
Mengingat perkataan lea tadi, untuk memberi kesempatan pada dirinya mempercayai orang lain Marcel memutuskan untuk menerima pemberian dari Lea.
Marcel keluar sekolah sambil membawa kotak berisi bola beras ketan dari Lea. Kebetulan lea yang sedang berada di sana juga melihat Marcel berjalan sambil membawa pemberianya.
"Astaga sikapnya dingin sekali, Sayang sekali wajahnya sangat tampan " ucap lea
Dirumah Marcel bersama Doni sedang menikmati makanan pemberian lea. Doni sampai heran ketika menjemputnya membawa makanan itu. Ini pertama kalinya Marcel mendapat hadiah dari rekan kerjanya.
"Ini enak sekali." Kata Doni sambil mengunyah makanan itu
"Apakah seenak itu ?" Tanya Marcel ingin tahu
"Kau akan tahu ketika mencicipinya." Jawab Doni menyuruh untuk mencobanya
Mendengar jawaban Doni, Marcel mengingat kembali ucapan lea bahwa makanan itu di buat oleh ibu dan bibinya deng suka cita jika memakan itu akan membuat kita bahagia.
Lalu dia mencoba mencicipi makanan itu ke mulutnya. Ketika makanan itu masuk kemulutnya Marcel membenarkan bahwa makan ini enak.
"Enakkan?" Tanya Doni ingin mendengar pendapatnya
"Tanyakan pada temanmu,di mana dia membelinya?" Kata Doni
"Ibu dan bibinya yang membuatnya."
"Ternyata benar bahwa makanan yang di buat dengan cinta rasanya akan lebih enak. Makanan yang di buat Ibunya akan terasa berbeda."
Mendengar penuturan Doni tentang Ibu membuat Marcel menghentikan makannya. Sadar akan ucapannya yang bisa melukai Marcel segera Doni meminta maaf.
"Maafkan aku !"
"Tidak masalah." Jawab Marcel singkat
Dia merasa sedih mengingat tentang Ibunya lalu menggeser makanan itu dan berlalu meninggalkan Doni di meja makan sendiri.
***
Keesok harinya di kampus seorang laki laki muda menghampiri Vani yang sedang duduk di kantin. Laki laki itu ternyata si pangeran kampus yang dulu sempat diminta fotonya oleh Lea ketika Ospek.
Namanya adalah Leon, tidak ada yang tahu Leon adalah saudara tiri dari Marcel. Mereka hanya tahu bahwa Leon adalah anak Adam pemilik perusahaan Louis Company.
__ADS_1
"Vani." Panggilnya sambil melambaikan tangannya
Vani yang dipanggil namanya menoleh ke arah suara itu. Leon terus berjalan menghampiri vani ketika sudah hadapan vani dia duduk.
"Ada apa kau memanggilku?"
"Akhir akhir ini aku jarang melihat lea di kampus. Kamu tahu dia dimana?" Tanya leon
"Lea sibuk dengan pekerjaanya dan mengurus ibunya." Jawab Vani
"Ada apa kau menanyakan Lea bukannya kau sudah menolak perasaannya." Jawab vina dengan ketus
"Ya aku menyesal karena menolaknya, selama ini hanya lea yang tulus berteman denganku, jadi aku mohon padamu untuk memberitahukanku jika kau bertemu dengan lea. Telephoneku tidak pernah mau diangkatnya." Kata Leon memohon untuk memberitahukan jika bertemu lea
"Baiklah, tapi aku tidak janji jika dia mau bertemu denganmu."
"Terimakasih."
***
Hari ini cuaca sedang hujan, Marcel pergi ke SLB diantar Doni menggunakan payung dari gerbang sekolah sampai ke depan sekolah.
"Berhati hatilah." Kata Marcel mengingatkan
Lea tadi hendak turun dari tangga namun dia melihat kedatangan Marcel bersama seorang laki laki yang usianya tidak beda jauh dengannya. Lea berfikir apakah mungkin itu saudaranya?.
Dia mengintip di balik tembok dekat tangga. Namun tindakan lea yang sedang mengintip di sadari oleh Doni. Doni hanya tersenyum melihat itu.
"Ada apa ?" Tanya Marcel karena mendengar Doni tertawa
"Tidak, hanya hujan sudah reda." Kata Doni sambil meninggalkan Marcel.
Melihat mereka menyudahi pembicarannya dan Marcel akan masuk ke sekolah lea bergegas berlari menaiki tangga menuju ruang guru.
Disana dia duduk berpura pura sambil membaca buku tetapi buku yang di pegangnya terbalik dan di tertawakan oleh guru yang lewat di hadapannya. Segera dia membalikkan bukunya keposisi yang benar.
Tak lama Marcel masuk ke ruang guru.
"Guru Marcel, hujannya tadi deras sekali ya ?" Tanya guru yang tadi menertawakan lea
__ADS_1
Hanya di balas anggukan kepala oleh Marcel.
"Silahkan Masuk."
Begitu Marcel masuk ke ruang guru, Lea langsung ingin membantu menaruhkan payungnya.
"Guru Marcel biar aku menaruhkan payungmu di rak payung." Kata lea sambil menarik payung yang di pegangnya
Tapi Marcel refleks mempererat payungnya, jelas dia belum bisa mempercayainya.
Lea hampir meledak karena kesal dengan sikap Marcel.
Ku beri kau waktu tiga detik.Gumam lea menahan kesalnya
Tiga.
Dua. Sambil terus mempererat payungnya
Sebelum Lea benar-benar meledak, Marcel akhirnya memutuskan untuk mempercayai Lea dan melepaskan payung itu.
"Aku menghargainya."
"Ah.tidak masalah." Jawab lea sambil berlalu pergi ketempat penyimpanan payung
"Menghargainya.Dia nampak sopan tapi sebenarnya mudah tersinggung." Gumam lea sambil tersenyum
Baru saja dia meletakkan payung itu di tempat penyimpanan payung. Datang guru Anwar memberitahukan bahwa tidak ada kelas untuknya hari ini dan diperbolehkan pulang lebih cepat.
Kebetulan, hanya mereka berdua saja di ruangan itu, Lea diam-diam mendekati Marcel. Tapi Marcel mendadak menengadah ke arahnya yang sontak saja membuat Lea menghindar dengan canggung seolah dia ketahuan ngintip.
"Sudah pukul 12 aku pergi dulu,sampai jumpa." Pamit Lea
Ketika keluar dari ruangan dia terhenti sesaat memikirkan Marcel takut kesulitan untuk mencari payunya lalu mengambil payung milik Marcel dan meletakan di dekat mejanya.
"Guru Marcel, aku takut kau tidak bisa menemukannya payungmu aku taruh di sini." Jelas Lea sambil meletakkkan payung Marcel di dekat mejanya lalu pergi.
Mendapat perhatiannya kontan membuat Marcel tersenyum sambil menyentuh payungnya.
***
__ADS_1