Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 53. S2 ( Kejutan Untuk Kayra )


__ADS_3

Seperti hari-hari biasanya setelah pulang kerja. Arkana akan mengajak Kayra makan malam terlebih dahulu di restoran kenalannya, lalu kemudian pulang. Malam ini, Arkana masih terlihat seperti biasanya. Menyapa rekan bisnisnya yang bernama Ingrid sekaligus pemilik restoran, kemudian menyantap makanan yang di sediakan dengan begitu lahap sesekali menjaili Kayra.


Usai makan malam yang selalu mereka lakukan bersama hampir setiap hari itu, Arkana langsung mengajak Kayra pulang.


Saat tiba di samping mobil yang sedang terparkir di depan restoran, Kayra masih penasaran tentang hubungan antara kakak sepupunya dengan pemilik restoran itu.


"Abang jatuh cinta sama pemilik restoran itu?" Tanya Kayra setelah masuk ke dalam mobil sambil memasang sabuk pengaman di tubuh nya.


Arkan yang juga sedang memasang sabuk pengaman di tubuhnya, tergelak saat mendengar pertanyaan Kayra. Ia lalu menggeleng.


"Masih cantikan kamu." Jawab nya jail namun terkesan serius.


Kayra yang sudah terbiasa di kerjai oleh laki-laki di sampingnya ini, tidak lagi terkejut dengan guyonan seperti itu. Arkana bahkan tidak segan mengatakan hal-hal konyol seperti itu doi depan keluarga besar mereka.


"Nanti kita ketemu Om Aryan, ya." Ucap Arkana tiba-tiba, membuat raut wajah Kayra berubah.


"Buat apa?" Tanya nya.


"Yah, biar bagaimana pun beliau adalah Ayah kandung kamu, Kay. Apapun yang terjadi di masa lalu, tidak akan mampu merubah kenyataan itu. Aku pikir Aunty juga menjelaskan padamu apa yang membuat mereka berpisah." Ujar Arkana.


"Apapun alasan nya, laki-laki itu tetap salah, Bang. Menghormati orang tua tidak harus mengorbankan istri sendiri. Mencintai orang tua, tidak harus melukai seorang istri yang sedang mengandung darah dagingnya." Jelas Kayra, membuat Arkana terdiam. "Aku tahu kok, Bang kalau maksud kamu baik. Tapi jangan sekarang, nanti jika aku benar-benar siap bertemu dengannya."Sambung Kayra kali ini sudah kembali selembut biasanya.


Arkana mengangkat tangannya lalu mengacak_acak hijab Kayra.


"Aku tahu kamu gadis yang baik." Jawabnya.


Mobil yang di kendarai Arkana terus melaju sedang di jalanan Jakarta. Kayra membuka jendela mobil, dan membiarkan udara menerpa wajah cantiknya. Tatapannya tertuju pada lampu-lampu jalanan yang seakan ikut bergerak saat di lewati oleh mobil yang sedang membawanya pulang.


Semua memiliki pilihan dalam hidup. Dan inilah pilihannya. Ia mengikuti apa yang di lakukan oleh sang Ibu di masa lalu. Memilih membentangkan jarak untuk mencegah luka. Mungkin nanti entah kapan, ia pasti akan menemui laki-laki yang hanya beberapa kali ia lihat di layar TV itu, dan meminta maaf atas kelakuannya selama ini yang memilih menjauh.


"Kita sampai." Ucap Arkana. Kayra yang masih larut dalam lamunan tentang laki-laki yang belum sekjalipun bertemu dengannya, segera tersadar.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Arkana.


"Nanti, jika suatu hari nanti ada seseorang yang membuat ku jatuh cinta, dan berniat menikahi ku apa aku harus bertemu dengan laki-laki itu? Yah, biar bagaimana pun, dia kan Ayah kandung ku." Kayra menatap Arkana.


"Tentu saja. Paman memang sangat menyayangi mu, tapi yang lebih berhak melepas mu pada laki-laki berikutnya adalah Om Aryan." Jawab Arkana. "Apa ada laki-laki yang kamu suka?" Tanyanya kemudian.


Kayra menggeleng. Yah, sampai saat ini belum ada satu laki-laki pun yang mampu membuat nya jauh cinta.


"Masa sih? Kamu SMA dan kuliah ngapain aja?" Tanya Arkana tidak percaya.


"Belajar, dan di kandangin sama kalian bertiga!" Jawab Kayra kesal. Yah, kalau bukan ketiga kakak sepupunya, mungkin sekarang ia punya mantan yang bisa di pamerkan pada teman-teman kantornya. "Bagaimana aku bisa jatuh cinta, sedangkan laki-laki di sekolah dan di kampus sudah ciut lebih dulu ketika melihat kalian bertiga." Kayra masih mengomel kesal, membuat Arkana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kutuk saja mulutnya yang tidak bisa diam, hingga membuat Kayra mengomel. Sepertinya dia belum puas mengoceh memarahi laki-laki yang kini sudah turun dari dalam mobil dan mengikutinya masuk ke dalam rumah.


