Jatuh Cinta Pada Tuan Buta

Jatuh Cinta Pada Tuan Buta
MENCURI CIUMAN


__ADS_3

"Marcel, kau kenapa? Kenapa tak menjawab telephonmu?Ayahmu bilang menelephonemu". Tanya Doni kesal yang baru masuk kedalam rumah lalu menghampiri Marcel


"Hmm...karena itu aku matikan telephoneku". Sahut Marcel


"Marcel, pulanglah !" Ujar Doni


Marcel diam saja tidak menghiraukan ucapan Doni.


"Hah...kau keras kepala. Mungkin benar paman bersalah kepadamu tapi kau sebagai anak tidak harus mengabaikannya. Di sana ada leon yang sewaktu waktu bisa saja mengambil hakmu. Kau pasti mengertikan maksudku?" Jelas Doni


"Aku sudah mengatur kebutuhanmu. Lagi pula sekarang ini kau tidak akan kemana mana. Aku pergi. jaga dirimu"


"Kau mau kemana?" Tanya Marcel menghentika Doni


"Liburan". Sahut Doni singkat


"Selamat liburan". Ujar Marcel


Doni kesal dengan sikap Marcel yang tidak peduli. Lalu dia menoleh ke arah Marcel.


"Sebenarnya pilihanmu bagus untuk tidak mengacuhkan gadis itu sangat tepat. Emosimu ini jangan sampai menyusahkannya. Jika kau menyukai gadis itu maka temui lah jangan kau tinggikan egomu". Ujar Doni kesal dengan sikap keras kepala Marcel lalu dia meninggalkannya.


***


Di sekolah lea terus murung karena tidak ada Marcel di sana terlebih Marcel pergi tanpa berkata apa apa kepadanya. Lea berjalan sambil membawa buku braile menuju kelas yang biasa Marcel mengajar.


Dia diam sejenak di sisi jendela teringat ketika pertama kali dia datang kesini melihat Marcel mengajar anak anak dengan begitu lembut. Mengingat itu membuat lea sedih sampai keberdaannya di sadari guru sisil yang kemarin cuti hamil.


"Guru Lea, apa ada keperluan?" Tanyanya karena lea berada di depan kelasnya


"Aah...guru Anwar memintaku untuk mengantarkan tugas ini". Jawab lea sambil menyerahkan buku buku di tangnnya


"Terimakasih". Sahut guru sisil lalu mengambil buku buku yang dibawa lea.


Setelah menyerahkan buku,lea berfikir ingin mencoba menghubungi Marcel kembali.


Dirumah, Marcel sedang memainkan piano. Terdengar suara telpone dari lea namun dia tidak mengangkatnya.


Lea terus mencoba menelponnya berulangkali tetapi tidak diangkat.


Telpone marcel terus berdering memberitahukan ada panggilan dari lea. Dia tetap mengabaikannya pura pura tidak mengetahui. Padahal sebenarnya ingin mengangkatnya namun karena keegoisannya yang tinggi mengalahkan keinginannya.


Dia melempar kertas musiknya ke udara merasa marah akan dirinya. Dirinya yang taksempurna, dirinya yang tak pantas untuk lea. Dia tidak ingin dikasihani orang lain.


Lea murung dan sedih karena Marcel tidak ingin mengangkat telponenya.


***


Saat ini Marcel sedang duduk di taman bersama gisel sambil bercerita.


"Karenanya dia dengan polos mengeluarkan keempat durinya. Setelahnya dia bilang jangan betele tele lagi.Menyebalkan. karena kau sudah putuskan untuk pergi cepatlah pergi dia takut pangeran kecil melihatnya menangis. Dia adalah sekuntum bunga yang sangat menjaga gengsi". Ucap Marcel membacakan buku cerita tentang pangeran kecil dan bunga


"Kenapa dia begitu? Aneh sekali". Ujar gisel


"Benar. Dia memang aneh".jawab Marcel sedih. Lalu dia mengambil daun ligustrum yang pernah diberikan lea dan menyelipkan di lembaran buku ceritanya.

