Jatuh Cinta Pada Tuan Buta

Jatuh Cinta Pada Tuan Buta
PERTUNJUKAN


__ADS_3

"Hari ini kau bertemu gadis itu lagi?apa dia menyukaimu?" Tanya Doni sambil menutup pintu ruamah Marcel lalu menghampirinya.


"Tidak". Sahut Marcel melirik ke arah doni.


"Dia hanya sedikit mengagumiku". Ujar Marcel sambil melepaskan jaketnya dan mengantungnya


"Apa kau menyukainya?" Tanya Doni mendekati Marcel


"Aku tidak pantas untuknya" jawab Marcel


Kau tahu duniaku gelap. Jika pun dia menyuakaiku dia hanya kasihan". Ujar Marcel


"Dari mana kau tahu?" Tanya Doni


Marcel tidak menjawab pertanyaan Doni lalu pergi meninggalkannya. Sementara Doni mengetahui jika Marcel menyukai Lea dari perkataannya tadi.


***


Acar sosialpun tiba, lea baru datang dia melihat gisel sedang berlatih menyanyi bersma Marcel sebelum acara pertunjukan dimulai.


"Di luar gang panjang"


"Di sepanjang jalan kuno"


"Rumput hijau nampak menyentuh langit"


"Angin malam memperdengarkan"


"Suara seruling tua di kejauhan tedengar murung"


"Matahari terbenam menerangi pegunungan" suara nyanyian gisel


Lea terus tersenyum mendengar suara nyanyian gisel yang sangat merdu menurutnya.


Acarpun dimulai, beberapa sambutan hangat dari pembawa acara dan perwakilan dilakukan.Bberapa penampilan yang di bawakan anak anak sampai kepada pada saat gisel akan menampilkan bakat menyanyinya.


Dia naik ketas panggung dituntun oleh lea.ketika sampai lea pun turun dari sana dan membiarka gisel dan anak lainnya untuk menampilkan apa yang sudah mereka pelajari. Gisel terlihat cantik menggunakan gaun berwarna peach ditambah pita di kedua sisi kepala menmbuat dia semakin cantik ditambah dengan kepolosannya.


"Di luar gang panjang"


"Di sepanjang jalan kuno"

__ADS_1


"Rumput hijau nampak menyentuh langit"


"Angin malam memperdengarkan"


"Suara seruling tua di kejauhan tedengar murung"


"Matahari terbenam menerangi pegunungan" suara nyanyian gisel dan anak anak


Suara tepuk tangan menggema di ruangan itu setelah mereka mengakhiri nyanyiannya sampai ketika salah satu donatur naik ke atas panggung dan menuntun gisel untuk tetap bersamanya.


"Hadirin semua, ini namanya Gisel Laura


Usianya 8 tahun. Dia mengalami kecelakan saat kecil juga merenggut kedua orang tuanya matanya juga terluka dalam kecelakaan itu. Setelah itu dia antar ke panti asuhan. Meski dia kehilangan kasih sayang ayah dan ibunya tapi kehangatan kumunitas kita membuatnya bahagia kembali. Gisel saat ini duduk di kelas 2 dia mendapatkan banyak perhatian dari para guru" ucap donatur


Gisel merasa tak nyaman ketika salah satu donatur yang berdiri bersamanya menceritaka tentang dirinya.


"Lihatlah mereka adalah para guru yang mengajar kelas mereka". Ujar pembawa acara mengarah ke arah para guru yang duduk disana termasuk Marcel dan lea diantara guru guru.


Spontan para reporter yang diundang memotret kearah para guru.


Banyak jepretan kamera mengarah ke mereka. Lea yang merasa menjadi pusat perhatian menjadi gugup.


"Kenapa semuanya melihat kearah kita?" Tanya lea kepada Marcel yang duduk di sebelahnya.


"Bagaimana caranya?" Tanya lea grogi karena terus di potret


"Lihat kedepan ! Jangan melirik ! Pikirkan saat menindasku". Ujar Marcel menyarankan


"Kapan aku menindasmu?" Tanya lea bingung. Seketika lea teringat kejadian ketika dia pulang dari panti lalu bertemu temannya mira mengaku Marcel adalah pacarnya lalu berpura pura sebagai istrinya yang mengetahui suaminya mencoba berselingkuh. Lea tertawa mengingat moment itu.Baginya itu moment yang lucu bisa menjahili Marcel.


