Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 10. Ceraikan Aku !


__ADS_3

"Jika Mas tidak lagi membutuhkan kehadiran aku di rumah ini, maka lepaskan aku." Lirih Kia.


Semua terasa melelahkan. Otak, tenaga dan juga hati, semua mulai merasakan lelah. Kia masih menatap Aryan dengan bibir yang bergetar, usai mengucapkan kalimat singkat yang membuat hatinya semakin mati rasa itu, ia masih memberanikan diri untuk terus menatap suaminya.


Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian pagi itu. Entah apa yang merasuki wanita paruh baya yang biasa ia sebut dengan panggilan Mama, hingga begitu tega merusak barang miliknya usai mengutarakan pernikahan kedua suami nya. Kia berpikir, setelah protes berkepanjangan, keluarga suami nya, tidak akan melanjutkan rencana itu, namun, lihatlah apa yang sedang berada di tangan suaminya. Dua buah jas pengantin yang ia yakin memiliki harga fantastis itu, kini bahkan berada di dalam kamar tidur nya.


"Jika ingin tetap melanjutkan pernikahan itu, maka selesaikan pernikahan kita terlebih dahulu!" Ujar Kia lagi dengan tatapan tajam menusuk. Sungguh, ia benar-benar tidak tahan lagi menjalani pernikahan seperti ini.


"Kia, cinta itu butuh perjuangan. Dan kita berdua harus sama-sama berjuang untuk tetap menjaga cinta itu." Ujar Aryan. Ia meletakkan dua buah stelan yang akan ia gunakan esok hari, ke atas ranjang.


"Kalimat itu cocok untuk kamu, Mas. Selama ini hanya aku yang terus berjuang. Menahan, dan memaklumi semua perlakuan keluarga mu. Berharap dan terus berharap, suatu hari nanti mereka akan membuka hati, dan menerima cinta kita. Tapi Mas, apa kamu juga sudah berjuang? Apa kamu sudah berusaha menyadarkan mereka, jika semua yang mereka lakukan selama ini terhadap pernikahan kita itu, salah? Tidak, Mas. Kamu tidak pernah meminta itu pada mereka, dan hanya meminta aku untuk terus patuh pada keluarga mu" Jawab Kia dingin.


Aryan terdiam di samping ranjang.


"Jika tidak lagi mencintai ku, lepaskan aku, Mas. Ceraikan aku." Air mata Kia menetes membasahi pipi nya. Meskipun pernikahan ini begitu menyiksa, tetap saja bayang perpisahan jauh lebih menyakitkan lagi.


Aryan melangkah mendekat, ingin meraih tubuh mungil istrinya itu, namun, Kia justru melangkah membuat jarak agar Aryan tidak lagi bisa menyentuh nya.

__ADS_1


"Jangan seperti ini, Kia. Aku mencintai mu." Ucap Aryan memohon.


"Apa ini benar-benar cinta, Mas? Atau kah hanya sebuah obsesi ingin memiliki? Mas, jika kamu benar-benar mencintai ku, kamu akan tetap bertahan untuk tidak menodai pernikahan kita tanpa menyakiti kedua orang tua mu. Tapi lihatlah, kamu bahkan begitu tega membawa baju pengantin yang akan kamu gunakan untuk mempersunting wanita lain, kedalam kamar kita." Ujar Kia.


Aryan terdiam tanpa kata. Ia mencari tahu ke dalam lubuk hati terdalam nya, dan benar, hanya ada Kia di sana dan kedua orang tuanya. Tidak ada wanita lain, termasuk Rika wanita yang akan ia nikahi besok.


Karena Aryan tidak lagi berkata apapun, Kia memutuskan untuk naik ke atas ranjang dan berbaring di sana. Hari-hari nya begitu melelahkan, di tambah lagi dengan hari ini, sungguh jika ia tidak beristirahat maka kemungkinan ia akan berakhir di rumah sakit.


