
Benua Kekacauan, Kota Dewa Kura-kura Hitam
“Pemilik sebenarnya Tombak Raja Salju adalah leluhurku, Sang Dewi Salju pertama. Aku tidak tau bagaimana bisa kedua tombak ini memiliki bentuk yang sama, hanya aura, warna yang berbeda. Juga, untuk menggunakan Tombak ini, dibutuhkan qi Raja agar dapat menggunakannya. Dan meskipun ada spesial lainnya selian diriku yang sama, mereka belum tentu dapat menggunakan tombak ini.” ucap Xue Lingyi saat mengeluarkan Tombak Raja Salju.
Sebelum Ren Jie berbicara lagi, Xue Lingyi menaikkan sedikit alisnya.
“Ren Jie, tampaknya apa yang kau katakan benar bahwa aku harus mewaspadai seseorang. Ayo pergi, aku ingin melihat siapa sebenarnya yang ingin mencoba menantangku.” ucap Xue Lingyi yang membuat wajah Ren Jie berubah.
Ren Jie tanpa sadar melihat ke arah belakang dan Mata Dewa miliknya langsung aktif. Wajahnya langsung serius karena sudah melihat beberapa sosok kuat luar biasa yang mendekat ke arahnya.
Oleh karena itu, Ren Jie pun langsung bergegas dan mengikuti Xue Lingyi untuk keluar dari Kota Paviliun Dewa Kura-kura Hitam.
Walaupun Paviliun Dewa Kura-kura Hitam tidak sekuat kekuatan tingkat kedua lainnnya, tetapi mereka memiliki kelebihan yang membuat siapapun tidak aku bertarung di kota tempat mereka menetap. Yaitu, kekayaan melimpah Paviliun Dewa Kura-kura Hitam.
Dengan kekayaan sebesar itu, Paviliun Dewa Kura-kura Hitam pasti bisa menyewa sangat banyak kultivator untuk melawan para kultivator yang memberikan kekacauan kepada mereka.
Sementara itu, Dewa Kura-kura Hitam dan Ji Hua‘er melihat pergerakan semua kultivator yang bergerak ke satu arah, yaitu arah tenggara pintu masuk dan keluar Kota Dewa Kura-kura Hitam.
“Pertempuran besar tidak terhindarkan seperti biasa setelah lelang 100 tahun diadakan.” ucap Ji Hua’er dengan gelengan kepala.
“Seperti inilah sifat makhluk hidup. Jika tidak terjadi perang Setelah benda-benda berharga seperti itu di lelang, maka kedamaian sudah tercipta sedari dulu di Benua Kekacauan ini dan benua ini tidak akan dinamai seperti itu.” ucap Dewa Kura-kura Hitam.
Ji Hua’er yang mendengar itu hanya mengangguk kecil.
Keduanya pun langsung menghilang dan ingin melihat pertempuran yang akan segera terjadi. Apakah akan ada perpindahan benda yang di lelang atau tidak. Tentu saja keduanya hanya berniat untuk menonton, karena tidak ada gunanya bagi mereka untuk ikut campur dengan pertempuran yang akan segera terjadi karena itu hanya akan merugikan mereka Paviliun Dewa Kura-kura Hitam.
__ADS_1
Tenggara Kota Dewa Kura-kura Hitam
Saat ini, Ren Jie bersama dengan Xue Lingyi dan tiga Rubah Salju tingkat Dewa Kelas 2 tahap menengah telah pergi cukup jauh dari Kota Dewa Kura-kura Hitam lalu berhenti di tempat tertentu yang cukup sepi.
“Kenapa kalian tidak keluar sekarang dan katakan apa yang kalian inginkan?” Xue Lingyi menyipitkan matanya, dan disaat itu juga, Tombak Raja Salju di tangannya melepaskan aura dingin yang sangat kuat, membekukan semua yang ada di sana.
“Seperti yang diharapkan dari pemimpin Klan Rubah Salju yang muncul baru-baru ini. Dia memang kuat seperti rumor yang beredar.”
Sosok yang tidak lain adalah Niu Gong muncul dari udara tipis, berkata dengan nada acuh tak acuh.
“Apa yang kau inginkan, Niu Gong?” Tanya Xue Lingyi dengan nada dingin. Intimidasi yang ia keluarkan semakin kuat, jika itu adalah eksistensi Dewa Kelas 2 tahap akhir, mereka pasti akan mundur dan tidak berani berhadapan dengannya walaupun level Kultivasi sama.
