Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 32. Happy Birthday Arkana


__ADS_3

"Nanti Kay yang kasih hadiahnya, ya?" Ucap Alfan setelah meletakkan sebungkus kado ke atas kursi mobil tepat di samping Kayra. Gadis kecil itu mengangguk setuju.


Kia menoleh sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Suasana seperti ini memang sudah tidak asing lagi. Alfan memang sudah dekat dengan putrinya, walau mereka jarang sekali bertemu.


"Nih, aku pesan baju buat kamu. Nanti malam di pakai." Ucap Alfan lagi setelah masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi.


Kia melirik paper bag yang ada di sampingnya. Meskipun ingin menolak pemberian, Kia kembali mengurungkan niatnya dan mengucapkan terimakasih. Tidak akan ada gunanya, lelaki keras kepala di sampingnya ini pasti akan tetap memaksa agar dirinya menerima pemberian itu.


"Nanti setelah nikah kita tinggal di rumah Mami. Bang Azam sudah kembali ke rumah nya." Ujar Alfan lagi, dan Kia masih saja membisu. Ia tidak memiliki rencana apapun untuk hidupnya dan berniat mengikuti apa saja yang akan di rencanakan oleh Alfan. Baginya sudah ada laki-laki yang mau melindungi Kayra, itu sudah lebih dari cukup. Hal yang paling berharga dalam hidupnya saat ini adalah Kayra, dan ia mau melakukan apapun, selagi itu bisa membuat putri kecilnya baik-baik saja.


Cukup lama mobil yang di kendarai Alfan melaju di jalanan. Hari memang semakin beranjak pergi. Sebentar lagi jam pulang kerja, jadi keramaian di jalanan Jakarta tidak lagi bisa di hindari. Namun, begitu mobil mewah itu akhirnya berhasil memasuki gerbang sebuah rumah megah di tengah kota Jakarta.


Alfan turun dari mobil, begitu pula dengan Kia. Laki-laki yang masih mengenakan pakaian formal, kemeja berwarna putih juga celana berbahan kain itu segera melangkah menuju pintu mobil lain dan membawa gadis kecil kesayangannya keluar dari dalam mobil itu.


"Biar aku aja, Fan." Pinta Kia tak enak saat Alfan membawa Kayra menuju pintu rumah. Selama bertahun-tahun mengenal keluarga Alfan, ini pertama kalinya Kia berkunjung ke kediaman mereka dan bertemu seluruh anggota keluarga.


"Biar aku aja, kamu lelah." Jawab Alfan sambil terus membawa Kayra menuju rumah. Sedangkan Kia memilih membawa paper bag yang di berikan Alfan tadi, serta kado untuk ulang tahun Arkana.


"Assalamualaikum..." Ucap Alfan.


Seluruh anggota keluarga yang memang sudah berkumpul sejak pagi tadi, seketika menoleh.


"Walikum'salam." Jawab mereka hampir bersamaan. "Wah cucu Oma sudah datang." Danira beranjak dari atas sofa, lalu melangkah mendekati putranya.


"Ayo sini, Nak." Ajaknya lagi pada wanita yang terlihat canggung karena ini pertama kalinya bersedia datang mengunjungi rumah nya.

__ADS_1


"Iya, Tante." Jawab Kia sopan.


Setelah menyerahkan Kayra pada sang Mami, Alfan kembali melangkah menuju Kia. Mengambil barang bawaan dari tangan wanita itu, dan membawanya menuju kamar yang sudah di siapkan untuk Kia dan Kayra beristirahat malam ini.


"Ayo sini, Kia. Jangan malu-malu." Ucap Daniza membuat Kia tersenyum.


"Jangan gangguin dia!" Ucap Alfan memperingati. Dia tahu bagaimana kelakuan dari adik nya ini. "Azka sini kenalan sama Adek Kay." Ucap Daniza lagi pada putranya yang sedang asyik bermain bersama kakak sepupunya yang lain.


"Ar juga dong, Aunty." Ucap bocah laki-laki yang akan berulang tahun malam nanti.


