Jatuh Cinta Pada Tuan Buta

Jatuh Cinta Pada Tuan Buta
MENAIKI KINCIR ANGIN


__ADS_3

"Hei...!" Sapa Vani "Kau sudah lama menunggu?" Menghampiri lea


"Tidak juga, nih sudah aku pesankan minuman dan makanan kesuakaanmu di kantin ini". Ujar lea menyodorkan makanan dan minuman kehadapan Vani


"Terbaik !" Mengacungkan jempolnya lalu mengeser kursi dan duduk bersama lea


"Ck".cibir lea


Hanya di balas senyuman oleh Vani.


"Kau cerita pada leon kalau aku bekerja dengan Pak Adam?"


"Hmmm". Dibalas anggukan kepala sambil makan.


"Kau ini !" Memukul pelan tangan Vani


"Lain kali jangan ceritakan apa apa lagi kepada leon"


"Baiklah. Maafkan aku !" Ujar Vani memohon dengan wajah memelas


"Lalu untuk apa kau tadi tersenyum  misterius begitu ketika aku ingin menghampirimu?" Tanya Vani heran


"Marcel bilang, tidak mau".


"Apa apan itu?" ujar Vani heran dengan jawaban ngawur lea


"Kau sudah belajar pisikolog bertahun tahun dan menggunakan hanya untuk ini memahami ucapan dan prilaku dari seorang Marcel".


"Justru karena aku belajar pisikolog bertahun tahun. Setelah ku pelajari dengan teliti aku dapat mengerti hal yang sudah jelas. Dia punya ganguan kepribadian sedangkan aku punya pengetahuan".


"Kau boleh juga,tapi aku ada pertanyaan kenapa kau baca buku pisikolog abnormal ini?" Ujar Vani sambil mengambil buku yang berada di meja mereka


"Ini... " ujar lea bingung ingin menjawab apa


Vani mengerti


"Apakah karena Marcel sampai kau mempelajarini ini semua?" Tanya Vani


Lea menganggukan kepala dengan wajah tersenyum malu.


"Apa kau juga menyukainya?"


Lea mengangukan kepala lagi membenarkan perkiraan temannya itu


***


Di rumah Marcel sedang duduk termenung memikirkan apakah dia harus datang atau tidak untuk menemani gisel dan lea yang akan pergi menaiki kincir ria.


Doni menghampirinya sambil membawa makanan dan menaruhnya di meja.


"Kau sedang memikirkan apa?"


"Tidak ada apa apa" Jawab Marcel


"Kau benar tidak akan pergi besok?"


"Bukankah kau suka pada gadis itu?" Tanya Doni lagi


"Tidak". Sahut Marcel canggung mencoba mengelak perkiraan Doni


Doni tersenyum mendengar jawaban Marcel. Dia tahu biasanya perkataan Marcel adalah sebaliknya.


"Kau sampai memintaku untuk mencari tahu latar belakang keluarga yang mengadopsi gadis itu. Pasti kau sangat menyukainya sehingga begitu perhatian".


"Tidak juga". Sahut Marcel mengelak


"Apa aku salah paham?"

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi. Terlalu banyak orang. Dan tidak asyik" Sahutnya lalu meminum minumannya


"Kau tak pernah naik kincir ria. Dari mana kau tahu itu tidak asyik?"


Marcel tidak menjawabnya tetap melanjutkan minumnya.


"Sudah lama kau tidak pernah berkencan. Terakhir kali aku ingat kau berkencan dengan Cindy ketika kau masih duduk di sekolah menengah atas ketika kondisimu masih baik baik saja.


"Pergilah. Ini kesempatan yang jarang"


"Aku sudah bilang tak mau".  Jawab Marcel kekeh


Doni hanya tertawa mendengarnya.


***


Keesok harinya lea dan gisel sudah berda didepan pintu masuk wahana. Lea berjongkok memegang tangan gisel.


"Gisel, saat masuk nanti kau harus terus pegang tanganku erat erat jangan pernah dilepas. Jikapun terlepas berdiari diam jangan bergerak lalu panggil aku dengan lantang,mengerti?" Ujar lea memberi pengarahan kepda gisel jika hal buruk terjadi selama berada di wahana


"Baiklah" sahut gisel tersenyum


"Gadis pintar". Ujara lea sambil mengelus kepala gisel


Tiba tiba Lea terkejut ketika melihat tongkat mengarah ke mereka lalu lea mendongakan kepalanya ternyata itu Marcel.


"Kulihat kau ceroboh. Aku takut kau tidak bisa menjaganya". Ujar Marcel beralasan takut lea tidak bisa menjaga gisel tapi sebenarnya dia ingin datang untuk menaiki kincir ria.


Lea tersenyum mendengara alasan yang dibuat Marcel. Lea sudah berfikir bahwa Marcel akan datang untuk ikut bersama mereka.


"Baiklah, aku selalu ceroboh. Kau mau masuk atau tidak?Kalau kau masuk aku akan menjadi pemandumu. Di dalam banyak orang". Ujar Lea menjelsakan kedaan di dalam sana takut Marcel nantinya tersesat


Lalu lea mengulurkan tanganaànya agar marcel memegangnya. Marcel merasa canggung lalu mencoba memberanikan diri memegang ujung lengan baju lea.


Lea tertawa Melihat keragu raguan Marcel untuk memegang tangannya lalu dia memaksakan untuk menggenggam tangannya Marcel seperti sepasang kekasih.


"Ayo kita pergi !" Ajak lea sambil memegang Tangan gisel dan Marcel.


