
Pagi tadi dia baru sampai dari kota A langsung menuju kerumah Marcel. Dia khawatir takut terjadi hal yang serius meski sudah meminta tolong lea untuk merawatnya.
Ketika dia masuk meletakan makanan di meja lalu menuju kamar Marcel, Doni menemukan mereka tidur saling berpelukan. Doni tesenyum melihat mereka.
"Mereka sudah baikan". Gumam Doni lalu meningglakan mereka tanpa membangunkannya.
Dering posel terdengar membuat kedua insan yang tertidur merasa terganggu. Lea mengerjapkan matanya ketika suara ponselnya berbunyi. Lalu dia mengambil ponsel dan mengangkat telponenya.
"Halo...!" Ucap lea dengan suara khas orang bangun tidur
"Kau baru bangun?" Suara orang di telpone
"Ah...iya"
"Kau tidak lupakan kalau hari ini akan pergi denganku?"
"Maafkan aku leon, bisa tidak kita perginya diundur besok? Hari ini aku akan mengatar ibuku ke rumah sakit". Sahut lea merasa tak enak mengingkari janjin. Tapi memang nanati dia akan mengantar ibunya kerumah sakit untuk cek up
"Baiklah,kalau begitu. Tapi janji besok ya?"
"Ok."
Marcel cemberut ketika mendengar lea berbicara dengan Leon di telpone.
Lea menyudahi panggilannya lalu menoleh ke arah Marcel.
"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya lea melihat tampang cemberut Marcel
"Aaah, kau cemburu ya?" Sambil menyipitkan matanya lalu beranjak dari tempat tidur.
"Tidak". Elak Marcel
"Sudah lah, aku hanya meminta bantuannya dalam skripsiku.tidak lebih" jelas lea menguyel pipi Marcel
"Ck.tapi jangan terlalu dekat dengan.aku tidak suka!" Sambil melepaskan tangan lea dari pipinya
"Hahaha".lea tertawa terbahak lalu mengajak Marcel untuk keluar kamar.
Marcel duduk di sofa lalu lea berjalan kearah tirai dan membukanya. Membiarkan sinar matahari menyusup keruangan itu.
Marcel memicingkan matanya dan menghalangi dengan tangan karena silau dari sinar Mayahari yang masuk.
"Sudah kubilanga ada matahari atau tidak nagiku tetap sama".
Lalu lea mendekat kearah Marcel menggenggam tanggn Marcel lalu menggerakan tanganya menutupnya dan membukanya seakan memainkan sinar matahari.
"Apa ada perbedaan?" Tanya lea
Ketika tangan terbuka sinar matahari masuk ketika tangan menutup sinar matahari terhalangi oleh tangan.
Lea terus memainkan tanganya membuka dan menutup. Marcel baru sadar perbedaanya saat lea mengajarinya.
"Itu adalah kehangatan,saat ada matahari yang terpenting bukan cahayanya. Kehangatannya juga penting. Apa kau merasakannya sinar matahariny begitu hangat?"
Marcel memejamkan matanya merasakan kehangatan dari sinar matahari. Pelan pekan dia menggenggam tangan lea metadakan kehangatan yang didapatkan dati sana.Lea menatap Marcel ketika melihatnya memejamkan mata.
"Tanganmu yang hangat". Ucap Marcel
Lea tersenyum atas pujian Marcel lalu menurunkan genggamannya dan kembali menatap sinar matahari. Marcel terus menatap lea meskipun tak jelas namun dia bisa melihat bayangan samar dari diri lea.Orang dia cintai.
Lea beranjak bangun hendak mengambil air minum. Dia terkejut di meja makan sudah ada beberapa makanan tersaji di sana tertutup denga tudung saji.
"Marcel, sepertinya Doni tadi ke sini. Di meja makan sudah ada makanan yang masih hangat" jelas lea
__ADS_1
"Ah....ya mungkin Doni yang mengantarnya. Kita sarapan dulu". Ajak Marcel.
