Jatuh Cinta Pada Tuan Buta

Jatuh Cinta Pada Tuan Buta
BISAKAH PENGLIHATANMU DI SEMBUHKAN


__ADS_3

Ke esok harinya lea di depan leptop sedang menatap draft skripsinya sementara Marcel menemaninya duduk di sana sambil membaca buku.


"Kenapa kau jadi pendiam seperti ini?"


Lea monoleh sesaat lalu kembali menatap leptopnya.


"Bukankah aku pernah cerita mau mengajar pelajaran terbuka. Sekarang aku bingung. Menurutmu kira kira murid suka mendengar topik apa?" Tanyanya sambil menopang kepala menatap leptop


"Dulu saat kau belajar di SLB apakah ada hal yang ingin kau pelajari. Tapi tidak di ajarkan oleh guru?"


"Sudah lama. Aku rasa tidak ingat"


"Apakah guru guru disana memperlakukanmu dengan baik?" Tanya lea


"Tidak bisa di bilang baik atau tidak"


"Bagi mereka menjaga dan mengajar anak anak seperti kami hanya sebagai pekerjaan bukan karena merasa sayang atau perasaan lainnya. Tentunya seperti kita terhadap gisel, terkadang mereka memiliki anak yang difavoritka". Jelas Marcel


"Sedangkan aku, suka menyendiri. Semenjak kehilangan ibuku duniaku terasa berubah mereka yang dekat denganku kebanyakan palsu. Hanya saat musik dimulai aku merasa tenang. Aku merasa di balut ketenangan". Ucap Marcel mengingat masa lalunya


"Bagaimana kau bisa menjalaninya?" Tanya lea


"Aku tak ingin membahas ini lagi". Sahut Marcel tidak ingin mengungkit masa lalunya


"Baik". Jawab lea meras tak enak memaksanya untuk bercerita.


Marcel diam dan melanjutkan membaca bukunya.


***


Lea dan vani ada di pusat perbelanjaan. Renca mereka ingin membeli pakaian.


"Kau sudah memiliki pacar kenapa menyeretku untuk menemani mu membeli pakaian untukmu?"Tanya vani tangannya di gandeng lea masuk ketoko pakaian


"Kau sudah tahu masih saja bertanya. Kulihat kau setiap hari belajar di kamar jadi ku ajak jalan jalan". Ucapa lea sambil melihat lihat pakain di toko itu


"Jangan bohong,kau hanya tak ingin pacarmu kelelahan". Ujar Vani mengikut lea memilih baju


"Ngomong ngomong kau sudah bicara pada ibumu bahwa kau sekarang memiliki hubungan dengan Marcel?"


"Hmmm" lea ragu menjawabnya


"Lebih baik kau cerita biar ibumu tenang"


"Baiklah. Ayo kita pilih baju" ajak lea mengalihkan pembicaraan


Dirumah Marcel lea berganti pakain dengan pakaian yang baru di beli bersama vani. Lea berputar putar berjalan kehadapan Marcel layaknya seorang model.

__ADS_1


"Bagaimana penampilanku?bagus?" Tanya lea


Marcel tersenyum mendengar ucapan percaya diri lea.


"Jelek" sahut Marcel geleng kepala


Seketika kepercayan diri lea runtuh karena di bilang jelek penampilannya.


"Kau tak bisa melihat, mengapa bilang jelek?" Ujar lea kesal menolak pinggang


Marcel tertawa mendengar lea marah karena dibilang jelek padahal dia hanya meledek.


Lea mendekat dan duduk di samping Marcel.


"Marcel, apa penglihatanmu tidak bisa di sembuhkan?" Tanya lea berharap ada kemungkinan penglihatan Marcel bisa di sembuhkan


"Entahlah. Aku belum memeriksanya setelah kecelakan itu" jelas Marcel


"Apa kau berharap aku bisa melihat?"


"Tidak juag" sahut lea takut Marcel tersinggung


"Tapi jika kau bisa meliahat kembali mungkin kau tidak mengenaliku"


Marcel tersenyum mendengarnya.


"Aku tahu kau cantik". Ujar Marcel jujur


"Instingku saja". Balas Marcel


Lea mengibaskan rambutnya lalu lebih mendekat ke samping Marcel.


