Jatuh Cinta Pada Tuan Buta

Jatuh Cinta Pada Tuan Buta
KRITIS


__ADS_3

Marcel terus menghubungi lea tetapi panggilan tidak ada jawaban. Entah sudah berapa puluh atau bahkan ratusan kali dia meneleponnya dan mengirim pesan namun panggilan tidak tersambung dan pesannya tidak di balas. Marcel nampak termenung memikirkan bagaimana cara menghubunginya, ingin menemui lea tetapi dia tidak memilik alamat rumahnya bahkan dia tidak tahu ibunya di rawat di rumah sakit mana.


"Marcel !" Suara Doni memanggil tergesa gesa menghampiri Marcel yang berdiri di depan jendela sambil memegang ponselnya.


"Ikut denganku ! Ayahmu sekarat.Kau harus bertemu dengannya untuk terakhir kalinya" Ujarnya memaksa sambil menarik tangan Marcel mengikuti dirinya


Marcel tersentak tangannya di tarik Doni sampai ponsel terjatuh,dia terus di tarik oleh Doni menuju rumah sakit tempat Ayahnya di tangani.


Sesampainya di rumah sakit, Marcel memasuki kamar rawat Ayahnya. Terdengan suara monitor detak jantung dan beberpa orang di sana seperti dokter dan perawat yang melakukan tindakan.


"Lakukan RJP !" Ujar Dokter


"Kita siap !"


Marcel hanya mampu mendengar suara monitor dan suara hembusan nafas dari seseorang yang sedang melakukan RJP kepada pasiesn. Marcel nampak gelisah dan khawatir dengan kondisi ayahnya.Meski dia membencinya tetapi didalam hatinya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada ayahnya.


Di samping Marcel ada Doni mendampinya. Doni juga tidak kalah khawatir melihat kondisi orang yang sudah di anggap orang tuanya.


Datang seorang perawat sampil mendorong meja berisi defribrilator


alat pemacu jantung lalu mereka mempersiapkan semuanya bersiap untuk memacu jantung Adam yang menghilang.


"Siap 100 joule" perintah dokter


"100 joule" sahut perawat


Lalu alat pemicu jantung di letakan di dada Adam.


"Dugh" suara hentakan tubuh Adam melambung ketas lalu turun kebawah. Dokter menoleh kearah monitor belum ada respon dari jantung adam


"Naikan 125 joule"perintahnya lagi


"125 joule" jawab perawat menaikan kadar listrik di alat pemicu jantung


"Dugh"

__ADS_1


Tetap tidak ada respon dari jantung Adam. Dokter nampak gelisah tetapi dia akan memcobanya lagi.


Marcel memundurkan langkahnya dia nampak melemas mengetahui kondisi ayahnya di dalam


***


Marcel yang sedang duduk di ruang tunggu terlihat lemah sepertinya di syok ketika melihat kondisinya ayahnya. Dia menolak untuk makan dan minum bahkan menjauhkan diri. Doni mengghampiri dan duduk di sampingnya.


"Marcel, kau tidak bisa terus seperti ini" ujar Doni


Tidak ada sahut dari Marcel, tiba tiba tubuh Marcel ambruk jatuh pingsan.


"Marcel " panggil Doni memgguncang tubuh Marcel


"Marcel ! Marcel !" Panggilnya lagi dwnga suara keras


Tidak ada respon, Doni memanggil perawat


"Suster !" Teriak Doni


Perawat menghampinya lalu membawa Marcel untuk di tangani.


"Ibu kau segera pulih. Nanti jika ibu sudah pulih kita akan pergi menjengung ayah. Sudah lama kita tidak menemui ayah"


Sela mengangguk tersenyum sambil membelai kepala lea. Ponsel lea berdering, lea keluar dari ruang rawat lalu mengangkat panggilan dari Doni.


"Hallo" ujar lea


"Hallo lea, ibumu apakah sudah membaik?"


"Kondisi ibuku stabil. Dia masih harus di rawat di rumah sakit. Ada apa?"Tanya lea


Terdengar Doni nampak ragu untuk mengutarakan niatnya.


"Bisakah kau kembali? Tuan Adam hampir meninggal dua hari yang lalu. Dia di hidupkan kembali tapi keadaannya masih tidak baik. Aku khawatir Marcel tidak bisa menerimanya"

__ADS_1


"Ka Doni, tenaglah ! Bicara perlahan" ujar lea menengkan Doni "apa yang terjadi?"


"Tuan Adam sedang mencari pendonor untuk transflatasi hati. Kondisinya baik baik saja belum lama ini.Namun kondisinya memburuk tiba tiba. Marcel_"


"Ada apa dengan Marcel?" Tanya lea khawatir


"Dia duduk di luar ruangan rawat tidak mau makan atau berbicara, dia mengabaikan semua orang. Pada akhirnya,dia pingsan. Dia sekarang di infus. Tak satupun dari kami yang bisa menanganinya. Mau kah kau kembali menemuinya?"


"Baiklah" sahut lea lalu dia masuk keruangan ibunya sedang di suapi Sarah. Lea nampak ragu untuk meminta izin pergi.


Sela menoleh ke arah Lea seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Ada apa lea?" Tanya Sela kepada putrinya seperti ingin mengatakan sesuatu.


Lea memilin bajunya "Aku_" dia ragu untuk mengatakannya. Ibunya membutuhkannya disisi lain juga khawatir dengan kondisi Marcel.


" Kamu ingin menemui Marcel? Pergilah ! Aku baik baik saja, di sini juga ada Sarah yang akan menemani" ujar Sela


"Tapi ibu_" Nampak ragu


"Jika kamu mengkhawatirkannya, sebaiknya kau pergi menemuinya" timpal Sarah


Diangguki oleh Sela membenarkan ucapan Sarah. Melihat ibu dan bibinya mengizinkan lea berjalan mendekat memeluk ibunya.


"Ibu, aku akan segera kembali setelah melihat kondisinya" ucap Lea


"Hati hati dijalan" Sahut Ibu sambil tersenyum


Lea menoleh ke arah Sarah "Aku titip ibu bi"


"Ya, pergilah !" Sahut Sarah


Lea mengambil tasnya lalu menyampirkan di punggungnya. Dia pergi meninggalkan ibu dan bibinya di rumah sakit.


Dia menaiki taxi menuju ke sana. Dia nampak gelisah,di satu sisi sedikit berat meninggalkan ibunya meski ada bibinya yang menjaganya di sisi lain khawatir dengan kondisi Marcel. Dia mengeluarkan ponselnya dan memutar lagu untuk menemani perjalannnya.

__ADS_1


Lea mengenang setiap waktu kebersamaannya bersama Marcel. Ada kerinduan di dalam hatinya, maklum saja selama seminggu ini dia fokus dengan ibunya tidak menghiraukan apa pun. Bahkan ponselnya pun dia abaikan sampai begitu banyak panggilan dan pesan yang masuk.


***


__ADS_2