Lea pun mempersiapkan peralatan makan untuk mereka berdua. Dan merekapun makan bersama.
Setelah selesai makan lea hendak pulang untuk mengantar ibunya kerumah sakit
"Tadi ku dengar kau akan pergi ke rumah sakit?" Tanya Marcel
"Ya, hari ini jadwal ibuku cek up". Sahut lea merapihkan meja makan
"Aku mengantar ibuku dulu, nanti aku kembaki lagi kesini sampai kau benar benar pulih". Ujar Lea mengelus pipi Marcel lalu menegcupnya
"Berhati hatilah". Balas Marcel
Lea pun pergi pulang meninggalkan Marcel.
Sesampainya dirumah ibunya telah bersiap dengan bibinya.
"Ah ibu,bibi maafkan aku sedikit terlambat". Ujarnya menyesal
"Aku terjaga semalaman menjaga anaknya Pak Adam".
"Ya sudah sana rapihkan dulu dirimu baru kita berangkat" sahut bibi Sarah lalu mengandeng ibu untuk duduk.
Dirumah sakit lea sedang berbicara dengan dokter yang menagani ibunya.
"Bagaimana kondisi ibu saya dok?" Tanya lea sedikit khawatir
"Ibumu harus segera di operasi mengingat kondisi ginjalnya semakin parah. Mengandalkan cuci darah hanya sedikit membantu". Ucap dokter menjelaskan kondisi ginjal ibu lea.
"Satu bulan lagi kita persiapkan untuk operasi. Kebetulan ada pendonor yang cocok dengan ibumu dan ibumu harus menstabilkan komdisinya terlebih dahulu untuj operasi". Ucap dokter
Lea terkejut mendengar ucapa dokter bahwa ibunya akan segera dioprasi.
"Tunggu dulu dok,maksudnya bagaimana ya ibu saya akan di operasi. Sementara biayanya saya belum punya?" Ujar lea ingin tahu.
"Kau kenal dengan Pak Adamkan?"
Lea menganggukan kepalanya benar dia mengenal Pak Adam bahkan bekerja untuknya.
"Dia salah satu donatur di rumah sakit ini jadi dia meminta pihak rumah sakit mengurus semuanya".
Lea mengerti ucapan dokter. Dan lega karena ibunya akan sembuh setelah operasi nanti.
"Aku akan menemui Pak Adam untuk mengucapkan terimakasih". Gumam lea bahagia.
Lea keluar dari ruang dokter dan menemui ibu dan ibunya yang menunggu di ruang tunggu. Lea berjalan sambil tersenyum menghampiri mereka.
"Ibu, bibi" panggil lea ceria
Sela dan Sarah menoleh ketika mereka dipanggil lea lalu lea duduk bersama mereka.
"Bu, kau akan di oprasi bulan depan". Ucap lea bahagia menyentuh tangan ibu dan menggoyang goyangkan.
Sela dan Sarah terkejut mendengar ucapan lea. Karena setahu mereka,mereka tidak punya cukup uang untuk melakukan operasi dan lagi pula butuh pendonor yang cocok untuk melakukan itu.
"Kau serius nak?tidak bercanda?" Tanya sela ingin tahu
"Tidak bu, Pak Adam sudah mengurusnya". Ujar lea sambil memeluk ibunya
"Sungguh baik Pak Adam mau menolong kita". Ucap Sela bahagia.
"Betul Sela, Pak Adam sungguh baik". Timpal Sarah.
__ADS_1
"Nanti sehabis mengantar ibu dan bibi pulanga, aku kembali lagi ke rumah anaknya Paka Adam kondisi masih sakit tidak apa kan bu,bi?" Tanya lea
"Iya tidak apa kau lakukan yang terbaiak mengurus anaknya Pak Adam sudah baik dengan kita jadi kau bekerja dengan baik untuknya". Sahut Ibu.
Lea menganggukan kepala paham akan ucapan ibunya.
