
Begitu sampai rumah sakit lea bergegas menghampiri kamar pasien dimana ibunya tempati. Dia melihat kondisi ibunya yang sedang tertidur lalu mendekat dan duduk di kursi samping ranjang pasien. Lea meraih tangan ibunya dengan wajah sedih ada setitik air mata jatuh di wajah lea ketika melihat kondisi ibunya terbaring lemah.
Ibunya mulai siuman merasa ada yang menyentuh tangannya lalu menoleh kearah lea.
"Ibu" lirih lea "Berhenti bergerak !"
"K..au su..udah datang" ucap Sela terbata bata
Lea mengangguk sedih melihat kondisi ibunya.
"Aku minta maaf ibu, melupakanmu bahwa kau sedang sakit" ujar Lea menyesal. Dia memang fokus merawat Marcel sebagai balasan akan kebaikan dari Adam yang mau menanggung biaya operasi Ibunya. Dia berpikir karena jadwal operasinya adalah bulan depan maka dia fokus kepada Marcel. Dia tidak berpikir akan ada kejadian seperti ini.
"Gadis bodoh. Kamu tidak perlu meminta maaf. Ibu mengerti mengapa kamu fokus merawat Marcel sebagai balasan akan kebaikan Tuan Adam kepada kita. Aku baik baik saja" ucap Sela agar lea tidak menyalahkan dirinya sendiri
Lea mencoba tersenyum di depan ibunya meski hatinya merasa bersalah dan sedih.
"Bagaimana keadaan Marcel jika kamu meninggalkannya?"
"Marcel akan baik baik saja bu. Akan ada orang yang menjaganya" Sahut Lea
"Kamu menyukainya?kapan kamu mau membawanya untuk memperkenalakn kepada ibu?"
Lea menunduk nampak ragu untuk menceritakan tentang hubungannya dengan Marcel yang sedang tidak baik baik saja. Lalu lea kembali menatap Ibunya yang berharap lea memberikan kabar baik soal hubungannya.
"Ibu, apakah kau tidak keberatan jika pasanganku memiliki gangguan penglihatan dan kehidupan keluarganya yang rumit?" Tanya Lea ragu ragu ingin melihat reaksi ibunya.
__ADS_1
"Selama kamu bahagia. Ibu akan selalu mendukungmu. Itulah satu satunya yang penting. Tidak hal lain yang penting. Aku mengenal putriku dengan baik. Kau begitu keras melakukann sesuatu yang kau sukai tetapi bukan sesuatu yang kau sukai. Kau ingin mencintai tetapi bukan untuk di cintai. Tapi kau harus berjanji untuk menjaga diri sendiri. Aku tidak meminta yang lain" Ucap Sela dengan suara begetar
Lea menganguk mendengar nasehat ibunya lalu mengengam erat tangan ibunya sebagai bentuk dukungan bahwa semuanya akan baik baik saja.
Datang orang perawat menghampiri lea dan ibunya di ikuti bibi Sarah di belakangnya.
"Maaf pasien akan kita bawa keruang operasi" ucap perawat sambil membawa ranjang pasien untuk memindahkan Sela ke ranjang pasie satunya.
Dua perawat secara bersamaan memindahkan tubuh Sela ke ranjang pasien lalu mendorongnya keluar dan membawanya menuju ruang operasi diikuti lea dan Sarah. Lea berada di siai ibunya sambil menggenggam erat tangan ibunya.
"Ibu harus kembali sehat dan kembali bersama kami. Di sana ibu jangan takut ya" ujar Lea meski dia takut tetapi dia bersikap tegar agar ibunya tidak melihat kehawatiran dirinya.
Sela menganggung paham akan kekhawatiran putrinya. Sela pun di bawa masuk kedalam ruangan operasi. Sementara Lea dan Sarah menunggu.
"Tuhan,semoga operasinya berjalan lancar" gumamnya
Melihat kekhawatiran lea, Sarah mendekat dan duduk di samping lea sambil mengelus bahunya.
"Tenaglah lea, Sela akan baik baik saja. Kau kenal ibumu dia wanita yang kuat" ujar Sarah
Lea menoleh kearah bibinya "Terimakasih bi, kau sudah merawat ibu ketika aku sibuk bekerja"
Sarah mengangguk sambil mengelus bahu lea.
***
__ADS_1
Ditempat lain, Marcel memainkan pianonya memikirkan pertengkarannya tadi dengan lea. Ada penyesalan di hatinya akan keras kepalany yang memaksa lea untuk menjelaskan dan tetap tinggal bersamanya.
Doni datang menghampiri Marcel yang sedang memainkan piano dengan malas tidak seperti biasanya.
"Ini ponsel barumu. Kau harus menelepon lea. Ibunya jatuh sakit, dia mengalami gagal ginjal dan harus segera di operasi. Kau harus tahu itu tidak ada orang tua yang akan mengunakan penyakit sebagai alasan untuk mengelabui anak anaknya untuk pulang" ucap Doni
"Aku ingin tahu apa maksud dengan lea mendekatiku karena uang?" Tanya Marcel menatap tajam ke Doni. Tentu Marcel tahu,Doni pasti mengetahui alasan itu karean dia juga bekerja dengan ayahnya.
Doni tercengang mendengar pertanyaan Marcel. Berarti Marcel sudah mengetahuinya. Mau tidak mau dia harus menjelaskannya agar permalsahan yang terjadi antar lea dan juga Marcel bisa di selsaikan.
Doni menarik nafas panjang mempersiapkan diri untuk menceritaka kebenarannya.
"Ya...mungkin awalnya memang benar. Ayahmu bertemu dengan lea di panti asuhan Bunda Kasih dia melihat sosok lea yang baik terhadap anak anak disabiliatas dia juga sangat dekat dengan gisel gadis kecil buta yang kau sukai di sekolah. Ayahmu berfikir lea mampu menjadi teman untuk dirimu sebagai pelipur lara untukmu dan melupakan insedan itu. Siapa sangka setelah menjalani masa pendekatan itu dia malah jatuh cinta kepadamu Marcel pria arogan dan dingin. Dia datang kekantor ayahmu dan mengakui persaannya. Dia berniat berhenti karena menurutnya dia melanggar aturan yang seharunya itu tidak terjadi. Tetapi ayahmu mencegahnya karena dia bisa melihat ada ketulusan dari setiap ucapan dan tatapan di matanya lea" ucap Doni panjang lebar
Marcel memejamkan matanya mencerna setiap ucapan Doni tentang cerita sesungguhnya.
"Lalu kenapa dia tidak menceritakan itu padaku?"
"Karena dia takut kehilanganmu. Dia sangan mencintaimu Marcel. Dia tidak memandang kekuranganmu"
"Aku tahu aku orang yang egois. Dimasa lalu aku tidak memikirkan itu. Jika aku tidak memiliki diri sendiri. Bisakah aku mengharapkan orang lain memikirkanku? Dia tidak ingin aku mengetahui tentang itu. Aku takut kelurganya tidak menerima kondisi ku. Aku bahkan melamarnya. Namun....sekarang....." memejamkan mata sambil menunduk nampak ada penyesalan dalam diri Marcel "Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan"
"Jika tidak mencobanya.bagaimana kau tahu bahwa kau diterima atau tidak"
Marcel membuka matanya dia berpikri benar apa yang ucapkan oleh Doni bagaimana dia bisa mengetahuinya jika tidak mencobanya.
__ADS_1