
Beberapa hari kemudian Marcel menghubungi Ayahnya "Aku bersama pasanganku,dia ingin bertemu denganmu. Aku akan membawanya pulang besok"
"Baiklah.itu saja untuk saat ini" sahut adam lalu mengakhiri panggilannya
Siska berjalan menghampiri Adam "Kenapa tidak mati saja" gumamnya melihat Adam nampak baik baik saja padahal dia mengalami cidera di kepala dan sempat melakukan operasi. Siska berharap Adam meninggal sehingga dia bisa mengambil alih kekayaan Adam.
Melihat istrinya datang Adam meraih tangan siska"Besok Marcel akan membawa pacarnya bersiaplah !"
Siska mengangguk lalu tersenyum pura pura " Untuk apa sibuta membawa pacarnya" gurutunya dalam hati
***
"Tidak banyak,aku telah berjanji untuk menemaninya pulang besok" ucap lea lalu beranjak dari kursi hendak keluar dari restoran sambil menggandeng Vani ada semburan kebahagian di wajah lea
"Bertemu orang tua berarti mempercepat segalanya. Itu cepat" ucap Vani antusias mendengar lea akan bertemu keluarga Marcel
Tiba tiba ponsel lea berdering panggilan dari bibi Sarah
"Halo bi ada apa?" Tanya lea
"Lea ibumu masuk rumah sakit dia harus segera di operasi. Kau segera ke sini ya"
"Baiklah bi,aku segera kesana" sahut lea nampak cemas lalu menoleh ke arah Vani yang nampak kebingungan melihat lea yang gelisah.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Vani
"Vani, ibuku masuk rumah sakit jadwal operasinya di majukan untungnya sudah ada pendonornya maaf ya aku tidak bisa menemanimu" ucap lea menyesal
"Tidak apa apa, kau segera temani ibumu kerumah sakit. Semoga operasinya berjalan lancar ya"
"Terimakasih Vani. Sampai jumpa" ujar lea melambaikan tangan lalu bergegas pergi.
***
Dirumah Marcel nampak gelisah menunggu kedatangan lea yang akan menemaninya nanti bertemu keluarganya. Terdengar suara bel berbunyi, Marcel bergegas menghampiri pintu nampakĀ senyuman di wajahnya dia berpikir pasti itu lea.
"Mengapa kau lupa kuncimu lagi?" Ucap Marcel membuka pintu. Marcel terkejut ternyata yang datang bukan lea melainkan Leon
"Ada apa kau kemari?" Tanya Marcel sarkah
"Apakah kau tidak mempersilahkan aku masuk?"
Marcel membiarkan pintu terbuka lebar dan membiarkan leon masuk kedalam rumahnya.
Leon duduk di sofa sambil menatap kesekeliling sudut rumah yang Marcel tempati.
"Kau nampak nyaman tinggal di sini. Aku dengar kau akan mengajak pacarmu ke rumah" Tanya leon mengorek informasi yang dia dapatkan
__ADS_1
"Bagaimana dengan kesehatan ayah?" Tanya Marcel
"Oh dia sekarang sudah lebih baikan, hei ayah kita menyerahkan semua pekerjaannya padaku. Cepat atau lambat kamu akan tahu ini. Dia akan mengesahkan wasiatnya di notaris. Dia berencana meninggalkan hampir semua asetnya kepadaku dan ibu. Aku sudah katakan padanya untuk mempertimbangkan berulang kali. Setelah bertemu denganmu terakhir kali. Dia pasti patah hati" cibir leon
"Jangan mencampuri urusanku.Aku akan membenci ayahku dengan caraku sendiri. Kamu tak perlu mendesakku untuk membencinya. Kalau kamu terus melakukan ini, sepertinya kamu punya beberapa motif tersembunyi" sindir Marcel lalu berdiri hendak mengusir leon
"Hah" tawa sarka leon lalu berdiri
"Bagaimana dengan lea?"
Marcel menoleh ke arah leon.
"Apakah dia baik baik saja?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Sambil melipatkan tangan di dada
"Memang benar. Aku memikirkan dia dari waktu kewaktu. Aku bertanya tanya apakah dia dalam keadaan baik mengurus orang buta?" Cibir leon"Sampaikan salamku"
"Kenapa aku harus?" Sarkah Marcel tidak suka
Leon lalu menghampiri Marcel dan berbisik "Lupakan kalau tidak mau. Kau pasti belum tahu bahwa lea mendekatimu karena uang. Ayah yang menyuruhnya untuk mendekatimu semata mata menjadi temanmu"ujar leon sambil meremas bahu Marcel lalu pergi meninghalkannya
__ADS_1
Marcel mengepalkan tangannya menahan amarahnya. Dia menoleh kearah leon yang meninggalkannya. Dia bertanya tanya apa maksud dari perkatan leon. Dia akan bertanya kepada Doni prihal ini.