Jatuh Cinta Pada Tuan Buta

Jatuh Cinta Pada Tuan Buta
KOTAK HADIAH


__ADS_3

Marcel memegang sebuah kotak hadiah yang akan diberikan kepada lea. Lea yang baru datang berjalan pelan pelan menghampiri marcel niatnya ingin mengejutkannya.


"Dooor" teriak lea mengejutkan Marcel


Marcel memutar badannya menghadap lea lalu membuka kotak hadiah yang di pegangnya dan menunjukan ke hadapan lea.


"Doni meminta seseorang untuk memperbaikinya" ujar Marcel menunjukan jam tanganyanya yang sempet rusak sekarang sudah diperbaiki


Lea tercengang meliahat jam itu.


"Ini menjadi miliku sekarang" jawab lea mengambil jam tangan ditangan Marcel dan memasangkannya di lengannya


Marcel tersenyum mendengar lea senang menerima pemberiannya meski bukan jam baru tapi itu adalah jam kesayangannya yang sudah di perbaiki dan sekarang sudah berpindah tangan ke lea.Lea tersenyum memperhatikan jam di lengannya .


"Bukankah ini terlihat cantik?" Ujar lea sambil menunjukan jam yang terpasang di tangannya.


Marcel meraba dan memyentuhnya "Sedikit kebesaran di tanganmu" ujar Marcel


"Sekarang sedang populer wanita memakai jam tangan pria. Sangat keren" puji lea


"Baguslah,kalau kau menyukainya"sahut Marcel tersenyum.


"Lea sepertinya aku tidak pernah serius menanyakannya padamu. Sebenarnya kau keberatan atau tidak dengan kebutaanku?" Tanya Marcel


Lea menghela nafas mendengar pertanyaan Marcel dia tersenyum mencoba meyakinkan Marcel sambil menyentuk kedua pipinya dan mendekatkan dahinya ke dahi Marcel


"Aku malah iri padamu karena kau memiliki sepasang mata yang indah yang tidak perlu melihat hal hal yang tidak harus di lihat. Aku sangat menyukai matamu". Jawab lea mencium mata Marcel


Marcel bahagia mendengar jawaban lea.


"Marcel, sepertinya aku juga belum bertanya dengan serius


Marcel menghampiri pianonya dan duduk di sana di ikuti lea duduk di sana.


"Baiklah, sekarang waktunya kita bermain piano".ujar lea sambil mengangkat tangannya tinggi tinggi siap menerjang tut pianot


"Teeeettt"

__ADS_1


Marcel tercengang mengetahui lea menekan tut piano pakai tenaganya sehingga menimbulkan suara bantingan dari tut piano. Lea lalu menekan tut piano asal asalan sehingga nada yang di keluarkan tidak karuan. Marcel merasa miris dengan piano kesayangannya dimainnkan dengan kasar.


"Lea!" Panggil Marcel "tunggu sebentar" sambil meraih tangan lea yang menekan tut piano agar berhenti. Lea menoleh kearah Marcel.


"Jika kau bermain seperti ini ritmenya akan salah" ujar Marcel lalu merangkul pinggang lea agar semakin mendekat dan meraih tangan lea menuntunnya." Bukankah aku sudah mengajarimu. Jari jarimu harus seperti memegang telur"


Lalu lea mengikuti intruksi dari Marcel menekam tut piano di tuntun oleh Marcel


Tun


"Tunggu!" Menghentikan main piano lalu menoleh ke arah Marcel "Bagi orang biasa butuh waktu berapa lama untuk bisa main piano? Tanya Lea


"Setiap orang memiliki keahlian berbeda. Ada yang tiga tahun. Ada yang bisa dalam beberapa hari" Jawab Marcel


"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya lea


"Itu sulit di jelaskan"sahut Marcel enggan menjawab


"Kalau begitu, aku tak mau belajar" kesal lea cemberut karena tidak mendapatkan jawaban dari Marcel "Terutama tampaknya menyakitkan bagi yang mengajar" sindir lea


Lea masih cemberut kesal


"Awalnya aku ingin di kelas terakhir bisa menunjukan kepafa murid murid. Lalu mengucapkan selamat tinggal yang indah dengan mereka. Namun mereka sepertinya tak memiliki kesempatan ini" ucap lea sambil menekan tut piano asal asalan.


Tut tut tut


Marcel meringis mendengar ritme piano asal asalan.


***


" Hari ini adalah kelas terkhir aku mengajar di sini,tentu saja akubakan ikut tamasya besok. Nantinya aku juga akan sering datanh mengunjungi kalian. Tariama kasih. Bersama dengan kalian benar benar menyenangkan". Ucap perpisahan dari lea di depan murid murid.


"Terimakasih guru lea". Sahut murid murid serempak lalu membungkukan badan sebagai rasa hormat sekaligus salam perpisahan. Lea membalas salam hormat merekadengan membungkukan badannya. Dia menghela nafas,sedih karena harus berpisah dengan muridnya.


Lea berlari keluar dari sekolah menghampiri Marcel yang menunggu di sana. Dia menepuk bahu Marcel berniat mengusilinya malah dia yang mendapat toyoran dari Marcel.


"Kau tidak merasa sedih?" Tanya Marcel ketika lea menghampirinya dengan wajah sedihnya."Kupikir kau akan..." ucap Marcel terputus

__ADS_1


"Aku bukannya takkan melihat mereka lagi.Bukankah besok kami akan bertamasya bersama?"


Marcel tersenyum mengetahui lea baik baik saja. Lalu mereka berjalan berdua keluar dari sekolah.


"Dimana Doni? Dia belum kesini?"tanya lea melihat mencari keberadaan Doni


"Dia ada urusan" sahut Marcel


"Oh,begitu. Ayo kita pulang naik taxi saja" ajak lea


Marcel menghentikan langkahnya.


"Bagaimana kalau kita naik bus saja?"


Lea tercengang mendengar ajakan Marcel.Lea memdekat memperhatikan reaksi Marcel.


"Oooh,jadi kau ingin naik bus bersamaku. Naik bus sama sekali tidak menarik" ujarnya. Lalu menggenggam tangan Marcel.


"Kita jalan bersama saja. Begitulah cara orang tuaku berpacaran" jelas lea. Lalu mereka berjalan sambil bergandengan tangan.Lea merasa ada suara mencoba menyenderkan kepalanya di bahu Marcel memperjelas suara itu berasal dari bibir Marcel.


"Marcel,kau bersenandung?" Tanya lea


"Tidak"elak Marcel


"Jelas jelas aku mendengarnya. Suaramu indah sekali". Puji lea senang


"Karena aku tidak pernah keluar dari nada".


"Kalau begitu kau bisa menyanyikan lagu yang kau tulis"


"Tidak mau". Tolak Marcel


"Bernyanyilah untukku". Ujar Lea memohon bergelayutan di tangan Marcel


"Tidak mau". Tolak Marcel lagi


"Bernyanyilah untukku,oke?" Bujuk lea manja.

__ADS_1


__ADS_2