
Benua Kekacauan, Hutan Tulang Basah
“Dewa Sage...” gumam Ren Jie dengan sedikit kerutan di dagunya.
“Apa kau kenal dengan seseorang bernama Zhou Tian Cheng?” Tanya Ren Jie menatap ke arah Ren Xue-Yu.
“Zhou Tian Cheng? Titan Kuno? Ya, aku pernah bertemu dengannya. Apakah dia masih hidup di zaman ini? Jika ya, berhati-hatilah karena dia memiliki ambisi yang sangat tinggi. Walaupun dahulu dia terlihat seperti Titan Kuno pada umumnya yang ingin mencari pengetahuan, aku tau bahwa ada ambisi mengerikan dalam hatinya.” ujar Ren Xue-Yu dengan wajah serius.
Wajah Ren Jie berubah sedikit ketika mendengar perkataan Ren Xue-Yu. Ia pun menenangkan dirinya lalu bertanya kembali, “Lalu, apa sebenarnya tujuanmu meninggalkan energimu di tempat ini? Apakah hanya ingin memastikan siapa yang datang ke tempat ini?”
“Ya, tentu saja aku ingin melihat penerus yang dapat menampung kekuatan ibu. Tetapi ternyata kaulah yang datang. Ini membuatku bahagia karena bisa melihatnya yang sudah tumbuh dewasa. Dan juga, karena kaulah yang datang, maka aku akan memberikan hadiah pertemuan ini.” ucap Ren Xue-Yu dengan senyum hangat diwajahnya. Disaat itu juga, semua tempat dipenuhi oleh cahaya menyilaukan.
Cahaya menyilaukan tersebut perlahan menyatu membentuk sebuah tetesan air berwarna biru muda, dan itu adalah perpadatan qi dan konsep yang luar biasa tinggi.
Setelah itu, energi yang dipadatkan tersebut langsung melesat ke arah Ren Jie dan memasuki tubuhnya.
“Ini adalah sisa Kekuatanku yang aku tinggalkan di tempat ini. Dan itu akan berguna bagimu dikemudian hari. Ketika kau dalam bahaya yang mungkin merenggut nyawamu sekali lagi, maka kekuatan itu akan aktif, menciptakan ulang segala sesuatu yang hancur di tubuhmu, tidak terkecuali untuk jiwa sekalipun.”
“Ingat kakak, walaupun aku dikatakan sangat istimewa diantara semua saudara dan saudari kita, bagiku kaulah yang paling istimewa karena kehadiranmu merupakan pemicu kemakmuran di zaman kuno dan juga menjadi alasan kenapa ayah begitu keras berkultivasi mencapai puncak. Dan ibu sangat optimis padamu, datanglah ke Kuil Permaisuri Surgawi karena kau pasti akan menemukan sesuatu yang membuatmu merasa senang.” ucap Ren Xue-Yu. Ia menembakkannya seberkas cahaya ke dahi Ren Jie lalu ia pun pudar dalam sekejap.
Ren Jie ingin berbicara lagi tetapi ia langsung menahan kata-katanya karena Ren Xue-Yu telah menghilang. Ia menatap ke arah buku yang kembali tertutup dan terletak ke arah altar.
Apa yang dikirimkan oleh Ren Xue-Yu ke dalam pikirannya adalah semua hal tentang buku tersebut yang halaman berikutnya tidak akan bisa dibaca dengan mudah.
Walaupun Ren Jie bisa, pada akhirnya itu akan memakan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu buku, dan Ren Xue-Yu membantunya mempersingkat waktu.
“Terima kasih, aku tidak akan mengecewakanmu.” ucap Ren Jie dengan senyum hangat diwajahnya lalu ia pun berbalik dan berjalan keluar dari tempat tersebut.
Ren Jie sebenarnya sangat ingin bertanya di mana keberadaan mereka semua tetapi ia tidak melakukannya karena ia akan menemukan semua keluarganya suatu hari nanti dengan caranya sendiri.
__ADS_1
Ketika Ren Jie keluar dari ruangan rahasia tersebut, ia terdiam ketika melihat apa yang terjadi.
Di tempat yang tidak terlalu jauh, terlihat Dai Huang yang sedang melatih Dai Mubai. Tetapi itu tidak seperti melatih di mata Ren Jie, melainkan penindasan sepihak.