Acara telah usai mereka yang hadir satu persatu meninggalkan tempat itu menyisakan beberapa yang masih di sana. Gisel masih duduk di depan panggung dengan wajah yang ditekuk sambil memangku hadiah yang diberikan pihak penyelenggara sebagai bentuk apresiasi dan semangat untuknya.


Lea menghampiri gisel dan mensejajarkan posisinya.


"Gisel pasti sangat lelah". Ujar lea menyentuh tangan gisel " tapi hari ini kau hebat" pujia lea


"Kau mempertunjukan nyanyianmu, kau tahu? Guru Marcel terus bertepuk tangan untukmu" ujar lea menceritakan betapa Marcel sangat mendukungnya


"Terimakasih guru" sahut gisel " Dimana guru Marcel sekarang?" Tanya gisel


Apa guru Marcel sudah pergi?" Tanya gisel dengan nada sendu

__ADS_1


Mendapat pertanyaan beruntut lea terdiam sendu tidak bisa menjawabnya karena dia tahu bahwa Marcel sudah pergi terlebih dahulu  tanpa berkata apa apa ketika donatur berpidato menjelaskan kemalangan gisel. Tak lama guru Anwar datang bersama rekannya.


"Gisel,kita sudah harus pergi !" Ujar guru Anwar


"Lea, ini hari yang panjang kau pulanglah lebih awal !" Ujar guru Anwar pada lea untuk bergegas pulang


"Baiklah". Sahut lea


"Gisel,sampai jumpa besok" pamit lea pada gisel


"Sampai jumpa guru lea". Sahut lea


Lea menyerahkan gisel kepada gutu Anwar lalu dia pergi dari sana menuju ke sekolah. Sesampainya disana terdengar dentingan piano dari ruang musik. Lea menghampiri ruang musik dan mendapati Marcel yang duduk di sana sambil memainkan piano.


Lea terdiam di depan pintu mengamati Marcel.


"Ini seperti lagu sedih. Tapi orang di hadapanku ini membuatku ingin memeluknya. Dia pergi tanpa bilang apa apa,aku merasa hanya sifatnya yang agak aneh. Banyak hal yang tidak dikatakannya tapi dia hanya seorang Marcel yang berhati lembut" gumam lea dalam hati memikirkan sikap Marcel yang menurut dia sedikit aneh


Lea menghampiri dan duduk di sampingnya.Marcel menghakhiri permainannya dan merasakan seseorang di sampingnya.


"Ini aku". Ujar lea memberitahukan keberdaannya


"Aku tahu". Sahut Marcel


Lea menghela nafas panjang dia bimbang harus berkata apa tetang pertunjukan tadi yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi tak nyaman bagi Gisel.


"Kau benar, aku yang terlalu naif. Aku tak boleh bertanggung jawab atas hasil yang di hadapi gisel. Seperti hari ini aku mengira ini kegiatan yang menyenangkan. Tapi aku juga tak terpikir apa ada cara atau apa yang harus kulakukan". Ujar lea sedikit menyesal karean dia bersemangat ketika gisel tampil


"Orang orang itu mengira mereka berbuat baik tentu saja aku tidak menyangkalanya. Mereka tak paham apa yang dibutuh kan anak anak atau mereka bukan tak paham tapi tak pernah berusaha memahami. Didepan anak anak tak henti hentinya mengulang tentang disabilitas, penelantaran,yatim piatu. Mereka diingatkan dan ditekankan terus bahwa mereka tak sama dengan orang lain". Jelas Marcel menceritakan orang orang yang selalu memandang sebelah mata  kepada anak anak disabilitas.


Lea menatap sedih mendengar penuturan Marcel. Marcel paham akan itu karean diapun ada di posisi mereka.


"Tapi penyandang disabilat hanya kekurangan fisik hanya berbeda dengan orang lain. Yang kami inginkan bukan rasa iba melainkan keadilan".


"Kalau begitu kau..?" Ucap lea tidak melanjutkan karena takut menyakiti Marcel


"Tak apa,itu sudah berlalu". Sahut Marcel


Marcel lalu melanjutkan memainkan piano ditemani oleh lea disampingnya yang masih menatap sedih dengan mata merah akibat meneteskan air mata.


***

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya...🙂🙂🙂


__ADS_2