Jatuh Cinta Pada Tuan Buta

Jatuh Cinta Pada Tuan Buta
MENYUKAIMU


__ADS_3

Saat ini lea sedang menginap di rumah Vani. Dia memukul mukul boneka milik Vani.


"Kau ini seperti sudah hampir masuk tahap awal maniak. Mau periksa kerumah sakit?" Ujar Vani mengejek


"Untuk apa aku kerumah sakit,seharusnya dia yang pergi". Sahut lea kesal


"Menyebalkan. Kuberitahu, dia pasti sengaja berbuat itu. Kalau tidak kenapa menunggu begitu dekat dia baru bersuara?"


"Tentu demi membuatmu mengira tujuanmu tercapai dan melihatmu malu.


"Sungguh licik !" Gurutu lea


"Tapi...kalau begitu". Ujar lea membayangkan kejadian kemarin kemarin ketika mengambilkan buku Marcel yang terjatuh, ketika menanyakan apakah dia punya pacar atau belum, lalu ketika di dalam bus dan yang terakhir kejadian di dalam ruang kincir angin.


"Kalau bagitu dia bisa melihatnya". Ujar  lea malu sambil memilin rambutnya ketika mengingat kejadian itu


"Lagi pula sikapmu selalu memalukan. Tak apa ditambah kali ini". Ujar Vani sambil meminum susu lalu mengusap bahu lea


"Kenapa aku selalu memalukan?aku mendekatinya, kenapa harus malu?aku berani mendekatinya juga berani mengakuinya". Ujar lea jujur


"Masalahnya kali ini..." ucap lea ragu


"Ada apa dengan kali ini?apa karena tidak berhasil mendapatkan ciuman pertama,maka..." ujar Vani


"Siapa bilang?kapan itu terjadi?aku tak tahu" Elak lea beranjak menghindari pertanyaan vani menuju tempat tidur.


***


Keesok harinya Marcel pegi kesekolah. Dia beritahukan bahwa guru yang ia gantikan akan masuk kembali setelah cutinya habis.


"Guru Marcel !" Panggil guru Anwar mendekat kearah Marcel.


"Minggu depan guru Sisil akan kembali mengajar. Entah kenapa dia mempersingkat cuti melahirkannya. Jadi..." ujar Marcel terhenti merasa tak enak hati untuk mengatakannya.


"Terimakasih atas bantuanmua beberapa waktu ini". Ucapnya


Marcel tersenyum mendengarnya agar guru Anwar tidak berpikir tak enak menyampaikan itu " Baiklah, aku mengerti".


"Terimakasih banyak sudah menjadi bagian dari sekolah ini meski itu singkat. Anak anak sangat menyukaimu"


"Jangan sungkan". Sahut Marcel


Lalu guru Anwar meninggalkan Marcel namun terhenti ketika Marcel memanggilnya kembali.


"Guri Anwar, hari ini aku tidak melihat guru lea apa dia tidak datang?"

__ADS_1


"Aah...lea. Dia izin kerumah sakit mengantar ibunya".


"Kenapa? Apa ada keperluan?" Tanya guru Anwar


"Tidak". Sahut Marcel


"Baiklah,kalua begitu aku pergi dulu" pamit Anwar.


Sepulangnya dari rumah sakit mengantar ibunya untuk cuci darah lea pergi ke panti. Ketika berjalan di lorong panti lea melihat Marcel juga berjalan di jalan khusus mengarah panti searah dengannya.


Dia ingin menyapanya namun seketika berhenti. Dia bersembunyi di balik pilar merasa canggung untuk bertemu Marcel karena kejadian di kincir angin.


"Tidak,untuk apa aku merasa panik? Dia yang mempermainkanku". Gumam lea dalam hati


Lalu lea memutuskan untuk memberanikan diri. Ketika Marcel melewati pilar tempat lea bersembunyi lea terkejut lalu menghebuskan nafas panjang memutuskan untuk mengikutinya dari belakang.


Marcel terus berjalan menyusuri jalan khusus sementar di belakang lea mengekorinya. Lea berpikir Marcel tidak akan mengetahuinya. Namun sampai di belokan, Marcel bertemu pengurus panti.


"Nak Marcel, kau datang? Dimana guru Lea?" Tanya pengurus panti menegok kesana sini mencari keberadaan lea yang biasanya datang selalu bersama Marcel.


