Jatuh Cinta Pada Tuan Buta

Jatuh Cinta Pada Tuan Buta
BERTENGKAR


__ADS_3

Siska menghampir Marcel yang sedang duduk di kasurnya.


"Nampaknya kau sudah membaik"


Marcel menoleh sekilas lalu kembali keposisi awal "Ada apa kamu kesini?" Tanya Marcel datar "Ingin mengejekku?"


Siska mendesis "Ck. Kemana saja kamu selama ini tidak peduli dengan ayahmu. Di saat seperti ini baru datang. Apa kamu ingin mendapatkan simpati darinya? Agar mendapatkan hak waris?" Cecarnya


Marcel tercengang mendengar penuturan siska dia monoleh menatap tajam "Apa kamu khawatir jika Ayah mewariskan semuanya padaku?" Sarkah Marcel


"Itu semua tidak akan terjadi" Siska mendekat "Selama ini Leon yang sudah mengurus semua bisnis ayahmu. Kamu meninggalkannya begitu saja. Menurutmu apa yang akan terjadi dwngan ayahmu?" Bisik Siska tepat samping telingan Marcel


Marcel mendorong siska hingga membentur sofa "Jangan coba coba dengan ayahku. Jika kamu bermaksud mencelakinya demi mendapatkan hak waris itu semua tidak akan terjadi. Aku akan menghalangi niat kalian"


Dari luar kamar terlihat lea menuju ke kamar inap Marcel. Siska yang melihat itu menyeringai, dia berniat membuat kesalapahaman untuk mereka.


"Marcel, kamu harus meminta maaf kepada lea."


"Maaf ? Dari mana kamu tahu?" Berpikir dari mana siska mengetahui pertengkarannya denga lea.


"Aaah...jadi leon yang menceritakannya?"


"Ya, aku menuduhnya bahwa dia menipuku untuk pulang dengan alasan sakit. Aku salah. Aku sadar aku hanya beban untuk kalian dan untuk dirinya"


Siska tersenyum menyeringai Marcel masuk kedalam jebakannya " Marcel, bagaimana bisa _" Lalu siska memberitahukan keberadaan Lea

__ADS_1


"Nona Lea sudah datang. Bicaralah dengan benar" pergi meninggalkan Marcel begitu melewati lea dia hanya tersenyum sinis.


Lea yang mendengar pembicaraan tadi menahan amarahnya nafasnya terasa berat tangan terkepal.


"Mengapa kamu kesini?" Tanya Marcel datar tanpa menoleh ke arah lea


Lea mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya, dia berjalan mendekati Marcel " Doni bilang, kamu menolak untuk makan. Kamu juga mengabaikan semua orang. Dia menyuruhku untuk melihatmu"


"Ooh, kau benar benar sesuatu. Kenapa kau yakin kalau aku akan mendengarkanmu?" Sarkah Marcel


Dia yang rela meinggalkan ibunya yang di rawat demi menemui Marcel tapi menadapat balasan seperti ini.Lea terlihat kecewa dengan sikap acuh Marcel.


"Ha...ha..ha"  menertawakan dirinya sendiri


Marcel menoleh "Mengapa kau tertawa?"


"Ibuku sakit, aku pulang untuk merawatnya. Aku khawatir. Aku kesulitan.Aku lelah" Isak lea


"Begitu banyak hari berlalu, kau bahkan tak neleponku. Aku bersusah payah untuk pergi kesini untuk menemuimu. Lalu apa? Kau malah mengkritik keras padaku. Aku benar tidak tahu mengapa aku kembali. Aku pikir kau juga mencintaiku. Itu sebabnya aku tahan dengan sikapmu yang menyulitkan. Sekarang aku menyadari kau hanya mencintai dirimu sendiri" lea sudah tidak tahan setelah mengatakan perasaan ya dia pergi meninggalkan Marcel yang hanya diam membisu. Tapi dalam hatinya dia juga marah memcerna setiap perkataan lea jika dipikir saksa ada benarnya. Mungkin Marcel marah pada dirinya sendiri yang kurang memahami kondisi lea.


Lea terus berjalan keluar dari ruangan menuju lift, sepanjang perjalannan air matanya menetes sesekali menghapus air matanya nampak kesedihan di wajahnya. Dia kecewa dengan sikap Marcel yang kurang peduli dengan dirinya. Di dalam lift lea mengatur nafasnya agar tangisannya segera reda. Terdengar dering ponsel


"Drrrt...drrrtt...drrrt"


"Ya bu"

__ADS_1


"Kamu sudah bertemu dengan Marcel?"


"Hmmm" jawab lea


"Ada apa?apa terjadi sesuatu?" Tanya Sela khawatir seperti mendengar isakan tangis


"Tidak terjadi apa apa bu. Jika tidak ada hal penting aku tutup dulu bu. Aku ada hal penting yang harus di lakukan" ujar lea agar ibunya tidak terus bertanya


"Nanti aku akan menghubungimu lagi" memutuskan panggilan. Lea tidak ingin ibunya mengetahui kesedihannya takut kondisi ibunya drop.


Marcel melepas paksa selang infusnya lalu berlari keluar berniat mengejar lea berharap masih ada kesempatan untuknya untuk memperbaiki semuanya.


Marcel berjalan sambil meraba dinding. Dia menelisik keberadaan lea.


"Lea...!" Teriaknya sambil terus berjalan


"Lea...!" Sambil menekan tombol lift


Doni yang baru datang menghampiri Marcel "Ada apa Marcel?"


"Apa kau melihat lea?"


"Tidak" sahut Doni


Marcel mencoba memukul paksa pintu lift "Aku ingin menemuinya"

__ADS_1


"Aku akan mencarinya. Kai tunggu saja di sini !" Mencoba menenangkan Marcel "Ayahmu akan segera menjalankan operasi"


Marcel menghela nafas tidak bisa berbuat apa apa. Dia bimbang untuk memilih mengejar lea atau tetap menemani ayahnya yang akan menjalankan operasi. Pada akhirnya kondisi yang membuat dia tidak berdaya.


__ADS_2