
"Ini hari yang melelahkan" ujar lea berbaring di pangkuan Marcel berleha leha sambil membaca buku
"Jika kau lelah,berhentilah membaca. Itu tidak baik untu matamu" sahut Marcel menyingkirkan buku yang di baca lea
"Aku tidak sedang membaca.ini komik"
"Komik apa?"
"Komik horor" sahut lea melirik kearah Marcel lalu bangun dari pangkua " Aku akan menceritakannya" meminta persetujuan Marcel. Marcel mengangguk kepala membiarkan lea untuk bercerita.Lalu lea membuka komiknya.
"Disebuah desa,segerombolan warganya berubah menjadi zombie . Ada warga yang tersembunyi di dalam ruang bawah tanah untuk meyelamatkan diri.Namun karena sebuah gigitan dari salah satu warga yang terinfeksi semua warga yang mencoba menyelamatkan diri mengalami deformasi yang aneh" tiba tiba ada suara petir menyambar membuat lea tegang dan merapatkan diri kepada Marcel. Lea merasa ketakutan dia melihat kesana kemari memperhatikan setiap sudut rumah.
"Apakah ada gudang di rumah ini?" Tanya lea menoleh ke arah Marcel
"Aku tak tahu" sahut Marcel biasa saja
"Lalu apa yang kau ketahui?"
"Yang aku tahu" menoleh ke lea "Hanya kita berdua di rumah ini. Dan sepertinya ada suata yang datang dari sebelah" ujar Marcel berniat menjahili lea yang merasa tegang karena ketakutan. Lalu lea menoleh kebelakang takut apa yang di bicarakan Marcel benar terjadi. Marcel tertawa melihat ketakutan lea dia berhasil mengerjainya. Lea yang merasa dikerjai Marcel dia tersenyum licik untuk membalasa mengerjainya.
"Tahukah kau ada sosok bayangan lewat di luar jendela?"
Marcel pura pura tegang "Apakah dia sengaja begitu agar kau akan menyadarinya?" Tiba tiba mati lampu diiringi kilatan petir menambah suasana horor.
__ADS_1
"Ah...ah..." teriak Lea semakin tegang dan semakin mngeratkan pelukannya. Marcel hanya tersenyum dengan tingkah lea. Baginya ketika lea takut terasa lucu.
"Apakah kau mematikan lampu?" Tanya lea
"Aku tidak bergerak sama sekali. Lagi pula lampu tidak di kemdalikan dengan kendali jarak jauh"
"Apa? Aku..."
"Aku pikir gendang telinganku akan sensitif. Bagaimana kalau kau berteriak setelah aku keluar?"ujar Marcel berdiri hendak keluar memeriksa saklar lampu.
"Apa? Tidak...." sahut lea ketakutan lalu menarik tangan Marcel agar tidak meninggalkannya seorang diri
"Tidak. Kau tak bisa meninggalkanku sendiri disini"
"Bagaimana kau tahu?" Tanya lea karena Marcel buta bagaimana dia bisa mengetahu bahwa listrik mati
"Tidak ada suara lemari es, AC tidak bekerja. Semua orang normal bisa mengetahuinya"
Lea mencubit paha Marcel "Apakah menurutmu aku tidak normal?" Gerutu lea
"Kau hanya penakut" sahut Marcel kembali memeluk lea "Aku hanya mengalihkan perhatianmu. Dalam ilmu pisikologi ini disebut transference"
"Hmmm.kau benar benar tidak memenuhi syarat untuk menjadi pisikologi profesional. Kita tidak akan menyebutkan metode sebelum perawatan"
__ADS_1
"Jam berapa sekarang?"tanya lea
Lalu Marcel meraba jam tangannya " jam 21.00"
"Kau sangat menyukai jam tangan ini. Bagaimana dengan hadiahku?"
"Lumayan. Kau sabar sekali" puji Marcel
"Akhirnya kau menyadari kekuatanku" sambil mencolek hidung Marcel
"Kau masih memiliki banyak kekuatan" bisik Marcel menggoda
Lea membernkan posisi duduknya "contohnya?"
Marcel mencubit bibir lea"Ini adalah tempat yang luar biasa untuk berciuman" ujar Marcel menggoda
"Apa yang kau lakukan?" Tanya lea dengan suara kecil karena bibir di cubit Marcel. Lalu Marcel mendekatkan wajahnya dan Mencium lea seketika lampu kembali menyala membuat lea melepaskan tautan bibirnya terkejut lalu kembali menatap Marcel
"Lea ! Mari kita menikah" ucap Marcel memdadak
Lea tersentak kaget mendengar pernyataan lamaran Marcel yang mendadak.
"Kau tidak perli mengambil keputusan sekarang. Kuangkan waktumu dan pikirkanlah" ujar Marcel takut lamarannya yang mendadak membebani lea
__ADS_1
Lea tersenyum bahagia tidak bisa berkata apa apa hanya memeluk Marcel.