Marcel tersenyum mendengar pertanyaan pengurus panti. Menghembuskan nafas lalu memberitahukan keberadaan lea.


"Dia di belakangku". Ujar Marcel


Lea terkejut ternyata Marcel mengetahui keberadaannya yang mengikuti dirinya. Lalu lea menghampiri kedekat Marcel dan menyapa pengurus panti.


"Baik". Sahutnya


Lea mendelik kearah Marcel "Dipunggungmu ada matanya ya?". Gerutu  Lea pelan kepada Marcel.


Marcel yang mendengar gerutuan lea tersenyum puas mengerjai lea.


Lalu mereka masuk kedalam panti untuk menemui calon orang tuan Gisel. Mereka duduk saling berhadapan untuk memberitahukan pendapatnya sebagai mahasiswa pisikolog yang dekat dengan gisel.


"Menurut pandangan pribadiku, dia cenderung menghindari keterikatan dengan orang lain. Dengan begitu kepergian orang tuannya atau kepergian kita orang terdekatnya takan membuatnya menunjukan reaksi yang besar. Tapi sebenarnya anak anak terlihat kalem dan tenang tapi selalu sulit untuk mengungkapkan apa yang dipikirkannya". Jelas Lea menggambarkan sikap gisel


"Jadi ketika mereka datang di lingkungan baru sangat penting membangun hungungan dan komunikasi yang baik".


Marcel tersenyum puas mendengar penuturan lea tentang diri gisel.


Setelah selesai denga urusan di panti mereka pulang dari sana. Marcel dan lea berjalan beriringan menuju keluar gerbang panti.


"Bagaimana? Sudah tenang?" Tanya lea


Marcel tersenyum mendengar pertanyaan lea "Tak ku sangka,ternyata kau benar benar belajar". Ujar Marcel memuji lea

__ADS_1


"Ck, aku memang cerdas".ujar lea berbangga diri


Marcel tersenyum dan melanjutkan langkahnya.


"Sebenarnya ada hal yang ingin aku tanyakan namun aku tahan". Ujar lea ragu ragu


Marcel menghentikan langkahnya ketika lea berniat ingin menanyakan sesuatu pada dirinya.


"Hari itu di kincir angin..." ucap lea terhenti karena malu ingin melanjutkannya namun ragu


Lalu Marcel memutarkan badannya menoleh ke arah Lea.


"Bukankah kau berhutang pertanyaan?"


"Ah..kau sudah punya pertanyaan untukku?" Ujar lea antusias


"Katakan padaku,pertanyaan apa?"


"Apa kau menyukaiku?" Tanya Marcel langsung


Lea tersipu malu mendengarnya pertanyaan Marcel.


"Ya, aku menyukaimu" sahut lea dengan malu malu


Marcel terkejut ternyata selama ini lea menyukainya.


"Kenapa kau menyukaiku?". Tanya Marcel ingin mengetahui alasan lea menyukainya yang secara fisik dia memiliki kekurangan. Bahkan saudara tirinya beranggapan bahwa dia tidak pantas untuk lea.


"Eh..itu...kau...aku". Ujar lea canggung mau berkata apa


Marcel kecewa mendengar jawaban yang ragu ragu. Dia berpikir mungkin lea menyukainya karena kasihan. Lalu Marcel meninggalkan lea sendiri.


"Marcel !" Panggil lea.Namun Marcel terus melangkahkan kakinya kerah mobil yang menunggunya tanpa mengidahkan panggilan lea


"Bodoh sekali. Kenapa aku tidak bisa mengatakannya". Gerutu lea kecewa pada dirinya sendiri memandangi punggung Marcel yang berlalu menjauh darinya


Ketika sampai di depan mobil dengan wajah kecewa dia membuka pintu mobil sedikit kasar dan melempar tasnya. Doni yang melihat raut wajah tak enak Marcel berpikir ada apa dengannya dan lea.


"Marcel, ada apa dengan kalian?". Tanya Doni heran melihat Marcel dengan wajah sendu


"Jalan sekarang !" Sahutnya


Donipun mengikuti keinginaan Marcel untuk segera menjalankan mobilnya.


***

__ADS_1


jangan lupa berikan author like,coment dan votenya biar semangat 😁😁😁


__ADS_2