"Aunty Niza dan Om Daren ke sini." Ujar Kayra saat melihat kedua orang tuanya sedang membahas sesuatu entah apa di dalam ruang tamu. "Ada Paman dan Aunty Trias juga." Imbuhnya sambil menoleh sejenak ke arah Arkana.


Arkana seketika pucat pasi. Habislah dia malam ini. Orang tuanya benar-benar datang tanpa bertanya dan meminta pendapat lebih dulu.


"Lagi ngurusin acara siapa, Aunty?" Tanya Kayra setelah menyalami punggung tangan keenam orang yang berada di dalam ruangan itu, bergantian. Ia menata sebuah brosur wedding organizer yang ada di genggaman adik dari Ayahnya itu.


Azam menatap putranya yang masih mematung tidak jauh dari pintu masuk. Terlihat jelas kekhawatiran sedang melanda putranya itu, bahkan memberikan isyarat dengan menggelengkan kepala.


"Memangnya selera orang yang akan menikah seperti apa Aunty? Tapi sepertinya ini bagus. Terlihat sederhana namun tetap elegan." Jawab Kayra.


"Loh yang mau nikah kan kalian. Memangnya Abang kamu belum kasih tahu ya?" Tanya Daniza lagi.


Kayra yang sedang membungkuk melihat gambar dekorasi di brosur, mengangkat tubuhnya perlahan kemudian menatap laki-laki yang masih berdiri tidak jauh dari pintu masuk.


"Kayra, Mama yang meminta Aunty dan Paman Azzam agar mengizinkan Arkana menjaga mu." Ujar Adzkia.


"Mah...


Kayra hendak memprotes sikap yang di ambil oleh sang Mama itu, namun seketika terhenti saat mendapati gelengan kepala dari sang Papa.

__ADS_1


"Tapi, Pah. Kasian Bang Arka. Bagaimana kalau dia punya seseorang yang dia cintai. Oh iya, dia lagi dekat sama seorang gadis pemilik restoran. Iya kan, Bang?" Kayra kembali menatap Arkana yang masih saja berdiri di tempatnya.


"Benar itu?" Tanya Daniza dengan wajah garang. Ia akan menghantam keponakannya ini sekarang juga, jika benar-benar melakukan hal yang baru saja di ucapkan oleh Kayra.


Trias pun terlihat mulai menatap putranya dengan tatapan menyelidiki.


Arkana menarik nafas, lalu menghembuskan nya secara perlahan.


"Nggak, kay. Aku dan wanita itu tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya sebatas relasi bisnis, dan kamu juga tahu kalau perusahaan kita sedang menjalin kerja sama dengan restorannya." Jelas Arkana. Laki-laki itu sudah melangkah dan duduk di sofa yang ada di dalam ruang tamu. "Aku sudah tahu tentang perjodohan ini sejak lama. Tapi aku takut mengatakannya padamu." Sambungnya.


Kayra terdiam tidak percaya dengan keadaan yang sedang ia alami hari ini. Tidak, bagaimana bisa ia akan menikah dengan laki-laki yang sudah seperti kakak kandung baginya. Arkana sudah menggantikan peran sang Ayah selama ini. Selalu memastikan dirinya baik-baik saja di mana pun berada.


"Tapi bagaimana bisa, Bang?" Lirih Kayra bertanya.


Braakkk


Sebuah brosur yang berada di tangan Daniza, menghantam pundak Arkana.


"Ibu kamu kan sudah memperingati agar segera menjelaskan pada Kayra. Tapi kamu tetap saja mengatakan biar kamu saja yang menjelaskan. Coba lihat apa yang terjadi, masa iya pernikahannya di batalkan." Omel Daniza pada keponakannya.


"Nggak kok, Aunty. Kay tidak sampai berpikir seperti itu..


"Berarti kamu setuju?" Tanya Daniza dengan mata berbinar. Trias pun ikut tersenyum dengan sikap adik iparnya yang begitu mudah mempengaruhi Kayra.


"Egh, maksud Kay...


Arkana tertawa melihat tingkah Kayra, dan lagi-lagi mendapat hantaman brosur di tubuhnya dan kali ini dari Trias.


*****


*NoteAuthor

__ADS_1


Maaf ya aku khilaf 😅😅 Aku edit ulang 😁


Saking banyak nya keturunan Prasetyo jadi lupa anak siapa 🤣🤣 Anak Daniza dan Daren Azka yaa 🙏🙏🙏


__ADS_2