
Keesokan harinya lea pergi kekantor Louis Company untuk bertemu dengan Adam. Dia akan melaporkan perubahan Marcel yang menurutnya sudah ada perkembangan.
Dia langsung menuju lantai 10 kantor Adam. Disana dia menemui reseptionis untuk memberitahukan kedatanganya karena sebelumnya dia sudah memberi kabar bahwa dia akan datang kesana.
Ketika dia masuk kedalam, lea terkejut melihat seorang pria yang di kenalnya berada di sana. Pria itu yang selalu mengantar jemput Marcel.
"Silahkan duduk lea !" Ujar Adam mebiarkan lea untuk duduk.
"Kau pasti sudah bertemu dengan Doni kan?dia yang suka bersama Marcel".
Lea menganggukan kepalanya.
"Aku dengar dari Doni, Marcel sudah bayak ada perubahan. Aku senang mendengarnya. Menurut pandanganmu sebagai mahasiswa pisikolog bagaimana dengan sikap Marcel?"
"Menurutku sikap Marcel cenderung menutup diri sangat sulit untuk mendekatinya. Dia hanya butuh seseorang yang benar benar memahami kondisinya".
"Tapi belakangan ini dia mulai banyak bicara atau sekedar tersenyum terlebih ketika bersama anak anak yang dia sukai". Ucap lea menceritakan diri Marcel. Namun sesaat kemudian lea termenung sedih mengingat kejadian kemarin ketika dia tidak bisa menjawab kenapa menyukai Marcel.
Adam yang melihat lea seperti itu jadi tahu bahwa ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran lea. Adam mendapat laporan dari Doni. Sepulang dari panti kemarin Marcel terlihat kecewa dan kesal.
"Apakah kau menyukai Marcel?" Tanya Adam langsung
Seketika lea mendongakan kepalanya terkejut dengan pertanyaan Adam.
"Maafkan saya jika tidak profesional". Ujar lea menyesal sambil menundukan kepalanya.
"Bukan itu yang ingin aku dengar". Ujar Adam tegas "Apakah kau menyukai Marcel?" Ulang Adam
Di balas anggukan kepala oleh lea memberankan bahwa dirinya menyukai Marcel.
Adam tersenyum mendengar jawaban lea. Lalu dia mendekat kerah Lea dan mengusap kepalanya.
"Aku senang mendengarnya".
Lea dibuat bingung dengan ucapan Adam bukannya marah dengan sikapnya tidak profesional karena sudah jatuh cinta pada anaknya tapi ini dia malah merasa senang karena lea menyukai anaknya.
"Jangan bingung!" Ujarnya " Aku senang karena ada yang mencintai Marcel apa adanya. Aku harap kau mencintainya bukan karena kasihan akan kekurangan fisiknya tapi kau mencintainya karena tulus kepadanya".
Lea terdiam mendengar ucapan Adam dia mengamati wajah Adam mencari kebohongan namun tidak menemukannya.
"Niat awalku memang berencana membuat kau dan Marcel dekat. Tak di sangka itu berjalan lancar. Kau yang kebetulan membutuhkan pekerjaan dan aku mencari sesorang untuk bisa dekat dan mampu memahami diri Marcel".
"Marcel jarang sekali berinteraksi dengan lawan jenisnya terakhir dengan teman SMA nya dulu sebelum kecelakaan itu terjadi. Namun ketika dia mengalami kebutaan dan mengetahui dia cacat, gadis itu meninggalkannya. Dari semenjak itu dia tidak pernah lagi dekat dengan wanita".
"Jika kau benar tulus mencinta Marcel maka kejar dia tapi jika kau hanya merasa kasihan padanya maka berhenti dari sekarang". Ujar Adam menekankan jika perasaan lea hanya main main maka dia haru berhenti dari sekarang.
"Tidak. Aku tidak akan berhenti. Aku tulus padanya". Sahut Lea jujur
Adam tersenyum puas mendengar jawaban lea.
Di balik pintu ada seseorang mengepalkan tangannya memdengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Lea adalah miliku". Ujar pria itu mengoalkan tanngya karena marah.
***
Hari ini adakah hari terakhir Marcel mengajar di SLB. Marcel merapihkan peralatannya.
"Anak anak, pelajaran sudah selesai". Ujar Marcel lalu hendak pergi namun langkahnya terhenti tiba tiba semua murid berdiri serentak.
"Berdiri". Teriak anak anak
Serentak anak anak berdiri
"Terimakasih,guru Marcel". Ucap anak anak serentak
Mendengar ucapan anak anak, Marcel merasa terharu lalu berdiam sejenak untuk mengucapkan kata perpisahan.
"Terimakasih untuk semuanya. Bisa mengajar kalian adalah kehormatan bagiku". Ujar Marcel lalu pergi dari kelas
Diluar kelas,ternyata guru Anwar sudah menunggu untuk bertemu dengannya.