“Aku tidak ingin mencari masalah denganmu. Aku hanya ingin mengambil Bunga Batu Akhirat dari tangan pemuda di sebelahmu. Dia pastilah pemimpin Istana Kaisar Surgawi yang berada di Ruang VIP Diamond nomor 10 sebelumnya.” ucap Niu Gong sedikit waspada. Ia dapat merasakan ancaman nyata dari Xue Lingyi yang masih berada di level Dewa Kelas 2 tahap akhir.
“Jika aku menolak?” Tanya Ren Jie dengan alis sedikit terangkat.
“Tidak ikut campur? Itu bukan urusanmu apakah aku ikut campur atau tidak. Jika kau tidak senang, kita bisa mendiskusikannya.” Balas Xue Lingyi saat qi Raja miliknya meletus.
Apa yang membuat Ren Jie terkejut, ia dapat melihat bahwa Tombak Raja Salju secara otomatis menyerap qi Raja Xue Lingyi dan digunakan seperti Belitan Qi Raja pada umumnya walaupun mungkin Xue Lingyi tidak mengetahui tentang Motede Belitan Qi Raja.
Wajah Niu Gong pucat ketika melihat Belitan Qi Raja di tombak yang ada di tangan Xue Lingyi. Ia merasa bahwa jika ia melawan Xue Lingyi, hanya kecil kemungkinan baginya untuk memang.
“Sungguh sombong. Akulah yang akan kau lawan.” Sosok lainnya muncul tiba-tiba, dan dia adalah Ling Tian Sang Penakluk yang kini seluruh tubuhnya diselimuti oleh Belitan Qi Raja.
Untuk Ling Tian, Belitan Qi Raja hampir tidak berfungsi pada tubuhnya karena ia dilindungi oleh Belitan Qi Raja miliknya dalam petempuran. Dan selama ini, ia sudah menempa qi Raja miliknya sekuat mungkin agar ia tidak menerima efek samping pada serangan Belitan Qi Raja. Tetapi, kekurangannya tentu saja qi Raja miliknya sangat cepat habis.
__ADS_1
“Lingyi, berhati-hatilah. Dialah yang aku katakan untuk kau waspadai.” ucap Ren Jie melalui telepati.
Xue Lingyi menyipitkan matanya karena ia tentu dapat merasakan bahaya luar biasa dari Ling Tian.
“Dan untukmu, serahkan buku yang kau beli, atau aku akan melibatkanmu juga! Kau hanyalah Dewa Kelas 3, tidak memiliki kualifikasi untuk berbicara!” ucap Ling Tian dingin menatap ke arah Ren Jie.
Ren Jie hanya diam dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh sosok lainnya yang mendekat.
Sebelum ada yang berbicara lagi, Master Sekte Gajah bersama dengan bawahannya muncul. Tetapi, tiba-tiba saja, para Biksu juga muncul, menghadang Master Sekte Gajah.
Hal ini membuat semua yang ada di sana sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Bahkan untuk Master Sekte Wayang yang baru saja tiba bersama dengan Canglan dan dua kultivator Dewa Kelas 2 tahap akhir juga bingung.
“Apa yang kau lakukan? Apa menurutmu karena kau berasal dari Kuil Buddha, aku tidak akan berani membunuhmu?” Tanya Master Sekte Gajah dengan nada sangat dingin serta niat membunuh yang terus-menerus merembes.
Biksu muda botak yang merupakan jenius terbaik di Kuil Buddha menyatukan kedua telapak tangannya dan berbicara dengan nada penuh khidmat. “Membunuhku?”
“Amitabha...!” Seringai hinaan terlihat jelas diwajahnya.
“Maaf jika pendosa ini tiba di sini. Tetapi pendosa ini memiliki alasannya sendiri, dan itu tentu saja karena pendosa ini telah melacak kekuatan yang sangat jahat pada tubuh dermawan. Bagaimana jika seperti ini? Pertarungan apapun tidak akan membuat untung siapapun. Jadi, ada baiknya jika dermawan mengangkat tangan dan berbalik badan agar pendosa ini melakukan pekerjaannya dengan mulus.” ucap Biksu muda botak tersebut.
“Mengangkat tangan dan berbalik badan?” Wajah Master Sekte Gajah garang seketika dan niat membunuhnya meletus dahysat.
“Mati!” Teriak Master Sekte Gajah menyerang ke arah Biksu muda tersebut.
Biksu muda tersebut menaikkan sudut bibirnya lalu cahaya emas meletus di matanya.
__ADS_1
“Asura!”