***
Setelah mengantar ibu dan bibinya pulang kerumah,lea kembali ke rumah Marcel. Dengan wajah bahagia dia memasuki rumah Marcel. Marcel sedang dusuk sambil membaca buku bertuliskan huruf braille.
"Kau sudah kembali?" Tanya Marcel mengetahui kedatanga lea.
"Hmm". Sahut lea berjalan ke arah dapur untuk membuatkan sesuatu untuk Marcel.
"Bagaimana kondisi ibumu?"Tanya lagi.
"Kondisi ibuku mulai membaik. Dan kabar baiknya bulan depan akan melakukan operasi transplasi ginjal. Kita sudah menemukan donornya". Jelas lea bahagia sambil membuat jus
"Aku senang mendengarnya"
Lea menghampiri Marcel sambil membawa jus yang dibuatnya lalu memberikannya kepada Marcel
"Ini minum jus lemonnya" ucap lea memberikan jus lemon ke Marcel.
Marcel menerimanya namun enggan untuk meminumnya.
"Kau tak mau? Ini dibuat dari perasan jus lemon segar" jelas lea
"Aku minum nanti" ujar Marcel
"Baiklah" sahut lea berlalu dari hadapan Marcel
Marcel mencium jus itu seketika memalingkan wajahnya ketika menghirup aroma lemon yang menurutnya pasti rasanya masam.
Ke esok harinya lea berdandan cantik. Di memakai makeup tipis namun tidak mengurangi kadar kecantikannya.Lalu dia menyemprotkan parfum begitu banyak di sekujur tubuhnya. Ibunya masuk kamar sambil menutup hidungnya mencium parfum yang begitu menyengat didalam.
"Pagi pagi begini kamu mau kemana?" Tanya ibu heran melihat anaknya sepagi ini sudah rapih
"Aku akan pergi keluar bersama Marcel". Sahut leaberanjang dari kursi lalu menghampiri ibunya yang berdiri di depan pintu kamar.
"Baiklah hati hati. Titip salam untuknya". Ucap ibu lalu keluar bersama
Sela sudah mengetahui kalau anaknya menyukai anak dari bosnya. Selama ini lea tidak pernah ada yang di tutupinya termasuk orang yang disukainya. Lea tidak pernah bisa berbohong pada ibunya apalagi semenjak ayahnya meninggal dia semakin tidak tega untuk membohongi ataupun menyakiti ibunya.
"Aku pergi dulu ya bu,bi !". Pamit lea kepada ibu dan bibinya sambil melambaikan tangannya
Sarah yang sedang di dapur membuatkan jus segera menghampiri sela lalu meletakan di ats meja.
"Sela, apa kau tidak apa membiarkan lea berhubungan dengan Marcel?" Tanya Sarah sedikit khawatir
"Memang kenapa?" Tanya Sela ingin tahu mengapa sarah sampai menanyakan hal itu.
"Kau tidak keberatan tentang kondisinya Marcel?"
"Untukku tidak masalah selama lea bahagia. Kau ingat ketika kondisi kita terpuruk Pak Adam datang menawarkan pekerjaan untuk lea dan sekrang dia sudah mempersiapkan oprasiku bulan depan. Bukan berarti untuk membals budi bahkan sebelum pak adam mempersiapkan oprasiku, lea sudah menyukai Marcel". Jelas Sela
Sarah tersenyum mendengarnya. Lalu menyentuh tangan sarah mengungkapkan kekhawatirannya
"Sebenarnya aku hanya khawtir dengan masa depannya. Meski lea bukan anak kandungku tapi aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Aku menyayanginya sela". Ucap Sarah tulus
"Aku tahu dan aku mengerti akan khekawatiranmu". Sahut Sela mengusap tangan sarah untuk menenangkannya.
"Tapi kita sebagai orang tua, hanya bisa mengawasi dan mengarahinya. Semua keputusan biar dia yang menentukan".
__ADS_1
Sarah menganggukan kepala "ya...kita serahkan keputusan itu kepda lea".
***