__ADS_1


***


Wajah Marcel nampak pucat dia lemah. Kondisinya sedang tidak fit. Dia berbaring diatas kasur seorang diri. Mencoba meraih ponselnya untuk menghubungi Doni.


"Doni, kau diman? Bisakah kau kemari?" Tany Marcel dengan suara serak


"Aah...aku lupa kau sedang berlibur. Ya...aku kurang fit". Ujar Marcel berbicara di telpone


"Baiklah, lanjutkan liburanmu". Langsung menutup telponenya kembali berbaring ditempat tidur.


Dilain tempat lea masih murung sedih karean kepergian Marcel tanpa kabar. Tiba tiba ponsel berdering.


"Doni? Ada apa dia meneleponku?".gumamnya


Lalu lea mengangkat teleponnya dan berbicara.


"Halo Doni. Ada apa?"


"Sakit". Sahut lea terkejut bercampur khawatir.


"Baiklah aku akan kesana segera. Terimakasih". Ucap lea dan mengakhiri panggilannya denga Doni.


Lea bergegas untuk pergi kerumah Marcel. Doni sudah memberikan alamat rumahnya. Senang karena pada akhirnya dia bisa bertemu denga Marcel dan khawatir mengetahui dia sakit.


"Ibu, bibi, aku pergi dulu mungkin aku akan menginap karena anak dari bosku sedang sakit tidak ada yang merawatnya jadi aku diminta kesana". Ujar lea memberitahukan kepergiannya.


"Baiklah, hati hati dijalan". Sahut Ibu


Lea pun bergegas keluar dari rumah dan segera pergi kerumah Marcel.


***


"Akh...aku masuk saja. Biarkan dia mau berkata apa nantinya".


"Tapi kalau sembarangan masuk dipikrnya tidak sopan. Bagaimana ini?" Gumam lea terus berpikir


Lea mengeluarkan telponnya mencoba untuk menelpone Marcel.


Telepon tersambung namun tidak diangkat.


Dikamar Marcel yang mendengar suara telepon mencoba meraih ponselnya.


"Halo...!" Ucap Marcel


"Marcel,ini aku lea.boleh aku masuk kerumahmu?" Tanya lea khawtir ketika mendengar suara Marcel seperti orang sakit


"Hmmm". Sahutnya. Marcel membiarkan lea masuk lagi pula dia sedang sakit malas untuk memikirkan banyak hal.


Lea yang sudah mendapatkan persetujan dari Marcel bergegas masuk kedalam rumah. Dia menjuk ke karmar dan menemukan Marcel terbaring lemah. Lea menghampirinya lalu memeriksa suhu tubuh Marcel dengan tangannya ternyata dia demam.


"Kau demam?" Ujar lea ketika menyentuh kening Marcel.


"Tunggu sebentar ya, aku akan mengambilkan air dan handuk untuk megompresmu". Ucap lea beranjang untuk mencari handuk namun tiba tiba tangannya di tarik oleh Marcel.


"Di ruang sebelah lemari no dua laci ke tiga". Ujar Marcel memberitahukan letak handuknya

__ADS_1


Lea mengagukan kepala mengerti maksud Marcel lalu pergi ketempat penyimpanna handuk sesuai arahan Marcel.


Setelah mengambil handuk kecil lalu lea pergi kearah dapur untuk mengambil air hangat dan mencari obat penurun panas.


Dia membuka setiap lemari dapur dan laci untuk mencari tempat penyimpanan obat dan akhirnya menemukan tempat penyimpanan obat di laci dapur.


Lea membawa berisi air hangat dan handuk kecil dan membawa obat penurun panas kedalam kamar Marcel.


"Marcel, bangun dulu sebentar ! Minum obat dulu!" Ucap lea meraih tubuh Marcel dan membantunya duduk untuk meminum obat. Lalu memasukan obat kedalam mulut Marcel dan memberikan air minum agar mudah di telan.


