
Saat ini dia sangat merinduka lea karena biasanya tiap hari sehabis pulang kuliah dia akan mampir kerumahnya sekedar untuk berbincang. Tapi kemarin kemarin karena sibuk mengerjakan skripsinya dia jarang mampir kerumahnya.
Marcel memasak telor mata sapi sambil bertelepon dengan lea. Dia sekarang sudah mulai bisa memasak hal hal kecil seperti memasak air dan telor tidak terlalu mengandalkan lea atau pun Doni.
"Bagaimana dengan presentasi mu?bagaimana hasilnya?" Tanya Marcel
"Semuanya berjalan lancar dan semuanya hasilnya cukup baik. Dan aku di nyatakan lulus" jawab lea bahagia
"Syukurlah, aku turut bahagia dan selamat atas kelulusanmu"
"Hmmm. Terimakasih. Upacara kelulusan akan diadakan lusa" ujar lea di telepon
"Baiklah. pergi tidur lebih awal. Sampai jumpa lusa nanti" lea mengakhiri panggilannya
"Eeeh" ujar Marcel tercengang lea mengakhiri panggilannya tanpa mengatakan apa apa padahal dia masih ingin mendengar suara lea karena merindukannya.
Ke esok harinya Marcel sengaja menemui gisel. Dia sudah lama tidak menemuinya terkhir kali ketika bertamasya ke taman. Dia juga sudah janji untuk menemuinya. Maka hari ini dia memenuhi janjinya.
Gisel dan Marcel bertemu di taman yang tidak jauh dari rumah gisel. Mereka duduk di kursi taman sambil Marcel membacakan buku cerita melanjutkan cerita tentang Pangeran Kecil
"Akhirnya, pangeran kecil tetap kembali ke planet mawar favoritnya" ucap Marcel di akhir cerita tentang buku Pangeran Kecil. Lalu mengambil daun ligistrum yang sudah berubah warna menjadi warna coklat dan menyelipkan diantara halaman buku yang dibacakan tadi.
"Heh" menghela nafas
"Ada apa guru Marcel?" Tanya gisel
"Tidak apa apa" sahut Marcel
"Aku sedikit iri,akhir akhir ini aku serinh merasa seperti ini"
__ADS_1
"Iri? Tidak ada yang bisa membuat iri. Dimasa depan guru Marcel dan guru lea pasti lebih bahagia dari pada kisah cinta ini" ucap gisel jujur dengan kepolosannya dia berharap gurunya berakhir bahagia.
"Dimasa depan" ujar Marcel membayangkan dimasa depan dirinya dan lea hidup bahagia
***
"Ini aneh bukan? Ketika gisel menyebut tentang masa depan. Aku tidak tahu kenapa. Aku mulai memikirkannya" ujar Marcel bercerita tentang pertemuannya dengan gisel
Doni yang sedang menuangkan minuman segara bangun dari duduknya.
"Kalau begitu menikahlah ! Karena kau tidak bisa hidup tanpanya" Ujar Doni menyarankan agar Marcel untuk menikahi lea
"Aku selalu merasa bahwa orang orang seperti diriku akan tetap seperti ini selama hidupku" ujar Marcel merasa minder akan kekurangan fisiknya. "Aku pikir pernikahan adalah sesuatu yang sangat jauh dari kehidupanku. Tapi sekarang aku tak sabar menantikannya"
Hari ini adalah hari kelulusan lea. Lea dan teman temannya memaka toga sedang berbaris di halam kampus beriap untuk berfoto bersama.
"Lihat ke kamera!" Ujar sesorang kepada mahasiswa yang lulus memakai toga
"Tiga, dua, satu.cekrek" bunyi kamera menfoto mereka secara otomatis
Mereka semua befoto berbagai pose sebagai kenang kenangan nantinya
"Ayo lakukan" ujar mahasiswa lain membuka topi toga lalu melemparkannya keatas diikuti mahasiswa lainnya dan teriakan bahagia dari para mahasiswa.
Setelah berfoto bersama mereka berpencar untuk berfoto dengan kerabat mereka masing masing. Lea berjalan mencari sosok yang ditunggunya. Karena ibu lea tidak bisa hadir mengingat kesehatannya dan persiapan untuk operasi jadi perlu beristriahat total.
Dia mencoba menghubungi Doni apalah Marcel datang untuk menghadiri kelulusannya.
"Apa kau sudah tiba?" Tanya lea via pesan
__ADS_1
"Ya" jawab Doni "Marcel sedang menuju ke arah halaman kampus"
Sementara Marcel sedang menaiki tangga satu persatu dibantu dengan tongkat setianya sambil membawa satu tangkai bunga mawar putih yang sengaja ia sembunyikan dibalik punggungnya. Dia memakai stelan jas menambah ketampanannya.
Orang lain mungkin tidak akan tahu bahwa sosok tampan yang berjalan menaiki tangga memiliki kekurangan dalam penglihatannya.
Jika tidak mengalami kebutan mungin Marcel adalah sosok pria sempurna bagi kaum hawa. Memiliki tinggi badan profesional wajah tampan dengan garis rahang tegas dan mata yang indah.
Lea yang mendapat pesan dari Doni bahwa Marcel sudah sampai, bergeas berlari.
Dari kejauhan Marcel bisa menangkap bayangan sesorang yang berlari menghampirinya.Lea menghampiri Marcel yang sedang berdiri.
Lea berhenti dihadapn Marcel dengan nafas masih terengah engah karean tergesa gesa berlari dia bahagia akhirnya Marcel datang.
Marcel menyerakan bunga yang dibawanya tadi kepada lea. Lea tercengang melihat hanya satu tangkai bunga yang dibawa Marcel bukan satu bucket. Dia tidak percaya lalu menengok ke sana sini berpikir Marcel mengerjainya dengan menyembunyikan bucket bunga lainnya.
Lea cemberut sedikit kecewa karena tidak menemukan apa apa dan terpaksa menerimanya.
"Hanya satu?" Ujarnya
Marcel hanya senyum senyum saja mengabaikan ucapan lea. Datang Vani menghampiri mereka sambil membawa kamera.
"Apakah kalian ingin berfoto?" Tanya Vani "Biarkan aku melakukannya untukmu"
"Baiklah"sahut lea bergegas berpose di samping Marcel
"Tersenyumlah" ujar Vani mengarahkan kameranya lalu memfoto mereka.
"Pacar lea, bisakah kau tersenyum" ujar Vani kepada Marcel agar sedikit tersenyum karena ketika memfotonya tadi Marcel terlihat kaku.
__ADS_1
Lea tertawa ketika Vani menegur Marcel lalu menoleh ke arah Marcel yang berwajah datar dan kaku.
Lupakan. Dia hanya pria lurus yang tidak tahu apa apa tentang romansa.