"Aku mohon, malam ini biarkan aku beristirahat. Mas tidur di kamar lain dulu." Ucap Kia. "Jangan lupa, bawa keluar baju pengantin mu itu." Sambungnya lagi.


Setelah pintu kamar tertutup, Kia mulai tersedu sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Entah setan apa yang membuat dirinya sebodoh ini, hingga harus bertahan begitu lama di dalam keluarga yang sama sekali tidak pernah menghargai keberadaannya.


Jika beberapa bulan yang lalu, ia bisa menangis dalam pelukan Aryan setelah mendapat perlakuan kurang baik dari Mama mertuanya, kali ini justru Aryan lah yang menorehkan luka di dalam hati nya. Jika dulu Aryan akan mengusap air mata yang jatuh di pipinya karena perlakuan buruk dari keluarga, kini justru Aryan lah yang membuat air mata itu jatuh. Lalu untuk apa lagi ia bertahan dengan pernikahan ini, jika laki-laki yang ia harapkan bisa menjaga nya justru memberinya luka sedalam ini?


Waktu terus berlalu. Malam mulai larut, namun, mata Kia belum juga terpejam. Entah sudah berapa kali ia mengulangi shalat dua rakaat nya, namun, tetap saja hatinya masih belum juga mendapatkan ketenangan. Bayangan jika besok Aryan yang akan mengucapkan ijab kobul untuk wanita lain, membuat dadanya terus berdenyut, sakit.


Kia kembali merangkak naik ke atas ranjang. Mukenah berwarna putih yang menutupi tubuhnya, tidak ia lepaskan. Mencoba untuk memejamkan mata, namun, tetap saja begitu sulit untuk terlelap.

__ADS_1


Dengan tubuh yang lemas, Kia kembali melangkah ke dalam kamar mandi. Ia ingat jika Aryan menyimpan beberapa merk obat tidur di tempat obat mereka, dan mungkin saja bisa membantu nya untuk terlelap malam ini.


Meski ragu, Kia mengulurkan tangannya, meraih satu botol obat yang biasanya di konsumsi Aryan, saat suaminya itu sulit untuk terlelap karena masalah yang tidak ada habisnya.


Beberapa butir obat berhasil masuk ke dalam tubuh Kia. Wanita yang masih mengenakan mukenah itu lantas, kembali melangkah menuju ranjang, untuk beristirahat.


Semua begitu melelahkan. Ia benar-benar ingin tidur, berharap jika nanti saat terlelap mimpi indah akan datang menemani tidur panjangnya malam ini. Berlarut dalam kesedihan begitu melelahkan, ia ingin sekali saja benar-benar menikmati indahnya mencintai dan di cintai seseorang, walau itu hanya dalam mimpinya.


Melupakan sejenak masalah yang begitu rumit dalam hidup nya. Dan, ingin menikmati kehidupan tenang tanpa beban. Yah, hanya ada dirinya, dan juga Aryan yang akan selalu mencintai nya.


Manik indah yang selalu memancarkan keindahannya itu, mulai tertutup perlahan. Wajah teduh berbalut mukenah putih, nampak mulai terlihat tenang dalam lelapnya. Kia terlelap, bersama dengan cairan berbusa merembet keluar dari sudut bibir nya. Kali ini benar-benar tenang. Tidak hanya tenang tanpa terdengar suara, tetapi di sertai gelap tanpa cahaya.


Inilah yang ia inginkan selama ini. Ternyata, memutuskan menerima pinangan dengan begitu terburu-buru, adalah keputusan yang salah. Seharusnya ia memilih menikmati kesendirian seperti malam ini. Mengurung diri dalam gelapnya malam, tanpa suara yang menyakiti hati.


Samar suara seseorang yang sedang memanggil-manggil namanya, kembali mengganggu. Kia berusaha membuka kembali mata nya, dan melihat siapa gerangan yang sedang mengganggu ketenangan nya ini.


Setelah tubuhnya berpindah ke dalam pelukan orang itu, Kia kembali terlelap dengan begitu tenang.

__ADS_1


__ADS_2