"Sudah kuduga, kau tidak akan berpamitan kepada mereka"
"Terimakasih". Sahut Marcel
"Kami yang seharusnya berterimakasih. Mungkin kelak kami butuh bantuanmu lagi". Ujar Anwar
"Tentu". Sahut Marcel
Guru Anwar menepuk bahu Marcel dan berlalu pergi. Ketika Marcel akan pergi datang gisel menghampirinya.
Marcel berbalik dan menghampiri gisel lalu mensejajarkan posisinya.
"Apakah nanti aku bisa bertemu denganmu lagi?"
"Tentu, aku akan berkunjung menemuimu jika senggang".
"Hadiah perpisahan". Ujar gisel sambil menjulurkan permen di tangannya.
"Aku hanya punya hadiah ini sebagai hadiah perpisahan".
Lalu Marcel menerima hadiah pemberian gisel menggenggam permen itu serasa dia pernah mengenali permen itu.
"Ini...?"
"Ini permen pemberian guru Lea. Dia bilang tidak boleh memberitahukan mu. Nanti kau akan memarahinya". Ujar gisel jujur
Marcel tersenyum mendengar kejujuran dan kepolosan gisel.
"Dia membohongimu. Apa lagi yang dia katakan?"
"Dia juga bilang kalau kau berbohong tidak menyukai makanan manis. Tak ada anak yang tak suka makanan manis".
__ADS_1
Merasa tersindir karena ucapan gisel. Dia yang berbohong kalau tidak menyukai makan manis padahal dia menyukainya. Marcel memasuki permen pemberian gisel kedalam saku bajunya.
"Guru Marcel, aku pasti merindukannmu". Ujar gisel sedih harus berpisah dengan gurunya
"Jangan bersedih, belajarlah yang baik. Tunggu aku untuk mengunjungimu". Sahut Marcel mengelus kepala gisel.
Dibalas anggukan kepala dari gisel.
***
Keesok harinya lea kembali ke sekolah.
"Selamat pagi guru Anwar, guru Rian !" Sapa lea kepada guru guru yang berada di sana.
"Pagi". Sahut Mereka
Guru Anwar beranjak dari duduknya menghampiri lea.
"Lea, urusan kuliahmu sudah selesai?"
"Setidaknya,aku sudah menyerahkan draft skripnya". Ujar lea sambil menoleh kearah meja bekas Marcel.
"Kenapa tempat guru Marcel berubah?". Ujar lea heran melihat perubahan pada meja Marcel
"Guru sisil sudah kembali. Jadi guru Marcel harus mengakhiri mengajar di sini".
"Kapan itu terjadinya?". Tanya lea nampak khawatir karena dia tidak mengetahui ketika Marcel pergi
"Dua hari yang lalu, ketika kau izin".
"Kau ketinggal, tidak mengucapkan selamat tinggal sebelum dia pergi". Ujar guru anwar lalu pergi kembali ke mejanya.
Lea nampak sedih mendengar kalau Marcel sudah tidak mengajar lagi di sekolah. Lalu dia mengeluarkan handphonenya dan mencoba menghubungi Marcel namun tidak tersambung.
Padahal hari ini adalah hari gisel pergi bersama keluarga barunya. Lea terus mencoba menghubungi Marcel namun tetap tidak tersambung.
"Guru lea, apakah guru Marcel tak akan datang untuk menemuiku?" Tanya gisel
Lea menghembuskan nafas,bingung untuk memberi alasan apa pada gisel karena Marcel tidak datang untuk mengantar gisel bersama keluarga barunya.
"Gisel, guru Marcel mungkin takut pada perpisahan sehingga dia tidak datang. Bagaimana kalau kita coba memahaminya. Lagi pula ada aku yang akan menemanimu. Kelak aku dan guru Marcel akan menemuimu bersama sama".
"Baik. Dia juga berkata akan mengunjungiku. Kalian harus datang !" Jawab Gisel
"Pasti. Ayo kaitkan jari !". Sahut lea lalu mengaikan kan jari dengan gisel sebagai bentuk janjinya. Gisel tersenyum mendengar janji lea.
"Ayo !" Ajak lea merangkul gisel dan mengantarnya ke orang tua angkatnya.
"Mohon bantuan kalian. Terimakasih". Ujar lea sambil membungkukan badan sebagai penghormatan
"Terimakasih. Guru lea".
__ADS_1
"Tidak apa apa". Sahut lea sambil memberikan tangan gisel kepada keluarga barunya
Setelah menyerahkan gisel kepada keluarga barunya lea nampak murung. Dia merasa sendiri,Marcel pergi tanpa pamit kepadanya dan sekarang gisel pergi bersama keluarga barunya.