa mengetahui kehadirannya sementara dia buta itu yang ada dalam pikirannya.
Acara pun selesai, pembawa acara tadi membagikan lembaran musik yang di tulis Marcel kepada penyandang tunanetra lainnya. Lea semakin kagum melihat niat baik Marcel dengan membagikan lembaran musik kepada lainnya secara cuma cuma.
"Nampaknya guru Marcel sangat baik, kau membagikan lembaran musik itu secara cuma cuma kepada mereka. Tapi aku heran dari mana kau bisa tahu bahwa aku hadir di acara ini?" Tanya lea
Marcel tidak menjawabnya dan terus berjalan. Lea mengikutinya mensejajarkannya namun karena di abaikan lea berjalan mundur ke belakang sambil berbicara memghadap Marcel
"Kau tidak berfikir aku menguntitmukan?" Tanya lagi
Karena berjalan mundur lea menabrak piano di sana dan akan terjatuh tapi sebelum terjatuh Marcel dengan sigap mengulurkan tangannya untuk diganggam lea.
"Lea". Ujar Marcel dengan keras ada nada khawatir dari suaranya.
Lea yang secara reflek menggenggam tangan Marcel tidak jadi terjatuh dan ada rasa bahagia karena Marcel mengkhawatirkannya.
"Hati-hati piano, piano di sini sangat berharga". Ucap Marcel memperingatinya lalu melepaskan genggaman lea pada tanngannya dan berlalu pergi. Lea tersenyum ternyata Marcel mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
***