“Bajingan tua! Aku akan mengalahkanmu!” Teriak Dai Mubai saat ia berguling-guling di permukaan tanah dengan wajah bengkak seperti babi.
“Bajingan tua? Hormatilah yang tua dasar bocah sialan!” Teriak Dai Huang dengan Urat-urat tebal seperti kawat baja di dahinya saat ia mengayunkan pukulan seribu kombo.
“Arrrggghh..!”
“Hormati yang tua dan cintai yang muda! Bajingan tua, kau sama sekali tidak mencintai yang muda, bagaimana aku menghormati seseorang sepertimu?” Teriak Dai Mubai saat menyilangkan kedua tangannya menahan kombo pukulan dari Dai Huang.
Nafas Dai Huang semakin cepat dan dadanya naik turun, matanya berkobar seperti api dan mengayunkan tinjunya lebih ganas lagi setelah mendengar teriakan Dai Mubai.
“Apakah kalian sudah selesai?” Tanya Ren Yuu tidak bisa berkata-kata melihat betapa dekatnya kedua orang itu.
“Ya.” Ren Jie mengangguk.
Bam!
Ketika mendengar itu, Dai Huang mengayunkan tinjunya sekali lagi yang membuat wajah Dai Mubai langsung tertanam di dalam tanah.
Ren Jie terdiam melihat adegan tersebut.
“Apakah kau memiliki petunjuk?” Tanya Dai Huang.
“Ya.” Ren Jie mengangguk kecil lalu mengeluarkan peta lalu melebarkannya. Ia pun menatap ke arah tertentu dengan mata menyipit sedikit.
“Gunakan peta ini. Peta ini adalah peta terlengkap wilayah Hutan Tulang Basah dan Gurun Togre.” ucap Dai Huang saat melebarkan peta.
__ADS_1
Menatap itu, mata Ren Jie berbinar lalu ia melihat ke banyak tempat, matanya tertuju pada titik tertentu lalu mengeluarkan pisau kecil.
Tak!
Pisau kecil itu langsung menusuk titik tertentu lalu Ren Jie pun berbicara, “Apakah kau bisa menuntunku ke tempat ini?”
Dai Huang menatap ke arah peta dan matanya menyipit sedikit. “Ini adalah perbatasan Gurun Togre dan Hutan Tulang Basah. Tempat ini sulit di jamah karena terpisah oleh lembah aneh. Mengapa aku dikatakan aneh, di sana seperti ada sebuah ilusi yang membaut siapapun tidak bisa masuk, dan disaat seseorang bisa masuk, mereka tidak akan pernah kembali. Apakah kau yakin ini tempatnya?”
“Ya, di sinilah Kuil Permaisuri Surgawi berada.” Ren Jie mengangguk kecil.
“Jika begitu, ayo pergi. Jika dilihat dari arah yang diambil oleh kelompok tertentu di masa lalu saat menyerang Klan Dai, mereka memang mengarah ke titik ini yang artinya mereka juga memperkirakan secara samar di mana letak Kuil Permaisuri Surgawi berada.” ucap Dai Huang.
Mendengar itu, Ren Jie mengangguk lalu bergerak mengikuti Dai Huang.
Sementara itu, Dai Mubai yang menarik kepalanya dari dalam tanah, memasang wajah marah menatap ke arah kepergian Ren Jie dan Dai Huang.
“Sial! Apakah kalian berniat meninggalkanku di tempat terkutuk ini?” Dai Mubai hendak mengamuk tetapi ia menahan diri lalu mengikuti keduanya pergi tanpa daya.
**
Di suatu tempat di perbatasan Gurun Togre dan Hutan Tulang Basah, terlihat beberapa sosok yang sedang bergerak menggunakan kendaraan yang di tarik oleh binatang roh.
Kelompok tersebut adalah kelompok Manusia Ular yang terdiri dari enam Manusia Ular dan satu yang berada di dalam gerbong kereta.
Manusia Ular yang mengendalikan binatang roh, melihat ke sekelilingnya lalu menarik tali di tangannya yang membuat binatang roh berhenti.
“Kita sudah tiba di perbatasan...”
“Ratu.”
__ADS_1