Kebaikan Sebuah Pernikahan

Kebaikan Sebuah Pernikahan
Bab 18. Awal Penyesalan


__ADS_3

Di dalam bandara, Aryan berlari menuju ruangan di mana para penumpang sedang menunggu keberangkatan. Matanya yang berkaca terus mengelilingi ruangan yang ia lewati, mencari sosok wanita yang begitu ia rindukan. Banyak hal yang membuatnya rindu akan wanita nya itu. Rasa bersalah semakin menggerogoti jiwa nya. Penyesalan? Jangan di tanya lagi, mungkin inilah awak dari penyesalan itu, dan mungkin tidak akan pernah berakhir sebelum menemukan Kia.


"Penumpang atas nama Adzkiya Nayla Talita, tolong di cek." Perintahnya dengan terburu-buru pada petugas yang ada di sana.


"Pesawatnya sebentar lagi akan lepas landas, Pak." Jawab petugas wanita itu dengan ramah setelah beberapa saat memeriksa penerbangan


Air mata Aryan lolos tanpa bisa laki-laki itu tahan. Kia nya telah pergi.


"Tujuannya ke mana?" Tanyanya lagi dengan suara serak nyaris tak terdengar. Dadanya terasa penuh, juga sesak saat mengingat jika Kia telah pergi jauh dari kehidupannya.


"Ke Singapura." Jawab petugas itu lagi. "Eh, Pak.."


Panggilan petugas itu tidak lagi di hiraukan Aryan. Laki-laki itu hanya terus melangkah meninggalkan ruangan itu dengan setumpuk rasa bersalah juga penyesalan.


Dengan langkah gontai, juga dada yang seakan mau pecah, Ayang keluar dari gedung bandara menuju parkiran. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi di tempat ini.


"Aku akan datang mencari mu. Kita akan tetap hidup bersama seperti yang sudah aku janjikan." Gumam Aryan sebelum melakukan mobilnya dan berlaku dari sana. Meskipun ragu dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan, Aryan tetap berusaha menguatkan hatinya. Toh, memang benar hanya seorang Kia yang ia cintai. Sampai saat ini, hanyalah seorang Kia yang bisa menempati ruang di dalam hati nya.


Ke mana pun wanita nya itu pergi, ia akan tetap mencari nya dan memohon maaf atas segala nya. Pernikahan ini, sama sekali tidak merubah seberapa besar cinta nya untuk Kia.


Pesan singkat masuk ke dalam ponselnya. Sang Ayah meminta nya menyudahi kegiatan pencarian nya, dan kembali ke hotel. Tanpa berniat membalas, Aryan terus melakukan mobilnya menuju hotel.


Lelaki itu masih belum menyadari, jika hal seperti inilah yang membuat Kia pergi. Ia tidak menyadari, jika wanita pun butuh di hargai sama seperti menghargai keluarga.


Sayang, sampai hari ini Aryan masih belum juga paham apa yang membuat Kia pergi. Lelaki itu hanya terus mengatakan jika ia sangat mencintai Kia, yang tidak ia ketahui dalam rumah tangga, cinta dan kemewahan masih belum cukup, jika tidak bisa menghargai perasaan istri nya.


Apapun alasannya, jika menikahi wanita lain tanpa persetujuan seorang istri, itu sudah termasuk menodai pernikahan. Menuruti semua kemauan keluarga, tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaan istri nya, di mana letak kata cinta yang selalu di ucapkan?

__ADS_1


Aryan hanya berpikir ia mencintai Kia, ia tidak tahu jika kata cinta itu justru membuat Kia muak karena kenyataan yang ia Terima, sana sekali tidak menunjukan seorang suami yang mencintai istrinya.


****


Di sebuah hotel mewah tempat diadakannya acara pernikahan, nampak begitu hangat. Rika, putri dari juga seorang pejabat tinggi begitu menikmati makan siang dengan tenang di tengah-tengah keluarga baru nya. Ia terlihat biasa saja, walau Aryan pergi setelah akad nikah selesai.


Tidak hanya Rika yang terlihat biasa saja, kedua orang tua gadis itu pun tidak memperdulikan di mana menantu mereka berada, padahal acara meriah itu belum usai.