"Aku memang tercantik". Ucap lea memuji sendiri


"Pikirkan seperti ini, jika aku bukan yang tercantik maka aku yang terimut" sambil meletakan tangannya di pipi


Jika aku buka termanis maka aku yang paling mencintaimu". Ucap lea sedikit gombal


"Kalau begitu,aku ingin tahu rupa orang yang paling mencintaiku". Ujar Marcel


Lea terdiam memanyunkan bibir sambil berpikir bagaimana cara menunjukan rupa dirinya pada Marcel. Lalu terlimtas sebuah jalan keluar dslam pikirannya. Dia raih tangan Marcel dan megarahkannya ke wajahnya menyentuh setiap bagian dari wajahnya.


"Ini alisku tidak terlalu rapih". Jelas lea menuntun tangan Marcel ke arah alisnya lalu ke bagian wajah lainnya.


"Ini mataku. Bulu mataku tidak terlalu tebal. Mataku suka menangis namun penglihatanku sangat jelas". Menuntun kearah mata


"Ini hidungku, tidak terlalu mancung dan kecil". Jelas lea menuntun kebagian hidung

__ADS_1


Seketika lea terdiam dan terkejut ketika tangan Marcel menyusuri bibirnya menyaou dengan jarinya lalu turun ke lehernya meraba menyusuripanjang lehernya.


"Hei...hei..." ucap lea sedikit kesal karena Marcel merembet kemana mana


"Aku perlu memeriksanya dulu. Apa ada kecacatan yang perlu di returt barang" ledek Marcel


Mendengar hal itu lea semakin dibuat kesal dia segera menepis tangan Marcel yang berada di lehernya.


"Kau imgin retur?enak saja" ucap lea kesal


Marcel tersenyum rencanaya berhasil menggoda lea lalu pura oura menyentuh lagi namun segera di tepis oleh lea.


"Apa?" Tanya lea


Marcel segera menarik tangan lea membawanya kedalam pelukannya. Lea tersenyum,dia tahu sebenarnya Marcel hanya menggodanya.


Keesokan harinya lea pergi ke SLB untuk melakukan presntasi depan muridnya dan oara guru disana untuk mendapatkan penilain dalam magangnya.


"Semua orang termasuk kami yang normal saat berinteraksi dengan orang lain bisa menghadapi rasa takut. Taraf rasa takut setiap orang berbeda tergantung orangnya dan pengalamannya ini tidak bisa dihindari. Bukan karena kalian berkebituhan khusus ataupun kalian tak cukup baik. Yang terpenting kalian mau membuka diri dengan berani. Berbicaralah dengan berani agar orang lain tahu pemikiran kalian. Dengan begini kalian mendapati sebenarnya kemungkinan milik kita di masa depan jauh melebihi dugaan kita". Jelas lea di hadapan murid lalu menolehke arah para guru


Sementara Marcel berdiri di balik pintu kelas dia tersenyum mendengar penjelasan lea di hadapan murid dan guru. Dia puas akan itu semua dan cukup bangga akan pemikiran lea agar mereka yang berkebutuhan khusus harus berani mengutaran apa yang ada dalam pikirannya agar orang lain tahu.


"Baiklah,kelas kita sampai disini. Kelas sudah selesai" ujar lea mengakhiri kelasnya


Setelah mendengarkan itu semua Marcel pergi meninggalkan sekolahan dengan senyuman bahagia.


Lea mendapatkan tepuk tangan dari murid dan para guru.Lalu gisel menghampirinya.


"Selamat tinggal guru Lea" ujar gisel mendekat


Lea menoleh lalu menghampiri gisel dan berjongkok.


"Gisel"


"Temanku mengatakan dia bertemu guru Marcel sebelum masuk kelas. Apa guru lea yang mengajaknya untuk datang mengikuti kelas?" Tanya gisel


Lea terkejut mendengar bahwa Marcel juga datang di acar presntasinya hari ini sekaligus hari terkhirnya mengajar di SLB ini.


"Aku juga tak tahu. Terimakasih sudah memberitahuku". Ucap lea mengelus rambut gisel.


"Duduklah kembali !"


Giselpun kembali duduk di kursinya. Sementara lea mencoba menghubungi Doni untuk menanyakan kebenaran itu.


"Ka Doni, apakah Marcel datang kesekolah?" Isi pesan lea yang di kirim ke Doni


Semnatar Doni yang berada di luar sekolah meliahat isi pesan itu sekaligus melihat Marcel baru keluar dari gedung sekolah.

__ADS_1


"Ya" isi pesan Doni di kirim ke Lea.


Lalu Doni segera membuka pintu mobil dan membiarkan Marcel masuk ke mobil dengan wajah penuh senyuman.


__ADS_2