
Adam terbaring di ranjang pasien. Dia bersiap untuk di bawa ke ruang operasi oleh dokter. Marcel, Doni, Siska dan Leon menunggu di sana. Tidak ada Satu orang pun yang berbicara. Marcel sudah terlalu malas jika harus berdebat dengan ibu dan saudar tirinya.
Marcel menyentuh tangan Adam untuk memberi dukukan kepadanya. Bahwa dirinya ada di waktu sulit saat ini.
"Tolong jangan khawatir, kami akan melakukan yang terbaik" ucap dokter lalu mereka mebawa tubuh Adam untuk masuk ruang operasi.Marcel berat melepaskan genggamannya tapi ayahnya harus segera di operasi.
Pintu ruang operasi tertutup. Mereka semua menunggu di sana dengan cemas.
***
Lea merasa frustasi karena pertengkarannya tadi dengan Marcel. Dia pergi kerumah Vani untuk menenangkan diri. Tidak mungkin dia pulang menemui ibunya dengan kondisi sekacau ini.
Lea menekan bel rumah Vani dan di bukakan oleh penjaga sana dan mempersilahkannya masuk karena sudah mengenal Lea. Lea masuk ke rumah itu dan secara kebetulan Vani hendak keluar. Dia langsung memeluk Vani.
"Hei, ada apa?" Tanya Vani keheranan lea tiba tiba memeluknya. Lea hanya diam tidak mengatakan apa apa.Vani mengusap punggung lea yang sedang terisak.
"Sudah, sudah. Sekarang masuk dulu !" Ajak Vani melepaskan pelukan dan membawa lea ke kamarnya. Vani membiarkan lea tinggal di kamarnya semenatar dia pergi ke bawah untuk mengambilkan minuman untuk di berikan kepada lea. Setelah mengambil minuman , vani kembali ke kamar. Dia melihat lea tampak lesu dengan wajah sembabnya. Mungkin karena banyak menangis.
"Ini minum dulu ! Agar lebih tenang" ucap Vani menyodorkan minuman ke hadapan lea.
Lea menatap vani lalu menerima minumannya. Dia meminumnya secara perlahan. Vani tidak banyak bertanya, pergi membiarkan lea untuk menenangkan diri.
Ponsel lea terus berdering. Panggilan dari ibunya dan Marcel secara bergantian masuk ke ponsel lea. Lea tidak bergeming sedikitpun tidak berniat untuk mengangkatnya. Karena merasa terganggu akhirnya di matikan ponselnya. Dia memilih tidur di kasur vani untuk menenangkan diri.
***
__ADS_1
Marcel dan Doni sedang menunggu di depan ruang operasi. Operasi Adam sudah berjalan sejak 5 jam yang lalu. Tak sedikitpun Marcel beranjak dari sana. Dia cemas mengkhawatirkan kondisi ayahnya. Leon dan Siska sudah kembali ke rumah. Mungkin terlalu malas harus menunggu di rumah sakit.
Dokter keluar dari ruang operasi.
"Dokter, bagaimana kondisinya?" Tanya Marcel
"Operasinya sukses, namun pasien perlu di observasi untuk beberapa waktu. Setelah memastikan semuanya baik baik saja, dia akan di kirim ke ruang ICU " ucap Dokter
"Terimakasih dokter" ucap Marcel lega mengetahui kondisi ayahnya.
"Marcel, kau tidak_" ucap Doni ingin memberitahukan apakah dia berniat mencari lea. Kondisi ayahnya sudah baik baik saja sekarang jadi tidak khawatir untuk meninggalkannya
"Doni, setelah ayahku di pindahkan ke ICU, bisa tolong antar aku untuk bertemu dengan lea ?"
"Baiklah" jawab Donil
Ke esok harinya lea bangun dengan mata yang bengkak.
"Lea kau sudah bangun?" Ucap Vani sambil membawa sarapan dan meletakannya di meja samping.
Lalu dia duduk di samping lea. " Aku tahu pasti kau sedang ada masalah, tapi kau juga harus memikirkan dirimu. Kau belum makan sejak semalam. Sekarang kau harus makan sarapan yang aku bawa" bujuk Vani sambil mengambil sarapan yang tadi di bawanya lalu menyerahkan kepada lea
"Terimakasih vani" sahut lea menerima srapan itu lalu memakannya.
Vani tetap setia menunggu lea selesai memakan sarapannya. Merasa sudah cukup, lea menyudahi makannya. Tidak terlalu banyak dia memakannya. Mungkin karena kurang nafsu.
__ADS_1
"Vani, aku sudah putus dengan Marcel"
Vani terkejut mendengar kabar lea sudah selesai dengan Marcel. Dia tentu tahu bagaimana perjuangan lea untuk mendekati Marcel.
"Kenapa?"Tanya Vani, namun dia melihat lea nampak enggan untuk menceritakan detailnya." Baiklah, jika kau belum mau bercerita. Kapanpun kau ingin bercerita, aku akan siap mendengarnya"
Lea menganggukan kepalanya lalu menghembuskan nafasnya "Sekarang aku akan pulang, ibuku pasti khawatir menungguku"
"Baiklah, kau hati hati di jalan" ucap Vani
Lea menganguk kepala lalu mengambil tasnya " terimakasih, sudah mengijinkan aku menginap di sini. Sampai jumpa" pamit lea sambil melambaikan tangan dibalas lambaian tangan dari vani.
Lea akan keluar dari gerbang rumah vani secara kebetulan Marcel sedang berdiri hendak masuk kerumah Vani untuk menanyakan keberadaan lea.
"Lea !" Panggil Doni
Marcel menoleh kearah datangnya lea yang akan keluar.
"Lea !" Panggil Marcel lalu mendekat ke Lea
Lea berbalik menghadap Marcel, dia mengambil nafas.
"Kebetulan sekali, Marcel" dengan suara parau Ada kemarahan dan kekecewaan dari wajahnya.
"Ini bukan kebetulan, aku di sini ingin menyakan keberadaanmu kepada vani" sahut Marcel "Aku salah,aku minta maaf untuk itu" mencoba meraih tangan lea
__ADS_1
Lea menghempaskan tangan Marcel "Tidak peduli betapa menyesalnya seseorang, tidak ada kata kembali"Marcel, aku tidak ingin melihatmu untuk sisa hidupku" ucap lea kecewa lalu pergi meninggalkan Marcel yang berdiri diam. Marcel mencoba meraih tangan lea untuk menahannya namun tangannya tak sanggup menggapainya