Berbeda dengan Anggi, wanita itu berulang kali menyusuri ruangan yang sudah di dekorasi begitu indah, dengan netra nya. Pesan yang masuk ke dalam ponsel nya, sedikit membuatnya khawatir.


Setelah berhasil meminta izin pada mertua nya dengan alasan tidak enak badan, Anggi segera keluar dari dalam ruangan megah itu menuju sebuah rumah yang baru saja di beritahukan oleh orang suruhannya.


Bukan untuk ikut campur urusan Kia, ia hanya ingin memastikan wanita malang itu baik-baik saja.


Cukup lama waktu yang ia habiskan di jalanan karena kemacetan yang tidak pernah terurai kan di Jakarta. Kini, mobilnya sudah berhenti di depan pintu gerbang sebuah rumah minimalis namun, terlihat mewah.


Petugs keamanan itu terlebih dahulu menghubungi majikannya yang memang masih berada di dalam rumah itu, dan mengatakan sesuai apa yang di katakan Anggi.


Beberapa saat menunggu, Anggi akhirnya di persilahkan untuk masuk ke dalam pelataran rumah, menuju pintu yang sudah terbuka lebar dengan seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri menyambutnya.


"Selamat Siang, Bu." Anggi menyapa ramah sambil mengulurkan tangannya.


"Selamat Siang juga, Nak. Mari silahkan masuk." Ajak Danira berusaha untuk tetap tenang. Beberapa saat yang lalu, ia sudah bertanya pada Kia siapa wanita yang bernama Anggi, dan untuk apa datang berkunjung ke kediaman mereka hari ini.


"Maaf atas kelancangan saya hari ini. Saya hanya ingin memastikan jika adik saya baik-baik saja." Ucap Anggi.


"Duduk dulu, Nak Anggi." Ucap Danira mempersilahkan.

__ADS_1


"Terimakasih, Bu."


Anggi mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan itu. Mengelilingi ruangan itu dengan pandangannya, mencari sosok wanita yang sejak semalam membuat nya khawatir.


"Saya kemari bukan ingin membawa Kia pulang. Mertua saya tidak mengetahui kedatangan saya hari ini. Saya hanya ingin memastikan jika adik ipar saya baik-baik saja." Jelas Anggi lagi.


Danira tersenyum.


"Dia baik-baik saja. Kia, akan baik-baik saja." Jawab Danira.


"Apa saya bisa bertemu dengan nya?" Tanya Anggi.


Danira terdiam. Hingga beberapa saat kemudian, Kia berinisiatif keluar dari dalam kamarnya. Sungguh ia tidak mah terus membuat report keluarga Alfan karena kehadirannya.


Melihat Kia melangkah ke arah mereka, Danira masih tetap tenang di tempat duduknya. Ia sadar, jika dirinya tidak berhak untuk masuk terlalu jauh dalam urusan keluarga orang lain. Akan tetapi, ia pun tidak mau mengambil resiko, jika sesuatu yang buruk terjadi pada Kia. Terlepas putra nya begitu mencintai wanita yang kini duduk di sampingnya ini, tetap saja mereka sesama manusia dan memiliki kewajiban untuk saling membantu.


"Aku baru kembali dari pesta itu. Papa dan Mama tidak mengetahui kamu berada di sini." Jelas Anggi karena melihat wajah Kia yang tidak bersahabat.


Kia masih diam, memilih untuk menunggu kalimat apa yang akan di ucapkan oleh wanita yang biasanya tidak peduli dengan kehadirannya ini.


"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja." Ucap Anggi lagi.


"Kenapa?" Tanya Kia.


Anggi tersenyum.


"Karena aku masih manusia biasa. Dan yang lebih penting lagi, aku tidak ingin kamu membuat masalah lebih dan memperburuk suasana. Jika ingin meminta cerai dari Aryan, katakan saja aku akan dengan senang hati membantu mu. Yang terpenting adalah, jangan membuat masalah ini mencuat ke permukaan." Ujar Anggi.

__ADS_1


Kia tersenyum miris. Apa orang-orang kaya hanya akan selalu memikirkan diri mereka sendiri?


__ADS_2