Mereka bertigapun masuk kedalam wahana. Sebelum menaiki kincir angin mereka berhenti di stand penjualan acsesoris bando. Lea memilih bando motif macan untuk digunakan dirinya sendiri sementara untuk gisel Lea memilihkan bando kelinci berwarna pink dan memakaikannya ke kepala gisel.


"Imut sekali". Ujar lea melihat gisel memakai bando


Lalu lea menoleh ke arah Marcel, dia mengamati Marcel yang sedang menatap kosong kearah lain. Spontan dia berpikir untuk mengerjai Marcel memakaikan bando seperti mereka. Lalu lea memilihkan bando motif micky mouse untuk di pakai Marcel.


"Sepertinya cocok". Gumam lea tertawa


berpura pura mencocokan kekepala Marcel


"Marcel, menunduklah !" Perintah lea agar Marcel menunduk sesikit


"Kau bilang apa?" Tanya Marcel tidak mendengar ucapan lea tadi


Lea langsung memasangkan bando di kepala Marcel sambil tertawa. Merasa ada sesuatu diatas kepalanya Marcel memegang dan meraba benda itu.


"Ini apa?" Tanya Marcel


Lea  terus tertawa melihat reaksi Marcel yang terkejut ada benda aneh di atas kepalanya.


"Ini hanya telinga micky mouse". Ujar lea terus tertawa


"Kau ini !". Sahut Marcel kesal namun tidak membuka bandonya


"Lihat wajah guru Marcel tampan bukan?" Tanya lea sambil merangkul bahu gisel


Gisel menganggukan kepalanya.


"Tampan apanya?Gisel bukankah kau...." ujar Marcel terhenti tidak meneruskan kalimatnya takut menyakiti perasaanya gisel.

__ADS_1


Lea yang paham maksud dari perkataan Marcel yang terhenti segera mengalihkan pembicaraan.


"Ayo kita segera naik kincir angin. Antriannya panjang". Ujar lea mengalihkan pembicraan tadi lalu menggandeng tangan Marcel dan Gisel menuju kincir angin.


"Bodoh sekali". Gerutu Marcel kesal .


Mereka duduk bertiga di dalam ruang kincir angin. Lea duduk bersebelahan dengan Gisel sementar Marcel duduk berhadapan dengan mereka.Kincir angin naik perlahan mengantarkan mereka naik keatas


"Jika telinga dan janji tak bertemu jika harapan dan masa depan tak bersilang". Ucap lea membacakan lirik lagu


"Guru lea apa katamu?"


"Aku?" Sahut Lea lalu menoleh kearah Marcel yang memejamkan matanya


"Aku hanya membacakan lirik lagu yang menggambarkan persaanku untuk orang yang spesial".


"Orang spesial? Siap orangnya?" Tanya gisel antusias


"Orang spesialku". Ujar lea sambil menopang dagu memandangi Marcel di depannya


"Adalah seseorang yang bisa memainkan piano. Sikapnya sedikit dingin dan arogan namun memiliki hati lembut pada anak anak".


Seketika Marcel membuka matanya mendengar penggambaran dirinya.


Lea terkesima menatap bola mata Marcel yang menurutnya indah. Lea menyusuri lekuk wajah Marcel sampai pandangannya jatuh kebibir Marcel.


Lea meneguk slavinanya ketika memandang bibir itu rasanya dia ingin mengecup sekejap bibir berwarna pink dihadapannya.


Lea berpikir keduanya buta pasti tidak akan tahu jiak dia mencuri ciuman Marcel. Dengan pelan lea bangun dari duduknya lalu perlahan memajukan wajahnya mendekati wajah Marcel. Ketika akan mengecup bibir Marcel seketika dia berhenti.


"Seharusnya pria yang melakukan ini duluan". Ujar Marcel sadar akan tindakan lea yang mencoba untuk menciumnya


Seketika lea canggung mendengar jawaban Marcel lalu kembali duduk dikursinya. Gerakan reflek lea disadari oleh gisel.


"Ada apa guru lea?"


"Bukan apa apa". Sahut lea masih dalam keadaan canggung


"Mungkin ini terlalu tinggi". Ujar lea beralasan


Lea melirik Marcel yang terdiam sekan tidak terjadi apa apa sementara dirinya malu karena perbuatannya diketahui oleh Marcel.


Lalu dia mencondongkan kembali badannya dan berbicara pelan


"Bagaimana kau tahu?" Tanya lea bagaimana Marcel mengetahu jika dia berniat untuk menciumnya sementara kondisi Marcel buta.


"Guru lea, apa aku pernah bilang aku buta? Aku tidak buta total" jelas Marcel tenang


Lalu mendorong kepala lea dihadapannya agar menjauh


"Aku masih bisa melihat pergerakan benda dalam jarak tertentu". Jelasnya


Lea terkejut mengetahui kebenaran itu.  Dia berpikir berarti selama ini Marcel mengetahui pergerakannya ketika mencoba mendekatinya.


"Ternyata kau..." ujar lea terhenti


"Shuut". Cegah Marcel meletakan jari di bibirnya agar lea tidak banyak bicara


"Dihadapan anak kecil jangan berbicara banyak". Bisik Marcel


Sontak lea menoleh kearah gisel yang sedang menyender memalingkan pandangannya. Lalu dia kembali ke tempat duduknya.


Lea menahan malu atas ulahnya sementara Marcel tersenyum atas tingkah konyol lea.


***


Maafkan author baru update lagi ! Karena ada acara. Sebagai gantinya author doubel upnya...

__ADS_1


jangan lupa beri like,coment,vote nya biar makin semangat 😁😁


__ADS_2