"Ayo sini, ajak Aidan juga." Perintah Daniza pada keponakan nya.


Tiga bocah tampan itu akhirnya melepaskan mainan mereka masing-masing, dan melangkah mendekati Oma mereka yang sedang memangku Kayra.


"Ini Abang Ar, yang ini namanya Bang Aidan, dan yang ini Bang Azka." Danira memperkenalkan ketiga cucu tampannya pada Kayra.


"Nanti kalian jagain, Kay ya." Ucap Alfan sambil mengusap kepala keponakannya. "Aku mau antar pakaian kerja ku ke apartemen dulu." Pamitnya lagi.


Kia menatap Alfan bingung.


"Aku mau nginap di apartemen Dimas." Ucap Alfan seolah tahu apa yang sedang bersemayam di otak Kia.


"Makanya secepatnya di halalin, biar Mami ga ngusir kamu dari rumah saat ada Kia di sini." Aidar tertawa melihat adiknya.


Alfan hanya mendengus kesal dengan ledekan kakaknya.

__ADS_1


"Kenapa harus tidur di apartemen? Di rumah ini kan ada banyak kamar, Bang." Daniza menatap Alfan yang hendak keluar dari rumah.


"Ngga boleh. Nanti kalau kita sudah terlelap dan Alfan pura-pura salah masuk kamar, siapa yang tanggung jawab." Ujar Danira.


"Ya biarin aja, Mi. Kan tinggal nikah, iya kan, Kia?" Kali ini Azam yang ikut bersuara, dan di sambut tawa meriah oleh para penghuni ruangan mewah itu.


"Aku sih oke aja." Alfan ikut menimpali.


Wanita yang sedang menjadi topik pembicaraan hanya bisa menunduk dalam dengan wajah yang sudah Semerah tomat.


"Makanya secepatnya nikah. Ada begitu banyak kebaikan di dalam sebuah pernikahan. Bahkan untuk menuntaskan hasrat pun, di hitung pahala oleh Allah. Begitu baik bukan?" Kalimat Arion di setujui oleh anak-anak dan menantunya.


"Iya, bentar lagi, Pi. Kia sudah setuju kok. Nanti mulai hari ini dia akan tinggal di sini, biar Alfan yang pindah ke apartemen." Ujar Alfan membuat Kia menoleh.


Alfan pun masih menatap Kia dengan lekat. Menanti suara yang akan keluar dari bibir wanita yang ia cintai itu, namun, beberapa detik berlalu mereka hanya saling berpandangan. Hingga akhirnya, Kia memutus tatapan mereka dan kembali menunduk.


"Benarkah?" Tanya Danira memastikan. Raut bahagia tergambar jelas di wajah nya setelah mendengar kalimat yang baru saja terucap dari putranya. Ia benar-benar ingin memastikan kebenaran kalimat itu dari wanita yang sedang duduk di samping putrinya ini.


"Jika Tante dan Om setuju menerima wanita seperti Kia, maka tidak ada alasan lagi untuk menolak niat baik itu." Jawab Kia.


"Ya Allah Kia, sejak dulu kan Tante sudah meminta kamu untuk menjadi menantu. Kamu nya aja yang selalu menolak." Ucap Danira.


"Kamu itu terlalu baik untuk laki-laki bujang lapuk seperti dia. Kamu tahu, hanya kamu yang mau menerima nya menjadi suami." Ujar Daniza menimpali, membuat suasana yang begitu hening kembali di isi oleh tawa geli dari penghuni ruangan itu, kecuali Alfan yang kini sudah menatap tajam adiknya.


"Jangan berlebihan." Daren mengusap lembut kepala istrinya yang berbalut hijab.

__ADS_1


Wanita yang sudah memiliki satu orang anak itu tersenyum lalu meminta maaf kepada suaminya itu.


Tidak ingin terus menjadi bahan ledekan oleh kakak dan adiknya, Alfan kembali berpamitan dan segera meninggalkan ruangan itu sambil membawa satu buah tas berisi pakaiannya yang akan di bawa ke apartemen Dimas.


__ADS_2