Setelah memberikan obat lalu membaringkan kembali tubuh Marcel di kasur. Lea mencelupkan handuk kedalam amngkok berisi air hangat lalu memersanya dan meletakkan ke dahi Marcel.Lea melakukan itu berulang kali sepanjang malam. Dia terus terjaga mengganti handuk untuk mengompres Marcel sampai demamnya turun.


Matahari telah terbit sinarnya menyusup di selasa jendela. Marcel mengerjapkan matanya dia meraba diatas dahinya ada handuk untuk mengompresnya. Dia menyadari sebelah tangangnya digenggam oleh sesorang. Marcel mengetahui siapa yang berada disisinya dari arom tubuhnya. Sosok yang disukai selama ini. Ada pergerakan disisinya dia kembali pura pura tidur.


"Hooaaamm". Lea mengeliat bangun dari tidur


"Aku ketiduran.panas sudah turun belum ya?" Ucap lea mengambil handuk dan memeriksa dahi Marcel.


"Huh...syukurlah.demamnya sudah turun" lega lea.


Lea memandangi wajah Marcel yang tertidur. Dia mangamati setiap inchi dan terpaku pada bibirnya.


"Kau berbeda jauh denga pria idamanku. Kau sanagt lembut pada anak anak tapi sangat galak padaku kau selalu bisa melihat perasaan tulus yang tidak bisa dilihat orang lain meski kau mengabaikan perasaanku. Aku menyukaimu ketika oertama kali mekihatmu di taman waktu itu". Ucap lea pelan di depan wajah Marcel. Lea tidak mengatahui kalau sebenarnya lea sudah bangun dari tidurnya.


"Aku tidak akan memaksamu untuk membalasku. Tapi bolehkan kalau aku mencuri ciumanmu sebagai perpisahan?" Ucap lea lalu mendekatkan wajahnya untuk menciumnya.


Lea mencium bibir Marcel sekilas,ketika akan meyudahinya tiba tiba tangan Marcel menahan tengkuk kepalanya sehingga lea kembali menciumnya.


Marcel mencoba membuka paksa bibir lea agar dia bisa masuk. Tidak ada penolakan dari lea Marcel memperdalam ciumannya. Mereka cukup lama hanyut dalam ciuman sampai lea menepuk bahu Marcel karena kehabisan nafas.


"Kau...!"ucap lea malu mundur menutup bibirnya dan menunjuk ke arah Marcel


"Kenapa?" Tanya Marcel sambil tersenyum senang karena menjahilinyaa


"Kau yang lebih dulu mencuri ciumanku.aku hanya membalasnya".


"A..aku". Ucap lea canggung


"Apa kau mendengar perkataan ku tadi?" Tanya lea mendekat. Dia pasti malu sekali jika sampai Marcel mengetahuinya.


"Menurutmu?" Tanya balik Marcel sambil tersenyum misterius


Lea memejamkan matanya lesu dan menghebuskan nafas panjang karena malu ucapannya ternyata di dengar Marcel. Dia terjebak dengan perbuatannya sendiri.


"Sudahlah, jangan kau pikirkan. Dengan begini aku jadi tahu jawabanya. Berbaring disini !" Perintah Marcel menepuk kasur disebelahnya.


Lea mendelik ke arah Marcel berpikir untuk apa dia berbaring disana.


"Jangan berpikir macam macam. Aku tahu kau semalaman kurang tidur karena menjagaku". Ujar Marcel seakan tahu pemikiran lea


Lalu lea naik keatas kasur dan berbaring di samping Marcel. Namun Marcel menariknya sehingga lea terbentur dengan tubuh Marcel. Marcel memeluk lea.


"Tidurlah!". Perintah Marcel mengelus kepala lea


Lea tersenyum yang mendapatkan perlakuan lembut semakin memperat pelukannya. Marcel tersenyum dan terus mengekus kepala lea. Lea pun tertidur nyaman dipelukan Marcel.

__ADS_1


__ADS_2